
Ardy begitu murka lalu menjulurkan tangannya untuk mencekik Lisca. Wanita itu berlari dan berteriak minta tolong tapi tak ada seorang pun di ruangan itu. Villa itu terasa begitu hening. Seperti tak satu pun orang yang menginap di situ.
Hari memang telah larut malam. Mereka yang lelah bercanda sepanjang hari tentu akan kelelahan. Tertidur dengan pulas seperti pingsan. Setidaknya itulah yang terpikir oleh Lisca saat mencoba menggedor setiap pintu kamar.
Lisca panik karena tak ada yang menjadi saksi ancaman Ardy terhadap Lisca. Ucapan Ardy yang ingin membunuhnya dengan tangan sendiri, bisa saja sungguh-sungguh di lakukan Ardy. Laki-laki mana yang tak menyimpan dendam setelah dikhianati?
Ardy bisa saja membunuhnya dan membuang jasadnya ke laut. Mengingat itu Lisca putus asa. Kembali mencoba menggedor pintu kamar teman-teman mereka tapi tak ada satu pun yang membukakan pintu.
Di lorong Villa itu, Ardy berhasil menangkap dan mendorong Lisca ke dinding. Mencekik leher wanita itu dengan senyum dan tatapan mata yang tajam. Lisca mencoba melepas tangan yang mulai menghentikan nafasnya itu.
"To … long!" ucapnya berusaha menjerit meminta pertolongan.
Menggapai-gapai apa pun untuk mendapatkan bantuan. Namun, Lisca justru semakin merasa semakin tercekik. Tubuhnya lemah hingga akhirnya terjatuh.
Kakinya terasa mengejang hingga akhirnya terbangun dari tidurnya. Dengan nafas yang sesak dan keringat dingin, Lisca menoleh ke arah sofa. Terlihat Ardy telah tertidur di sana. Wanita itu meraba lehernya yang terasa kering.
Lalu menghembuskan nafas panjang. Lisca menatap kembali wajah Ardy, tak ada tanda-tanda laki-laki terbangun apalagi habis mencekiknya. Padahal semua yang dialaminya tadi terasa begitu nyata.
Sepertinya hanya mimpi, tapi terasa nyata sekali. Mungkin karena di dalam hatiku merasa ketakutan akan ancaman Ardy. Ya, hubungan kami tidak harmonis lagi. Meski memaafkan dan menerima aku kembali tapi tetap tersimpan dendam di situ. Aku telah berkhianat pada Ardy, hatiku yang telah berkhianat. Merasa iri pada keberuntungan wanita lain, merasa ingin merebut suami wanita lain. Meski tak sempat berselingkuh tapi hatiku telah berselingkuh. Ardy tidak pantas menerima aku lagi. Seharusnya Ardy tidak menerima aku lagi. Untuk apa hubungan yang telah dirusak oleh dilanjutkan? Seumur hidup, Ardy tidak akan percaya padaku lagi, batin Lisca yang termenung menatap wajah Ardy yang tertidur lelap.
Wanita itu menyesal karena telah sempat merasakan suka terhadap Nico. Mengingat Ardy yang dulu begitu memanjakannya, memberikan segala yang dibutuhkannya justru dibalas dengan pengkhianat yang menyakitkan. Lisca merasa apa yang dilakukannya adalah salah.
Wanita itu melangkah turun dari ranjang untuk mengambil sesuatu yang melegakan tenggorokannya. Mimpi tercekik itu seperti benar-benar menyekat tenggorokan. Teriakan minta tolongnya seperti benar-benar membuat tenggorokannya terasa kering.
Setelah meneguk air putih dingin di dapur, Lisca melangkah menuju kamarnya. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat Nico yang masih duduk di beranda belakang memandangi lautan. Wanita itu terkejut karena apa yang dilihatnya itu seperti kejadian yang tergambar dalam mimpinya.
__ADS_1
Oh tidak, apa ini godaan? Jika aku melakukan apa yang di dalam mimpiku itu, mungkinkah aku benar-benar terbunuh? Mengerikan sekali, aku tidak boleh tergoda untuk mendekatinya. Aku memang sangat ingin memiliki Nico tapi aku tidak bisa mengalahkan semua orang yang membelanya, melawan semua yang melindungi Reana. Semua akan benci padaku, batin Lisca menatap lurus ke arah Nico.
Sekian lama hanya bisa menatap laki-laki itu dari belakang. Lisca tak berani mendekat seperti yang dilakukannya di dalam mimpi. Hanya berdiri diam tanpa menatap laki-laki yang membuatnya kagum itu. Tiba-tiba Nico berdiri dan masuk ke dalam Villa.
Langkahnya terhenti saat mendapati Lisca berdiri di dalam villa. Nico terpaku begitu juga dengan Lisca. Mereka saling menatap.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Nico.
"Oh, aku cuma ingin minum di dapur. Saat ingin kembali ke kamar, aku lihat kamu duduk di situ, cuma itu," ucap Lisca.
Nico mengangguk. Suasana terasa canggung baginya. Bagaimanapun juga, Nico telah merasa kalau Lisca menyukainya. Tak ingin berada dalam situasi canggung seperti itu, Nico ingin melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Tunggu! Aku ingin bicara denganmu," ucap Lisca entah dari mana asal pemikirannya hingga berani mengajak Nico bicara.
"Ada apa? Lisca jangan berpikir yang macam-macam, Ardy begitu sabar padamu dan aku …."
"Kalau begitu kenapa bicara padaku? Katakan langsung kepada Ardy. Kenapa sampaikan keputusanmu itu padaku? Apa kamu ingin aku merasa bersalah karena telah membuat hubungan kalian menjadi hancur? Aku tidak akan merasa bersalah. Aku tidak melakukan apa-apa terhadap hubungan kalian," ungkap Nico.
"Aku tahu dan aku tidak akan menyalahkanmu. Aku hanya ingin minta tolong padamu. Adakah yang bisa membuat aku pergi dari villa ini sekarang juga? Aku ingin pulang ke rumah. Aku ingin minta tolong sampaikan pada Ardy, aku minta maaf karena tak bisa melanjutkan pertunangan itu lagi. Pertunangan yang sudah aku hancurkan," ucap Lisca.
"Tapi apa tidak sebaiknya besok saja? Kamu bisa bicara langsung pada Ardy? Kenapa harus terburu-buru pergi malam in" tanya Nico.
"Karena aku akan mati, jika lebih lama di sini …."
"Apa?"
__ADS_1
"Apa kamu tahu, kamu membuat aku terpesona Nico. Kamu membuat aku tidak peduli pada perasaan Ardy. Lebih lama berada di dekatmu membuat aku semakin salah langkah. Aku tidak mau mati. Aku tidak mau membuat Ardy sakit hati lagi," ucap Lisca.
"Tapi bukankah Ardy telah memberi maaf? Kamu yang memohon padanya untuk diberi kesempatan lagi dan Ardy telah menerima kamu kembali. Kenapa sekarang justru kamu ingin mengakhiri hubungan kalian?" tanya Nico heran.
"Apa menurutmu aku sungguh-sungguh ingin kembali pada Ardy?"
"Apa?"
"Aku minta dia menerimaku lagi agar aku bisa tetap dekat denganmu. Aku ingin tetap di dekatmu. Aku tetap ingin mencari cara untuk mendekatimu, tapi sekarang aku sadar. Jika aku menyakiti Ardy, maka aku yang akan mendapat hukumannya. Hatiku telah menjauh dari Ardy. Aku kehilangan rasa cinta terhadap Ardy, dan tidak bisa diperbaiki lagi. Semua terjadi karena kehadiran kamu dalam hidupku, tapi tenanglah. Aku tidak menyalahkanmu, tapi aku menyalahkan diriku sendiri. Aku terlalu serakah. Aku sadar, Ardy tidak akan bisa memuaskan sifat serakahku daripada dia menderita karena wanita serakah sepertiku, lebih baik dia mencari gadis yang lain," tutur Lisca.
"Baiklah jika itu memang keputusanmu, aku akan panggil penjaga Villa untuk minta bantuan mengantarmu pulang, tapi sebaiknya kamu pamit dengan Ardy …."
"Tidak bisa Nico. Aku tidak bisa bertemu Ardy. Aku tidak mau bertemu Ardy. Aku hanya ingin kamu sampaikan maafku untuknya, tolong," ucap Lisca memohon.
Mendengar itu, mau tak mau Nico mengangguk. Meski tidak setuju dengan cara Lisca tapi bukan haknya memaksa kehendak pada wanita itu. Nico menghubungi pengurus Villa yang bisa dimintai tolong untuk mengantar Lisca kembali ke rumahnya saat itu juga.
Wanita itu pun pergi, diantar oleh Nico hingga sampai ke teras Villa. Wanita itu berterima kasih pada Nico atas segala bantuannya. Nico tidak tahu bagaimana pendapat Ardy nanti, tapi jujur dalam hati, dia merasa lega akan kepergian Lisca. Tinggal Nico yang tak tahu bagaimana cara menjelaskan pada Ardy.
☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️
Halo pembaca setia Noveltoon.
Sambil nunggu update selanjutnya, mampir juga ke salah satu karya temanku ini yaaa 🤗🤗🤗
Jangan lupa tinggalkan jejak sebagai dukungan buat Author, makasih 😘😘😘
__ADS_1