Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 109 S2 ~ Ingin Bertemu ~


__ADS_3

Nico dan Reana mendengar suara bel pintu berbunyi. Nico mengira yang datang adalah ibunya karena baru saja mengusulkan agar mereka pindah ke rumahnya.


Namun, perkiraan Nico salah, laki-laki itu justru mendapatkan buket bunga untuk istrinya dari laki-laki lain. Tanpa basa basi, laki-laki itu langsung membuang buket bunga itu ke tong sampah di hadapan Reana. Nico tak peduli jika wanita itu keberatan karena tanda perhatian dari Hasbi itu dibuangnya begitu saja.


Reana yang tak mengerti akhirnya mengambil amplop kecil yang terselip di sela-sela bunga segar itu. Reana pun terkejut saat membaca kartu ucapan semoga lekas sembuh itu. Wanita itu baru mengerti dari mana berasal raut wajah kesal suaminya.


Mungkin Hasbi datang lagi ke kantor untuk mengajak makan siang, batin Reana.


Mengira Hasbi mengetahui kalau dia sedang sakit dari sekretarisnya. Reana menoleh ke arah Nico yang duduk sambil menunduk, bertopang pada kedua tangannya. Dengan ragu-ragu Reana melangkah menghampiri Nico dan duduk di samping Nico.


"Maaf Kak," ucap Reana pelan.


"Kenapa kamu yang minta maaf?" tanya Nico.


Reana pun tak bisa menjawab. Yang pasti Reana rasakan adalah menyesal melihat Nico yang seperti kesal bercampur sedih. Reana merasa, laki-laki itu telah letih dengan masalah yang selalu muncul dalam hubungan mereka. Baik sejak masih pacaran hingga telah menikah.


"Aku merasa selalu menjadi penyebab kesedihan Kakak. Tolong Kak, jangan pedulikan Hasbi, dia hanya teman bagiku," ucap Reana akhirnya setelah berpikir keras kata-kata yang bisa diucapkannya pada Nico.


"Aku tahu dia temanmu, tapi kamu juga tahu kalau dia suka padamu 'kan?" tanya Nico.

__ADS_1


"Ya, tapi itu dulu Kak. Sekarang aku sudah menikah, dia juga mungkin sudah punya keluarga," jawab Reana.


"Menurutmu dia sudah menikah? Apa yang dipikirkan istrinya melihat suaminya mengajak cinta lamanya makan siang dan sekarang bahkan mengirim bunga?" tanya Nico.


Reana tertunduk, matanya berkaca-kaca. Wanita itu juga serba salah. Merasa tak punya alasan untuk menolak Hasbi.


Apa setelah menikah tak boleh lagi berteman? Batin Reana.


Nico menatap istrinya yang terdiam. Laki-laki itu tahu kalau Reana merasa serba salah. Nico meraih tangan istrinya lalu menggenggam dengan kedua tangannya. Mengecup punggung tangan itu dengan memejamkan matanya. Nico ingin kuat demi Reana, ingin tahan menghadapi ancaman keutuhan rumah tangganya. 


Demi ingin mempercayai istrinya dan agar Reana tak merasa serba salah saat menemui situasi seperti itu. Nico akhirnya mengungkapkan isi hatinya. Dengan memastikan cinta Reana tetap untuknya meski silih berganti datang laki-laki yang menggodanya.


"Aku mencintaimu Reana. Aku selalu merasa cemburu, begitu takut kehilanganmu. Tapi aku ingin percaya padamu. Aku izinkan kamu tetap berteman dengan Hasbi tapi tolong jangan khianati aku," ucap Nico sambil menatap wajah wanita yang dicintainya itu.


"Apa bisa kamu melarangnya?" tanya Nico.


"Aku coba Kak. Sebenarnya Hasbi cukup mengerti situasiku. Saat Kakak menelpon dia juga merasa tak enak hati. Aku bisa merasakan itu karena dia langsung menanyakan Kakak. Tapi sungguh Kak, karena tak ada sedikit pun perasaan padanya, aku merasa tak ada beban saat bertemu dengannya tapi karena Kakak menelpon, aku jadi merasa kalau Kakak mencurigaiku," jelas Reana.


"Baiklah! Aku percaya padamu tapi aku tetap tak percaya padanya. Aku akan minta bertemu dengannya–"

__ADS_1


"Apa?"


"Kenapa? Kami khawatir kalau aku akan menyakitinya?" tanya Nico tetapi dibalas dengan gelengan kepala oleh Reana.


"Aku khawatir yang tersakiti itu Kakak," ucap Reana.


"Kamu pikir, aku akan kalah?" tanya Nico.


"Apa? Memangnya benar-benar ingin berkelahi? Kalau begitu jangan bertemu," ucap Reana dengan nada tinggi. Nico justru tersenyum.


"Kami harus bertemu sayang. Dia harus tahu kalau aku tak akan melepaskan kamu. Agar dia tak berharap lagi padamu. Jangan khawatir istriku, mana tahu nanti kami justru jadi berteman," ucap Nico sambil mengusap pipi istrinya.


"Apa mungkin bisa begitu?" tanya Reana.


"Kenapa nggak? Kalau sudah saling terbuka, apa yang nggak bisa. Ada yang bisa berteman antara suami dan mantan pacar. Apalagi ini cuma berteman meski aku tahu dia punya perasaan khusus padamu," jelas Nico.


Reana pun tak bisa berkata apa-apa lagi. Jika bertemu dan bicara dengan Hasbi adalah jalan keluar yang baik maka mereka memang harusnya mencoba. Agar rumah tangga mereka bisa bebas dari prasangka.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


 


 


__ADS_2