
Nico terduduk di lantai parkir basement. Rasanya tak percaya dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Ancaman yang dikiranya tak akan terjadi justru menjadi nyata saat dia lengah. Nico melepas dan melempar begitu saja jas pengantinnya dan berlari menuju mobil sport-nya. Kawan-kawan Nico langsung berlari mengikuti.
"Mau kemana Nic?" tanya Ardy.
"Mencari Reana! Mau ke mana lagi?" tanya Nico yang tak perlu jawaban.
"Tapi mau cari ke mana? Jangan pergi sendiri Nic, kami ikut!" seru Ardy.
"Kamu tidak lihat dia punya pengawal. Mereka bisa melukai kalian!" seru Nico sambil berjalan tergesa-gesa. Ketiga sahabatnya tetap mengikuti langkah Nico menuju di mana mobil sport-nya di parkir.
"Terus? Kami biarkan kamu terluka sendiri, begitu?" tanya Ardy lagi dengan suara tak kalah kerasnya.
"Dia itu istriku, kalian nggak wajib ikut campur urusanku," jawab Nico sambil menatap tajam ke arah Ardy.
Sejujurnya dia tahu persis apa yang dihadapinya. Tn. Malvin tak segan-segan melukai siapa saja yang menghalangi jalannya. Jika saat itu Reana tak buru-buru mengusir Nico setelah konferensi pers waktu itu, entah seberapa parah luka yang akan Nico derita. Mungkin saja nyawanya bisa melayang.
Mengingat itu, Nico menitikkan air mata. Dia ingin istrinya kembali tetapi untuk merebut Reana kembali, Nico tidak merasa yakin. Dia juga tak ingin sahabat-sahabatnya terluka. Melihat bimbang di wajah Nico, Rommy angkat bicara.
"Reana itu adikku, percuma sebagai abangnya aku tak melakukan apa pun untuknya," ucap Rommy pelan dan tenang.
Namun, tetap melangkah menuju tempat mobil terparkir. Langkah Nico yang justru terhenti, tertegun menatap teman-temannya yang tak peduli pada rasa khawatirnya. Dito dan Ardy pun mengangguk setuju.
"Ayo! Kita cari ke mana dulu?" tanya Rommy melihat Nico yang masih berdiri terpaku.
Dito menepuk bahu Nico, Ardy mengangguk mengajak. Tak ada satu pun dari sahabatnya yang mau mundur. Mereka telah menganggap Reana juga sebagai adik perempuan mereka.
Nico tak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Mereka pun melaju menuju hotel di mana dulu Nico pernah menemui Reana sesaat setelah konferensi pers. Nico meminta bertemu dengan Manager Hotel yang pernah ditemuinya dulu.
Tak lama kemudian terlihat Manager Hotel mendatangi mereka. Dengan tak sabar Nico langsung menghampiri. Menanyakan di mana keberadaan bos besar industri hospitality itu.
"Kami tidak tahu."
"Pak, tolonglah dia membawa pergi istriku Pak," mohon Nico.
"Kamu lupa apa yang pernah bapak katakan dulu? Kami tidak pernah tahu di mana Tn. Malvin berada. Kami akan tahu jika Tn. Malvin sendiri yang ingin kami tahu," jelas Manager Hotel itu.
__ADS_1
Bapak itu memberikan selembar kertas berlipat tanpa amplop pada Nico. Laki-laki itu langsung menerima dan membacanya.
~ Bagaimana rasanya pengantinmu dibawa pergi? ~
Nico tercenung, menatap nanar secarik kertas kecil itu. Teman-temannya langsung merebut dan ikut membacanya. Mereka langsung menoleh pada Nico yang diam terpaku.
"Dia membalas perbuatanku," ucap Nico lirih pada dirinya sendiri.
"Bapak tidak tahu ke mana Tn. Malvin membawa Nona Reana. Tapi informasi yang tak ditutupi oleh Tn. Malvin, beliau pergi menggunakan pesawat pribadi. Menurut bapak, Tn. Malvin pasti membawa Nona Reana ke sebuah pulau," jelas Manager Hotel itu.
"Tuan itu memiliki pulau pribadi?" tanya Ardy penasaran. Manager Hotel itu mengangguk.
"Sayangnya tidak cuma satu dan banyak yang dirahasiakan lokasinya," jawab Manager Hotel itu.
"Bagaimana bisa dia keluar begitu cepat dari rumah tahanan?" tanya Nico dengan wajah yang sendu.
"Tn. Malvin bersikap baik selama di tahanan. Beliau juga memberikan pelajaran berguna bagi para penghuni rumah tahanan. Mendapatkan simpati dari orang-orang di lingkungan itu. Semua orang berpihak padanya, semua orang mendukung perbuatannya. Menganggap apa yang dilakukan Tn. Malvin adalah manusiawi karena calon istrinya yang akan dibawa pergi laki-laki lain. Tn. Malvin menyesali perbuatannya dan bercerita bahwa kalian akan segera menikah. Karena bersikap baik selama di rumah tahanan, tuan Malvin mendapat pemotongan masa tahanan," jelas Manager Hotel itu.
Nico tertunduk, sangat terpukul dengan penjelasan Manager Hotel itu. Nico dan semuanya merasa tenang karena masa tahanan Tn. Malvin yang masih tertinggal dua tahun lagi. Mereka tidak menyangka laki-laki itu bisa melakukan segalanya.
Nico melangkah tertunduk dengan langkah gontai menuju mobil sport-nya di area parkir. Laki-laki itu bahkan lupa berterima kasih pada Manager Hotel itu. Penjelasan Manager Hotel itu membuatnya begitu syok.
"Terima kasih atas atas penjelasannya Pak," ucap Rommy.
Laki-laki itu mewakili berterima kasih atas penjelasannya. Segera mereka menyusul Nico yang masih berjalan dengan tatapan kosong. Di dalam mobil Nico masih terpaku. Hanya memandang lurus ke depan tanpa melakukan apa-apa.
"Kenapa dia bisa mendapatkan pemotongan masa tahanan?" tanya Ardy tak mengerti.
"Ada beberapa jenis remisi dan itu bisa digunakan sesuai dengan situasi. Dalam hal ini Tn. Malvin mendapatkannya remisi tambahan, diberikan kepada narapidana yang berbuat jasa kepada negara, melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi negara atau melakukan kegiatan sosial, dan melakukan perbuatan yang membantu kegiatan pembinaan di Lapas. Dia juga bisa mendapatkan dari remisi susulan yang diberikan jika narapidana berkelakuan baik," jelas Rommy.
"Hah, kelakuan baik? Memaksa menikahi seorang gadis dengan melakukan ancaman itu namanya berkelakuan baik? Benar-benar licik!" maki Ardy.
"Orang tidak tahu seperti apa cerita yang sebenarnya. Tentu saja dia mendapat simpati dari orang-orang yang mendengar cerita bohongnya," ucap Dito menimpali.
"Di mata orang yang mengenalnya, dia adalah seorang yang sangat royal. Seorang pebisnis yang memiliki jiwa sosial tinggi. Sangat wajar jika banyak orang yang kagum padanya," sambung Rommy.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita akan lapor polisi?" tanya Ardy.
"Dia pasti telah meracuni pikiran semua orang. Menculik Reana bisa diartikan tindakan penyelamatan menurut orang-orang yang mendengarkan ceritanya," jelas Rommy.
"Oh ya ampun, kasihan sekali Reana," ungkap Ardy bersedih.
Mendengar itu Nico memejamkan matanya. Air matanya yang tergenang kini mengalir. Laki-laki itu bahkan tak mampu menopang tubuhnya hingga bersandar pada kemudi. Menunduk dan menangis. Ketiga sahabatnya diam tertunduk. Mereka belum memiliki saran apa pun untuk membantu menyelesaikan masalah Nico.
Sementara itu di sebuah kamar indah berkonsep natural menghadap ke pantai, Reana masih belum sadarkan diri. Gadis cantik itu masih tertidur dengan mengenakan gaun pengantinnya. Tn. Malvin diam memandangi wajah cantik alami gadis itu.
Rebah di samping Reana dengan bertopang sebelah tangannya. Sesekali membelai pipi Reana. Semakin dipandangnya, Reana semakin bertambah cantik, sehingga Tn. Malvin tak sanggup menahan dirinya untuk mengecup bibir Reana.
"Harusnya kamu jadi milikku. Harusnya dua tahun yang lalu kamu sudah menjadi Ny. Malvin," bisik Malvin. Laki-laki itu kembali mengecup bibir Reana.
"Sayang sekali, aku sudah membatalkan pernikahan kita. Tapi tak apa-apa, meski kamu bukan Ny. Malvin tapi kamu tetap milikku," bisik Malvin ditelinga Reana. Perlahan Malvin mengecup pipi Reana.
"Aku tak akan bisa melakukan ini jika kamu sadar. Kamu pasti akan menolak. Harusnya aku juga tidak mencuri cium seperti ini. Aku bahagia saat kamu menerima ciumanku menjelang pernikahan kita," bisik Malvin lagi.
Tn. Malvin menelan ludah saat keinginannya semakin menggebu. Laki-laki itu segera bangun dari ranjang itu dan berdiri berkacak pinggang menatap laut lepas. Lalu kembali menatap Reana yang tertidur begitu cantik.
"Bangunlah sleeping beauty, aku mau minta izin padamu. Bisakah kita lanjutkan pernikahan kita. Aku bisa membantumu membatalkan pernikahanmu dengan bocah itu," ucap Malvin. Kali ini berdiri berkacak pinggang di hadapan Reana yang masih belum sadar.
Seperti mendengar ucapan Tn. Malvin yang menyuruhnya bangun. Reana membuka matanya perlahan. Tn. Malvin langsung merebahkan diri kembali di sisi Reana.
"Halo sayang, kamu sudah bangun?" tanya Malvin dengan senyum merekah di bibirnya, begitu bahagia melihat mata gadis itu telah terbuka.
Bertolak belakang dengan Tn. Malvin yang bahagia, Reana yang panik langsung bangun duduk di ranjang. Namun, kemudian memijat keningnya. Gadis itu merasakan kepalanya yang
sakit. Tn. Malvin segera merebahkan gadis itu lagi. Reana menatap wajah yang begitu dekat dengannya itu.
"Kak Nico?" tanya Reana yang seperti belum bisa melihat dengan jelas.
Tn. Malvin tersenyum lalu dengan perlahan membenamkan bibirnya ke bibir Reana. Semakin lama semakin menikmati dan semakin bernafsu hingga napasnya terdengar semakin memburu. Tn. Malvin menikmati ciuman menggebu itu selagi pandangan Reana masih kabur dan belum begitu sadar. Melakukannya lagi, lagi dan lagi.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1