
Reana berhasil menjadi karyawan di bagian manajemen restoran. Nico tak bisa melarang istrinya itu untuk mengejar karirnya sendiri. Laki-laki itu sepenuhnya mendukung Reana hingga akhirnya wanita itu berhasil diterima di bagian manajemen restoran.
Hari-hari mereka lalui dengan sarapan pagi bersama lalu berangkat bekerja. Di saat Nico ada waktu, laki-laki itu mampir ke kantor istrinya untuk mengajak makan siang bersama atau sebaliknya, Reana mampir ke kantor Nico untuk mengajaknya makan siang bersama.
Namun, kebanyakan Nico melarang wanita itu mendatangi kantornya, karena Reana yang harus menggunakan taksi atau transportasi umum untuk ke kantor Nico. Wanita itu belum mau memiliki transportasi sendiri. Reana memberikan sebagian besar penghasilannya untuk ibunya di kampung. Berharap Bu Ridha Lia tak lagi menjadi ibu kantin di sekolah itu.
"Kalau Mama nggak jualan lagi, Mama mau ngapain?" tanya Ridha pada putrinya melalui sambungan telepon.
"Reana nggak mau Mama kecapean," ucap Reana khawatir.
"Ini pekerjaan Mama dari dulu mana mungkin merasa capek? Kamu sendiri kan tahu?" tanya Ridha.
"Tapi kalau dulu itu terpaksa Ma, itu mata pencaharian kita satu-satunya. Kalau sekarang Reana bisa ngirim untuk biaya sehari-hari Mama. Mama bisa istirahat di rumah," ucap Reana.
"Ya sayang! Mama udah coba tapi kasihan, anak-anak itu cariin Mama. Lagi pula di rumah seharian tanpa melakukan apa pun Mama malah jadi bingung karena sudah terbiasa dengan rutinitas. Mama justru ingin nasehati kamu. Bekerja jangan terlalu lelah, lihatlah! Sudah hampir setahun kalian menikah tapi masih belum ada tanda-tanda. Mama khawatir Nak. Keluarga Nico pasti sangat inginkan keturunan. Kamu ini wanita, dia bisa mencari wanita lain untuk mewujudkan keinginan orang tuanya. Mama tahu Nico sangat cinta sama kamu tapi sebuah keluarga itu butuh keturunan untuk kelangsungan keluarganya," tutur Ridha Lia.
Reana tercenung, mendengar penjelasan ibunya. Rasa khawatir itu langsung muncul. Meski Nico tak menuntut apa pun, tak menyinggung tentang keturunan sekalipun tetapi Reana tahu kalau suaminya sangat menginginkan hadirnya buah hati mereka. Entah itu karena keinginannya sendiri atau keinginan orang tuanya.
Bu Ridha Lia tak ingin menakut-nakuti putrinya tetapi ibu itu tak ingin putrinya itu terlalu abai mengenai hal itu sehingga terlena dan tak memiliki kesempatan lagi untuk memiliki keturunan. Reana menutup sambungan teleponnya, setelah Bu Ridha meminta anaknya itu untuk kembali mengurus suaminya.
Namun, Reana justru hanya tertunduk. Nico yang sejak tadi hanya diam, duduk menunggu istrinya selesai bicara langsung mendekati. Meletakkan dagunya di bahu istrinya. Lalu perlahan mengecup pipi wanita yang dicintainya itu.
"Ada apa sayang? Kok jadi murung?" bisik Nico.
"Benarkah kita udah hampir setahun menikah?" tanya Reana pada dirinya sendiri.
"Memangnya kenapa?" tanya Nico.
"Kenapa aku belum hamil Kak? Padahal …."
"Sudah jangan dipikirkan, memang belum waktunya kali," ucap Nico mengecup leher istrinya.
"Apa mungkin aku nggak bisa–"
"Sstt, jangan berpikiran yang macam-macam. Kamu itu baik-baik aja. Kita cuma belum diberi, itu saja," ucap Nico menghibur istrinya.
"Tapi … gimana kalau Mommy bertanya? Bagaimana kita menjawabnya? Aku takut Mommy mendesak untuk segera memiliki anak, kita 'kan nggak menahan sama sekali. Kenapa masih belum jadi?" tanya Reana lalu tertunduk.
"Ya, kita nggak nahan sama sekali. Apalagi aku? Aku mana bisa tahan sama kamu," ucap Nico sambil tersenyum menggoda.
__ADS_1
Reana tersenyum lalu mencubit pinggang suaminya. Yang dicubit malah merasa geli. Segera laki-laki tampan itu memeluk istrinya agar tak bisa mencubitnya lagi lalu tertawa saat Nico membalas menggelitik istrinya.
Hari-hari mereka selalu diwarnai gelak tawa. Rasa bahagia yang mereka rasakan seperti mampu menghapus kesedihan pernah mereka rasakan selama ini. Rasa takut, marah, benci, kecewa, sedih adalah perasaan-perasaan yang mewarnai kisah cinta mereka seakan terhapus hanya dengan saling menatap dan diakhiri dengan bercinta.
Tanpa terasa setahun usia pernikahan mereka. Namun tanda-tanda kehadiran seorang bayi tak kunjung terlihat. Nico berlagak tak peduli dan sama sekali tak memaksakan apa-apa terhadap Reana. Meski setiap saat ibunya menanyakan kabar tentang yang satu itu.
"Nanti siang aku jemput makan siang ya sayang," ucap Nico saat mereka sarapan pagi.
"Kakak nggak ada kegiatan hari ini?" tanya Reana.
"Nggak! Jadwal ku kosong hari ini," ucap Nico.
"Ok, Kakak kirim pesan aja kalau mau datang," ucap Reana.
Mereka pun berangkat bersama-sama ke kantor. Saat tak ada pertemuan Nico menyempatkan untuk menjemput istrinya makan siang. Lalu kembali menjemputnya saat pulang.
Kadang Nico mengirim sopir jika laki-laki itu tak sempat karena ada pertemuan mendadak. Reana lebih senang pulang sendiri dibandingkan merepotkan sopir kantor suaminya. Seperti saat ini, Nico telah memberitahukan kalau dirinya tak bisa menjemput, Reana memilih untuk pulang sendiri menggunakan transportasi umum.
"Mau pulang Reana?" tanya seorang karyawan.
"Ya, tentu saja mau," jawab Reana singkat sambil melangkah ke keluar lobby kantor.
"Nggak, sepertinya ada meeting. Aku pulang sendiri saja," ucap Reana sambil melangkah menuju halaman kantor.
"Mau aku antar pulang?" tanya karyawan itu menawarkan.
"Nggak usah! Aku pulang sendiri saja," jawab Reana tersenyum menolak secara halus.
"Nggak apa-apa kok, sekalian pulang. Kasihan, cantik-cantik pulang sendiri," ucap karyawan itu sambil tersenyum.
"Reana!"
Wanita itu menoleh ke arah suara. Reana langsung menghampiri laki-laki yang melangkah sambil tersenyum padanya. Begitu mendengar Reana ditawarkan untuk diantar pulang, segera Nico memanggil istrinya.
"Kakak? Kok bisa ada di sini? Meeting-nya nggak jadi?" tanya Reana.
Wanita itu mengangguk pamit pada karyawan itu untuk menemui suaminya. Karyawan itu membalas senyuman Reana sekaligus menganggukkan kepalanya pada Nico. Nico membalas mengangguk pada karyawan itu. Karyawan itu pun melangkah pergi.
"Aku undur jadwalnya. Setelah aku antar kamu pulang, aku kembali ke kantor," jawab Nico.
__ADS_1
"Kakak! Kenapa repot-repot antar aku pulang sih Kak? Aku kan bisa pulang sendiri–"
"Pulang sendiri atau diajak cowok tadi?" tanya Nico dengan nada cemburu.
"Cuma diajak pulang bukan diajak kawin–"
"Reana!"
Wanita itu tercenung melihat Nico yang terlihat begitu serius. Wanita itu tak berani berkata apa-apa lagi. Melangkah mengikuti, suaminya yang terlihat tak senang dengan ucapannya.
"Kakak maaf ya?" tanya Reana merayu.
"Kamu lebih senang diantar pulang oleh laki-laki itu dibanding oleh suamimu?" tanya Nico tegas.
Reana terdiam menatap suaminya yang sepertinya semakin kesal dirayu seperti itu. Wanita itu naik ke atas mobil lalu duduk diam. Melirik pada Nico yang mengemudikan mobilnya dengan wajah cemberut.
Begitu tiba di apartemen, laki-laki itu menurunkan Reana dan langsung melajukan mobilnya ke arah luar apartemen. Reana menatap mobil yang membawa suaminya itu dengan mata yang berkaca-kaca. Tiba-tiba mobil itu berhenti lalu bergerak mundur.
Mata Reana yang berkaca-kaca langsung mengalirkan air matanya. Nico turun dari mobilnya dan langsung memeluk istrinya. Wanita itu menghapus air matanya.
"Jangan berdiri di sini! Masuklah ke dalam. Sebentar lagi aku pulang ya," ucap Nico dengan nada yang membujuk.
Reana mengangguk. Nico mengangkat dagu istrinya lalu mengecup bibirnya. Nico beralih mengecup kening wanita itu lalu memeluknya sambil mengusap lengan Reana. Setelah Reana dirasa tenang. Laki-laki itu pamit kembali ke kantor.
Halo pembaca setia Noveltoon.
Sambil nunggu update selanjutnya, mampir juga ke salah satu karya temanku ini yaaa 🤗🤗🤗
Jangan lupa tinggalkan jejak sebagai dukungan buat Author, makasih 😘😘😘
__ADS_1
