Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 169 ~ Nostalgia ~


__ADS_3

Begitu masuk ke dalam apartemen, Reana tertegun. Menatap apartemen yang berantakan seperti kapal Titanic yang hampir karam. Nico sama sekali tak peduli keadaan apartemen yang berantakan. Tak seorang pun boleh masuk ke apartemen itu hingga bibi yang bertugas membersihkan apartemen itu pun tak bisa sempat menginjakkan seujung jari pun di apartemen itu.


Reana menggelengkan kepala, mulai memunguti sampah dan pakaian yang berserakan. Nico langsung meraih tangan istrinya. Nico tak mengizinkan istrinya yang tengah hamil muda itu membereskan apartemen yang seperti dilanda gempa bumi itu.


Nico justru diajak bernostalgia saat pertama kali kamar itu berantakan. Saat pertama kali jatuh pada ciuman pertama pada Reana. Setelah sekian lama tak merasakan lembutnya bibir seorang wanita, Nico justru dipaksa merasakan kembali, kenyal bibir seorang gadis.


"Sialnya, aku justru malah cium kamu–"


"Apa sial?" teriak Reana yang langsung mengejar Nico yang berlari setelah mengucapkan kata-kata itu.


"Ya sial, aku nggak bisa tidur setelah itu!" seru Nico menjawab ucapan Reana.


"Salah sendiri! Itu bukan salahku!" seru Reana masih mengejar Nico.


"Kamu lihat apartemen ini? Seperti itulah hidupku, hancur berantakan setelah cium kamu. Aku seperti terkena kutukan. Kutukan cinta," ucap Nico yang akhirnya berhenti di hadapan Reana lalu melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu.


"Kalau begitu harusnya cium Rebecca, biar terkena kutukan Rebecca," ucap Reana yang masih ingat cerita Ardy.

__ADS_1


"Ya, justru rencananya cium Rebecca biar nggak jatuh cinta. Aku yakin nggak akan jatuh cinta sama Rebecca," jelas Nico.


"Kenapa yakin tidak jatuh sama Rebecca padahal belum menciumnya?" tanya Reana.


"Karena aku sudah terlanjur jatuh cinta sama kamu," bisik Nico.


"Sebelum menciumku?" tanya Reana heran yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Nico.


"Aku rasa, aku sudah jatuh cinta saat melihatmu mengerjakan soal di papan tulis–"


"Oh, aku rasa banyak yang jatuh cinta padaku waktu itu," jawab Reana menyombongkan diri.


Mereka tertawa bersama lalu saling berpelukan. Menatap pemandangan dari balik kaca besar apartemen mewah itu. Nico paling suka menyandarkan dagunya di bahu Reana. Kalau dibiarkan mungkin bisa tertidur di sana. Laki-laki itu tiba-tiba mengusap perut Reana. Wanita itu tersenyum.


"Aku berhasil juga akhirnya," bisik Nico. Reana mengangguk.


"Kapan terjadinya itu? Apa waktu di rumah Mama? Hujan-hujan, dingin, sepi, hening, basah–"

__ADS_1


"Nggak tahu aaah!" seru Reana malu mengingat itu. Nico tertawa.


"Kalau anak kedua sulit didapat, aku mau ke sana lagi. Mandi hujan lalu bercinta," ucap Nico.


Wajah Reana langsung merona merah, Nico mengecup pipi yang merona merah itu, lalu beralih ke lehernya. Nico menelusuri, leher itu dan menikmatinya. Kata-kata bercinta itu membangkitkan hasrat mereka. Mereka pun segera melepaskannya meski di kamar yang berantakan. 


"Setelah ini kita mengungsi ke hotel, sementara menunggu bibi bereskan apartemen ini," ucap Nico dan Reana mengangguk sambil tersenyum.


Nico beristirahat sambil memeluk istri yang dicintainya itu. Mereka tak peduli lagi, walaupun masalah menghujani mereka, tak ada satu pun dari mereka yang berhenti mencintai. Meski terlihat meninggalkan tetapi hati mereka tak pernah meninggalkan satu sama lain. Nico memeluk erat istrinya. Mengucapkan kata cinta hingga berkali-kali hingga mata mereka mengantuk dan tertidur.


Entah berapa lama mereka sempat tertidur. Mereka tak sadar karena tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu di apartemen itu. Nico terbangun dan merasa heran. Mereka baru saja datang ke apartemen dan sekarang telah ada yang mencari.


"Kita diam saja, pura-pura tak ada orang," ucap Nico.


"Kakak, ayo cepat sana! Mana tahu ada hal yang penting," ucap Reana.


Nico bangun dengan malas-malasan lalu mengenakan pakaian. Segera Nico membuka pintu. Sementara Nico menemui tamunya, Reana segera mengenakan pakaiannya. Terdengar teriakan dari arah pintu apartemen. Segera Reana berlari melihat apa yang terjadi. Langkah wanita itu terhenti dan lalu tercengang. Reana menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2