
Seorang diri Reana menyusuri taman belakang kampus. Bangku taman yang pernah diduduki Alika masih kosong seperti sebelumnya. Ingatan Reana melayang pada saat Alika mengajaknya bicara dua hari yang lalu.
Saat itu adalah titik balik hubungannya dengan Alika. Sejak itu Alika tak pernah mau menatapnya lagi, Reana pun tak berani mengajaknya bicara. Sekedar hubungan basa-basi pun tak bisa tercipta diantara mereka. Reana merasa Alika pasti sangat membencinya.
Reana duduk dibangku yang pernah diduduki Alika. Jari tangannya bergerak menyusuri sandaran bangku. Punggung Alika pernah bersandar disitu. Momen itu mungkin menjadi momen terakhir bagi Reana dan Alika.
Reana beranjak ke sisi taman yang lain, disana terlihat sebuah labirin yang terbuat dari tanaman pagar, tak terlalu luas, namun cukup besar untuk dilewati. Reana tak cukup berani memasuki labirin itu, tak sanggup membayangkan dirinya yang terjebak di dalamnya.
Hidupku sudah cukup rumit, seperti masuk kedalam labirin dan tak tau dimana jalan keluarnya, bisik hati Reana.
Akhirnya Reana hanya mengitari sisi luar labirin. Di setiap sisinya tersedia beberapa bangku taman. Reana memilih duduk dibangku yang menghadap sisi lain dari taman itu.
Dari sana Reana bisa memandang gedung fakultas lain, yang berjarak cukup jauh melintasi padang rumput dan taman bunga.
Reana mengeluarkan buku yang dipinjamnya dari perpustakaan, mulai membaca satu persatu halamannya.
Tak berapa lama kemudian, Reana mendengar langkah kaki yang tak jauh dari tempat duduknya.
Mungkin sepasang kekasih yang sedang berpacaran, pikir Reana dalam hati.
Gadis itu bersiap-siap beranjak dari tempat duduknya. Dia sama sekali tidak tertarik mendengar percakapan sepasang kekasih itu. Reana tersenyum sendiri membayangkan pembicaraan apa yang bisa didengarnya jika dia tak buru-buru beranjak dari tempat itu.
"Maafkan aku Alika"
Reana tertegun, matanya terbelalak, gadis itu urung melangkah. Terdengar suara Hasbi yang meminta maaf pada Alika. Perlahan Reana kembali menempati bangkunya.
Suara Hasbi terdengar jelas, sepertinya mereka duduk disisi labirin yang tak jauh dari bangku Reana. Jarak mereka sangat dekat hanya dibatasi tanaman pagar yang tersusun rapat.
"Kamu adalah orang yang paling aku sayangi. Kamu adalah orang yang paling istimewa bagiku" ungkap Hasbi.
"Aku akan menjadi orang pertama yang marah jika ada yang menyakitimu" sambung Hasbi.
Namun tak terdengar jawaban dari Alika.
"Tapi perasaan yang kurasakan padamu berbeda dengan perasaanku pada Reana." lanjut Hasbi.
Reana terkejut, Hasbi menyebut namanya dalam pembicaraan mereka.
"Reana memiliki tempat khusus di hatiku. Entah sejak kapan dia menempatinya, tapi... sejak mengenalnya, aku selalu ingin melihatnya, ingin selalu berada didekatnya, selalu merindukannya" sambung Hasbi sambil menunduk.
"Tapi Reana tak pedulikan perasaanmu, Reana memilih kakak kelas itu" terdengar Alika membalas perkataan Hasbi.
"Namanya Nico, aku sudah lama mengenalnya" ingatan Hasbi melayang ke masa orientasi pengenalan kampus.
"Kamu ingat, pernah menanyakan luka di lenganku? ucap Hasbi sambil memperlihatkan lengan bawah dekat sikutnya.
Alika mengangguk.
"Nico yang membalut nya".
Alika tercengang, Reana tertegun.
__ADS_1
"Saat itu masa orientasi pengenalan kampus, aku mendukung kelompok ku dengan mengikuti lomba basket di lapangan terbuka" Hasbi tersenyum saat mengingat masa itu.
"Kami diwajibkan melepas kaos dan melinting celana hingga ke paha, lucu sekali, seru" ucap Hasbi tersenyum.
"Aku mengalami benturan dengan teman se tim. Dianya baik-baik saja tapi aku terjatuh, mungkin karena badanku yang masih kurus kecil, aku terluka. Lenganku tergores mengeluarkan darah. Aku masih ingat paniknya panitia ospek waktu itu" Hasbi menghela nafas.
"Nico berdiri dari bangku belakang, menawarkan diri membawaku ke ruang perawatan. Nico menyuruhku membawa baju dan kantong kresekku agar aku bisa sekalian istirahat disana" ucap Hasbi sambil membayangkan situasi saat itu.
Kantong kresek adalah satu-satunya tas yang boleh dipakai saat itu. Alika dan Reana mendengarkan dalam diam.
"Dia merawat lukaku, menghiburku seperti seorang kakak terhadap adiknya. Dia berkata lukaku mungkin akan meninggalkan bekas.
Ini adalah bekas luka yang berharga, berharga karena didapat dari perjuangan membela tim. Itulah yang diucapkannya waktu itu.
Kata-kata yang membuatku terkesan. Kata-kata yang tak pernah bisa kulupakan. Tak ada rasa sedih, meskipun tanganku terluka, yang ada justru rasa bangga, semua berkat dukungannya" Hasbi menghentikan ceritanya, menarik nafas sekilas.
"Memiliki kepribadian yang peduli sesama, tidak mementingkan diri sendiri dan penyayang. Aku bahkan langsung mengidolakannya.
Tak peduli jika dia hanya mahasiswa biasa yang duduk menonton pertandingan dari belakang. Bukan mahasiswa yang memiliki jabatan atau panitia ospek yang cuap-cuap perintah sana perintah sini, maki sana maki sini, bentak sana bentak sini" lanjut Hasbi tertawa mengingat betapa sombongnya para panitia ospek dengan jabatannya waktu itu.
Alika juga ikut tersenyum melihat Hasbi yang semangat menirukan gaya panitia-panitia ospek saat itu.
"Kamu juga ingat, kan? kalau kita diperintahkan mengumpulkan tanda tangan senior waktu itu"
Alika mengangguk.
"Kita harus mengumpulkan tanda tangan disebuah buku berisi nama-nama mahasiswa berikut jabatannya di organisasi" jawab Alika.
Alika teringat dengan jelas dan langsung ikut mengomentari.
Hasbi mengangguk membenarkan.
"Aku menyodorkan buku itu padanya, dia tertawa saat melihat buku itu. Dia bilang aku memanfaatkan wajah gantengku untuk mendapatkan tanda tangan mahasiswi senior, karena memang sebagian besar yang memberi tanda tangan padaku adalah senior cewek"
Reana tersenyum, Alika mencubit Hasbi, aroma cemburu terasa karena Hasbi memang sering dikelilingi senior cewek saat itu.
"Dia mengucek kepalaku sambil berkata, besar nanti jangan jadi playboy ya" cerita Hasbi sambil tertawa.
"Seperti nasehat seorang kakak terhadap adiknya bukan?" tanya Hasbi masih tertawa.
Alika mengangguk, dia juga ikut tertawa, sementara Reana tersenyum di bangkunya. Reana mengurungkan niat pergi dari tempat itu karena tertarik mendengar cerita Hasbi.
"Seseorang dengan kepribadian yang hangat dan tampan. Kalau aku cewek, mungkin sudah jatuh cinta padanya" ujar Hasbi, lagi-lagi Alika tersenyum mendengarnya.
"Lalu dia memberikan tanda tangannya padamu?" tanya Alika.
"Mm.. dia menuliskan tanda tangannya, saat kubaca, tertulis nama Nicholas Rayne, jabatan Ketua Senat Mahasiswa Universitas"
"Benarkah?" Alika terlonjak kaget.
Hasbi mengangguk.
__ADS_1
"Tak disangka, cowok yang hanya duduk diam di kursi belakang. Cowok yang sikapnya jauh dari kesan sombong, justru memiliki jabatan tertinggi di kampus ini.
Aku sampai memastikan, agar dia tidak salah tempat menulis tanda tangannya.
Tapi itulah dia, orang yang kukira bakal sulit mendapat tanda tangannya, justru orang yang merawat lukaku" cerita Hasbi tersenyum kagum.
Dia mungkin tidak mengingatku tapi aku takkan pernah melupakannya" lanjut Hasbi pelan.
"Ironi bukan, orang yang paling kukagumi, sekarang menjadi orang yang paling kubenci" sambung Hasbi terlihat sedih.
"Nicholas Rayne ?" tanya Alika,
"Rayne ?" ulangnya lagi
Hasbi menoleh heran pada Alika.
"Sedari tadi nama itu mengganggu pikiranku, panggilan itu, seperti pernah kudengar... Rayne... Rayne... kakak kelas itu... mungkinkah Senior Rayne ?" tanya Alika tiba-tiba.
"Senior Rayne?" Hasbi juga ikut bertanya heran.
"Ah... Senior yang memberi bangku waktu itu" ingat Alika.
"Diakah orangnya? tapi mungkin saja, saat kakak kelas itu merawat lukaku, aku memiliki kesan baik terhadapnya, wajahnya seperti menimbulkan perasaan kagum terhadapnya, mungkin aku lupa, kita hanya sekilas bertemu dengannya, kita bahkan tidak mempercayai ucapannya" lanjut Hasbi.
"Kita bahkan tidak berterima kasih padanya" sambung Alika sambil mengangguk.
"Benar bukan? kak Nico itu orang yang peduli sesama, tidak sombong, tidak bangga dengan jabatannya, dia memberi bangku itu pada kita tanpa perlu mengenal siapa kita, dia bahkan tidak peduli meskipun kita tidak berterima kasih padanya" ucap Hasbi seperti masih menyesali.
"Tapi sejak itu kita tidak pernah bertemu dengannya lagi sekedar untuk mengucapkan terima kasih" lanjut Alika.
"Mungkin karena kesibukannya, atau jadwal kita memang berbeda dengannya" pikir Hasbi.
"Sekarang kita sudah mengingatnya, dan juga sudah bertemu lagi dengannya, apa kamu akan berterima kasih padanya untuk kebaikannya waktu itu? " tanya Alika.
"Entahlah, dengan kondisi kita sekarang, dengan perasaan yang kita miliki sekarang, sepertinya tidak mungkin untuk mengingat kembali kejadian waktu itu, biarlah rasa terima kasih itu tersimpan di dalam hati kita" ucap Hasbi menyesal karena hubungan yang tidak baik antara dirinya dan Nico.
Hasbi terdiam, ada penyesalan dihatinya saat mengingat kejadian di aula basket. Tak pernah terpikirkan olehnya kalau suatu saat dia akan melayangkan tinjunya pada orang yang dikaguminya itu.
Emosi, cemburu, adalah awal dari hilangnya akal sehat.
"Jangan membenci Reana, karena dia tidak bersalah" ucap Hasbi menoleh pada Alika yang hanya tertunduk.
"Meskipun Reana tidak memilihku, tetap saja aku tak bisa bersamamu, karena kamu bukan wanita cadangan. Kamu lebih berharga dari itu. Jauh... jauh lebih berharga dari itu" ucap Hasbi sambil membelai rambut Alika.
Alika tertunduk airmatanya menetes.
"Suatu saat kau akan menemukan seseorang yang lebih baik dariku. Seseorang yang istimewa, sama sepertimu" lanjut Hasbi mengusap air mata yang menetes dipipi Alika
Bentuk penolakan yang lembut dari Hasbi namun pasti. Tak ada harapan bagi Alika untuk mendapatkan cintanya.
Reana menitikkan airmata, bukan akhir seperti ini yang diharapkannya.
__ADS_1
Alika, Reana dan Hasbi, diam bersamaan. Diam dengan pikiran dan kesedihannya masing-masing.
...*****...