
"Kenapa diam saja, ayo cerita padaku Ra, apa yang terjadi padamu?" Ferdy yang penasaran, mendesak Zahra untuk bercerita. Karena, kini Zahra nampak linglung.
"Ra..?" menggenggam tangan Zahra yang dari tadi asyik diremasnya. Dia sungguh bingung dan takut. Dia belum yakin, apabila menceritakannya pada Ferdy. Takutnya masalah tambah runyam. Dia yakin, Ferdy akan sangat marah, jika dia menceritakan apa yang dilakukan Rara padanya.
Lagi pula, kejadiannya ada di hotel. Di kampungnya Zahra. Hotel adalah tempat yang negatif. Kalau dia cerita kepada Ferdy. Terus kasus ini mencuat. Bisa-bisa citra dirinya ikut buruk. Kadang, berita yang tersebar selalu lari dari fakta.
"Ra..?" Zahra yang pikirannya melanglang buana itu dibuat kaget, oleh tangan Ferdy yang berlabuh di tangannya. Dia pun dengan cepat menarik tangannya. Dan mendaratkan tangannya di atas ranjang.
"Iya Fer." Menatap Ferdy yang terlihat tak sabar mendengarkan ceritanya.
"Kamu pelayan di sini. Tapi, koq bisa masuk ke kamar mewah ini?" Zahra menyoroti seluruh sudut kamar itu, mengalihkan pembicaraan, dia mengubah topik. Setelah dipikir-pikir, menceritakan pada Ferdy bukanlah solusi terbaik. Mana mungkin Ferdy bisa mengalahkan Rara dan ayahnya. Ferdy sama sepertinya. Masih anak sekolahan. Ayahnya Rara kan orang kaya. Rara sering pamer tentang kekayaan keluarganya di sekolah.
"Aku bekerja di bagian Housekeeping. Yaitu bagian yang memelihara atau menjaga kebersihan hotel. Aku diberi tugas, untuk membersihkan kamar hotel. Ya aku bisa lah masuk ke kamar hotel yang kosong." Ucap Ferdy dengan perasaan tidak enak, karena berbohong. Dia tidak mungkin juga mengatakan pada Zahra, kalau hotel ini adalah milik ayahnya. Dan sudah kebiasaannya, di akhir pekan. Akan menginap di hotel ini. Makanya, dia datang ke hotel ini sepulang sekolah.
"Oohh... " Zahra sedikit tidak percaya dengan penjelasan Dari Ferdy. Mana mungkin pelayan Hotel, bisa bebas masuk ke kamar. Kuncinya dapat dari mana? Tapi, dia lagi malas untuk menyangkalnya.
"Kamu belum cerita, kenapa kamu tadi lari dengan tergesa-gesa dan terlihat ketakutan?" Zahra yang memutuskan tidak akan menceritakannya, memalingkan pandangannya. Dia bingung juga mau cari alasannya. Soalnya tadi dia sempat bilang, sedang ingin dicelakai oleh Rara.
"Bukannya tadi kamu bilang, Rara ingin mencelakaimu?" Masih menilik wajah Zahra yang nampak bingung itu. Antara mau cerita dan tidak.
"Ra..!" Zahra pun terkaget-kaget dengan suara tegasnya Ferdy.
"I--ya Fer, Rara ingin mengerjaiku. Mencoba mencekokiku dengan minuman beralkohol." Ucapnya gugup, karena tak berani menatap wajah seriusnya Ferdy. Sungguh saat ini perasaan Zahra tidak tenang. Dia ingin cerita, tapi dia sungguh takut. Malah menimbulkan masalah baru.
__ADS_1
"Terus...?" Ferdy masih penasaran dan belum yakin dengan penjelasannya Rara.
"Aku, aku gak mau. Makanya aku mencoba melarikan diri." Zahra semakin gugup, wajahnya terlihat tegang.
"Oohh... Tapi, kenapa sampai selarut ini, kamu masih berkeliaran di sini? bukannya acara Rara sudah selesai pukul 00.05 dini hari. Ini saja sudah pukul dua dini hari."
"Koq kamu tahu Fer, kalau acaranya Rara selesai?" Rara malah balik nanya. Jelaslah Ferdy tahu, club' yang ada di hotel mereka. Hanya beroperasi sampai pukul 12 malam.
"Ya tahulah Ra. Aku kan kerja di sini?"
"Apa kamu tadi ikut di acara itu?" tanya Zahra dengan penasarannya.
"Gak ikut, walau si Rara mengundangku tadi. Aku tolak mentah-mentah. Ngapain ikut acara begituan." Jelas Ferdy, masih penasaran dengan Zahra yang terlihat semakin bingung itu .
"Yang kaya itu orang tuaku Ra. Kalau aku belum punya apa-apa." Jawab Ferdy mulai panik, takut kebohongannya terungkap.
"Heran saja, masak orang tuamu, mengizinkan kamu kerja di sini? aneh." Zahra semakin bingung saja dibuat pria yang ditaksirnya ini.
Dia tahu Ferdy kaya, dari kawan-kawannya. Karena, Ferdy sering juga naik mobil ke sekolah. Kalau lebih jauh tentang Ferdy dia tidak tahu. Karena, Ferdy kan murid baru. Baru juga tiga bulan sekolah di sekolah nya Zahra. Walau baru kenal, Ferdy yang juga suka sama Zahra, sudah sering membantunya dalam hal materi.
"Gak usah bahas aku sekarang, nanti juga kamu akan tahu sendiri. Sebaiknya, ceritakan tentang kamu. Kenapa kamu masih berkeliaran, dan mau ikut dugem dengan Rara. Itu bukan karaktermu."
Pertanyaan Ferdy mengusik hatinya Zahra. Dia tidak mau membahas itu lagi. Kini raut wajah Zahra semakin kusut saja. Ferdy yang merasa ada yang tidak beres, akhirnya tidak mau mendesak wanita yang kini masih duduk di hadapannya untuk bercerita. Ferdy pun akhirnya tersenyum tipis pada Zahra yang terlihat tidak tenang itu.
__ADS_1
Mekkah senyum manisnya Ferdy. Seketika rasa gugup, bingung, sedih dan takutnya Zahra hilang sudah. Wanita itu pun membalas senyum manisnya Ferdy. Kemudian wanita itu beranjak dari atas ranjang. Ferdy pun akhirnya berdiri dari tempat duduknya.
"Fer, boleh gak aku minta tolong?" menatap sekilas Ferdy dan kembali menundukkan pandangan, karena grogi ditatap terus oleh Ferdy.
"Boleh, tapi aku masih penasaran dengan kejadian yang menimpa dirimu." Zahra memalingkan wajah nya tidak berani menatap Ferdy yang terlihat sangat tidak sabar nya menunggu penjelasannya.
"Aku kan sudah bilang Fer, Si Rara ingin menjebakku. Aku gak mau. Terus aku sembunyi dari kejaran teman-temannya di belakang." Masih tidak berani menatap Ferdy yang terus menatapnya lekat. Zahra jadi salah tingkah dibuat tatapan pria tampan itu. Dia pun menghela napas dalam, guna memenangkan dirinya yang nervous itu
"Ooohh..!" jawab Ferdy pendek, memperhatikan Zahra yang mengambil botol air minum yang ada di atas nakas. Pria itu memperhatikan Zahra yang minum seperti orang yang berbuka puasa saja. Sebaiknya dia tidak usah mendesak Zahra cerita. Dia akan cari tahu sendiri. Dengan memeriksa CCTV di setiap ruangan hotel itu.
"Temenin aku pulang ya?" tentu saja Ferdy senang dengan permintaan wanita yang ditaksirnya sejak pandangan pertama itu. Tepatnya saat perpustakaan sekolah. Terus berlanjut, saat Ferdy menemani sang Nenek yang memaksa pergi ke pasar. Di pasar itu, lagi-lagi Ferdy kagum melihat sosok Zahra yang pekerja keras dan nampak ceriah.
"Fer..!" Pria itu sempat terbengong. Karena senang diminta untuk mengantar Zahra. Ini kesempatan besar buatnya, untuk lebih dekat pada Zahra. Karena, akhir-akhir ini, Zahra seperti menjauh darinya. Ferdy gak tahu saja, Zahra menjauh. Tak lain karena ancaman Rara.
"Iya Ra. Ayo.,!" menarik cepat lengan Zahra. Zahra yang terkejut dengan kelakuan Ferdy, memperhatikan tangannya yang digandeng dengan jantung yang bertalu-talu. Rasanya begitu mendebarkan.
Zahra memang tipe wanita yang keras. Tapi, tergolong gampang terpesona dengan pria yang terlihat baik di matanya.
Ya sifat wanita begitu pada umumnya. Cepat merasa, apabila ada pria yang perhatian dan baik padanya. Tapi, sekali kecewa, sakit hatinya akan susah sembuh.
TBC
Like, coment, vote ya say
__ADS_1