
Semalam suntuk Ezra memikirkan apa yang dikatakan oleh Dika. Dia bahkan tak bisa tidur, karena memikirkan hal itu. Otaknya sudah terasa panas.
Pria yang lagi kacau itu, bangkit dari tempat tidurnya. Ya, di ruangan itu ada disediakan satu bed, untuk tidur keluarga pasien. Ezra berjalan lemah ke arah Anin, yang tertidur dengan pulasnya. Tapi, anehnya ada cairan di sudut mata wanita itu.
Hati Ezra begitu sakit melihat keadaan Anin. Tak seharusnya dia menikahi wanita ini dengan buru-buru. Yang akhirnya hanya memberi luka pada wanita ini. Harusnya dia memilih istrinya ini, karena sudah sah di mata agama dan hukum. Tapi, dia dan Zahra sudah jauh melangkah. Mana mungkin dia mempertahankan Anin lagi. Itu sama saja dia berbuat dosa besar.
"Kamu yang kuat ya Dek. Sampai kapan pun aku akan menghargaimu, tetap sayang padamu. Besok kamu akan bertemu dengan Zahra di kota Medan ya!" ucapnya lirih, membelai kepala sang istri yang tertidur itu.
Sejak mengenal Anindya, ada semangat yang sangat besar timbul di dalam diri pria itu untuk berani berumah tangga lagi. Karena dengan mengenal Anin, mata hati pria itu dibukakan, bahwa di dunia ini masih banyak wanita yang baik.
Ezra akhirnya memutuskan akan menceritakan semuanya pada Zahra besok. Semoga istrinya itu bisa tegar disaat mendengar kenyataan pahit ini. Benar kata Dika, akan lebih baik, jika Zahra cepat diberi tahu, jangan sempat kenyataan pahit ini, diketahui istrinya itu dari orang lain. Ezra yakin dengan keputusan itu, setelah menunaikan sholat istikharah.
***
Pagi ini Zahra sangat semangat sekali. Dia akan ikut mengantarkan sang nenek berangkat haji. Dia diperbolehkan ikut mengantar sang nenek sampai ke bandara. Tentu saja, Bimo sudah mengawalnya ketat.
Sang nenek banyak memberi nasehat pada Zahra, agar lebih dewasa. Dan benar-benar menjalankan peran yang sesungguhnya sebagai istri. Bersabar jika sang suami sedang di rumah istri sahnya. Karena Zahra harus tahu diri. Bahwa dia lah yang masuk dalam rumah tangganya Ezra.
"Aduhh... Nenek sayang, sudah dong ceramahnya. Aku tuh sedih nek. Zahra akan kesepian sekarang." Ujar Zahra dengan berlinang air mata. Mereka sedang di bandara. Dan nek Ifah serta rombongan haji plus akan berangkat.
__ADS_1
"Iya, kamu jangan lupa sholat. Nenek akan berdoa di tanah suci. Agar kita berkumpul lagi dengan ibumu. Semoga dalam waktu dekat, kita menemukan ibumu." Nenek dan cucu itu pun berpelukan dengan begitu harunya. Zahra tidak sanggup berpisah dengan sang nenek. Karena dia belum pernah berpisah dengan wanita tua itu.
"Doakan nenek ya sayang!"
"Iya nek, nenek baik-baik di sana. Telpon Zahra kalau nenek ada waktu luang."
"Iya sayang!" Sang nenek melepas pelukan cucunya itu. Zahra hanya bisa melambaikan tangan disaat sang nenek masuk ke pintu keberangkatan bersama jemaah lainnya.
Wajah sedih jeaka terlihat di wajah wanita itu. Padahal tadi pagi saat berangkat dari rumah, Zahra begitu semangat. Akhirnya impian sang nenek juga terwujud juga. Melaksanakan ibadah haji. Ini semua tak luput dari kebaikan suaminya itu.
Zahra yang masih sedih itu, memilih duduk sebentar, sebelum mereka pulang ke rumah. Dia perlu menenangkan dirinya saat ini. Dia merasa seorang diri di kota Medan itu.
"Iya, tapi aku ke toilet sebentar." Ujar Zahra menatap Bimo penuh harap, agar diizinkan ke toilet.
"Baiklah, ayo!" Zahra mengikuti langkah nya Bimo. Dia baru kali ini ke Bandara itu, jadi dia gak tahu di mana letak toilet wanita.
"Di sini!" Bimo menunjuk toilet untuk wanita, Zahra langsung masuk ke dalam toilet yang cukup luas itu. Sedangkan Bimo menunggu di luar.
Saat Zahra membuka pintu toilet yang digunakannya untuk keluar. Seorang wanita malah mendorongnya kuat agar masuk kembali ke dalam. Zahra yang terkejut, akan kelakuan wanita yang tidak dikenalnya itu melakukan perlawanan. Sehingga keributan di dalam bilik toilet itu terjadi. Bahkan wanita itu kena satu tinju dari Zahra.
__ADS_1
"Ibumu Anindya, aku tahu dia di mana?" Tangan Zahra yang dikepalnya mengatung di udara, saat hendak menghadiahi wanita yang tak dikenalnya itu. Zahra terkejut mendengar wanita cantik di hadapannya menyebut nama ibunya.
"Kamu ingin bertemu ibumu kan? lepaskan dulu tanganmu!" melihat Zahra melunak, wanita itu mulai berani, dia bahkan membentak Zahra. Dia kesal, karena Zahra menonjoknya.
"Lepaskan tanganmu dari bajuku!" titah wanita itu lagi, walau Zahra sudah menurun tangannya yang sedang dikepal kuat itu. Tapi, satu tangan nya lagi, masih menarik kuat kerah kemeja wanita itu.
"Siapa kamu, dari mana kamu tahu nama ibuku Anindya?" Zahra menatap tajam wanita yang sok berani di hadapannya.
"Sabar, sebentar." Wanita itu merogoh sesuatu dari tasnya. Zahra sungguh penasaran dibuatnya.
"Ini, kamu lihat ini..!" Wanita itu mencampakkan selembar foto kepada Zahra yang mengena ke wajahnya. Sebelum foto itu jatuh ke lantai, dia sudah meraih foto itu.
Dug....
Raut muka Zahra menegang melihat sang ibu dan sang suami ada di foto itu.
TBC
Like, coment dan vote say
__ADS_1