
Pertumpuran sengit itu pun berakhir. Kedua pria yang beda generasi itu, sama-sama mengalami luka di bagian wajah. Napas keduanya masih memburu. Terlihat dada kedua pria itu naik turun. Kelelahan pastinya ditambah emosi yang masih membara.
"Tunggu perhitungan dari saya!" ancam Ezra menunjuk Ferdy dengan penuh kebencian. Anak ingusan itu, ikut campur dalam urusan pribadinya.
Ezra yang masih kesal itu, masuk ke dalam mobilnya. Dia pun langsung tancap gas. Dia mencari keberadaan sang istri di sekitar rumah sakit. Sudah setengah jam bolak balik di sepanjang jalan rumah sakit itu, dia tak melihat keberadaan Zahra. Dia memarkirkan mobilnya, meraih ponselnya dalam saku celananya. Dia menghubungi nomor istrinya itu, tapi tak aktif.
"HALWA......!" teriak keras, memukul stir mobil dengan emosinya. Rasa sakit di wajah yang lebam dan bengkak sudah tak dirasakan pria itu lagi. Rasa sakit sudah teralihkan kepada rasa kecewa, dan frustasi. Karena dia kehilangan jejak istri tercinta.
Ezra harus bergerak cepat. Dia menghubungi Bimo, agar bertindak cepat mencari keberadaan Zahra.
"Iya Bos, iya bos." Jawab Bimo dalam panggilan suara itu. Bimo yang baru saja tidur itu, akhirnya bangkit dari ranjang. Menghubungi Semua anak buahnya, agar mencari keberadaan Zahra. Tentu saja dia meminta bantuan pada pihak berwajib.
Ezra yang tidak tenang, kembali menghubungi Bimo.
"Lakukan Razia di JALINSUM (Jalur lintas Sumatera)!" titah Ezra tegas.
"Iya bos, iya... Ini aku lagi menghubungi koneksi kita di kepolisian." Jawab Bimo dengan tidak tenang, dia yang sedang bicara dengan pihak berwajib terpaksa mengangkat telpon Ezra. Dan menahan panggilan ke pihak berwajib.
Ezra menghela napas panjang. Pria itu melakukannya berulang kali, agar bisa tenang. Dia sangat tegang saat ini. Dia begitu mencemaskan Zahra. Dia tak mau kehilangan wanita itu. Dia juga takut, Zahra diganggu preman. Walau dia jago bela diri, tapi kalau lawan tak seimbang dan menggunakan senjata tajam tentu dia bisa kalah Apalagi sekarang sudah larut malam. Kota Medan, kota terbesar ketiga di Indonesia. Ini kota metropolitan, tentu saja tempat ini riskan kejahatan.
Setelah merasa tenang, Ezra kembali ke rumah sakit. Dia masih ingin membuat perhitungan kepada anak ingusan itu. Ezra mencari keberadaan Dokter Alvian. Karena saat ini hanya itu yang bisa dijumpainya untuk bertemu dengan anak ingusan itu. Apalagi tadi saat peperangan terjadi, Dokter Alvian turut melerai keduanya.
"Sebentar ya Pak, Dokter Alvian sedang visit ke ruangan pasien. Ada pasien yang kritis." Ujar perawat yang piket malam itu. Saat ini Ezra tak kepikiran lagi pada Anin. Pria dewasa yang lagi emosional itu, ingin sekali bertemu dengan anak ingusan yang selalu ikut campur. Anak ingusan itu perlu diberi pelajaran.
"Pak, sembari menunggu. Kami bisa mengobati luka di sudut mata dan bibir bapak." Ujar perawat ramah. Ezra yang lagi sibuk dengan ponselnya duduk dengan tidak tenang di kursi akhirnya menoleh ke arah perawat yang masih tersenyum ramah.
"Ooh iya, itu ide bagus." Ujar Ezra, dia memang sudah lupa, kalau wajahnya babak belur. Dia sibuk mengantisipasi agar hatinya tak terluka, jika Zahra tak kunjung ditemukan.
__ADS_1
Perawat pun mulai mengobati lukanya Ezra
"Hikkksss..... !" ringis pria itu, dia baru sadar, kalau luka di wajahnya cukup parah. Karena rasanya sangat sakit dan perih. "Aduh sus, jangan ditekan kuat. Sakit..!" ujarnya seperti anak kecil tanpa sadar.
"Maaf pak, darahnya sudah mengering, jadi harus ditekan kuat. Ditahan ya pak, sebentar koq." Ujar perawat berjenis kelamin wanita yang ternyata masih gadis itu. Ezra pun akhirnya memilih diam, menahan perihnya saat wajahnya di obati. Saat itu Dokter Alvian pun datang ke tempat itu.
"Dok, kita perlu bicara serius." Ujar Ezra, dia masih diobati oleh perawat.
"Iya pak," ujar Alvian, mendudukkan bokongnya di kursi empuk warna hitam di sebelah Ezra. Kemudian pria itu sibuk dengan ponselnya.
Ezra yang sudah selesai diobati bangkit dari tempat duduknya. "Kita bicara di cafe terdekat " Ezra melangkah lebar keluar dari ruangan itu.
"Hubungi saya, jika ada hal genting." Ujar Dokter Alvian pada perawat yang piket hari itu. Dia pun menyusul Ezra ke parkiran. Kali ini Alvian ikut mobilnya Ezra.
Sesampainya di sebuah cafe. Ezra memesan minuman untuk mereka. Keduanya memesan kopi pahit.
"Dia sudah pulang pak, dia putra saya!"
"Apa...?" Ezra tercekat mendengar ucapan dokter ini. Ini kabar buruk, kenapa ayah dan anak ini, seperti mengincar istri-istrinya. Dokter Alvian, terlihat punya perasaan pada Anindya. Dan bocah tengil itu terang-terangan mengatakan saat mereka berduel, mencintai Zahra. Dan tak mau melihat wanita yang dicintainya dikasari oleh orang lain.
"Aku tak terlalu menanyakan apa masalah nya tadi pada dia. Kalau ini memang kesalahannya, aku sebagai ayahnya mewakilkan untuk minta maaf." Ujar Alvian dengan ekspresi wajah datar. Dia juga jadi kurang respect pada Ezra, setelah mengetahui bahwa Ezra punya istri dua. Dan istrinya itu adalah ibu dan anak.
Alvian sedikit berbohong di sini. Dia sebenarnya menanyakan semuanya pada Ferdy. Ferdy yang tak mau disalahkan, akhirnya menceritakan semuanya pada ayahnya itu. Mulai dari kejadian di sekolah, penjebakan Zahra di hotel mereka, hingga Zahra di usir warga dari kampung.
"Saya pastikan, dia tidak akan ikut campur lagi dalam urusan pak Ezra." Ujar Alvian tegas. "Kalau tak ada hal lain mau ditanyakan, saya pamit." Alvian bangkit dari duduknya, dia bukan orang kurang kerjaan yang mau ikut campur dengan urusan orang lain.
"Tunggu dulu pak Dokter. Bapak duduk dulu, ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan bapak." Ujar Ezra, memberi kode dengan tangannya agar Alvian mau kembali duduk.
__ADS_1
Alvian menghela napas setelah duduk kembali di kursinya. "Mengenai apa tu pak Ezra, saya harap pertengkaran tadi gak usah diperpanjang."
"Bukan soal itu pak Alvian. Ini soal Anin dan Pak Alvian."
Kening Alvian mengerut mendengar ucapan Ezra. Kenapa pula dia dikaitkan-kaitkan dengan istrinya.
"Aku terjebak dalam masalah besar pak Alvian. Aku tak tahu, kalau aku ternyata sudah menikahi dua wanita yang sebenarnya punya status ibu dan anak."
Kedua bola mata Alvian membulat mendengar penuturan pria di hadapannya. Dokter Alvian bahkan melepas kaca mata saking terkejutnya.
"Besok berkas pembatalan pernikahan akan saya daftarkan. Aku memilih Putrinya Halwatuzahra. Karena aku tak mau melanggar syariat."
"Apa..? jikalau bapak memilih anak tiri jadi istri. Itu yang diharamkan di agama. Waaahh... Gila, ada kasus seperti ini. Menikahi dua wanita dan tak tahu asal usulnya." Ferdy tersenyum devil, merasa eneg mendengar penuturan pria di hadapannya.
"Aku belum pernah menyentuh Anin. Dan oleh karena itu, aku bisa menikahi putrinya."
"Apa...?" Alvian tercengang mendengar ucapan Ezra. Kasihan juga Anin. Pikir pria itu.
"Aku tak mau masalah ini berlarut-larut. Aku beri tahu ini kepada pak Alvian. Karena aku merasa pak Alvian ada rasa pada Anin. Anin masih dalam perawatan. Ku harap, bapak bisa menanganinya dengan baik. Karena dia juga tak tahu dengan masalah ini semua. Jikalau dia tahu, saat berkas pembatalan pernikahan diproses, dia pasti syok. Di sinilah kehadiran dan bantuan dokter saya perlukan."
Alvian tersenyum tipis dengan kepala yang tak berhenti menggeleng saat Ezra menjelaskan semuanya. Benar-benar tak masuk akal pikirnya.
"Aku tak mau ikut campur dengan urusan pribadi bapak. Kalau menyangkut kesehatan Anindya, memang sudah tanggung jawab ku sebagai dokter." Ujar Alvian, terlihat menghabiskan minumannya. " Baiklah pak Ezra, saya pamit dulu."
Ezra terbengong melihat sikap dinginnya dokter Alvian, padahal selama dia kenal dokter itu ramah. Dia tidak menyangka kalau Dokter itu, sulit juga membuka diri. Buktinya Dokter itu tak mau cerita apa hubungannya dengan Anin di masa lalu lebih detail lagi.
TBC.
__ADS_1
Like coment vote say