
Ezra membaringkan sang isteri dengan lembut di atas ranjang. Memperhatikan dengan lekat wajah sang istri yang sedih terlihat sedih. Dan wajahnya pucat bagai bulan kesiangan. Ezra jadi sangat mengkhawatirkan istrinya itu. Kenapa istrinya itu bisa pingsan. Kenapa jadi lemah begini? Gak mungkin istrinya itu pingsan, istrinya itu kuat. Gak makan satu bulan pun, Ezra yakin Zahra tidak akan pingsan.
"Wa, wa sayang...!" berusaha membangunkan sang istri dengan membelai wajah pucatnya Zahra. "Sayang ..!" masih berusaha membangunkan Zahra, pria itu mendudukkan bokongnya di tepi ranjang.
"Wa, ini Hubby sudah pulang. Katanya kangen...!"
PLAAKKK....
Satu tamparan yang begitu kuat mendarat sempurna di wajah tampannya Ezra. Kelima jari sang istri, bahkan terlukis di pipinya Ezra. Saking kuatnya wanita itu menampar sang suami.
Zahra tahu perbuatannya itu salah, menampar suami sendiri. Tapi, dia dengan cepat menepis rasa bersalah itu. Sampai kapanpun dia tak akan pernah menganggap Ezra sebagai suaminya.
Zahra dengan cepat mendudukkan tubuhnya. Menatap tajam kepada Ezra yang kini wajahnya masih menoleh kesamping. Efek tamparan Zahra yang kuat.
Zahra mempersiapkan dirinya saat ini. Kalau Ezra tidak terima dirinya ditampar, dan akan membalas. Maka kakinya Zahra sudah siap untuk menendang kuat pria itu. Tapi, ternyata itu hanya dugaannya saja. Ezra malah diam membisu, menunduk dan memegang pipinya yang kini terasa panas.
Zahra sebenarnya tidak pingsan. Dia hanya berpura-pura pingsan. Dia berharap Bimo akan melarikannya ke rumah sakit. Eehhh... Nyatanya dibawa ke rumah. Zahra beracting seperti itu, agar bisa bertemu dengan sang ibu di rumah sakit.
"MENJIJIKKAN..... MENJIJIKKAN.....!" teriak Zahra histeris, mengusap kasar seluruh tubuhnya, dia tak mau ada bekas parfum sang suami menempel di tubuhnya.
Mendengar kata-kata penuh kebencian keluar dari mulut sang istri, membuat Ezra tersadar, sepertinya istrinya itu sudah tahu segalanya.
"Apa salahku padamu Pak tua...?" memukul kuat bahu sang suami yang masih terdiam seribu bahasa itu.
"Tega sekali kamu lakukan ini padaku dan ibuku. Huahuaahua....!" Zahra sedih, dia teringat dirinya yang sudah diperawani pria di hadapannya.
__ADS_1
"Dasar iblis... Manusia Dajjal, kau sama dengan anakmu, tak punya moral. Terlihat religius, tapi perangaimu seperti binatang. Pantas saja kau jadi duda, istrimu yang dulu meninggalkan mu, karena kau pria kurang ajar. JAHANNAM...!" Ujar Zahra penuh dengan kebencian. Tangisnya pecah, dia benci Ezra dan dirinya sendiri. Dia menyesalkan semua yang terjadi pada mereka. Terutama acara malam pertama itu.
Wanita itu tak bisa menguasai dirinya. Sehingga keluarlah kata-kata yang tak seharusnya diucapkan. Amarah telah menguasai dirinya.
Ezra sangat syok mendapat makian dari istri yang sangat dicintainya itu. Ucapan istrinya itu sangat pedas, tajam menyayat hati. Seumur hidup baru kali ini dia dimaki habis seperti ini. Rani saja yang perilakunya seperti binatang. Tapi, tak berani kasar padanya. Apalagi meninggikan suara seperti yang dilakukan oleh Zahra.
"Kenapa kamu diam pak tua? sadar ya kalau salah?" menarik bahu sang suami, agar mau menatapnya. Dari tadi suaminya itu diam terus.
"Kita akan bahas ini, kalau adek sudah merasa tenang." Ujar Ezra menatap lekat sang istri dengan mata berkaca-kaca. Walau dia nampak tenang, sebenarnya saat ini. Ezra sangat sangat tertekan. Dia takut kehilangan Zahra. Sikap arogan Zahra saat ini, bisa dimakluminya. Dia tahu saat ini istrinya itu sangat tergoncang. Ditambah Zahra masih punya sikap kekanak-kanakan dan juga frontal. Makanya Ezra menyabarkan dirinya. Untuk tidak ikut emosi karena dimaki-maki.
"Aku ingin bertemu ibuku. Bawa aku berjumpa dengan ibu.." Zahra menangis histeris. Ezra jadi tidak tega melihat istrinya itu. Dia pun ingin memeluk sang istri. Tapi Zahra mendorong kuat tubuhnya. Ezra hampir saja terjungkal ke lantai.
"Masih berani menyentuhku? gak punya malu kamu pak tua...!" cecar Zahra penuh kebencian.
Ezra bangkit, menghela napas berat. "Hubby beri waktu untukmu menenangkan diri selama satu jam, dan kita akan bahas semuanya." Ujar Ezra, berjalan cepat keluar dari kamar itu.
"Ya Allah.... Kenapa kamu kutuk aku jadi anak durhaka seperti ini. Kenapa aku jadi madu ibuku sendiri. Ya Allah.... Apa dosaku? kenapa kamu berikan aku cobaan seberat ini?" ucapnya lirih, membaringkan tubuhnya miring dengan berbantalkan lengannya. Air mata semakin deras saja membasahi pipi pucatnya.
Zahra tahu dan sangat sadar, akan kata-kata kejam yang keluar dari mulutnya. Dia sangaja melakukan itu, agar Ezra benci padanya dan melepaskannya.
Saat ini Zahra jadi bimbang. Hati kecilnya mengatakan Ezra memang pria baik dan dia bisa merasakan semua kebaikan itu. Tapi, ucapan ibu-ibu yang tak dikenalnya di toilet bandara membuatnya meragukan suaminya itu. Benarkah suaminya itu bunglon?
"Ya Allah.. Maafkan aku. Tak seharusnya aku emosi tadi." Ucapnya seolah mengajak sang pencipta curhat.
__ADS_1
Zahra tahu seharusnya disaat emosi atau marah terhadap sesuatu yang membuat kesal lebih baik DIAM terlebih dahulu. Tapi, tadi dia sengaja melakukan itu, ingin mentest mental suaminya itu, sekalian melampiaskan kekecewaannya. Gak disangka, Ezra malah begitu sabar menghadapinya.
Zahra perlu meminta pertolongan dari Allah, dia melirik jam yang bertengger di dinding kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, itu artinya shalat Ashar sudah dapat. Wanita itu menyeka air matanya. Menarik napas panjang dan membuang pelan. Dia melakukan itu berulang kali. Disaat dirii meras tenang, dia pun beranjak dari ranjang, menuju kamar mandi. Dia akan melaksanakan sholat Ashar. Dia ingin minta ampun pada sang pencipta, sekaligus meminta petunjuk, agar bisa keluar dari masalah ini.
Sementara Ezra di ruang kerjanya, marah besar kepada Bimo. Dia menyalahkan Asistennya itu karena tak becus bekerja. Kenapa Zahra sampai tahu dari orang lain yang mengakibatkan dia kena amukan istri bar bar nya itu.
"Bos, saya mengaku salah!" Bimo menundukkan kepalanya.
"Sudahlah, tak ada gunanya saling menyalahkan. Sekarang yang terpenting mencari solusi dari masalah ini. Aku tak ingin pisah dari Zahra." Ujar Ezra menghempaskan tubuhnya di sofa empuk di ruangannya itu.
"Menurut ku, non Zahra harus dipertemukan dengan nyonya besar. Karena dia sangat ingin bertemu dengan nyonya Anin, bos." Ujar Bimo penuh kehati-hatian.
"Nah, nanti Anin tahu masalah ini, padahal dia masih belum sehat, gimana?" Ezra ragu untuk mempertemukan ibu dan anak itu. Dia takut, Ani syok dengan kenyataan yang ada dan meninggal pula. Bisa semakin benci Zahra padanya.
"Semuanya ada resikonya bos. Kenyataan pahit ini tak bisa ditutupi lagi. Nyonya Anin harus tahu kebenarannya." Jelas Bimo.
"Iya Anin harus tahu, tapi bukan sekarang waktu yang tepat bim. Tunggu dia sehat, dan semuanya dia harus tahu." Ujar Ezra, mengusap wajahnya kasar. Pria itu terlihat begitu frustasinya.
"Kalau begitu, non Zahra yang harus kita pegang."
"Gak usah kamu bilang seperti itu. Aku yakin, Zahra pasti akan menyembunyikan hubungan kami dari Anin. Dari cara dia bicara tadi. Bisa ku nilai dia ingin pergi dari hidupku. Dan itu yang tak ku inginkan." Ezra berdecak kesal, bangkit dari sofa itu. Sebaiknya dia mandi dan sholat dulu. Semoga dengan tubuh yang fresh, bisa menjernihkan pikiran. Mendapatkan jalan keluar dari masalah.
TBC
__ADS_1
Like komentar positif dan vote say🙂