
"Itukan mobil Bimo. Itukan dia pasti pulang." Zahra langsung merangkul Rara, menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah. Karena saat ini, Rara terlihat ketakutan gitu. Entah apa yang ditakutinya. Seperti nya ia tak siap untuk berhadapan dengan Bimo. Tak siap dengan sikap dingin nya Bimo nanti.
Sesampainya di dalam rumah megah itu. Mereka tak menemukan Bimo di ruang tamu, ataupun di ruang keluarga.
"Bik, di mana Bimo?" tanya Ezra dengan ekspresi wajah datar, pada salah satu kepala pelayan.
"Tuan Bimo di kamar non Rara tuan." Jawab Bik Magdah selaku kepala pelayan di rumah itu.
"Sudah lama dia datang Bik?" Ezra kembali bertanya.
"Sudah ada sekitar 30 menit Tuan." Bik Magdah masih menunduk penuh hormat.
Ezra kini menoleh ke arah Rara yang terlihat tegang.
"Masuklah ke kamar mu sayang. Di sana suamimu sudah menunggu. Ingat, nangi jangan terbawa emosi ya?" Ujar Ezra lembut, mengusap kepala sang anak dengan penuh kasih sayang.
"Iya ayah." Sahutnya lemah, melirik Zahra, yang memberikan nya semangat dengan kode tangannya.
Rara menyeret kakinya yang terasa berat, seperti ditimpa gundukan pasir menuju kamarnya. Ia sungguh merasa berat melangkah. Jantungnya juga berdebar-debar begitu hebatnya, yang membuatnya jadi susah untuk menghela napas.
"Ya Allah... Kenapa jadi setegang ini. Kenapa aku jadi takut padanya? perasaan apa ini ya Allah... perasaan benci dan kecewa kah?" ucap Rara pelan, yang hanya bisa didengar olehnya. Dan kini ia sudah ke luar dari lift. Hanya berjalan tiga meter, ia akan sampai di pintu kamarnya.
Huffftt...
Rara kembali menarik napas panjang. Ia harus bisa rileks. Agar jantung nya gak berdebar-debar terus. Lima menit sudah, Rara berada di depan pintunya. Mondar-mandir sambil mere mas tangannya kasar. Sungguh ia tak sanggup untuk berhadapan dengan Bimo. Ia tak akan sanggup dengan sikap dinginnya Bimo nanti. Ia bisa lepas kontrol, dan melawan. Karena ia tak sanggup mendengar untuk disalahkan, diremehkan dan dimarahi. Yang ia inginkan saat ini dimengerti, diberi perhatian dan kasih sayang.
__ADS_1
Huufft....
Ia kembali menarik napas panjang untuk terakhir kalinya. Mengelus dadanya yang masih berdebar, walau ritme debarannya sudah berkurang.
Bismillahirrahmanirrahim
Rara berdoa dalam hati, sebelum tangannya menekan handle pintu kamarnya itu.
Ceklek..
Duor..
Ia terkejut sendiri mendengar suara pintu yang dibukanya sendiri. Sungguh Rara merasa ketakutan. Ternyata selama empat hari Bimo menjaga dirinya. Sukses membuat wanita itu takut pada Bimo.
Pintu terbuka, ia pun mulai mencari keberadaan Bimo di kamar itu dengan penuh kewaspadaan.
Dug
Dug
Dug
Jantungnya kembali bermasalah. Ia merasa jantungnya sudah copot. Rara lemas sudah, disaat mata keduanya beradu pandang.
Saat ini, Bimo tengah duduk di sofa sudut kamar itu dengan kaki terbuka, menatap datar Rara yang tubuhnya belum semuanya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Pria itu terlihat menautkan kedua tangannya di atas pah a nya yang terbuka lebar dan menempatkan nya di dagunya. Memijat-mijat dagunya, dan masih menatap datar Rara.
Tak sanggup membalsy tatapan datarnya Bimo. Rara menunduk, ia pun menutup pintu kamar itu, dengan penuh ke hati-hatian. Dan usahanya gagal, pintu itu gak tertutup.
"Bisa ya kamu keluar dari rumah, tanpa memberi kabar terlebih dahulu dan pulang selarut ini!" Suaranya Bimo terdengar penuh kekecewaan. Cara bicara nya lembut, tapi ekspresi wajah nya masam.
Dug
Rara terlonjak kaget mendengar ucapan Bimo. Ia pun kini mematung di hadapan Bimo, yang berjarak sekitar tiga meter di hadapannya. Kakinya terasa layu sudah, ia sungguh takut pada Bimo.
"KUBERI WAKTU BERKEMAS 10 MENIT. !" titah Bimo penuh penekanan.
Lagi-lagi ucapan Bimo membuatnya terkejut dan bingung. Ia yang bingung, akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Bimo, memberi kode dengan mulutnya, agar Bimo mengulangi ucapannya. Titah Bimo, kurang dimengertinya.
Berkemas?
berkemas apa?
mau ke mana mereka tengah malam begini. waktu sudah menunjukkan pukul 22.50 Wib.
Itulah yang dipikirkan Rara sat ini.
"Gak dengar? gak dengar yang aku bilang, hingga kamu terbengong disitu. Makanya hidup yang benar. Jangan nar Koba Mulu kamu pikirkan, mabuk mabuk an, nanton Por no, Du gem, dan lain sebagainya. Lihat dampaknya, kamu jadi oon, bodoh dan terlihat tuli. Karena selama ini yang kamu lakukan sudah merusak kinerja tubuhmu." Ujar Bimo dengan ketusnya. Masih menatap Rara penuh dengan kekesalan.
TBC
__ADS_1
Kantuk, kalau banyak like, komentar positif dan vote rekomendasi dan hadiah. Maka esok kita akan grazy up