
"Bimo, tugasmu saya fokuskan menjaga dan mengurus Zahra dan nenek. Minta dia membaca baik-baik perjanjian tentang pemindahan hak milik tambang emas kita. Dan urus tentang pendidikannya." Ujar Ezra, pria itu sudah rapi dengan stelan jas warna hitam melekat di tubuh kekarnya.
"Baik Tuan." Bimo menunduk sebagai rasa hormat yang amat besar pada sang majikan.
Ezra pun keluar dari kamarnya. Dia akan pergi dari rumah itu, pulang ke istri sahnya. Dia juga ingin melihat keadaan putrinya yang dirawat di rumah sakit.
Ezra menikahi Zahra, karena ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dia sama sekali tidak serius untuk memperistrikan Zahra, apalagi gadis itu masih terbilang dibawah umur. Tapi, dia tidak akan pernah mau menceraikannya. Sebelum Zahra yang meminta sendiri untuk diceraikan. Dan otomatis, kepemilikan tambang emas kembali padanya.
***
"Ne-- nek..!" pekik Zahra terkejut, disaat dia merasakan bahunya disentuh. Zahra sungguh sangat terkejut, dia sedang melamun saat itu. "Nenek kagetin saja deh." Mengusap cepat air mata yang membasahi pipi putihnya dan berusaha tersenyum, seolah tidak terjadi apa-apa.
Nenek pun mendudukkan tubuhnya di lantai marmer gazebo itu. Meraih tangan sang cucu dan meremasnya lembut.
"Nenek sudah dengar semuanya." Zahra menatap sang nenek sedih. Tapi, nenek yang kuat itu, malah membalas tatapan sedihnya Zahra dengan senyuman yang manis.
"Nenek tidak menyangka, kalau Nak Ezra, ayahnya Rara."
"Iya Nek, Nek apa yang harus kita lakukan?" Masih menatap sang Nenek dengan perasaan yang teramat sedih dan bingung. "Nek, kita pergi saja dari rumah ini. Aku tak ingin tambang emas itu, kita cari ibu Nek." Rengek Zahra begitu bingung dan kacaunya pada sang nenek. Saat ini neneklah tumpuan satu-satunya.
"Zahra sayang kehidupan di luar sana sangat kejam. Kalau kita pergi dari rumah ini, belum tentu kita akan aman. Ke mana kita akan cari ibumu? alamatnya saja kita tidak tahu. Bagaimana dengan pendidikanmu? Sayang sekali jika kamu tidak menyelesaikannya." Ujar sang nenek lembut penuh penekanan. Ya saat ini berfikir bijaklah yang diperlukan. Jadi orang jangan sumbu pendek yang akan membuat kita rugi sendiri.
"Pak Tua itu sudah merendahkan kita Nek. Dia mikirnya kita ini matre." Sang Nenek menggeleng pelan, tidak setuju dengan ucapan sang cucu.
"Kamu salah tanggap, dari pembicaraan kalian tadi, nenek bisa simpulkan kalau Nak Ezra orangnya baik. Walau nenek masih bingung, kenapa dia ingin menodaimu di Hotel itu. Sangat tidak masuk akal sekali beliau melakukan itu. Karena Nak Ezra itu tahu hukum agama. Tadi saja yang adzan subuh dan jadi imam sholat kita ya suamimu itu."
"Dia bukan suamiku, dia pak tua mesum!" ketus Zahra kesal. Berdecih dengan ekspresi wajah sangat kesalnya.
__ADS_1
Sang nenek lagi-lagi menggeleng- geleng-geleng kan kepalanya. Cucunya ini memang masih terlihat belum dewasa. Ya namanya masih anak SMA. Di sini sang nenek lah yang harus berperan dengan sabar nya memberi nasehat dan pandangan.
"Kamu itu perlu beli kaca mata Ra. Seperti nya matamu itu sudah rabun, bilang Nak Ezra Pak Tua. Coba nenek masih muda, ooooowww... Nak Ezra sudah nenek gaet"
Zahra membelalakkan matanya, tidak percaya dengan kalimat yang keluar dari mulut neneknya itu. Seperti nya neneknya itu sedang mengalami puber.
"Ya Allah Nek, ingat umur. Nenek itu sudah menopause. Oalah...!" Zahra yang tadi sedih, jadi kesal dan merasa lucu dengan neneknya itu.
"Nak Ezra itu gak terlihat tua. Wajahnya masih kelihatan seperti usia 28 tahun dan tubuhnya itu tegap dan berotot. Kalau nenek disuruh milih Ezra atau Ferdy, ya nenek akan pilih Ezra lah.'
"Ya Allah Nek, sadar nyebut. Nenek mau jadi istri kedua? Nek, Zahra tidak mau menyakiti hati perempuan lain. Zahra yakin, istri sahnya pak Tua itu, gak tahu kalau suaminya itu punya istri lagi." Zahra yang masih mudah, cara berpikirnya pun masih terlalu realistis. Gak tahu dia kita hidup di dunia. Harus bisa ikuti alur. Karena dunia ini panggung sandiwara.
"Kamu gak rebut suami orang. Kenapa kamu harus merasa bersalah. Ini namanya takdir. Lagian diawal, kamukan gak tahu Ra. Kalau dia sudah beristri. Orang kampung juga mikirnya Nak Ezra itu seorang duda. Tapi, saat mau akad nikah dia katakan dia sudah beristri. Dari pengakuannya itulah nenek jadi legah. Berarti Nak Ezra itu pria baik. Dia tidak mau menyembunyikan statusnya. Padahal pak penghulu dan kepala lingkungan gak menanyakannya." Jelas sang nenek, yang membuat Zahra merengut. Bibir gadis itu miring ke kanan, karena dia kesal dengan takdirnya, yang jadi istri simpanan. Dia kan inginnya menikah dengan si Ferdy.
"Yang perlu kita ketahui sekarang Ra, kenapa Nak Ezra bisa ada di kamar itu denganmu."
"Itu dia yang buat nenek bingung. Mana mungkin seorang ayah mau kerjasama hal begituan dengan putrinya. Mikir kamu Ra? Nak Ezra itu masih manusia, Dia malulah jika berbuat seperti itu di hadapan putrinya." Kening sang nenek pun semakin berkerut membahas Ezra yang misterius.
Ezra itu Sholeh, baik. Mana mungkin mau lakukan seperti itu, atas suruhan putrinya.
"Kan mereka keluarga bejat Nek. Jangan-jangan dia sering begituan dengan anaknya.... Iihh... Nauzubillah...!" Zahra bergidik ngeri, membayangkan seorang ayah menyetubuhi putrinya sendiri. Ya memang sat ini banyak kasus seperti itu.
"Istighfar kamu Ra, jangan memfitnah orang. Dosa. Nak Ezra gak mungkin seperti itu." Sang nenek semakin bingung.
"Ra, kita harus bermain cantik. Kamu jangan buat ulah seperti tadi, ngomongnya gak sopan sama sang suami." Sang nenek mendekatkan wajahnya pada Zahra. "Nenek juga penasaran, kenapa Nak Ezra bisa sekamar denganmu. Maunya tadi kamu tanyain itu kepada Nak Ezra, agar kamu gak menduga-duga seperti ini."
"Nek, maling gak akan ada yang ngaku. Dia pasti ngeles, cari banyak alasan pembenaran."
__ADS_1
Zahra mulai tak sependapat dengan sang nenek. Itu membuatnya jadi tak nyaman. Kenapa neneknya kali ini terlihat seperti berpihak pada Ezra.
"Gak Ra, ada yang tidak beres. Kamu perlu tahu alasannya, kenapa Nak Ezra bisa satu kamar denganmu. Tak mungkin, nak Ezra kerjasama dengan anaknya. Orang nak Ezra Soleh gitu. Gak lihat kamu wajahnya berseri gitu. Pak Ezra itu pasti sholat nya selalu tepat waktu."
"Terserah neneklah, Zahra malas bahas pria itu lagi."
"Baiklah, nenek sendiri yang akan tanyakan nanti."
"Eehmmmm....!" Zahra melirik sang nenek kesal. Neneknya itu kenapa terlihat jadi orang matre sih.
"Kita orang miskin Ra. Orang miskin dilarang soombong." ujar nenek sedih, nenek sudah melewati berbagai macam kehidupan. Dia sudah mengecap pahit, manis, asinnya garam kehidupan. Dia merasa cucunya yang dinikahi orang kaya, adalah sebuah anugerah. Gak apa-apa jadi istri simpanan. Toh, Nak Ezra pasti bisa adil.
"Nek, mau kaya, miskin. Gak boleh sombong. Jadi kalau kaya, boleh sombong gitu. Walau kita miskin harus dihargai, jangan disepelekan." Pekik Zahra kesal.
"Iya, betul Ra. Tapi, sikapmu pada Nak Ezra dibuat lembut ya sayang. Kamu harus bisa memanfaatkan keadaan ini dengan sebaiknya. Jangan buat Pak Ezra kesal, dan akhirnya nendang kita dari sini. Kalau kita ditendang dari sini. Kita pasti akan jadi gelandangan. Mau pergi ke mana kita Ra. Ini kota Medan kan? kit gak ada saudara di sini Ra." Jelas sang nenek. Nek Ifah bukannya matre. Dia hanya ingin mereka sadar diri. Apa yang mau disombongkan. Mereka memang tak punya apa-apa. Jangan terlalu mengagungkan harga diri dan jadi gembel di jalan.
TBC
Like, coment, vote.
Yuk beri dukungan pada novel ini. Karena diakhir pekan, kita akan umumkan 3 pemenang pemberi terbanyak hadiah ke novel ini. Hari ini, hari terakhir pemberian hadiah ya say.
Give away kita, pulsa 10 RB untuk 3 pemenang. 🙂🙏
Jangan lupa mampir ke Nobel author lainnya
#Dipaksa Menikahi Pariban
__ADS_1
#Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan)