
"Kenapa ya Mak, Pak tua itu tak mau menceritakan perihal Rara padaku?" Zahra akhirnya menanyakan hal yang mengganjal di dalam hatinya.
"Umak gak bisa jawab pertanyaan mu itu Boru. Sebaiknya kamu tanyakan saja sendiri pada suamimu."
"Aku lagi malas melihatnya Mak, apalagi berbicara dengannya. Entahlah aku mendadak merasa benci sekali padanya. Malam setelah pertengkaran di mall dengan Rara. Hubby Ezra buru-buru pamit, mau ke rumah sakit. Katanya Rara masuk rumah sakit."
"Iya Rara masuk rumah sakit karena dia mencoba bunuh diri dengan memotong urat nadinya, setelah ia tahu, bahwa ia bukanlah anaknya Ezra.." Jelas Anin memotong ucapan Zahra.
Akhirnya setelah Zahra masuk ke kamar. Bimo menceritakan semua yang terjadi pada Rara. Termasuk fakta bahwa Rara sudah tahu, bahwa dia bukan anak kandungnya Ezra. Tadinya Bimo masih ingin menutupi fakta itu, karena Ezra tak mau Zahra mengetahui bahwa Rara bukan anak kandungnya. Makanya Bimo berbohong saat Anin bertanya tadi. Tapi, akhirnya Bimo menceritakan juga semuanya pada Anin. Sudah terlanjur basah.
Zahra terperanjat mendengar penuturan sang ibu. "Oohh Rara masuk rumah sakit karena mencoba bunuh diri. Pantas malam itu Hubby terlihat panik sekali mengetahui putri kesayangannya masuk rumah sakit. Aku memang gak menanyakan prihal Rara masuk rumah sakit." Ujar Zahra lirih. Dia melorotkan tubuhnya sehingga terbaring di ranjang sang ibu.
"Kenapa ya Hubby gak mau mengatakan tentang status Rara sebenarnya padaku Mak? apa dia takut aku dan anak ini menginginkan semua harta nya?" Zahra menghela napas dalam. Dia akan sangat kecewa sekali pada Ezra, jika itu alasannya.
"Kamu jangan menduga-duga dulu sayang. Sebaiknya kamu tanya langsung pada suamimu."
"Gak Mak, dia saja gak mau cerita. Ngapain aku ingin kepo. Lihatlah si Bimo saja seperti ingin menutup-nutupi. Bilang Rara gak tahulah kalau dia bukan anaknya Hubby padaku. Tapi, tadi Mak bilang, Rara sudah tahu. Eemmm.... Itu si ibot setres kali." Zahra kini menarik selimutnya.
"Koq malah mau tidur sih sayang? ini sudah Magrib." Anin menarik selimut yang menutupi tubuhnya Zahra.
"Entahlah Mak, aku kantuk banget. Aku mau tidur saja, malas mikirin si Hubby yang gak mau cerita masalah besar seperti Rara padaku. Padahal semua yang terjadi, berawal dari ulah Rara. Seperti nya Hubbybtak menganggap aku sebagai istrinya." Ujarnya tersenyum getir. Dia ternyata tak begitu berarti buat suaminya itu.
"Gak baik tidur sekarang sayang? masalah itu gak usah kamu pikirkan. Yang penting saat ini. Ezra bersikap baik padamu. Biarkan saja dia merahasiakan tentang Rara. Kita hanya perlu waspada saja terhadap Rara." Ujar Anin tegas, menarik lengan sang putri kuat, agar bangkit dari tempat tidur.
"Iihh Mak, aku kantuk banget nih."
__ADS_1
"Sholat dulu baru tidur Boru." Anin bicara lembut, agar hati sang anak melunak.
Zahra akhirnya mengikuti apa kata ibunya. Dan setelah menunaikan sholat magrib dia beneran tertidur.
Bimo yang sudah merasa bersalah itu kini bingung harus berbuat apa. Dia tadinya ingin curhat prihal Rara kepada Anin, eehhh.... gak tahunya jadi masalah. Bimo yang setres menghadapi Rara yang belum bisa move on itu, perlu minta pendapat dan mencurahkan kegelisahannya terkait tugasnya menjaga Rara. Makanya dia memilih Anin sebagai tempat tukar pikiran. Tenyata Zahra ada di situ, informasi yang diketahuinya malah membuatnya jadi sedih.
***
Pukul 20.05 Wib, Ezra sudah sampai di rumahnya Anin. Hari ini dia banyak kerjaan. Karena pekerjaan Bimo sekarang lebih fokus menjaga Rara daripada bekerja di kantor.
"Ayo masuk Bere..!" tawar Anin pada Ezra, yang sejak keluar dari mobil, terlihat enggan masuk ke rumah itu. Sudah puluhan kali pria itu menghubungi Zahra. Tapi gak diangkat, makanya Ezra rada takut masuk ke rumah itu. Jadilah ia seperti orang asing yang merasa enggan bertamu ke rumah seseorang.
"Ii--ya." Ezra yang kikuk, jadi terlihat bingung dan linglung. Dia masih merasa bersalah pada wanita di hadapannya. Dan Anin juga seperti itu, tapi mau sampai kapan memupuk rasa tak nyaman itu?
"Zahra masih tidur. Sebentar ya, aku bangun kan dulu."
Anin tersenyum tipis menatap kepada Ezra yang terlihat kikuk itu. Dia bisa memahami perasaan Ezra saat ini.
Sepuluh menit menunggu di ruang keluarga, membuat Ezra gelisah. Kenapa selama itu membangunkan istrinya itu?
"Apa Halwa masih marah?" Ezra bermonolog dengan tidak tenang nya hilir mudik di ruang keluarga itu dengan berulang kali mengusap wajahnya kasar.
Tak
Tak
__ADS_1
Tak
Perhatiannya pun kini teralih ke asal suara sendal berhak tiga cm yang di hentakkan kuat di lantai tangga rumah itu. Siapa lagi yang turun dari tangga kalau bukan Zahra dengan ekspresi wajah datarnya.
Dia terus saja menatap lekat sang istri yang ekspresi wajah tak bisa dibaca itu. Ia khawatir melihat cara jalan istrinya yang seperti ingin memijaknya.
"Ingat pesan umak tadi." Ujar Anin mendorong pelan tubuh Zahra agar berada di sebelah sang suami.
"Iya mak." Ia menjulurkan tangannya menyalim sang ibu dan kembali memeluknya. Entah sudah berapa kali Zahra memeluk ibunya itu hari ini.
"Di hadapan suami wajahnya gak boleh kusut. Jelek tahu!" goda Anin menatap lekat sang putri yang perasaannya sangat sensitif.
"Iya...!" Sahut Zahra malas. Dia jadi kesal juga pada ibunya yang dari tadi seperti menyalahkan dan mengomentari nya yang jelek-jelek terus.
"Bere.... Sabar-sabar ya hadapi Zahra. Maklum hormonal nya lagi gak normal. Biasalah wanita hamil, mudah tersinggung, banyak mau nya." Ujar Anin menatap Ezra dengan senyum tipisnya.
"Iya Nantulang, saya mengerti." Kedua sudut bibirnya Ezra melengkung sempurna menciptakan senyum yang manis dan tulus. Ezra memang punya karakter yang tenang dan sabar. Sudah wajah istrinya masam, dia tidak terpengaruh.
"Baguslah.... Baik-baik kalian!" Anin kini mengantarkan Ezra dan Zahra ke halaman rumah tempat mobilnya Ezra terparkir. Wanita baru masuk rumah setelah mobil dikendarai Ezra bilang dari tatapan matanya.
Sementara di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang yang dikendarai Ezra. Zahra masih terlihat murung dan banyak berfikir. Wajah cantiknya Zahra yang murung itu, malah terlihat semakin buat gemes Ezra. Ingin rasanya dia menggigit dagu sang istri yang merah karena masih kesal itu.
Walau gemes melihat sang istri. Ezra tetap bersikap cool, dia tak mau banyak bicara saat ini. Takut salah ucap. Jadilah sepanjang perjalanan keduanya membisu hingga Zahra tersadar bahwa mereka kini sudah sampai di parkiran sebuah rumah sakit.
Zahra sungguh terperanjat saat ini. Mata indahnya kini celingak-celinguk memperhatikan sekitar. Apakah Ezra akan mengajak nya menemui Ferdy?
__ADS_1
TBC.