
Zahra dengan senyum mengembangnya membantu ibunya keluar dari dalam mobilnya Bimo. Walau dia merasa sedih, karena ibunya tak mau tinggal bersamanya. Dia tak mau menunjukkan rasa sedih itu.
"Hati-hati Mak," ujar Zahra masih memapah sang ibu untuk masuk ke rumah mewah itu. Anin masih merasa tak nyaman dengan keberadaan Ezra di tempat itu. Sehingga kakinya terasa layu saat melangkah.
Ezra yang peka itu, tahu bahwa Anin merasa tak nyaman saat ini. Dia akhirnya memilih pura-pura sibuk menelpon di taman depan rumah itu. Sehingga Bimo dan Zahra yang menemanin Anin masuk ke dalam rumah.
Interior rumah yang ditempati Anin sangat mewah dan modern yang tidak lepas dari desain jendela kaca di dalamnya yang cenderung besar dengan banyak sirkulasi, sehingga rumah itu terlihat tambah luas dan terang. Ditambah beberapa tanaman hias, yang membuat rumah itu semakin asri.
"Semoga Dek, eehh Ibu Anin menyukai rumah ini dan betah tinggal di sini. Saya sengaja memilih rumah ini untuk I--bu, agar kita tetanggaan." Ujar Bimo dengan saltingnya. Dia bingung harus memanggil Anin dengan sebutan apa. Dia sih pinginnya manggil Anin dengan Dek.
Zahra menatap Bimo dengan penuh tanda tanya? mata wanita itu terlihat meminta sebuah jawaban segera. Kenapa ibotonya itu sikapnya aneh Hari ini. Kayak malu-malu gitu?
Kini mereka sudah ada di pantai dua. Tepatnya di kamar Anin. Zahra dan Anin duduk di tepi ranjang. Sedangkan Bimo berdiri tak jauh dari mereka. Dua orang pelayan pria terlihat membawakan barang-barang milik Anin yang ada di rumahnya Ezra
"Saya terima bagaimana pun keadaan rumah yang diberikan untuk saya. Karena, saya tahu diri. Ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih ku ucapkan pada suamimu Nak!" ujar Anin dengan mata berkaca-kaca.
Seketika ucapan sang ibu, membuat hati Zahra tersentil. Dia yang tadi lagi terperangah melihat sikap Bimo yang saling terus. Kini berubah jadi tercengang. Kadang Zahra memang tidak menyangka, bahwa dia pernah jadi madu ibunya.
"Umak....!" Zahra memeluk cepat ibunya itu dengan berurai air mata. Kalau boleh memilih dia juga tak akan mau jadi istri Ezra. Dia sudah melarikan diri, tapi tetap juga dapat.
"Sayang...... Umak gak ada maksud apa-apa dengan bicara seperti tadi. Memang itu kenyataannya. Situasi yang kita hadapi ini berat sayang. Umak harap, kamu bisa bijak. Mungkin kamu heran, kenapa umak tak mau tinggal bersama kalian. Karena, muak tak mau merusak hubunganmu dengan suamimu. Begitu juga dengan umak, akan merasa tak nyaman apabila tinggal bersama kalian." Ujar Anin lembut. Mengurai pelukan sang anak. Anin harus bicara tegas, memberi garis besar. Agar putrinya itu mengerti bahwa ibunya itu juga sedang berusaha menata hatinya.
Anin sengaja bicara seperti itu Agar Zahra sadar. Bahwa hubungan ketiganya tak bisa normal saat ini. Perlu waktu, agar kembali tercipta rasa nyaman.
"Kamu boleh pulang sekarang sayang. Kalau mau datang, boleh nanti malam. Kamu harus belajar. Kata Bimo, seminggu lagi kalian ujian nasional." Ucap Anin lembut, mengusap air mata sang putri. Amin tak mau, Ezra beranggapan, ia menahan Zahra di rumah itu.
"Mak, kita perlu banyak bicara. Aku masih ingin di sini. Aku akan belajar bersama umak. Dulu sebelum umak merantau. Bukankah setiap malam, sebelum tidur. Umak menemaniku belajar." Ucap Zahra memelas, air mata tak henti-hentinya berderai. Dia tak mau hubungan nya dengan sang ibu meregang karena masalah mereka.
Bimo yang ada di tempat itu, jadi ikut sedih. "Baiklah, saya akan hubungi guru les Zahra. Agar dia datang kemari." Bimo ikut berkomentar. Kemudian pria itu cepat-cepat pergi dari kamar itu. Dia perlu bicara banyak pada Ezra. Agar membolehkan Zahra sampai sore di rumah itu.
"Boru.... Kamu jangan merasa bersalah gitu. Umak baik-baik saja koq. Umak tadi bicara seperti itu, agar kamu sadar. Bahwa kamu itu sudah punya suami. Umak hanya ingin lihat kamu bahagia." Menggenggam erat kedua tangannya sang putri, mencoba tersenyum, membalut luka yang tak mungkin bisa dilupakan.
"Iya mak!" Zahra kembali memeluk sang ibu. Dia tahu maksud dari ucapan ibunya itu. Anindya memang tipe wanita yang tegas dalam bicara mendidik sang putri. Tapi, sikapnya selalu lembut. Zahra dari kecil sudah sat bangga dengan ibunya itu.
"Mak berbaring, Zahra mau pijitin kaki umak!" Zahra Kembali ceriah, dia langsung membaringkan sang ibu. Dan dengan cepat memijat tangan ibunya itu. Mereka pun kini membahas Nek Ifah yang ada di tanah suci.
***
Ezra yang kini duduk di kursi teras rumah. disamperin oleh Bimo. "Bos, sebaiknya kita pergi bekerja. Nanti siang ada pertemuan penting dengan klien Bos." Ujar Bimo, ikut duduk di kursi tepat di hadapan Ezra.
"Iya, ini aku lagi pelajari berkas yang dikirimkan oleh Dika " Ujar Ezra dengan raut wajah penasarannya. "Bagaimana Zahra? tadi aku dengar mereka berdua menangis." Ezra menatap lekat Bimo, tak sabar menunggu jawaban dari Bimo.
"Eehhmmm... Bos harus ikhlas, kalau malam ini tidur sendirian." Ujar Bimo tersenyum devil. Dia yakin, Zahra tak akan mau pulang malam ini. Secara dia masih kangen dengan ibunya.
__ADS_1
Ezra mengusap wajahnya kasar. Ia juga punya firasat seperti itu.
"Bos, kedua wanita itu jangan ditekan dulu. Biarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan. " Ujar Bimo, memberi usul, karena melihat kebingungan nya Ezra.
"Iya, tapi aku tuh khawatir sama Zahra. Aku yakin dia tu lagi hamil." Raut wajah Ezra begitu khawatir.
"Apa..? hamil..? waahh... Mantap..... Mantap Bos.!" Bimo memberi empat jempol pada Ezra. Seketika Ezra melempar bunga bonsay kecil yang terbuat dari plastik kepada Bimo. Dengan cepat Bimo menangkap bunga itu.
"Bisa - bisa ku pecat kamu Bim! dasar gak sopan!" ketus Ezra dengan mata melototnya Dia kesal, karena Bimo mengangkat kakinya ke arahnya.
Hahahaha...
Bimo tertawa, "Bos... Siap-siap lah, dilebaran nanti, bos datang menyungkep padaku!" Bimo tersenyum puas, membayang dirinya jadi mertuanya Ezra
"Apa maksudnya itu?" Ezra dibuat bingung dengan ucapan Bimo. Tapi, sedetik kemudian dia ngeh juga.
"Jangan ngimpi kamu, taruhan kita. Angan-angan mu itu tak akan terkabul. Sainganmu berat Bim. Ngacaaakkkk loehh!"
Hahahaha...
Kini Ezra yang tertawa lepas. Dia akan sangat senang, jika Bimo kalah saing dengan Alvian.
Hahahaha...
"Aduhhh Bos, bantuin aku dong!" Bimo memelas.
"Noo.,.. No....! ogah punya ayah mertua gak ada akhlak kek kamu. Sudah, ayo kita ke kantor." Ezra bangkit dari duduknya. Masuk ke dalam rumah mau pamit pada Zahra. Tapi, seketika langkah nya terhenti, dia jadi malas dan enggan jika harus bertemu dengan Anindya.
"Bos..!" Bimo masuk ke dalam menyusulnya.
Seketika Ezra meletakkan telunjuknya di bibirnya. Meminta Bimo diam, karena dia sedang menelpon Zahra. Meminta istrinya itu untuk turun, dia mau pamit kerja.
Zahra turun menapaki anak tangga. Ezra yang melihat kedatangan sang istri, langsung menghampirinya. Dan langsung meraih tangan sang istri, merangkul pinggang nya. Tapi, Zahra menepisnya. Dia belum terbiasa menunjukkan kemesraan didepan orang. Apalagi ada Bimo di tempat itu.
Hihihi...
Bimo dengan cepat menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Dia menertawakan si bos, yang disambut sang istri dengan sikap dinginnya. Ezra melotot pada Bimo. Seketika pria itu menunduk.
"Hubby mau berangkat kerja. Sore nanti Hubby jemput ya sayang!" mengecup dengan cepat kening sang istri. Sehingga Zahra tak sempat mengelak.
Raut wajah Zahra seketika memerah, karena malu pada Bimo. Zahra belum terbiasa dengan hal romantis di depan orang. Apalagi Bimo sudah dianggap nya sebagai saudara laki-lakinya.
"By, boleh ya, aku nginap di sini malam ini?" ujar Zahra memelas. Bagaimana pun dia masih sangat rindu ibunya.
__ADS_1
Bimo tertawa kecil, membuang muka, takut diketahui oleh Ezra, karena dia sedang menertawakan pria itu. Apa yang diucapkannya tadi terwujud sudah. Bosnya itu harus rela tidur sendirian malam ini.
Ezra yang tadi sempat memperhatikan Bimo yang membuang muka. Kini menatap sang istri dengan sedihnya.
Tidur sendirian? apa bisa?
"By... !" Ujar Zahra memelas.
"Iya sayang, boleh!" Ezra tersenyum tipis. Dia harus memahami keinginan sang istri.
Zahra mengantarkan sang suami ke parkiran.
"Mau dibelikan apa untuk makan malam?" tanya Ezra, sebelum masuk ke dalam mobil."
Zahra menggeleng, entahlah dia sedang tak ingin memakan sesuatu. Rasanya semua jenis makanan tak membuat selerahnya tergugah.
"Pikirkan apa mau mu sayang. Nanti Hubby telpon lagi."
Zahra menggeleng pelan dengan senyum tipisnya.
Ezra kembali mencuri satu kecupan di kening Zahra. Dan dengan cepat memeluk wanita yang masih bersikap dingin padanya. Rasanya Ezra tak mau pisah. Kalau bisa, Zahra mau dibawa kemana pun dia pergi. Bahkan ke toilet sekalipun.
"Iihh... By, malu tahu dilihatin ibot Bimo!" Zahra mengurai cepat pelukan sang suami.
"Iya sayang, baik-baik di sini." Menjawir dagu sang istri sebelum masuk ke dalam mobil. Yang membuat Zahra menggeleng pelan. Sikap Ezra sungguh terlalu. Lebay.... Gak cocok dengan usia yang sudah 42 tahun. Syukur suaminya itu tampan, hingga buat hati senang lihatnya. Coba buluk, bisa muntah Zahra.
Zahra pun akhirnya membalas lambaian tangan sang suami. Hingga mobil itu hilang dari pandangan matanya.
Saat itu juga, seorang wanita yang mengendarai sepeda motor parkir di depan rumah itu. Wanita itu adalah guru les nya Zahra.
Kedua wanita itu pun masuk ke dalam rumah. Zahra mempersilahkan guru les nya duduk di ruang keluarga. Sedangkan ia naik ke lantai dua. Ia akan meminta izin pada sang ibu untuk belajar.
Proses belajar yang memakan waktu dua jam itupun selesai. Zahra kesal juga kada Ezra. Karena suaminya itu, entah berapa kali mengganggunya saat belajar. Sebentar-sebentar, Ezra menelponnya. Tak mau ponsel dimatikan. Ezra ingin melihat Zahra saat belajar.
Jika ada hal penting di kerjaan. Maka panggilan terputus dan akan tersambung lagi, jika suaminya itu sedang tidak sibuk
Guru les nya saja dibuat geleng kepala.
"Ayahnya Adek perhatian sekali ya? putrinya diawasi terus saat belajar." Ujar guru les nya Zahra yang bernama Bu Dewi. Wanita yang berusia 27 tahun dan masih single.
Bu Dewi, tak tahu Kalau Ezra adalah suaminya Zahra.
TBC
__ADS_1
Beri like vote yang jumlah nya satu tiap minggunya pada novel ini. Dan hadiah juga ya say.😀🙂ðŸ¤ðŸ˜˜