AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Jaga martabat dan harga diri


__ADS_3

Salah paham telah terselesaikan. Kedipan mata nakal sang suami, Zahra tahu apa maksudnya itu. Dia pasrah saja digendong Ezra masuk ke kamar mereka melalui pintu rahasia yang terhubung dari ruang kerja ke kamar mereka.


Bercinta saat setelah selesai bertengkar bisa bikin aksi ranjang makin hot dan menggelorah. Karena birah i yang dikatalisator oleh hormon adrenalin meningkat drastis saat bertengkar, yang membuat aliran darah lancar. Hanya setengah jam keduanya telah mencapai nikmat surga duniawi itu.


"Malam ini kita harus ke rumah sakit." Ujar Ezra mengecupi bahu dan kepala sang istri dengan gemes dalam dekapannya yang membuat Zahra tersanjung. Cara Ezra memperlakukannya sangat hangat dan romantis.


Zahra mengubah posisinya hingga kini menghadap sang suami. "Iya By, syukur lah keluarga Ferdy tidak melaporkan masalah ini ke pihak berwajib." Ujarnya dengan penuh kehati-hatian, takut salah bicara.


"Mana berani keluarganya melaporkan kejadian itu. Yang salah siapa emang?" Raut wajah Ezra berubah jadi masam. Pria itu sebenarnya masih kesal pada Ferdy. Ia juga masih ada rasa cemburu pada bocah tengil itu. Tapi, dia tak boleh menunjukkan sikap kekanak-kanakan itu didepan sang istri. Malam ini dia perlu mengunjungi Ferdy, sebagai bentuk rasa kemanusiaan.


"Yang salah aku By. Tak seharusnya aku dan dia berada di tempat itu." Zahra yang merasa bersalah itu, membenamkan wajah nya di dada bidangnya Ezra. Dia seperti seekor anak ayam, yang cari perlindungan pada hangatnya sayap induknya.


Ezra merasa terharu mendengar ucapan istrinya itu. Ada banyak perubahan sikap Zahra yang semakin dewasa.

__ADS_1


"Bukan waktunya lagi mencari siapa yang salah dan siapa yang benar sayang. Semuanya telah terjadi. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengambil hikmah dari kejadian ini. Seorang istri, sangat perlu menjaga dirinya. Martabat serta harga diri yang dimiliki oleh seorang istri terlihat dari seperti apa sikapnya terhadap suami. Ia harus mempunyai rasa cinta yang sangat tinggi kepada suami dalam artian menundukan pandangan kepada laki-laki lain." Ujar Ezra dengan penuh kelembutan. Ucapan Ezra itu sebenarnya membuat Zahra tersinggung.


"By, aku gak pernah ada niat untuk tebar pesona pada laki-laki lain. Walau aku belum yakin dengan diriku atas perasaan ku pada Hubby. Setelah masalah kita dan ibu selesai. Aku sudah niatkan untuk jadi istri yang baik untuk Hubby."


"Jadi istri yang baik, tapi belum yakin dengan perasaannya? karena bocah tengil itu belum bisa adek lupakan kan?" Menilik lekat wajah Zahra yang terlihat berfikir keras itu.


"By, jangan paksa aku melupakannya. Dia pernah mengisi hari-hari ku dengan hal hal yang manis. Takbada alasan yang kuat yang buat aku membencinya. Tapi bukan berarti aku memupuk perasaan yang pernah ada itu. Saat ini, aku sedang berusaha untuk mencintai Hubby sepenuhnya. Percaya padaku By...!?" raut wajah Zahra memelas.


"Iya sayang!" Jelas saja Ezra sudah percaya kalau Zahra mulai membuka hati padanya. Buktinya setiap diajak mantap-mantap Zahra tak pernah menolak. Biasanya wanita yang tidak punya rasa, tak bisa menikmati sebuah hubungan intim. Dan Zahra sangat menikmati permainan ranjang itu.


Setelah selesai sholat magrib. Zahra dan Ezra bertolak menuju rumah sakit tempat Ferdy dirawat. Sesampainya di rumah sakit itu. Mereka disambut dingin oleh keluarganya Ferdy. Di ruang rawat inap kelas VVIP itu ada Dokter Alvian, Kakeknya Ferdy serta Anin yang terlihat tidak nyaman berada di tempat itu.


"Keluar..... Keluar...!"

__ADS_1


Teriak Ferdy sambil menahan sakit yang amat di bagian dadanya. Dia saat ini merasa kesulitan bernapas, karena tulang dadanya terasa sangat sakit disaat pria itu menarik napas. Bernapas saja dia kesakitan, tentu saja rasa sakit yang dirasakannya akan berlipat ganda, karena pria itu teriak-teriak mengusir Ezra dari ruangan itu.


Ezra yang tak merasa bersalah itu, memilih cepat keluar dari ruangan itu dengan merangkul mesra sang istri, yang membuat Ferdy semakin panas melihatnya.


"Pak Ezra kita perlu bicara..!" Seru kakeknya Ferdy disaat Ezra menekan handle pintu ruangan itu.


"Maaf, saya tak ada waktu." Sahut Ezra tegas, tak mau banyak cerita dengan keluarga saingannya. Ezra dan Zahra keluar dari ruangan itu. Kakek ya Ferdy tak terima, pria itu kembali menghentikan langkahnya Ezra dan Zahra.


"Saya akan laporkan kasus ini!"


Ucapan sang kakek membuat Ezra menghentikan langkahnya.


Apa maksud ucapan pak tua itu? bukankah Dokter Alvian tak mau membawa kasus ini ke ranah hukum?

__ADS_1


TBC


Like, coment dan vote rekomendasi say. Agar author semangat up yang banyak.


__ADS_2