
Pisang rebus pun matang. Ezra dan Zahra akhirnya makan malam dengan pisang rebus. Zahra yang kelaparan terlihat lahap sekali saat makan pisang rebus yang ukurannya sangat besar itu. Ya pisang yang ada digubuk itu jumbo semua. Bahkan tandanan pisang itu sangat besar.
Ezra sampai kesusahan menelan ludahnya sendiri melihat cara makan sang istri yang tak biasa, dibawah cahaya yang temaram itu. Pisang ukuran jumbo itu, terlihat penuh di mulut sang istri, saat Zahra menggigit pisang itu. Bahkan Zahra mengemut-**** pisang itu.
Ezra menggeleng kepala nya pelan. Otak mesumnya Ezra auto traveling. Koq bisa cara makan pisang istrinya itu terlihat menggoda. Jakunnya Ezra terlihat naik turun, dia merasa kesusahan sudah menelan pisang yang ada di tangannya. Karena, saat ini dia sedang membayangkan Zahra memainkan miliknya di mulut mungil istrinya itu. Meng e*m-ut dan menggit kecil miliknya yang on fire, siap tempur.
Seer....
Darah terasa mengalir deras ke bagian intinya Ezra. Organ tak bertulang miliknya sudah sangat on, Ezra sampai kesusahan bernafas menahan gejolak birahi itu.
"A, bang kenapa?" Zahra heran melihat sang suami yang terlihat tidak tenang dan grasak grusuk. Pisang kepok ukuran besar itu masih tersumpal di mulut sang istri.
Mati aku, kenapa itu pisang terus saja di mainkan di mulutnya.
"Gak ada sayang." Ezra langsung menghela napas panjang. Kening Zahra semakin bingung dengan bahasa tubuh sang suami yang tidak tenang itu.
"Kenapa adek makannya seperti itu. Kenapa gak digigit cepat. Ini kog malah die--mut-em--#ut." Ezra bicara sambil membasahi bibirnya. Bira--*hinya tersulut sudah saat ini. Mana cuaca juga mendukung.
"Pisangnya enak bang. Manis sekali, sepertinya pisang ini masak di pokoknya." Zahra masih menikmati makan pisang itu. Dia gak tahu, suaminya itu sudah menderita menahan gejolak bir++ahi. Miliknya Ezra sudah panas, pingin dicelup ke kubangan basah berlendir.
"Iya dek, pisang Abang juga enak dan membuat nikmat."
"Iya, sama pisang ini juga enak banget." Zahra yang polos belum ngeh dengan ucapan konyolnya Ezra. Tapi, beberapa detik kemudian, akhirnya Zahra mengerti dengan maksud ucapan suaminya itu.
Wanita yang tadi menunduk dalam saat makan pisang itu, akhirnya mengangkat wajahnya. Karena terkejut dengan ucapan sang suami.
__ADS_1
Mata mereka akhirnya beradu pandang, ada harapan yang teramat dalam di netra tajamnya Ezra dan Zahra dapat melihatnya dengan jelas, apa yang diinginkan suaminya itu. Dari tadi suami itu selalu memberi kode. Zahra kembali memalingkan wajahnya, dia tak sanggup menatap mata mendambahnya Ezra. Hatinya mendadak gelisah, jantungnya berpacu dengan cepat. Dia belum siap jika suaminya itu memakannya malam ini. Karena dia merasa sangat malu, dia tak terbiasa kontak fisik dengan pria.
Duar...
Duar....
Duar....
Suara petir yang kuat mengagetkan Zahra. Saking takutnya dia malah berhambur ke pelukan sang suami. Bak gayung bersambut. Ezra pun langsung memeluk erat Zahra yang memang terlihat ketakutan itu. Dia sampai gemetaran.
"Adek takut!"
Cus....
Ezra senyam senyum sambil mengelus lembut punggung sang istri yang ada dalam pelukannya. Istrinya itu sudah mau dipanggil adek. Sepertinya Ezra harus berterima kasih pada petir malam ini. Berkat petir, dia bisa merasakan pelukan hangat dari sang istri. Walaupun istrinya sebenarnya lagi ketakutan.
Huffttt.
Ezra menghela napas dalam. Dia semakin tersiksa malam ini. Karena, satu tangan sang istri ternyata terletak di bagian sel*a--*ngkangannya, tepat di di rudal yang on itu. Dia sudah merasa sudah sangat panas.
Ezra semakin tidak tenang, Zahra yang memeluknya tak mau diam. Karena suara petir terus saja terdengar semakin mengerikan. Tangan polos itu, terus saja menekan miliknya Ezra. Pria itu pun tak tahan lagi.
Dummm.....
Ezra menyergap bibir Zahra, mata wanita itu membola terkejut, namun tak sempat untuk menghindar. Keduanya mematung dengan bibir masih saling menempel. Ezra sengaja diam sejenak, menunggu penolakan dari sang istri. Tapi, ternyata istrinya itu tak berontak.
__ADS_1
Ezra mulai menggerakkan bibir lembutnya, menyusuri bibir atas dan bawah sang istri. Zahra benar-benar tidak menyangka mereka akan ciuman dengan penuh kesadaran malam ini. Lembutnya bibir beradu dengan bibir pasangan, lalu ciuman makin 'panas, yang membuat pembuluh darah pun jadi melebar sehingga memungkinkan lebih banyak oksigen ke otak dan bernapas lebih dalam. Ezra mengecup lembut bibir sang istri yang tadi terasa dingin dan sekarang sudah begitu hangat.
Sesuatu yang kenyal dapat Zahra rasakan saat ini. Seluruh tubuhnya seperti tersengat listrik membuatnya lemas seketika saat bibir Ezra ******* lembut bibirnya. Ezra pria yang sudah
pernah menikah itu tidak pernah selambat dan selembut ini. Ia terbiasa melakukannya dengan terburu-buru dan mengandalkan nafs--#u pada pasangannya sebelumnya. Tapi sekarang berbeda. Lubuk hatinya menyuruhnya melakukannya dengan lembut. Karena dia tahu istri kecilnya ini belum mahir dalam hal itu.
Ezra melepas mukena yang dikenakan Zahra. Ya, sejak dari tadi wanita itu mengenakan mukena. Karena hanya itu yang ada, yang bisa digunakannya agar tubuhnya tidak kedinginan.
Zahra yang sudah terbawa suasana tanpa sadar, salah satu tangannya perlahan merambat menyentuh dada bidangnya Ezra, menyelinap masuk ke balik baju yang dikenakan sang suami. Dan entah bagaimana istrinya itu perlahan membalas ciuman yang diberikan sang suami. Sehingga Ezra terus mel---*umat bibir Zahra secara bergantian dari atas dan bawah, membuat sang istri sempat kewalahan. Karena Zahra memang belum pernah berciuman dengan pria manapun sebelumnya.
Ouugghhh…
Zahra terkejut saat tangan Ezra mer---emas lembut pinggangnya lalu tangan lainnya memeluk tengkuknya demi memperdalam pang-- utan mereka. Perlahan Ezra menuntun Zahra untu naik ke pangkuannya, semakin mengikis jarak keduanya. Melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri. Begitu pula sebaliknya Zahra dengan refleks melingkarkan kedua tangannya di sekitar leher Ezra. Walau
sebenarnya Zahra merasakan sakit di pahanya yang luka, tapi wanita itu menahannya. Dia sudah terhanyut dalam permainan intim ini. Dia penasaran, karena sudah tera++ngsang.
Aakkkhhh..
Zahra merutuki dirinya sendiri karena ia dengan gilanya men- desa--h kelepasan saat suaminya itu menggigit kecil bibir yang sekarang ia *****, yang digigit refleks membuka mulutnya dan Ezra benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ezra langsung memasukkan lidahnya untuk mengabsen seluruh rongga mulut zahra, mengajak lidah wanginya Zahra untuk bergulat, walau harus diakui oleh Ezra bahwa teknik ciuman Zahra sangat parah. Tidak ada apa-apanya dengan para mantan-mantannya ataupun istrinya Anin. Tapi, itulah yang membuat Ezra gemas dengan Zahra. Gadis belia yang masih kriyuk….. krenges…. Kreges…. josss.
Eeuummm….
Zahra kembali mendes--*ah. Pangutan ini bener-benar membuatnya lemas dan ia membutuhkan oksigen sekarang. Tangan gemulainya Zahra langsung mer--*emas kuat pundak sang suami, bermaksud memberitahu Ezra bahwa wanita polos itu mulai kehabisan
oksigen.
__ADS_1
.