AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Pusing dah


__ADS_3

"A--bang...!" Ezra dan Rani pun sama-sama menoleh ke asal suara. Rani masih memeluk mantan suaminya itu.


Anindya terperangah ketika mendapati sang suami dipeluk seorang wanita cantik dan berpakaian sangat sexy. Hatinya seketika hancur melihat tontonan di depan matanya itu. Tapi, dia tidak boleh memperlihatkan hatinya yang lagi hancur itu. Dia harus bisa tenang. Tak boleh marah-marah tak jelas. Cukuplah matanya yang berkaca-kaca sebagai tanda dia cemburu melihat sang suami dipeluk wanita lain


"Adek," Ezra kembali berusaha keras melepas belitan tangan Rani di pinggangnya. Akhirnya belitan tangan di pinggangnya Ezra pun lepas.


"Dia siapa? sayang, dia siapa?" Ezra menghampiri Anindya yang terpaku dengan mata yang berkaca-kaca diambang pintu. Tidak menggubris pertanyaan dari sang mantan istri. Rani yang kesal, karena merasa diabaikan itu pun mendekati pasangan pengantin baru itu, saat Ezra merangkul Anindya dan menuntunnya untuk masuk ke kamar mereka kembali.


"Heiii..... Tunggu..!" Rani yang punya sifat bar bar, menarik rambut panjangnya Anindya dari belakang. Dia melakukan itu karena Ezra dan wanita yang dipeluknya tak menghiraukannya.


"Aaauuuwww... Sakit ..!" Anindya meringis kesakitan, saat Rani menarik kuat rambut panjang Anindya, yang membuat wanita itu terhuyung ke belakang. Ezra dibuat naik pitam dengan kelakuan sang mantan istri. Berusaha melepaskan tangannya Rani yang masih mencengkeram rambut hitam legamnya Anindya.


"Pelayan .. seret wanita ini keluar." Ezra sudah berhasil memisahkan Anindya dari amukan Rani. Beberapa pelayan dengan cepat melaksanakan perintah sang majikan. Mengusir paksa sang mantan istri keluar dari rumah itu.


Ezra saat ini mendekap Anindya dengan posesifnya, penuh kekhawatiran dan merasa bersalah. Wanita yang baru saja dinikahinya itu, harus jadi korban keberingasan sang mantan istri, yang belum ikhlas diceraikan.


"Kamu ya bang, hanya mikirkan kesenanganmu. Rara anak kita jadi menderita. Di mana Rara? aku ke sini ingin bertemu dengan Rara." Ujar Rani dengan penuh kekesalan. Wanita itu masih dipegangi para pelayannya Ezra.


"Berani kamu kesini lagi, aku akan masukkan kamu ke kantor polisi." Ancam Ezra, menatap tajam sang mantan istri. Kemudian dia dan Anindya masuk ke dalam kamarnya.


Sesampainya di kamar, Ezra mendudukkan sang istri di tepi ranjang. Dia pun duduk di sebelah istrinya itu. Meraih jemari Anindya yang gemetaran.

__ADS_1


"Dia ibunya Rara, sudah tiga bulan dia gak buat keributan, dan sekarang dia lepas kontrol gitu." Anindya yang masih ketakutan, hanya menunduk dan sesekali melirik sang suami yang duduk di sebelahnya.


Ya, Anindya pernah dengar dari ART lainnya dulu, kalau mantan istri Ezra,.masih sering datang ke rumah. Disaat Rara belum pindah sekolah nya ke tempat Zahra. Anindya yang baru bekerja sebulan di rumah itu, tidak mengenali mantan istri suaminya itu.


"Maaf ya sayang, kamu jadi ketakutan begini." Merangkum wajah sang istri yang pucat pasi, mencium lembut kening wanita yang ketakutan itu. "Kamu gak usah takut begitu, dia tidak akan berani ganggu kita lagi. Saya akan buat penjagaan ketat di rumah ini dan untuk kamu sayang." Menatap lembut Anindya yang kini terlihat bingung. Karena jujur wanita itu ketakutan sekali. Baru kali ini dia diserang seseorang.


"Ya sudah kita tidur ya sekarang." Tanpa menunggu jawaban dari sang istri. Ezra menuntun Anindya berbaring di ranjang empuk itu. Dan pria itu pun ikut berbaring di sebelah sang istri. Menarik istrinya itu kepelukannya, mengusap lembut kepala sang istri, dengan pikiran menerawang menatap langit-langit kamar itu. Saat ini pikiran dan hatinya mulai muncul kegelisahan, Rani pasti akan datang lagi mengganggu rumah tangga nya. Rani dari awal tidak mau diceraikan.


❤️❤️❤️


"Zahra, yang dikatakan Nak Bimo itu benar sayang. Tak ada gunanya kamu balas dendam pada Nak Ezra. Nak Ezra itu sekarang adalah suamimu. Pernikahan kalian itu sah. Walau dibawah tangan." Zahra kini berbaring berbantalkan paha sang nenek dengan pikiran nya yang kacau. Keduanya sedang berada di atas ranjang.


"Seorang istri itu harus berbakti pada suami. Bicaranya harus lembut, melayani suami dengan baik." Zahra mengubah posisinya kini jadi menghadap sang nenek. Dia tahu tugas istri itu apa. Tapi, dia benar-benar gak sanggup melakukan tugas itu semua. Melayani suami? melayani di ranjang gitu?


"Iihhh... sudah lah Nek." Zahra merinding geli dan takut, jangan sampai Ezra minta dilayani di kasur. Dia tak akan berani dan sanggup.


"Koq sudah, dengarkan nasehat nenek. Kalau suamimu minta dilayani, kamu jangan menolak. Kamu akan dikutuk malaikat nanti, dosa besar."


"Ya Allah Nek, koq bahas itu sih? lagian itu pak tua, tega bener minta ku layani. Apa dia gak sadar aku ini masih anak dibawah umur. Masih 18 tahun. Di undang-undang pernikahan seorang wanita baru boleh menikah diumur 19 tahun. Lagian kan dia punya istri sah, baru nikah lagi. Aku yakin saat ini dia sedang bulan madu dengan istri sahnya itu, mencetak adik untuk si Rara. Agar ada ank kecil yang akan tiap hari dihajar si Rara."


"Kamu ngomong apaa sih Zahra?" ketus sang nenek marah. Menouor kepala sang cucu, yang membuat Zahra mengaduh kesakitan. Cucunya itu kalau sebel, ucapannya jadi gak berbobot."

__ADS_1


"Emang dia kan baru nikah. Orang kaya banyak uang. Pasti mereka sekarang lagi bulan madu. Atau Healing."


"Healing?" sang nenek memastikan.


"Iya nek, ada istilah sekarang untuk orang yang mau liburan. Healing Kita Healing, gitu nek istilahnya." Zahra pun beranjak dari pangkuan sang nenek, dia membaringkan tubuhnya di sebelah nek Ifah.


"Kenapa malah tidur di sini. Kamarmu di lantai atas."


"Gak mau, Zahra mau tidur dengan nenek." Zahra berbalik membelakangi sang nenek dengan kesal.


"Zahra, gak dengar kamu tadi apa kata Pak TomTom. Mulai malam ini, kamu tidurnya di kamarnya Nak Ezra, walau Nak Ezra gak di rumah ini. Zahra, kita harus ikuti peraturan sayang."


"Makanya Nek, Zahra sudah bilang sama nenek kita pergi saja dari rumah ini. Kita cari ibu, aku gak mau tambang emas itu lagi. Aku gak mau jadi istri simpanan nek. Aku gak mau nyakitin hati istrinya pak tua itu." Zahra berbalik menatap sedih sang nenek. Zahra merasa hidupnya hancur, karena bukan kehidupan seperti ini yang diinginkannya.


Sang nenek terdiam, tak ada gunanya berdebat dengan Zahra. Dan dia tak mungkin mengikuti kemauan cucunya itu. Kalau mereka pergi dari rumah ini, mereka akan jadi gembel dan belum tentu akan menemukan menantunya Anindya


"Secepatnya kita harus pergi dari rumah ini. Aku gak mau dilabrak istri sahnya suatu saat. Besok sepulang sekolah, aku akan ke grafary, aktifkan nomor ponselku tang hilang. Semoga ibu menghubungi kita." Ucapnya dengan menitikkan air mata, rasanya begitu menyesakkan. Kenapa hidupnya jadi hancur begini, setelah dia bertemu dengan Rara. Sungguh Zahra masih dendam pada anak itu.


"Iya sayang, kamu tidurlah. Tapi, besok kamu tidurnya di kamar Nak Ezra ya."


"Iya nek, iya ...!" Ucapnya dengan melap air matanya yang bercucuran deras.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2