AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Jadi bahan tontonan


__ADS_3

"Emang imbalannya apa sayang?" kini kedua tangan kekar itu sudah membelit pinggang ramping sang istri, dan Ezra menarik tubuh istrinya itu, agar lebih menempel padanya. Zahra yang terkejut dengan kelakuan Ezra, menjauhkan wajahnya. Bibir suaminya itu sudah mau nyosor.


"Aku ingin bertemu dengan mantan."


Seketika belitan yang menempel kuat seperti lintah itu mengangsur terburai. Ucapan Zahra membuat Ezra terkejut dan langsung bad mood. Air mukanya yang tadi berbinar-binar, kini berubah jadi muram.


"Mantan? maksud adek apa?" Ezra menilik dalam wajah sang istri yang memang terlihat serius saat ini. "Adek ingin bertemu dengan Ferdy?" Ezra tak ingin nama pria itu disebutkan oleh istrinya. Sehingga dia langsung menegaskan ucapan istri nya itu.


"Iya " Hanya satu kata. Tapi, sukses membuat hati Ezra hancur berkeping-keping mendengarnya. Apa istrinya tak bisa melupakan bocah tengil itu? padahal Ezra sudah berusaha jadi suami yang sempurna. Memberi Zahra limpahan cinta dan kasih sayang. Tapi, lihatlah istrinya itu seolah masih menguji kesabarannya dengan permintaan konyol nya itu.


"Permintaan adek kali ini tak akan Hubby penuhi." Ezra bicara tegas. Pria yang cemburu itu akhirnya memilih untuk keluar dari kamar yang ada di ruang kerjanya. Ia duduk di meja kerjanya dengan wajah tegang. Mulai bekerja dengan fokus menatap layar datar di hadapannya.


Suasana hatinya buruk sudah, karena permintaan istrinya itu.


"Aku hanya ingin mengetahui kondisinya sekarang." Ujar Zahra. Dia sudah ada di hadapan meja kerja suaminya itu.


"Jangan membahas dia!" Zahra tersentak mendengar nada bicara Ezra yang tegas. Pria itu bicara bahkan menatap tajam Zahra dengan mata memerah.


Zahra dengan cepat membuang pandangannya, karena tak sanggup menatap mata tajamnya sang suami. Wanita itu bahkan berbalik badan dan menyeret kakinya ke sofa yang ada di ruangan itu, dengan wajah masamnya. Hatinya sakit juga dibentak oleh Ezra.


Apa dia cemburu? kenapa mesti cemburu?


Zahra membatin, sambil memperhatikan Ezra yang kini terlihat sibuk bekerja.


"Aku mau pulang!" Ujar Zahra, wanita itu bangkit cepat dari duduknya.


Ezra akhirnya menoleh ke arah sang istri. "Tunggu sebentar, Dika yang akan mengantarkanmu." Ujar Ezra tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Gak usah diantar, aku bisa pulang sendiri." Ujarnya kesal, menghentakkan kakinya sebagai aksi pelampiasan kesal pada sang suami yang tak mau mengerti keinginannya untuk berjumpa dengan Ferdy.


Zahra ingin sekali berjumpa dengan pria itu. Dia benar-benar mengkhawatirkannya. Bukan karena ingin memupuk rasa pada pria itu. Tapi, hanya ingin memastikan, bagaimana kondisinya sebenarnya. Dari cerita ibunya Anin, Ferdy belum bisa berjalan dengan normal. Dia belum bisa membusungkan dadanya.


Ferdy dulu selalu menolongnya. Sangat kejam rasanya, menjenguk orang yang pesakitan pun tak diperbolehkan.


"Tunggu... Jangan keluar..!" titah Ezra dengan cepat menyusul langkah Zahra ke pintu. Pria itu berhasil meraih tangan Zahra sebelum menekan handle pintu itu.


Zahra merasa semakin kesal kepada Ezra yang kini bersikap tak manis lagi.


"Iihh... lepas... Sakit tahu!" Zahra menghentakkan tangannya kuat yang digenggam Ezra. Hingga tangan Ezra terlepas.


"Tunggu di sini, Dika akan datang kemari." Ucap Ezra masih dengan wajah masamnya.


"Iya sudah " Zahra memilih menunggu Dika bersandar di dinding dekat pintu keluar. Dia tak mau menatap ke arah Ezra yang dari tadi terus saja menatapnya.


"Iya "


"Kamu masih ada rasa padanya?"


Zahra menatap malas Ezra. "Apaan sih By? jangan seperti anak-anak deh. Marah-marah tak jelas, hanya karena aku ingin berjumpa dengan Ferdy. Dia itu baik padaku, dia selalu ada disaat aku sedih dan susah. Jadi wajar jika aku ingin bertemu dengannya dan mengkhawatirkannya." Jelas Zahra dengan wajah tak kalah kesal.


"Halwa sayang, dia itu suka samamu. Gak baik jika kamu bertemu dengannya." Ezra meraih sang istri ke pelukannya. Dia harus mengalah, karena istrinya saat ini ingin dimengerti.


Zahra terdiam dalam rengkuhan Ezra. Memikirkan perkataan suaminya itu. Tapi, entah kenapa dia ingin sekali bertemu dengan Ferdy. Menjelaskan semuanya dan menenangkan pria itu.


"Aku mau pulang!" Zahra berontak kecil, agar Ezra melepaskan pelukannya. Keinginannya yang tak terpenuhi membuat suasana hatinya memburuk.

__ADS_1


"Ya sudah kita pulang sekarang." Ujar Ezra lembut. Dia tak akan tenang bekerja di kantor. Jika Zahra pulang dengan wajah masam.


"Aku ingin ke rumah umak." Ujarnya dan menjauh dari Ezra.


Tentu saja Ezra tak akan mau ikut ke rumahnya Anin.


"Hubby antar kamu ke rumah Umak ya? Ayo sayang!" wajahnya Ezra dipaksa senyum, merangkul sang istri lagi keluar dari ruangannya. Semua permintaan istrinya itu serba sulit dan buat sesak dada. Ingin jumpa Ferdy lah, ingin ke rumah ibunya si Anin.


Huufffttt....


Ezra menghela napas berat tanpa sadar.


"Kalau gak ikhlas gak usah dipaksa By, aku bisa sendiri koq ke rumahnya ibu." Kembali mencoba mengurai rangkulan sang suami.


Ezra menghentikan langkahnya. "Ya Ampun istriku? tahukah kamu bahwa hatiku resah dan gelisah saat ini? dari tadi adek selalu menguji suamimu ini."


"Menguji? oohh keinginan ku seperti sebuah ujian. Kalau begitu, Hubby gak lulus ujian." Zahra menekan panel lift. Matanya melirik kesal Ezra, saat masuk ke dalam lift. Tentu saja Ezra ikut masuk ke lift itu juga.


"Ya ampun, jangan buat Hubby gemes... Mau dicium ya?" Ezra yang dari tadi kesal itu, akhirnya mencium Zahra dengan gemesnya. Dia ternyata gak bisa bersikap dingin pada Zahra.


Capek juga kalau kesal sendiri. Toh istrinya tak mau tahu dengan perasaannya. Dia inginnya dituruti terus.


"Iiihhh... Sudah By, sudah.... Kita dilihatin orang!" Ujar Zahra semakin kesal. Ezra tak sadar, kalau pintu lift sudah terbuka. Dan para karyawan sudah menonton kelakuan me sum nya Ezra yang memaksa mencium Zahra yang tak mau dicium itu.


TBC


Like, coment dan vote

__ADS_1


__ADS_2