AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Disambut


__ADS_3

"Kenapa sih, anak itu tak mati saja? benar-benar buat muak. Aku yang tadinya kerja di kantoran. kini jadi urus manusia yang seperti lansia." Keluh Bimo dengan frustasinya. Pria itu berulang kali mengusap wajahnya kasar, karena wajahnya terasa panas dan tegang.


Merasa sedikit tenang, pria itu pun meninggalkan gedung megah itu. Ke mana lagi dia pergi kalau bukan ke rumah sakit. Sesampainya dia di rumah sakit. Dia mendapati Rara duduk dengan sedihnya dia atas bednya.


"Aku tahu semua keinginanku tak akan ada yang mewujudkannya. Karena aku memang tak berharga lagi saat ini. Tak ada yang mengharapkanku." Rara mulai meratapi nasib, raut wajah menyedihkan menyelimuti wajah pucat itu.


Siapapun yang melihat ekspresi wajah itu, pasti ikut sedih melihatnya. Tapi, itu tak berlaku untuk Bimo. Dia malah semakin eneg melihatnya.


"Bim, bawa aku keluar dari rumah sakit ini."


Bimo yang tadinya malas untuk menoleh ke arah Rara, kini menatapnya lekat. "Kamu belum boleh pulang. Lukamu belum sembuh." Ujar Bimo tak bersemangat.


"Bisa dirawat jalan Bim. Aku semakin setres di sini terus. Mana hanya kamu yang nemenin aku. Ayah dan istrinya tak mau melihatku. Ibu gak boleh menemuiku." Ucapnya dengan sedih


Kenapa matanya yang memerah karena habis menangis kini kembali berkaca-kaca.


"Makanya jadi anak yang baik. Agar orang seneng padamu. Kamu harus bersyukur, aku masih mau menemanimu. Malah ngeluh lagi "


Bimo memang gak bisa bersikap manis pada Rara. Ngomongnya ketus terus.


"Iya, bener apa katamu Bim. Kalau aku bunuh diri, pasti dapat azab di kuburan. Dan gak akan merasakan masuk surga. Aku mati dalam keadaan kafir. Aku gak mau mati sekarang. Tapi, kalau aku hidup, aku tak punya apa-apa." Ujarnya dengan penuh kesadaran. Tapi, terlihat bingung.


Bimo cukup tercenung mendengar ucapannya Rara. Benarkah anak ini sudah sadar? atau hanya akal-akalan nya saja, agar keluar dari rumah sakit.


"Iyalah kalau kamu mati bunuh diri, kamu mati dalam kafir. Kamu itu sudah menderita di dunia dan malah memilih mati bunuh diri dan disiksa lagi diakhirat. Mending kamu taubat, nikmati dulu hidup di dunia ini." Ujar Bimo asal, nasehatnya diterima Rara syukur gak diterima dia juga gak mau pusing. Yang ada di otaknya sekarang bebas tanggung jawab dari Rara.


"Iya " Jawab Rara lemah.

__ADS_1


"Kamu saya masukin lagi di pesantren ya?"


"Gak Bim, aku gak mau ke pesantren. Aku mau belajar ilmu agama sendiri. Dengar ceramah melakui video saja."


Tentu saja kedua mata Bimo membelikan mendengar penuturan Rara itu. Benarkah yang dikatakan anak ini?


"Terserah kamu lah."


"Bim, aku masih boleh kan tinggal di rumah ayah?" Ujarnya menatap sendu Bimo. Kali ini, Bimo melihat ketulusan dan kejujuran di kedua matanya Rara yang berkabut.


"Ya boleh lah. Kamu kan masih dianggap anak sama si bos."


"Iya, nanti kalau aku sudah dapat pekerjaan. Aku mau mandiri. Gak mau mengharapkan apapun dari ayah lagi." Kali ini Rara tak bisa membendung air matanya. Sikap baikya Ezra lah yang membuatnya tersadar. Walau dia bukan anak kandungnya. Tapi, Ezra tetap menganggap nya seperti anak. Ditambah dokter spesialis kejiwaan tadi baru saja memberinya pandangan hidup.


Wah... Benar-benar sadar ini anak. Cepat juga ya? gumam Bimo, menatap lekat Rara, yang juga menatapnya.


Dengan cepat Bimo menyelesaikan semua administrasi terkait keluarnya Rara dari rumah sakit. Dan dengan bangganya Bimo menyampaikan kabar itu pada Ezra. Tentu saja Ezra senang sekali dapat kabar itu. Padahal dua jam yang lalu Bimo masih datang ke kantornya, mengeluh tentang Rara.


Ezra yang mendapat kabar dari Bimo, tentu menghubungi sang istri. Ezra meminta Zahra menyambut kedatangan Rara di rumah lama mereka.


Huuffftt...


Zahra meletakkan buku tentang kehamilan yang dibacanya di atas meja. Seketika wajahnya menegang, karena diminta sang suami, menyambut Rara di rumah lama. Dia belum siap bertemu dengan anak itu. Tapi, kata Ezra, anak itu sudah benar-benar sadar.


"Aku harus hubungi umak. Aku perlu waspada." Zahra bermonolog, ia meraih hapenya yang tergeletak di atas meja dan mulai melakukan panggilan video Dengan ibunya itu.


"Umakmau ke mana itu?" tanya Zahra heran, melihat sang ibu di layar ponselnya sudah rapi dan cantik.

__ADS_1


"Umak mau makan siang dengan Dokter Alvian " Sahut Anin tersenyum manis.


"Ya... Padahal aku ingin ajak umak ke rumah lamanya Hubby. Siang ini Rara pulang ke rumah ." Jawabnya lemas, siapa lagi yang bisa diminta tolongi. Gak mungkin kan ibunya itu membatalkan acaranya, hanya karena menyambut Rara.


"Eeemmmm.... Rara sudah keluar dari rumah sakit? syukur lah... Baiklah, ibu ke rumahmu sekarang. Kita pergi bareng ke rumah lama." Ujar Anin dengan senyum manisnya. Dia bangga dengan putrinya yang sudah banyak berubah jadi lebih dewasa.


"Umak mau? bukannya umak mau makan siang bareng Dokter Alvian?" tanya Zahra tidak percayanya.


"Ya Allah sayang, apapun akan ibu lakukan untukmu sayang. Kalau soal makan siang, besok-besok juga bisa sayang." Anin terlihat mondar-mandir di kamarnya. Mengambil tas dan barang-barang lainnya. "Rara harus diupah-upah sayang. Cepat kamu masak ayam kampung jantan." Titah Anin dengan semangat nya. Dia harus mengajari anaknya itu adat budaya mereka.


"Mesti kali dia di upah-upah Ma?!" rengek Zahra, merasa keberatan dengan ide sang ibu, yang terlihat berlebihan menyambut kepulangan Rara.


Upah-upah adalah suatu kegiatan adat yang bertujuan untuk memulihkan kondisi dan menguatkan semangat pada orang-orang yang baru sembuh dari sakit keras, selamat dari sebuah marabahaya. Bisa diupah-upah dengan Daging ayam, ikan mas dan telur ayam.


"Sayang, kamu harus tunjukkan tanggung jawab mu sebagai orang tua."


"Dia bukan anakku Mak, dia juga bukan anaknya Hubby. Umak kan tahu itu?" Ujar Zahra kesal.


"Iya, tapi dia sudah pernah jadi bagian keluarga kita. Sudah, Umak matikan teleponnya. Kamu siapkan apa yang Umak bilang tadi." Titah Anin tak terbantahkan.


Zahra yang tak ikhlas itu, akhirnya turun ke dapur. Tadinya dia sedang metime di balkon kamarnya. Tapi, karena kedatangan Rara, acaranya terganggu sudah.


Walau ia tak ikhlas menyambut kedatangan Rara. Ia tetap ingin memasak sendiri gulai ayam kampung jantan yang diperintahkan ibunya itu. Tentu saja dibantu koki di rumah itu.


TBC


Like coment positif dan vote dong. Ini novel akan tamat loh di awal bulan enam🙂

__ADS_1


__ADS_2