
Zahra sama sekali tak mau makan. Ferdy yang sedih melihatnya pun, tak membuatnya tergugah untuk membuka mulutnya. Padahal Ferdy sudah memohon, agar wanita itu makan sedikit saja. Zahra terlihat terpukul sekali. Siapa saja yang melihat wajah sedihnya akan tersentuh.
"Bapak percaya padamu Zahra. Tapi, keluarga mu harus mempertanggung jawabkan semuanya." Ucapan Pak Rizal seolah angin lalu buatnya. Untuk apa kata-kata itu, kalau toh dia terlihat salah di mata orang banyak.
"Ayo kamu makan dulu, nanti kamu ketahui masuk angin." Ujar Pak Rizal jadi ikut sedih melihat keadaan Zahra yang terlihat sangat tertekan itu. Kini pak Rizal ikut menyodorkan makanan untuk Zahra.
Tetap tak ada sahutan dari Zahra. Kedua bola matanya dari tadi tidak berkedip setelah dia puas menangis dalam diam. Pandangannya kosong menatap lurus ke depan. Ekspresi wajahnya terlihat sedih dan penuh kekecewaan.
"Assalamualaikum.....!" ucap seorang pria yang ternyata bodyguardnya Ferdy.
"Maaf Pak, saya ingin bicara dengan Ferdy." Ujar pria itu, yang membuat Pak Rizal dan guru BK terkejut. Dia pikir yang datang adalah keluarga Zahra.
"Oohh iya Pak, nak Ferdy dari tadi gak mau pulang. Katanya mau menemani Zahra." Jawab Pak Rizal ramah. Dari tadi memang Pak Rizal sudah berulang kali meminta Ferdy agar pulang. Tapi, pria itu kekeh untuk menemani Zahra.
"Tuan, harus pulang sekarang. Tuan besar menunggu di rumah saat ini " Ujar pengawalnya Ferdy tegas.
"Kamu ingin saya pulang, atau saya tak akan pulang selamanya?" pertanyaan ambigunya Ferdy membuat sang pengawal terhenyak. Pengawal itu pun akhirnya meninggalkan ruangan itu. Dan saat itu juga, pengawalnya Ferdy berpapasan di pintu masuk ruang kesiswaan itu.
Saat masuk ke dalam ruangan itu. Kedua matanya Bimo langsung tertuju ke arah Zahra yang duduk dengan tak berdayanya di pojok ruangan itu. Bimo dibuat naik darah melihat keadaan Zahra yang memprihatinkan. Walau Zahra tidak babak belur. Tapi, bahasa tubuh Zahra mengatakan kalau dia sangat tertekan.
"Ayo Pak, silahkan duduk dulu." Ujar Pak Rizal, mempersilahkan Bimo duduk di sofa warna murstad.
Bimo pun mengurungkan niatnya menghampiri Zahra, karena tawaran pak Rizal.
"Ada apa ini Pak?" tanya Bimo dengan penasarannya.
Pak Rizal pun menceritakan semua kejadian yang diketahuinya. Yaitu, Zahra yang sudah membuat enam orang luka-luka. Bahkan ada yang sampai tak bisa jalan Karena sendi di pergelangan kakinya bergeser. Dan untuk lebih jelasnya, luka-luka yang dialami korban. Masih menunggu hasil diagnosa Dokter. Karena para korban masih di rumah sakit.
__ADS_1
"Ada asap, pasti karena ada api pak. Tak mungkin Zahra melakukan itu semua, tanpa sebab." Bimo dengan cepat memotong ucapan Pak Rizal, yang seolah menyudutkan Zahra.
"Saya akan mempertanggung jawabkan semua kerugian yang dialami korban. Tapi, saya tidak akan tinggal diam pak. Saya yang akan usut tuntas kasus ini. Jika sampai besok, saya tidak dapat kepastian masalah yang sebenarnya dari pihak sekolah. Dan apabila Zahra terbukti tidak bersalah. Semua korban akan saya tuntut. Dan sekolah ini, akan di blacklist dari dana hibah Assegaf Group." Ucapan tegasnya Bimo, membuat pak Rizal tercengang.
Tanpa menunggu jawaban dari Pak Rizal. Bimo beranjak dari tempat duduknya. Menghampiri Zahra yang terduduk lemas tanpa Ekspresi.
"Kamu siapa?" tanya Bimo pada Ferdy yang juga duduk di sebelah Zahra.
Ferdy menatap Bimo tanpa ekspresi. Karena, nada bicara Bimo terkesan arogan
"Saya kekasihnya."
"APA....?" semua orang di ruangan itu dibuat syok berjamaah. Kecuali Zahra yang masih diam membisu dengan ekspresi wajah sedihnya.
"Pacar? kalian pacaran? bukannya dia murid baru di sini?" guru BK semakin syok. Dia kurang simpatik pada siswa yang masih sekolah tapi sudah pacaran. Guru BK di sekolah itu genjar mengkampanyekan anti pacaran. Karena pacaran sewaktu sekolah bisa mengganggu konsentrasi belajar. Apalagi kalau cara berpacarannya melewati batas.
Bimo menatap tajam Ferdy. Dia kesal juga mendengar ucapan tak tahu malu anak ingusan dihadapannya.
"Ayo Ra, kita pulang." Saat Bimo ingin memapah Zahra. Ferdy dengan cepat meraih Zahra ke dekapannya.
"Jangan sentuh kekasihku." Mendorong kuat tubuh Bimo, saat Zahra sudah berada di dalam rengkuhan Ferdy.
Sikap kekanak-kanakan Ferdy, tentu saja membuat Bimo kesal. Masih juga sebagai kekasih, sudah syok menguasai.
Apa bocah ini tidak tahu, wanita yang dipeluknya istri orang.
Bimo menggeleng pelan dengan senyum mengejeknya.
__ADS_1
Cukup bernyali juga anak ini. Pikir Bimo, masih menatap tajam Ferdy. Syukur dia yang ke sekolah nya Zahra. Sempat Bosnya yang datang. Bisa terjadi perang dunia ke 3.
Ezra sang Bos. Paling tak suka, miliknya diganggu, disabotase atau diklaim orang lain. Ibunya Rara saja, langsung dicerai. Karena ketahuan selingkuh.
"Dia adik saya, saya yang lebih bertanggung jawab." Menarik Zahra, agar berpindah ke Bimo.
Ferdy yang merasa tertantang malah menarik lagi tubuh Zahra ke arahnya. Akhirnya terjadilah aksi tarik menarik yang membuat Zahra semakin kesal.
"LEPASKAN....!" menghempaskan tangan kedua orang yang bersengketa, sehingga tangan Ferry dan Bimo jauh terpelanting.
Pak Rizal dan guru BK dibuat terkaget-kaget, melihat tenaga Zahra yang sangat kuat itu. Zahra seperti kesetanan saja.
"Aku bisa jalan sendiri." kalau tadi Zahra bicara seperti harimau yang siap menerkam. Kali ini dai bicara lembut, seperti seekor kucing yang datang mengusap -usap kepada kita.
Zahra pun menyeret kakinya dengan lemah, keluar dari ruangan itu, yang diikuti oleh Bimo dan Ferdy.
Saat melewati koridor menuju parkiran. Bimo selalu menatap tajam Ferdy. Yang membuat Ferdy menantang tatapannya Bimo.
"Bilang sama Bosmu, tukang cabul itu, aku tidak akan membiarkan Zahra disekapnya. Dasar maniak, fedofil!" ketus Ferdy, memilih berjalan cepat meninggalkan Bimo, setelah mengejek dan menginap sang Bos.
"Apa...!?" Bimo geram, tangan nya mengepal kuat, bersiap untuk membuat perhitungan dengan bocah ingusan itu.
Tapi, saat dia mengejar Ferdy. Dia pun tersadar. Tak ada gunanya meladeni dan terpancing dengan ucapan bocah yang mengaku kekasihnya Zahra itu.
"Dasar..... Berani sekali anak itu!" umpatnya memperhatikan Ferdy yang sudah masuk ke mobil mewahnya. Dan sedetik kemudian, Ferdy malah membuka kaca mobilnya. Menantang Bimo dengan membuat emoji jempol ke bawah. Tentu saja sikap Ferdy yang merendahkan nya itu, membuat Bimo sedikit terpancing. Tapi, dengan cepat dia tersadar. Untuk apa dia buang energi menanggapi sikap kekanak-kanakan pria yang mengaku kekasihnya Zahra itu.
"Sepertinya dia bukan orang biasa." Bimo bicara sendiri, matanya masih setia tertuju pada mobil Ferdy yang kini sudah keluar dari gerbang.
__ADS_1
"Zahra..,?!!" Bimo pun tersadar, ternyata dari tadi dia sudah kehilangan jejak wanita itu. Karena, asyik terpancing emosi meladeni Ferdy.
TBC