
"Setelah mereka puas membentak-bentak dan mengancam aku. Mereka menurunkan aku di jalan sepi, dekat jembatan. Mereka juga kasih aku uang pecahan seratus ribu, karena aku bilang, gak punya ongkos untuk pulang."
"Baik juga ya Ra, gerombolan penjahat yang mencurimu, masak dikasih ongkos untuk pulang." Bimo tertawa dengan puasnya. Dia merasa hidupnya jadi berwarna setelah kenal dengan Zahra dan Nek Ifah, selama ini hidupnya terlalu tegang bersama si bos yang betah menduda, karena takut salah pilih pasangan. Eehhh... sekali diputuskan menikah, malah dapat istri dua sekaligus. Mana satu istrinya masih muda lagi. Ibarat bunga ni lagu mekar-mekarnya.
Ok Fix, aku akan dukung si Bos dengan Ibotoku si Zahra. Gumam Bimo dengan senyam-senyum. Mengetahui keluarga Ferdy gak suka pada Zahra, dia jadi berubah pikiran. Tadinya dia ingin Zahra dengan Ferdy saja, karena Zahra katanya gak sudih jadi istri simpanan.
"Baik apanya, mereka menurunkanku di jembatan yang sepi, di tengah hutan." Zahra terlihat semakin kesal.
"Ya iyalah mereka menurunkanmu di tempat sepi, kalau tempat rame, mereka takutlah dihakimi massa. Kamu gimana sih Ra." Memperhatikan raut wajah sedih dan kesalnya Zahra.
"Ok, ok. Tapi, gimana ceritanya kamu bisa bersama si Bos? mana pakaian si Bos terlihat basah tadi. Kamu juga bajunya basah." Bimo terlihat semakin penasaran, dia tadi sempat tegang karena Bos nya memarahinya. Dan sekarang dia baru sadar, kalau Zahra dan Ezra basah-basahan.
Hufffttt....
Zahra menarik napas panjang, dia kesal dengan kejadian yang terjadi saat di sungai bersama Ezra. Bisa-bisa mereka nyemplung ke sungai itu.
"Nanti saja ceritanya, ayo kita masuk ke dalam. Kamu bisa masuk angin " Bimo menarik pelan lengan Zahra, mau tak mau wanita itupun turun dari mobil itu.
"Eehh si Bos!" Bimo terlonjak kaget, karena Ezra tiba-tiba saja berdiri di hadapan mereka. Zahra juga terkejut, tapi dia dengan cepat menenangkan dirinya dan membuang muka. Dia kesal sekali pada suaminya itu.
"Mau cari penyakit?" ucap Ezra lembut, menatap Zahra yang masih tak sudih menatapnya.
"Gak Bos, ini Ibot Zahra akan bersih-bersih. Akan sangat bersih, sehingga gak bau lagi Bos." Zahra geram juga mendengar ucapan Bimo. Wanita itu pun akhirnya menatap tajam ke arah pria yang sudah dianggapnya sebagai saudara itu.
Ezra memperhatikan dua manusia di hadapannya yang terlihat akrab itu.
"Kapan kalian jadi saudara. Kenapa kamu bilang dia ibotmu Bim?" Walau Ezra tidak suku Batak, dia tahu sedikit bahasa Batak.
__ADS_1
"Eehhmmm sejak si Bos mempercayakan Zahra dan nek Ifah dalam pengawasan ku Bos"
"Tapi, kamu lalai. Kamu tak menjaganya!" tadi Ezra bicara lembut dan sekarang sudah ngengas. Bimo semakin ketakutan saja.
"Iya Bos, saya siap dihukum!" ucapan Bimo yang seperti penjilat itu membuat Zahra jengah. Memang ya para penguasa selalu ingin bawahan terlihat tak berdaya.
Zahra kembali menatap malas Ezra. Dia semakin kesal saja pada suaminya itu. Meras ingin muntah melihat sang suami. Zahra pun meninggalkan tempat itu, meninggalkan Bimo bersama Ezra.
"Urus dia!" titah Ezra pada Bimo.
"Siap Bos!" Bimo menundukkan kepalanya dan ngacir mengejar Zahra.
Sepeninggalannya Bimo, Ezra menghela napas kasar. Dia menikmati sebentar udara malam di tempat itu. Memandang indahnya kelap-kelip lampu dibawah sana. Karena saat ini mereka berada di puncak.
"Ra, Zahra...! kamar kamu di sini." Bimo menarik lengan Zahra, agar naik ke lantai dua, menapaki tangga. Saat itu juga Bimo terlihat sibuk sedang menelpon sambil berjalan.
"APA...? gak gak... aku gak mau satu kamar dengannya." Zahra hendak melarikan diri. Tapi, Bimo menahan lengan wanita itu. Sempat Zahra gak nurut kali ini, dia pasti akan kena marah si Bos.
"Kamu jangan ke GR an deh Ibot. Si Bos juga belum tentu mau satu kamar dengan anak ingusan kek kamu." Ucapan merendahkannya Bimo, malah membuat Zahra senang. Dia nampak berfikir sejenak
Bener juga ya! kedua bola matanya nampak berputar. Wajahnya langsung terlihat legah. Saat itu juga,. mereka dihampiri oleh tiga orang wanita. Dari penampilannya, Zahra tahu itu adalah pelayan di rumah itu.
"Ayo bantu Non Zahra bersih-bersih." titah Bimo kepada tiga pelayan, yang sedang berdiri dengan hormat nya di hadapan mereka.
"Apa? jangan aneh deh Ibot. Aku bukan anak kecil, yang mandi saja harus dimandiin." Zahra protes menatap tajam Bimo.
Zahra akan malu sekali, ada orang lain yang melihatnya mandi
__ADS_1
"Kali ini nurut ya Ra. Abang lakukan ini semua agar kita aman. Kamu senang, bos marah-marah pada Abang mu ini?" menatap lekat Zahra dengan wajah memelasnya.
"Please..... Nurut saja dulu, kamu pasti suka nanti ada yang bantuin kamu bersihkan tubuhmu." Tegas Bimo, Zahra yang kesal, mau tak mau harus nurut juga.
Ketiga pelayan wanita itu pun masuk terlebih dahulu ke sebuah ruangan. Tepat disebelah kamarnya Zahra. Zahra mengekor dengan malasnya. Saat masuk ke dalam ruangan mewah itu, Zahra dibuat melongok dengan apa yang disiapkan oleh para pelayan itu. Dan ternyata ruangan yang mereka masukin itu adalah ruangan Spa. Ya, walau Zahra orang kampung, dia gak terlalu ketinggakan zaman. Dia sering baca buku dan lihat di TV tentang Spa. Jadi dia tahu, fungsi dari tempat ini.
"Ayo Nona silahkan pakai ini." Zahra disodorkan pakai an untuk dipakai di spa. Zahra tersenyum tipis, dia baru tahu ada salon kecantikan di dalam rumah. Mana semuanya lengkap.
Enaknya jadi orang kaya . Gumam Zahra dalam hati. Rasa kesal mulai luntur. Dia seperti nya akan dimanjakan.
"Ayo nona duduk di sini." Zahra pun mendudukkan bokongnya di tepi sebuah tempat tidur. Dia tahu, pasti tempat tidur itu digunakan untuk memijat.
"Eehhh.. Mau apa kalian?" Zahra merasa tidak enak hati, saat wanita yang ditugaskan Bimo, menarik kakinya lembut dan mencelupkannya ke air hangat di dalam sebuah wadah.
"Mau memijat kaki nona dengan air hangat." Ucap pelayan itu ramah.
Zahra sungguh merasa sungkan, kakinya dipijat-pijat orang lain. Syukur kakinya mulus dan jari-jarinya bersih. Sempat kutu air dan busuk, gimana? aduhhh... itu pasti memalukan sekali.
Zahra pun mulai merasa sedikit rileks, setelah kakinya berendam air hangat. Dia yakin, ada sesuatu dicampur dalam air itu. Karena, airnya mengeluarkan aroma yang sangat wangi.
"Nona silahkan berbaring di sini."
"Aku gak mau tidur, aku mau mandi." Ucap Zahra mencoba ngelawak. Dia gak biasa tubuhnya disentuh orang. Makanya dia malas untuk dipijat.
"Iya Nona, izinkan kami menjalankan tugas yang diberikan Pak Bimo." Ucap pelayan itu ramah
TBC
__ADS_1