
"Rasanya sangat lelah sayang." Meraih Anindya kepelukannya. Mengelus lembut lengan sang istri dan menciumi gemes keningnya Anindya. Yang membuat darah Anindya rasanya membeku, padahal dia dalam pelukan hangat sang suami.
"Kita baru menikah, harusnya kita melewati masa-masa romantis. Tapi, sejak kita menikah ada saja masalah yang membuat kebersamaan kita berkurang." Ezra melirik sang istri yang membeku di pelukannya itu. Dia melirik sang istri untuk memastikan, apakah istrinya itu baik-baik saja atau tidak.
Kalau istrinya itu terlihat baik-baik saja, tentu malam ini dia akan memberikan nafkah bathin pada istrinya itu. Karena dia juga sudah sangat menginginkannya. Tapi, sepertinya dia harus menekan dalam-dalam keinginannya itu. Istrinya itu terlihat tidak baik-baik saja. Mana mungkin dia memaksa istrinya melayaninya, padahal sang istri dalam keadaan kurang sehat.
"Ucapan Rara, jangan terlalu diambil pusing ya Dek. Dia memang seperti itu karakternya." Ucapan Ezra langsung membuat suasana hatinya Anindya jadi tidak enak. Bagaimana pun, dimaki dan dibentak-bentak itu rasanya sangat menyakitkan.
"Iya Bang. Adek bisa memahami kondisi Rara saat ini." Ucapnya sedih, mendongak untuk menatap sang suami, yang ternyata juga sedang menatapnya. Keduanya pun berada pandang, yang membuat Anindya tersipu malu. Wanita itu kembali menyembunyikan wajah nya di dada bidang nya Ezra yang terasa hangat.
Saat ini perasaan Anindya sedang berbunga-bunga. Dia tidak menyangka Ezra punya sikap yang begitu lembut dan mesra. Padahal selama jadi pembantu di rumah itu. Sikap Ezra terlihat biasa saja. Bahkan padanya bicara saja jarang. Tapi, anehnya tiba-tiba diajak nikah, tanpa diberi waktu untuk berfikir. Dan sekarang, mereka sudah tidur seranjang.
"Mungkin kamu kaget, disaat saya mengajak kamu menikah, tanpa diberi waktu untuk berfikir." Baru saja Anindya, berfikiran seperti itu, sang suami malah sudah membahasnya.
"Setiap pria pasti ingin punya sosok istri yang baik hatinya. Yang akan bisa menjaga kehormatan suaminya. Mendidik anak-anak dengan syariat Islam. Mengurus rumah tangga dengan baik. Dan itu semua ada padamu dek. Abang gak mau mengulur waktu lagi, makanya Abang menikahimu secara mendadak. Rasanya sangat lelah, hidup sendiri. Tidak ada teman berbagi dalam suka dan duka. Setiap malam ku habiskan dengan bekerja. Lelah bekerja, tidur hanya meluk guling." Di akhir kalimat Wzra tertawa tipis. Dia merasa malu juga dengan dirinya, yang terlihat seperti ABG yang curhat pada emaknya.
"Senang rasanya, disaat kita pulang bekerja. Ada istri yang menyambut dengan senyum manisnya. Rasa lelah seketika luruh dari tubuh." Tangan Ezra mulai merayap, yang tadi setiap mengusap lengan Anindya. Kini sudah berada di salah satu gundukannya. Anindya yang belum siap itu, terkejut
"Eeeekkkhhh...!" Anindya malah berteriak. Ezra beranggapan istrinya itu gak senang dengan kelakuannya. Padahal Anindya hanya terkejut saja dengan sentuhan lembutnya Ezra di salah satu gunung kembarnya.
__ADS_1
"Eehhmmm... Baiklah, kalau adek belum siap. Kita tidak usah buru-buru melakukannya. Ya sudah, adek tidur sekarang." Tangan Ezra yang kini jadi bantal sang istri. Hanya setiap mengelus kepalanya Anindya. Keinginannya harus dipendam dulu. Mungkin esok pagi bisa dicoba.
"Bukan begitu Bang. Adek sebenarnya siap. Tadi adek hanya terkejut saja." Jawabnya dengan malu-malu. Menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya sang suami yang aroma tubuhnya Ezra membuatnya semakin nyaman dalam dekapan pria itu. Ternyata punya suami orang kaya itu rasanya membahagiakan sekali.
"Jadi adek siap nih? gak sakit lagi?" dalam satu gerakan, istrinya itu sudah berada di bawah Kungkungan tubuh atletisnya. Jantung Anindya rasanya sudah copot dari tempatnya. Darah rasanya sudah merembes dari pembuluh darahnya. Berceceran di dalam tubuhnya. Yang membuat Anindya tak berdaya. ini situasi yang sangat kacau. Sudah lama dia tidak bersentuhan dengan pria. Dan ini moment ya h sangat menenangkan.
"Bang, bang.. sebaiknya sebelum kita melakukannya. Kita sholat dulu." Anindya ingin mengurangi rasa groginya. Dia pun menawarkan sang suami, sholat sunat sebelum melakukan hubungan intim itu.
Ezra yang sedang merengkuh kenikmatan di ceruk leher sang istri yang putih mulus itu, dibuat tersenyum getir. Dia pun menghentikan aksi nakalnya, yang membuat Anindya menarik napas dalam. Anindya tak mengerti dengan dirinya. Ini bukan pertama kali buatnya. Dia itu janda beranak satu. Tapi, kenapa rasanya begitu menegangkan dan mendebarkan disaat akan melakukannya dengan suami barunya itu?
"Baiklah, istri solehaku. Abang memang gak salah pilih." Ezra menggulingkan tubuhnya ke sebelah kiri Anindya. Keduanya pun turun dari ranjang. Saat itu juga pintu kamar mereka digedor-gedor, suara kepala pelayan terdengar tak sabaran. Ezra meminta sang istri untuk berwudhu terlebih dahulu, sedangkan zsra akan membuka pintu kamar.
"Ya Bik." Ucap Ezra malas, menatap sang kepala pelayan.
"Tuan, tuan, di bawah ada ibu Rani." Ucapan tak tenangnya Bik Imah, membuatnya ikut tak tenang. Kenapa mantan istrinya itu datang ke rumahnya malam-malam begini. Walau memang belum larut malam. Saat ini masih pukul 21.45 Wib.
"Rani, untuk apa dia kemari?" tanya Ezra bingung. Dia memang sudah memutuskan hubungan silaturahmi dengan mantan istrinya itu. Karena, dia tak mau ribet berurusan dengan wanita gak tahu diri itu.
Cukup sudah satu kali dia melakukan kebodohan. Memberi kepercayaan kepada mantan istrinya itu mendidik Rara dan tinggal bersamanya.
__ADS_1
"Gak tahu tuan, tapi tadi ibu Ranj menanyakan tentang keberadaan Rara." Jawab Bi Imah dengan sopannya.
"Baiklah, saya akan turun ke bawah." Bik Imah pun menunduk sopan, dan meninggalkan tempat itu. Ezra berfikir sejenak, dia pun mengerti maksud kedatangan mantan istrinya itu.
Ezra menghela nafas berat. Menutup pintu kamar itu dengan perasaan yang tak enak.
Haaappp....
Saat dia berbalik badan, setelah menutup pintu kamar itu, seorang wanita langsung memeluknya dengan erat.
"Apa kabar mu sayang?" Masih tak mau melepaskan belitan tangannya di tubuh kekear mantan suami. Padahal Ezra sudah berontak, berusaha keras melepaskan tangan Rani.
"Rani, kamu apaan sih? lepas ..!" ucap Ezra dengan suara ditahan, dia pun bergerak agar menjauh dari kamar nya. Tapi, kedua kakinya susah melangkah. Karena, Rani terus saja memeluknya.
"Ya ampyun sayang, kamu ga gak berubah. Selalu ketus padaku."
"Kamu jangan begini, dasar kamu gak tahu aturan." Melepas tangan Rani dengan kuat, sehingga tubuh langsing wanita itu sempat bilang keseimbangan. Tapi, Rani yang pantang menyerah, kembali dengan cepat memeluk Ezra.
"A--bang...!" Ezra dan Rani pun sama-sama menoleh ke asal suara.
__ADS_1
TBC