AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Tetap bersyukur


__ADS_3

Ezra berjalan cepat menuju pondok, setelah mendapatkan cukup kunyit. Sesampainya di pondok dia dikejutkan dengan keadaan Zahra yang terlihat pucat dan menggigil. Bahkan tangan dan kaki wanita itu sudah keriput, begitu juga dengan kukunya sudah membiru.


"Wa... Kamu kedinginan?" Zahra hanya mengangguk lemah, menanggapi ucapan sang suami yang terlihat begitu khawatirnya.


Ezra meletakkan kunyit itu di lantai papan gubuk yang mereka tempati.


"Kamu harus ganti baju sayang!" memegang tangan sang istri yang memang terasa sangat dingin.


"Sebentar!" Ezra mengobrak abrik isi pondok itu. Berharap menemukan pakaian yang bisa dikenakan. Seketika wajah paniknya Ezra, berubah jadi sumringah. Pria itu menemukan juga pakaian di gubuk itu. Walau pakaian itu adalah pakaian dinas petani untuk kerja di sawah itu.


"Hanya ada ini. Kamu mau kan memakainya." Zahra mengangguk. Dia juga anak petani, jadi gak ada masalah buatnya memakai pakaian itu. Dia tak punya banyak tenaga lagi untuk bicara. Tubuhnya sudah menggigil, dia merasa sangat kedinginan. Apalagi angin juga masih berhembus kencang. Masuk dari pintu gubuk itu.


"Bapak mau apa?" Zahra menolak untuk disentuh sang suami. Dia memutar tubuhnya. Suaminya itu ingin membantu Zahra berganti pakaian.


"Bantu kamu sayang. Kamu itu sudah sangat kedinginan. Lihatlah tanganmu saja tak bisa kamu gerakkan. Jangan sampai kamu kena serangan hipotermia." Zahra mengangguk lemah. Yang dikatakan sang suami itu benar. Dia tak mau mati di gubuk itu.


"Pak, a--ku, aku malu!" ucapnya dengan suara terbata-bata. Raut wajah pasrah, tapi tak rela tercetak jelas. Tapi, masih saja sok jual mahal. Karena memang dia malu, apalagi mereka baru kenal dan sebelumnya Zahra menaruh dendam pada sang suami.


"Saya ini suamimu. Dan kenapa harus malu. Bukannya kita sudah pernah melihat tubuh kita satu sama lain." Ezra juga merasa jantungan saat ini. Tangannya bergetar, saat membuka kancing baju seragam sekolahnya Zahra. Entah kenapa dia jadi seperti itu. Padahal bukan kali ini dia meyentuh wanita.


"Pak--- Pak, aku saja. Aku masih bisa melakukannya!" Ujar Zahra dengan gigi yang bergelutuk. Berusaha tenang, padahal jantungnya sudah mencak-mencak di rongga dadanya.


Ezra menghentikan aksinya. Menatap Zahra yang juga sedang menatapnya. "Kali ini nurut ya dek. Abang tahu, apa yang kamu rasakan. Jangankan kamu. Abang juga merasa enggan, canggung dan malu saat ini. Tapi, itu semua Abang tepis dari pikiran Abang. Karena apa? karena, keadaan kita sedang tidak mendukung. Kita sedang terancam. Jadi, kita nikmati saja semuanya. Toh, kita sudah menikah.


Zahra terpaku mendengar ucapan sang suami. Benar yang dikatakan suaminya itu Tapi, rasanya begitu memalukan sekali. Pria dihadapannya akan mengganti bajunya.


"Baiklah.... Abang akan tutup mata. Tapi, jangan salahkan jika nanti salah pencet."


"Pencet? emang bapak mau pencet apa?" tanya Zahra bingung sok polos.


"Pencet bel." Ezra tertawa tipis. Zahra cemberut.

__ADS_1


Akhirnya Ezra sukses juga membuka baju seragamnya Zahra. Matanya yang tadi tertutup kini berkedap kedip. Penasaran dengan penampilan Zahra saat ini. Tangannya yang menyentuh kulit mulusnya Zahra, serasa kesetrum.


"Iihhh.... Itu kan ngintip!" protes Zahra. Dia sedang berusaha membuka bra miliknya sendiri. Karena dia tak mau Ezra yang membuka bra berwarna cream itu.


"Olaah sayang, istri sendiri koq." Ezra pun akhirnya membuka kedua matanya. Dia langsung megap-megap melihat gunung kembarnya Zahra yang menantang. Zahra sendiri tak percaya kalau Ezra akan membuka mata. Padahal tadi pria itu berjanji akan menutup mata.


.


"Iihh pak tua, buat kaget saja. Zahra memutar badannya. Dengan cepat memakai kemeja, baju kerja pemilik gubuk. Sialnya, kemeja yang dikenakannya kancingnya lepas dua. Yaitu kancing kedua dan ketiga. Tepatnya kancing di bagian dada gak ada. Sama doang, aset kembarnya nongol juga. Syukur bajunya kedodoran, jadinya Zahra memeluk bajunya itu.


"Eehhmmm...... gini nih ribetnya berurusan degan anak ingusan. Buka baju saja dibuat ribet. Malulah, canggunglah gak boleh liatlah. Aneh padahal istri sendiri." Ucap Ezra pura-pura kesal, menggaruk kepalanya yang memang gatal.


Zahra terdiam mendengar omelan sang suami. Rasa dingin di tubuh, berkurang sudah. Dia pun akhirnya melepas rok dan **********, dengan cara membelakangi Ezra. Sambil meringis kesakitan.


Ezra sedih mendengar ringisan sang istri.


"Adek pakai sarung saja." Ezra menyodorkan sarung ke tangan sang istri. Ternyata, saat mata Ezra jelalatan menyoroti gubuk, dia menemukan pakaian untuk perlengkapan sholat. Bahkan ada tiga sarung dan satu mukena, terlipat di sudut gubuk.


"Baru juga nemu sayang. Sepertinya yang punya gubuk ini orangnya taat agama. Di sini juga ada mukena. Kita beruntung sekali hari ini." Ya begitulah manusia, selalu masih beruntung, padahal sudah apes.


Ezra sudah selesai memakai baju ganti. Tentu saja baju itu kumuh. Pria itu tak mau membuka celananya di hadapan sang istri. Karena dia ingat isi suratnya Zahra. Dia harus bisa memberikan kenyamanan pada gadis polos itu.


Ezra kembali mengobrak Abrik gubuk itu. Ternyata dibagikan belakang gubuk itu, ada dapurnya.


"Amazing, ada pantrynya juga." Suara Ezra terdengar sangat bersemangat. Sedangkan Zahra dibuat bingung. Ada pantry di gubuk.


Zahra menoleh ke arah Ezra. Dan Ezra memang berharap Zahra menatapnya. Pria itu pun melempar senyum manis pada sang istri.


Ezra merasa bersyukur sekali. Ternyata di gubuk itu, semuanya lengkap. Bisa dibilang gubuk itu sudah seperti rumah. Ada tungku, kayu bakar, Periuk, piring, mangkuk, sendok. Semuanya lengkap, walau jumlahnya semuanya hanya sepasang. Bahkan di dapurnya gubuk itu, ada ikan asinnya.


"Di mana koreknya?" Ezra mencari-cari korek di dapur kecil itu. Dan akhirnya dia pun menemukannya. Dia mulai menyalakan api, menggunakan botol plastik bekas minuman yang ada di dekat tungku, agar api cepat menyalah. Ezra walau orang kaya sejak dari kecil. Dia terbiasa hidup di alam bebas. Dia sedari SD sudah ikut Pramuka. Dan berbagai macam organisasi pencinta alam.

__ADS_1


Aaauuuwww....


Zahra berteriak, karena ketakutan mendengar suara petir yang sangat kuat. Sepertinya petir itu sedang menyambar sesuatu. Wanita yang ketakutan itu, menyusul sang suami kebagian belakang gubuk. Dan saat itu juga Ezra juga berniat melihat keadaan Zahra.


"Aauuww..!" Kali ini Ezra yang berteriak. Ezra terkejut melihat sosok Zahra yang tiba-tiba nongol di hadapannya dengan mengenakan mukena warna putih itu. Ezra mengira ada pocong di gubuk itu.


"Adek ngangetin abang!" memegangi dadanya yang berdebar kencang.


Hahahha...


Zahra tertawa lepas. Ekspresi takut dan kagetnya sang suami begitu lucu. Ditambah penampilan suaminya itu juga tak lazim. Suaminya itu seperti orang-orang sawah. Karena baju yang dikenakannya terlihat longgar. Bahkan pria itu membuat tali rapia sebagai sabuknya yang berwarna kuning Dan Ezra masuk blus. Sungguh outfit yang dikenakan sang suami kren.


"Adek ga usah ke sini." Ezra kembali menyalakan api. Mencari air yang akan dimasak. Tapi, gak ada. Pria itu pun akhirnya menampung air dengan Priuk dari atap Rumbia.


Baju yang dikenakan Ezra sedikit basah, karena kena cipratan air hujan. Tapi, pria itu tak mempermasalahkannya. Dia mulai menghaluskan kunyit untuk obat Kakinya Zahra. Sekaligus untuk lukanya. Karena, pria itu juga terluka di bagian kaki.


Selesai menghaluskan kunyit. Ezra kembali membuka pintu dapur gubuk itu. Dia mengambil air yang di tampungnya dan memasaknya.


Zahra terkesima melihat semua yang dilakukan pria itu. Terlihat begitu cekatan saat melakukan semuanya, padahal Ezra orang kaya. Matanya Zahra sampai berkaca-kaca melihat Ezra yang terlihat begitu mengkhawatirkannya. Di sini, Zahra tersadar. Bahwa dia telah salah menilai Ezra. Dan tak seharusnya dia menyalahkan Ezra. Toh Ezra mau bertanggung jawab.


"Kita obati dulu lukamu sayang." Zahra memegangi dadanya, karena terkejut. Ternyata pria itu sudah ada di hadapannya dan sudah menyibak sarung yang menutupi lukanya.


"Iii-ya pak tu, iya bang!" Zahra gelagapan mau bilang apa. Dia pun akhirnya menyingsingkan sarungnya lebih atas. Agar Ezra bisa mengobati lukanya semua dengan bubuk kunyit itu. Setidaknya bubuk kunyit bisa sebagai anti inflamasi, mengurangi peradangan luka.


"Takut banget sih, aku lihat itu nya!" Menatap lekat tangan Zahra yang menutupi rapat miliknya dengan sarung.


"Itu, itu apa pak?" tanya Zahra bingung. Dia memang kurang ngeh dengan yang dikatakan Ezra. Karena saat ini dia kurang konsentrasi. Dia haus dan lapar. Tadi siang wanita itu belum makan.


"Eeemm...!"


"Oooohh.... Iya pak, harus ditutup rapat. Takut masuk angin nanti." Zahra tersenyum tipis pada sang suami yang masih mengobati lukanya

__ADS_1


Ezra menggut-manggut. Caranya sukses, mengajak Zahra bicara konyol, saat dia menempelkan bubuk kunyit itu pada lukanya Zahra. Zahra bahkan lupa dengan sakitnya.


__ADS_2