AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Kamu sudah menikah


__ADS_3

Pagi-pagi sekali pasangan suami istri itu sudah meninggalkan Vila. Karena jarak dari Berastagi ke sekolahnya Zahra, memakan waktu kurang lebih dua jam. Zahra akan telat ke sekolah, karena dia tak akan sampai pukul tujuh pagi. Bimo sudah menghubungi pihak sekolah, memberitahu bahwa Zahra akan telat.


Sepanjang perjalanan, suasana mobil sangat hening. Hanya suara deru mesin mobil yang terdengar. Bahkan musik tak diperdengarkan di dalam mobil itu. Bimo sengaja membuat suasana hening. Dia ingin menguping pembicaraan Bosnya bersama Zahra. Eehhh.... ternyata pasangan itu sedang diam-diam an. Bimo jadi penasaran dengan malam spesial yang sudah diaturnya sebaik mungkin.


"Ini uang jajan untukmu." Ezra menyodorkan uang pecahan 100 ribu satu ikat. Kening Zahra merengut melihat satu ikut lembaran yang anti air itu. Kini mereka sudah sampai di sekolah nya Zahra.


Banyak sekali. Uang sebanyak itu sudah bisa biaya hidupku sebulan saat di kampung.


Zahra masih ragu untuk meraih uang itu, dari tangan sang suami. Dia takut dikatakan matre, apabila tangannya cepat menyambar uang itu.


"Masih kurang?" Ezra membuka tas kerjanya, mengambil uang dari tas itu lagi. Dan kini dua ikat pecahan 100 Ribu menantang di matanya Zahra.


Melihat tak ada respon dari sang istri. Ezra pun akhirnya memasukkan uang itu ke dalam tas nya Zahra.


"Apa Bimo sudah memberikan kartu ATM dan kartu kredit untukmu Wa?"


Zahra menggeleng pelan.


"Bimo....!" suara Ezra terdengar ditahan, giginya saling bergelutuk.


"Iya Bos, maaf siap di hukum." Bimo langsung menyerah diri. Dia tahu dia salah. Harusnya kemarin dia memberikan benda-benda itu. Tapi, dia lupa. Karena sibuk mencari Zahra yang tiba-tiba menghilang.


Kecewa dengan jawaban sang asisten, kini Ezra mengalihkan pandangannya kepada sang istri. yang terlihat kalem hari ini. Biasanya juga seperti burung beo, yang selalu ribut tak jelas. Ezra memperhatikan lekat tangan Zahra yang sedang memegang secarik kertas yang dilipat.


"Ini, ku harap bapak mau membantuku, dan memahamiku!" menyodorkan secarik kertas kepada Ezra. Kertas itu adalah surat yang ditulisnya subuh tadi. "Jangan dibuka di sini." Zahra memalingkan cepat wajahnya. Entah kenapa dia jadi malu sendiri. Mengingat isi dalam surat yang ditulisnya.


"Baiklah... Belajar yang benar!" Ezra mengusap lembut kepala Zahra. Saat itu juga jantungnya berdegup kencang. Entah kenapa setelah membaca surat Ezra pagi ini. Penilaiannya pada pria itu berubah drastis. Dia jadi yakin, jika suaminya itu memang sangat baik dan tak pantas dimusuhi dan dilawan. Apalagi tadi, isi suratnya adalah permintaan maaf.


Seorang pria meminta maaf kepada wanita? amazing .


"Salim dulu." Zahra yang hendak turun dari mobil mewah itupun, menghentikan aksinya. Dia dengan cepat meraih tangan Ezra yang sudah mengatung di udara. Menempelkannya ke dahinya dan buru-buru melepaskannya karena grogi.

__ADS_1


"Jangan deket-deket dengan anak cowok itu. Ingat, kamu itu sudah menikah. Istrinya Ezra Assegaf. Jaga kehormatan keluarga." Ezra bicara dengan tegas. Bahkan pria itu menodongkan telunjuknya pada Zahra, yang kini cemberut, setelah mendengar pernyataan kepemilikan itu.


Kedua bibirnya Zahra bahkan komat-kamit gak jelas, dan monyong ke kanan dan kekiri mendengar ucapan sang suami.


"Iya Pak tua...!" Zahra berlari cepat, setelah meledek suaminya itu.


Ezra kesel bukan main dikatain lagi pak tua. Padahal tadi malam, pria itu sudah memperingati istrinya itu.


Hahhahahaha ...


Bimo tertawa lepas, dia merasa lucu dengan tingkat Zahra kepada Bosnya itu.


Pukk....


Ezra menimpuk bahu sang asisten dengan botol air mineral yang kosong.


"Bos.... main kekerasan!." Bimo mengusap lengan atasnya yang kena timpuk botol plastik air mineral itu.


"Maaf Bos, aku gak menertawakan Bos. Aku hanya merasa lucu saja dengan si Nona Zahra. Lihat cara larinya tadi, gemesin banget. Aku pikir dia akan pincang berjalan atau tak bisa jalan pagi ini. Eehhh.... nyatanya dia larinya kenceng banget." Bimo bicara sambil menahan tawa. Dia ingin menertawakan bosnya yang seperti nya tak berkutik di hadapan sang istri muda.


"Eehhmmmm.... Ayo lebih cepat lagi. Hari ini banyak pertemuan." Ezra malas menanggapi ucapan Bimo. Dia tahu, si Bimo penasaran dengan dirinya yang seranjang dengan Zahra. Apalagi si Bimo sudah mempersiapkan semuanya. Termasuk memberikan Zahra baju dinas malam. Akan sangat memalukan sekali, kalau Bimo tahu, dia tak bisa menyentuh istrkyi tadi malam.


"Ooh ya Bos. Aku akan dapat bonus kan?" Bimo kembali ingin membahas kejadian tadi malam.


"Bonus?" Ezra menilik.


"Iya bos. Usaha yang kulakukan untuk bos tadi malam, layak diapresiasi." Bimo menatap Ezra yang merenggut dari kaca spion.


"Kamu akan dapat bonus, jika di dalam rahimnya. Ada Ezra junior. Usaha yang kamu lakukan tadi malam kepada Zahra, sia-sia."


"Apa ..? semalaman orang bos gak ngapa-ngapain?" Bimo melototkan matanya. Dia heran melihat bos nya itu. Masak bisa menahan diri, melihat Zahra yang pastinya sudah sangat menggoda.

__ADS_1


"Dilarang membahas kehidupan ranjang. Dasar kamu sotoi sekali." Ezra bicara tegas dengan nada kesal. Bimo pun akhirnya terdiam.


Hadeuhh.... Si bos parah. Masak anak kecil gak bisa ditaklukkan. Jangan - jangan Nyonya Anin belum disentuh juga. Bos kenapa ya? dia masih normal kan? gumam Bimo dalam hati, melirik Ezra yang terlihat sibuk membuka berkas dari spion.


"Malam ini luangkan jadwalmu dan jadwalku. Kita harus ke kampungnya Istriku Anin." Bimo langsung menatap Ezra dari spion. Dia terkesiap dengan ucapan sang Bos.


"Berubah rencana bos. Bukannya tadi malam, kita sudah bahas itu. Dan besok pagi kita berangkat ke kampungnya Nyonya Anin. Kenapa dipercepat Bos?"


"Tadi malam dia menelpon, setelah kita selesai membahasnya. Dari cara dia bicara, sepertinya dia sudah sangat ingin pulang kampung. Dia mengkhawatirkan putrinya katanya." Ucap Ezra sedih entah kenapa dia jadi merasa bersalah pada istrinya itu. Karena, tanpa sepengetahuan wanita itu. Dia menikah lagi.


"Iya Bos. Oh ya bos, gak ajak non Zahra sekalian? setahuku Nyonya Anin dan Non Zahra tinggal di kabupaten yang sama."


"Iya kah?"


"Iya bos " Bimo tersenyum.


"Mau cari mati kamu, aku bawa Zahra juga dengan Anin. Gak ada ide lain?" Ezra menggeleng pelan.


Hehehehe ...


"Siapa tahu Non Zahra ingin ke kampungnya juga bos. Apa salahnya pergi sama. Nanti kan kita bisa bilang sama Non Zahra. Jangan ngaku sebagai istri sirih nya si bos. Ini sih hanya ide ya? semua keputusan ada sama bos. Dan aku yakin, non Zahra. Gak akan keberatan. Toh dia gak ridho nikah sama Bos."


Pukkkk...


"Sialan kamu Bimo. Bos sendiri diledekin. Bulan ini, kamu jangan syok, lihat uang yang masuk ke rekeningmu."


"Apa... Bos.. gajiku jangan dipotong dong?" Wajah Bimo terlihat memelas di kaca spion.


"Itu hukuman untuk anak buah tak ada akhlak." Ucap Ezra tegas.


TBC

__ADS_1


__ADS_2