AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Nasehat panjang


__ADS_3

Kini pasangan pengantin baru sudah duduk bersanding di hadapan Ezra, Zahra dan Anin. Beserta pegawai dan para ART lainnya yang ada di rumah itu.


Di hadapan pengantin baru, telah terhidang ayam gulai rendang yang akan jadi pangupa-upa mereka berdua. Tadinya ayam gulai itu untuk upah -upah Rara saja, karena baru keluar dari rumah sakit. Dan sekarang ayam gulai itu sudah jadi pangupa-upa untuk pengantin baru. Tentu saja ada tambahan pelengkap lainnya, seperti daun sirih, telor ayam, garam dan ikan air tawar.


Tak ada raut wajah kebahagiaan yang terpancar dari pasangan pengantin baru itu. Yang ada hanya raut wajah kesedihan dan kekesalan. Melihat Bimo dan Rara bersanding. Tiba-tiba saja Zahra jadi emosional. Mata indahnya kini berkabut. Ia teringat saat dirinya dan Ezra menikah. Menikah karena terpaksa. Rasanya begitu menyesakkan. Menghirup udara pun tak sanggup lagi saat itu.


Saat ini Zahra bisa memahami keadaan Rara. Tentu wanita itu juga merasakan sakit yang luar biasa di hatinya sekarang. Dipaksa menikah karena digrebek. Mana menikah dengan orang yang tak dicintai. Rara kan sukanya Ferdy.


"Bimo engkau tidak akan mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tanggamu kecuali dengan sembilan perkara yang engkau berikan kepada istrimu. Ingatlah ini dan jagalah." Ezra mulai memberi nasehat pada pengantin baru di hadapannya. Ia masih tetap menganggap Rara adalah putrinya. Begitu juga dengan Bimo. Karena, Bimo sudah 18 tahun bekerja dengannya. Sejak Bimo tamat SMA.


Bimo yang masih kesal pada Ezra, sama sekali gak mau mendengarkan ceramah yang akan diberikan pria itu. Mana sampai 9. Jadi Bimo, kini tetap menundukkan kepalanya dengan muka masamnya. Suasana hatinya masih buruk.


"1. Sesungguhnya perempuan itu menyukai orang yang bisa mengarahkannya. Ia mencintai kata-kata cinta yang diungkapkan dengan jelas. Jangan bakhil untuk mengucapkan kata-kata cinta karena kalau tidak engkau lakukan, akan ada jurang pemisah antara kamu dan Rara


"2. Perempuan membenci laki-laki yang temperamen tinggi. Ia akan lebih melayani laki-laki yang lemah lembut. Jadilah seorang yang bisa menempatkan diri pada tempatnya karena itu akan menambah rasa cinta dan kasih sayangnya." Ezra mempertegas kata-kata ini. Karena ia teringat curahan hati Rara, yang mengatakan ia kekurangan cinta dan kasih sayang. Makanya ia berubah jadi nakal. Karena cari pelampiasan emosi.


"3. Perempuan itu menyukai apa yang disukai laki-laki, tutur kata yang baik, penampilan menarik, pakaian bersih, badan bersih dan harum. Jadilah seperti itu dalam segala kesempatan. Jangan dekati Rara ketika tubuhmu basah dengan keringat dan pakaian yang kotor karena hatinya akan menolak dirimu. Jika kamu memerintahkan sesuatu, jasadnya akan taat kepadamu, tetapi hatinya berlari."


Cihh...


Siapa juga yang akan menyentuh bocil itu.


Umpat Bimo dalam hatinya. Menarik napas panjang dengan gigi yang dirapatkan, karena menahan kesal pada Ezra. Bimo bahkan melirik Ezra penuh kebencian.


Rara bukan tipenya. Ia suka wanita yang dewasa dan lemah lembut. Bukan seperti Rara yang arogan.


"4. Sesungguhnya rumah itu kerajaan perempuan. Di dalam rumah, ia merasa dirinya sebagai ratu. Jangan engkau hancurkan kerajaan yang ia hidup di dalamnya. Jika kamu melakukan itu, tidak ada musuh yang paling ia benci, kecuali orang yang sudah melengserkan kekuasaannya."


Pernikahan ini bukan mauku. Tak perlu kamu banyak bacot Bos.


Ingin sekali Bimo mengatakan itu. Tapi, itu hanya dipemikirannya saja. Ia tak akan berani mengatakan itu.


"5. Sesungguhnya perempuan mencari harta dari suaminya bukan merugikan keluarganya. Jangan minta ia untuk menyamakan dirimu dengan keluarganya. Jangan minta ia memilih antara dirimu atau keluarganya. Kalau engkau paksa ia untuk memilih dirimu daripada keluarganya, akan terjadi permusuhan dalam kehidupan sehari-hari."


Terserah kamu mau bilang apa bos. Gak usah samaku pun tak apa.


Setiap point' yang diucapkan Ezra. Selalu disangkal oleh Bimo.


Pria itu sedang tak bisa berpikir jernih saat ini. Anin baru menolaknya. Hatinya masih hancur. Dia belum siap jadi suami.


Aaarrgghh...


Ingin rasanya Bimo berteriak sekencang-kencangnya. Pernikahan ini tak seharusnya terjadi. Ia tak yakin bisa membahagiakan Rara. Rara sudah dianggapnya sebagai ponakan sendiri. Tak ada getaran di hatinya pada bocah itu.


"6. Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulung rusak yang bengkok. Itu adalah rahasia kecantikan dan rahasia keterpesonaannya. Ini bukan sebuah aib dirinya. Jika ia salah, jangan bebani ia dengan beban yang tidak dapat ia bawa. Berusahalah meluruskan kesalahannya dan jangan engkau patahkan dengan mentalaknya. Jangan tinggalkan ia ketika salah sehingga akan semakin bengkok. Namun, jangan terlalu lemah setelah itu sehingga ia tidak mendengarkan dirimu. Jadilah bersamanya sedang-sedang saja."

__ADS_1


Hampir saja terbersit dihatinya Bimo. Ingin segera menceraikan Rara. Tapi lihat lah si bos nya itu sudah memberi ia ultimatum Seperti nya Ezra tahu, apa yang dipikirkan oleh Bimo.


"7. Perempuan itu orang suka tidak bersyukur dan melupakan kebaikan. Jika kamu melakukan kebaikan sepanjang tahun kemudian kamu berbuat kesalahan sekali, ia akan mengatakan, β€œTidak ada kebaikan dalam dirimu.” Jangan terbebani dengan perilaku ini sehingga engkau membenci dan menjauhinya. Walaupun engkau tidak suka dengan perilaku ini, masih banyak perilaku lain yang kamu sukai."


Tak ada perilaku nya yang baik. Kerjaan nya hanya minum, nar koba, bahkan maksiat. Gumam Bimo dalam hati. Masih dengan ekspresi wajah menyeramkan nya menatap Ezra.


"8. Perempuan akan melewati hari-hari yang membuat fisiknya lemah dan jasadnya lelah. Oleh sebab itu, Allah SWT menggugurkan perintah yang diwajibkan kepada mereka seperti shalat dan puasa ketika haid atau nifas. Saat haid atau nifas, perempuan berhenti berpuasa dan mengulanginya setelah selesai haid atau nifas. Jadilah orang yang bijak dalam keadaan ini sebagaimana Allah SWT telah meringankan kewajiban kepada mereka. Hendaklah kamu meringankannya untuk melayanimu."


Sampai kapan pun aku tak akan minta dilayani.


Lagi-lagi Bimo mendebat ucapan Ezra. Tapi, hanya dalam hatinya saja.


"9. Ketahuilah bahwa seorang perempuan itu tawananmu, maka kasih sayangilah. Maafkanlah kelemahannya dan jadilah kamu sebaik-baik teman.”


Nasehat poin ke 9 ini membuat Bimo tercenung. Akankan ia bisa menerima kekurangan dan kelemahan Rara yang sudah pernah lepas control itu? akankah mereka bisa akur?.


"Itulah sembilan nasihat yang juga perlu kita sama-sama terapkan. Tak hanya kamu Bimo. Itu juga aku lakukan sendiri dalam biduk rumah tangga ku. Kamu lihat kan bagaimana sekarang Zahra banyak berubah?"


Eeehhhmmm


Dehemen Zahra yang kuat, membuat Ezra menghentikan ucapannya. Ia pun menoleh pada Zahra dengan nyengir kuda.


"Ayo Halwa, kini giliranmu yang memberi nasehat pada mereka." Ujar Ezra dengan wajah sok lugu.


Zahra menatap tajam Ezra. Kenapa dia disuruh memberikan wejangan. Ia saja masih bocah ingusan.


"Bilang saja semoga samawa sayang." Bisik Anin.


Zahra pun kembali menatap ke arah pasangan pengantin baru.


"Eemmm.... Eehhhh... Assalamualaikum.."


Zahra benar -benar grogi. Dia kini berperan jadi seorang ibu. Mana anaknya, anak durhaka lagi.


Rara yang tertekan, tak pernah mengangkat wajahnya, dari tadi ia terus saja menunduk, dan sesekali sesenggukan.


"Walaikum salam.!" Jawab orang-orang yang ada ditempat itu.


"Eemmm... Apa ya? idem.. iya aku idem." Ujar Zahra dengan muka begoknya.


Ezra tersenyum tipis menatap Zahra.


Merasa aneh dengan ucapannya ia pun, mencoba membenarkan nya.


"Maksudku, idem. Ya sama saja dengan apa nasehat Hubby tadi. Ikut aja dengan nasehat orang yang pertama kali bicara. Yaitu nasehat Hubbby. Dan satu lagi, semoga Samawa ya ibot dan Rara!" saat menyebut nama Rara. Zahra merapat kan barisan giginya. Sungguh ia masih kesal dengan anak itu.

__ADS_1


Hihihi ..


Zahra yang lucu jadi bahan tertawaan. Semua orang di ruangan itu pada tertawa. Kecuali kedua pengantin.


"Seperti nya Nantulang harus menambahi nasehat untuk pengantin baru ini " Ujar Ezra melirik Anin, yang terlihat masih canggung di tempat itu.


"Saya rasa nasehat untuk mereka sudah lebih dari cukup. Nasehat Nak Ezra sudah komplit sekali." Ujar Anin dengan tesenyum ramah menatap kedua mempelai.


"Bos, aku boleh kasih nasehat?" Ujar Dika sok dewasa.


"Iya iya boleh, siapapun boleh kasih nasehat dan ucapan selamat untuk kedua mempelai kita." Ujar Ezra semangat. Ia senang Rara berjodoh dengan Bimo. Karena ia yakin, Bimo orang yang tepat untuk Rara. Secara Bimo, sudah tahu betul gimana karakter Rara. Karena, ia sudah bersama Rara, sejak Rara berumur dua bulan.


"Eemm... Semoga cepat dapat momongan untuk Bimo dan Rara."


Hihihi...


Suara cekikikan terdengar samar-samar dari belakang. Para ART sepertinya menertawakan pasangan pengantin itu. Kalau Bimo dan Rara cepat punya anak. Berarti Zahra dan Ezra akan punya cucu.


Kikikiikik...


Suara tertawa samar kembali terdengar. Bimo semakin emosi saja, karena ucapan Dika tadi. Mana tertawa meledek terdengar juga.


"Aminn..!" semua orang mengaminkan ucapan Dika.


"Baiklah saatnya kedua mempelai mencicipi upa-upa." Ujar Anin, memberi kode dengan tangan nya agar Rara dan Bimo memakan sedikit garam, serta hati ayam yang terhidang di hadapan mereka.


Bimo kini menatap Anin dengan ekspresi wajah tak terbaca. Tatapannya sangat dalam. Yang membuat Anin terdiam dan menundukkan kepalanya. Wanita itu telah mematahkan hatinya.


"Ayo sayang, makan hati ayamnya dengan garam sedikit." Titah Ezra lembut.


Rara yang tertekan batin itu pun mengambil hati ayam dengan sedikit garam dengan tangan gemetar. Kemudian ia memasukkan hati ayam itu ke dalam mulutnya dengan menangis sesenggukan.


"Ibu... Hiks..Hiks...hiks...!" Bagaimana pun jahatnya sang ibu. Ia tetap merindukan pelukan hangatnya Rani. Ia menikah dengan terpaksa. Tanpa didampingi sang ibu. Dan ia pun harus memilih menjauh dari sang ibu demi kebaikan hidupnya kedepan.


Kini ia menikah dengan pria yang tak mencintainya. Begitu juga dengan ia. Ia tak mencintai paman Bimo. Walau sewaktu kecil, ia sangat menyayangi pamannya itu.


"Sudah jangan menangis. Ini yang terbaik, semuanya pasti akan indah. Iya kan Bimo?"


BImo tak menanggapi ucapan Ezra. Ia benci bos nya itu. Tujuan hidupnya berubah sudah.


"Ayo kita makan semuanya!" ujar Ezra pada semua orang di rumah itu. Ia tak mau ambil pusing dengan sikap Bimo yang dingin itu.


Semua orang pun makan dengan lahapnya. Bahkan Zahra makan malam untuk kedua kalinya. Hanya pengantin baru yang terlihat tak selera untuk makan.


TBC

__ADS_1


Dukung dong!πŸ™‚πŸ˜€β€οΈ


__ADS_2