
Ezra terjungkal,zahra dengan cepat mendudukkan tubuhnya. Mencoba mencari kain yang bisa dibuatnya untuk menutuoi tubuhnya yang polos. Wanita itu menangis dengan sedihnya. Dia tidak tahu, kalau sakitnya luar biasa. PAdahal tadi dia sudah merasa nikmat dari permainan mereka, ssaat Ezra memainkan Kli--tor--is nya. Zahra bahkan pelepasan saat itu, makanya EZra berani untuk tahap berikutnya. Karena dia merasa istrinya itu sudah siap. Tapi, nyatanya dia malah di dorong kuat.
Zahra merangkah dengan wajah memelas ke arah Zahra yang sudah duduk di pojokan. Menutupi tubuh polosnya dengan baju yang dapat diraihnya.
"Sayang... KIta bisa tersiksa seperti ini. Dan Abang lebih tersiksa lagi. Ku mohon, bertahanlah!" Membelai lembut wajah sang istri yang menangis sesenggukan itu. Walau istrinya itu kuat, jago belah diri. Tapi, dia tak bisa menahan sakitnya saat rudall sang suami menerobos miliknya.
"Jangan menolak permintaan suami." Lagi-lagi Ezra akan mempengaruhi Zahra dari sudut pandang agama. Zahra tahu hukumnya meladeni suami.. JIka suami meminta hak, sang istri harus ikhlas melayani.
"Samapai kapan kita akan tunggu. Lihatlah ini sayang, mas sangat menderita." EZra memegang miliknya, menunjukkan juniornya yang tegak dan panjang itu. Zahra menggeleng kuat.
"Sakit Bang, sakit." Zahra masih menangis.
"IYa sayang, sakit. Apalagi adek gak rileks. Coba adek rileks dan menikmatinya, sakitnya akan hilang dan diganti kenikmatan. Kenikmatan yang adek rasakan nanti, bisa seratus kali lipat, saagt tadi adek or =-gas-- me."
Zahra mengingat nikmat yang dirasakannnya tadi, saat Ezra memainkan bibir, lidah dan tangan di lubang kenikamtannya Zahra. Wanita itu pun terdiam. Ezra kembali menyergap bibitr sang istri. Mulai mera-ngsangnya dengan lembut. Tangannya dengan cepat melempar pakaian yang digunakan Zahra untuk menutupi tubuhnya. BIbir brmain di semua titik wajah sang istri, sedangkan tangan merayap, bergrilya memberi sentuhan lembut pada organ sensutif sang istri yang membuat Zahra kembali menggelinjang hebat, tak tahan dengan sensasi nikmat yang diberikan sang suami. Apalagi saat Ezra memainkan gunung kembar yang hangat dan montok itu.
Zahra menggelinjang hebat, darahnya berdesir ke pusat intinya. Bagian inti itu berdenyut-denyut ingin lebih. Sepertinya Zahra harus pasrah, menahan sakitnya. KArena ia juga ingin. Suaminya itu pandai saja membuatnya jadi ingin lebih. Entahlah, kalau dipikir-pikir tempat yang mereka tempati saat ini, sangatlah tidak layak. Tapi, keduanya seolah tak terpengaruh akan hal itu.
__ADS_1
Zahra sudah mulai pasrah dan kembali menikmati sentuhan sang suami. Wanita itu yang merebahkan sendiri tubuhnya. Meminta kode pada sang suami, agar setiap inchi tubuhnya tak lepas dari hisapan bibir dan lidahnyua Ezra. Bahkan, bokong dan paha yang luka itu, tak luput dari kecupan sang suami. Tak ada bagian tubuh istrinya itu yang lolos dari sergapannya.
Ezra tersenyum penuh kemenangan saat istrinya itu merebahkan tubuhnya dengan pasrah. Dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Sebelum suasana hati sang istri berubah. Pria yang lagi diselimuti hasrat itu, Membuka lebar paha sang istri dengan lembut. Matanya masih bisa melihat jelas gua kenikmatan itu, walau cahaya temaram. Iru semua, karena Zahra punya kulit yang putih,
"Sayang jangan lupa berdoa!" Zahra mengangguk.
Pria itu pun kembali memasukkan rudalnya yang sudah panas itu, mendorongnya perlahan. Tapi mental.
HUUFFTTTT...
Sentuhan tangan sang suami di gunung kembar itu, cukup membantu menghilangkan rasa sakit, saat ini. Suaminya itru sedang berusaha keras menjebol gawangnya yang sempit.
"Sakit... Sakit Bang..!' Zahra meraih rambut sang suami dan menjambaknya. EZra pasrah saja.
"Keluarkan sebentar, itu sangat menyumpal, sakit, perih..!"
HUUFFTTT...
__ADS_1
Ezra mengeluarkan miliknya yang sudah masuk seperempat itu. DIa tak tega juga melihat sang istri yang menangis sedih menahan sakiytnya di gagahi. Pria itu kembali memeberi rang--sangan pada bibir, leher, telinga, leher, bahu da punggung sang istri.
Melihat sang istri menikmati karena mendesah. DIa kembali membuka lebar paha istrinya itu. Memasukkan juniornya pelan dan lembut.
"Aaakkhhh..." pekik Zahra, saat suaminya itu mendorong kuat miliknya ke lubang surga dunia itu.
"Tahan sayang, tahan istriku. MAri mkita beribadah menjemput pahala." EZra pandai sekali mengiming-imingi Zahra yang sudah seperti cacing kepanasan itu.
"Iya bang, ayo dorong lagi."Ucap Zahra, menarik satu tangan sang suami, agar memainkan gunung kembarnya.
Tentu saja ucapan istrinya itu membuat Ezra sangat bernaf--su. Dia mendorong sekuat tenaga, tak ada kelembutan lagi. Dorong--- dorong bokongnya sangat kuat.
"AAAKKKKHHH----- SAKIT----!" Pekik Zahra saat junior sang suami akhirnya benar-benar sudah sepenuhnya masuk dalam gua miliknya yang basah itu.
TBC
"S
__ADS_1