AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Panas dingin


__ADS_3

 Sepeninggalannya Rara, Zahra langsung masuk ke k#amar mandi. Dia membasuh wajahnya, agar rasa panas yang menjalar di seluruh tubuhnya bisa teredam. Tapi nyatanya usahanya tidak berefek. Dia bahkan merasa semakin menjadi saja. Bagian bawahnya semakin berdenyut-denyut. Sungguh dia tidak tahu, bagaimana cara mengendalikannya.


Saat ini akal sehat Zahra Benar-benar lumpuh. Otak cerdasnya tidak bisa dibuatnya untuk berfikir, karena nafs"u yang bergejolak sudah sampai ke ubun-ubun. Tubuhnya bahkan bergidik geli. Dan bagian bawah semakin berdenyut-denyut. Suhu tubuh semakin panas, kepala pun jadi pusing.


"Apa ini ya Allah, maafkan hamba mu ini yang sempat silau mendengar akan diberi pinjaman. Aku tahu ada yang tidak beres dengan diriku." Zahra bermonolog, keadaannya sungguh gila. Kalau pun dia pergi dari kamar ini, sebelum kondisinya stabil. Dia takut, dijalanan dia akan dimanfaatkan orang, mungkin penjahat yang sedang mabuk.


"Aku harus mandi, siapa tahu tubuhku bisa lebih segar." Ucapnya mulai melepas pakaiannya satu persatu dengan tidak sabarannya. Sungguh getaran aneh ditubuhnya tidak bisa dikendalikannya.


Zahra kini sudah mandi di bawah shower, tentunya dengan tubuh polos. Bagian bawahnya sempat di sentuhnya. Karena dia ingin buang air kecil. Saat itu juga gejolak bir"ahi itu semakin tersulut. Dia yang polos tidak tahu untuk menenangkan bagian intinya itu.


Dia juga merasa kepalanya semakin pusing, Zahra tidak tahu, minuman yang diminumnya mengandung obat perangsang. Rara benar-benar wanita binal, yang tidak punya hati. Dia tega menghancurkan hidup Zahra. Hanya, karena dendam pribadi.


Zahra masih sempat menyumpahi Rara, saat mandi. Saat itu dia mendengar suara pria dari arah tempat tidur. Dalam keadaan bingung dan h*orny. Dia panik, menghentikan acara mandinya dengan tergesa-gesa, menyambar handuk dari rak gantung dan membelitkannya di tubuhnya.


Dia membuka pintu dengan terburu-buru, berniat ingin melarikan diri. Padahal yang harus dilakukannya adalah memakai baju dulu. Tapi, Karena paniknya, dia malah keluar kamar mandi dan Brugggkk,....


Zahra malah menabrak sosok seorang pria yang kini juga berada tepat di depan kamar mandi. Sepertinya pria itu ingin mandi juga. Karena tabrakan keduanya cukup kuat, Zahra hendak terjatuh kebelakang, karena dia sempat hilang keseimbangan. Saat itu juga pria yang ada di hadapannya dibuat terkejut.


Pria itu berusaha meraih tubuhnya Zahra agar tidak terjatuh ke lantai kamar mandi. Tapi sial, pria itu malah tidak dapat menggapai seluruh tubuh Zahra. Pria itu hanya memegang handuknya dengan kuat, menarik handuk itu hingga kini Zahra sudah dalam keadaan polos dihadapan pria itu.


Zahra berteriak, berusaha menutupi miliknya dengan kedua tangannya secara menyilang, tentu saja itu dilakukannya untuk menutupi gunung kembar dan rawa-rawa miliknya.


Pria yang kini dihadapannya dibuat gelagapan, pria itu sampai berulang kali menelan air ludahnya secara kasar, dengan mata melotot. Jangkung pria itu bergerak naik turun saat menelan ludahnya. Zahra dibuat waspada dengan tatapan pria matang dihadapannya.


Bapak yang dimaksud Zahra, yang tak lain adalah Ezra Assegaf, benar-benar merasa beruntung, akhirnya bisa menikmati pemandangan indah di hadapannya.


Sudah bertahun-tahun dia tidak pernah melihat langsung gundukan yang akhir-akhir ini sering traveling di otaknya. Karena, hormon endorfinnya sedang meningkat drastis disebabkan dirinya tertarik pada koki barunya yang sangat cantik dan ayu.


Tentu saja, saat ini alam bawah sadarnya ingin melahap gundukan itu. Karena Ezra pria normal, pasti sangat suka melihat penampakan tubuh polos dihadapannya.


Saat ini dia juga sedang dijebak relasi bisnisnya. Tanpa ada sedikitpun rasa curiga, minuman Ezra telah dicampur juga dengan obat perangsang.


"Ba---pak---!" ucap Zahra lirih, masih setengah sadar. Karena masih hor*ny. Pria dihadapannya benar-benar Ayah Rara. Tapi, penampilan Ayah Rara kali ini sangat berbeda. Pria itu wajahnya memerah, tatapannya juga seperti harimau kelaparan yang siap memangsa. Tatapannya tajam, tapi bisa membuat Zahra terpana dan terhanyut. Sebab dia juga lagi hor#ny.

__ADS_1


Tatapan Ezra sangat berbeda, Zahra semakin takut. Tatapan pria itu tidak seperti tadi pagi, penuh kharisma dan kewibawaan.


"Ka---mu, kenapa ada disini? apa kamu mengikuti saya?" Ezra berbicara ngaur, saat ini dia merasa wanita yang dihadapannya adalah Koki barunya yang bernama Anindya. Yang wajahnya sangat mirip dengan Zahra.


Ezra benar-benar mabuk dan terangsang, apalagi, Zahra masih berdiri didepannya dengan keadaan polos, tanpa sehelai benang pun.


Zahra berusaha melawan dirinya agar tidak terhanyut dalam suasana. Karena dia juga sudah merasa tergoda dengan penampilan Ezra yang hanya memakai celana saja. Dada pria yang ototnya bagus dan bidang itu terpampang nyata dihadapannya. Otak mesumnya, berharap bisa menempel dengan dada pria itu.


"Astaghfirullah.... Ya Allah, obat apa yang diberikan padaku. Kenapa aku seperti binatang, jenis anji'ng yang tidak bisa mengontrol napsunya." Zahra membathin, memalingkan wajahnya dari tatapan Ezra yang kini mendamba.


"Dyah, kenapa kamu kesini?" kini Ezra menjulurkan tangannya menyingkirkan rambut Zahra, agar wajahnya bisa jelas dilihat pria itu. Karena saat ini Zahra membuang muka.


Saat ini dipikiran Ezra, wanita yang ada dihadapannya adalah Anindya, koki barunya. Bukan Zahra.


"Maaf Pak, aku harus pergi." Zahra menepis tangan Ezra. Dia yang kalut dan bingung itu masih kepikiran untuk lari. Tidak mungkin dia berduaan dengan pria dalam kamar. Apalagi dia sedang sangat bernaf*su.


Tapi langkahnya ditahan oleh Ezra. Pria itu menghadang Zahra dengan kedua tangannya, sehingga kini Zahra mentok di dinding. Dia masih saja berusaha menutupi bagian intinya. Yang saat ini Ezra menatap ke arah itu. Seolah ingin melahap itu.


"Kamu mau ke mana? bukannya kamu mau memasak untukku?" cara bicara Ezra sudah tidak punya alur lagi. Masak memasak, di dalam kamar hotel, tengah malam begini.


Wanita itu berontak dalam gendongan pria kekar itu. Tapi, usahanya sia-sia. Tenaga Ezra benar-benar kuat. Zahra yang meronta dalam dekapan pria itu, tidak ada apa-apanya. Dia malah semakin terangsang dengan tingkah Zahra yang berontak. Karena, gundukan kembar itu semakin menggoda di mata Ezra.


Bruggkkkk...


Tubuh polos Zahra kini sudah terhempas ke atas ranjang empuk itu. Ezra tersenyum puas, pria itu benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya kali ini. Apalagi wanita cantik yang ada di hadapannya adalah Anindya, koki barunya yang bisa membuatnya jatuh cinta. Ya, saat ini Ezra menganggap Zahra adalah Anindya.


"Ba--pak ma--u apa?" Zahra terbata-bata, sangat ketakutan dengan apa yang akan terjadi. Dia sudah yakin, hidupnya akan hancur malam ini. Pria yang ada dihadapannya sudah seperti buaya kelaparan. Sungguh Zahra jadi jijik melihat pria yang ada dihadapannya,


Padahal tadi pagi dia sudah simpatik dan terpesona pada pria itu.


"Jangan panggil Bapak, dan juga tuan. Panggil saja dengan cintaku atau honey." Ucap Ezra dengan lembut, Tatapannya sayu, lidahnya sesekali menjulur dan membasahi bibirnya yang memang saat ini juga sangat menggoda di mata Zahra.


Zahra bergerak, hendak turun dari ranjang. Tapi Ezra menahan kakinya dan menariknya lagi.

__ADS_1


"Pak, jangan! ku mohon lepaskan aku." Rintih Zahra dengan berurai air mata. Walau dia masih Hor#ny. Tapi, dia berusaha untuk melawan hasrat nakal itu.


Ezra sedikit terpengaruh melihat Zahra yang menangis. Dia pun berusaha untuk melawan gejolak bira#hi itu. Tapi, kali ini sungguh tidak bisa.


Padahal biasanya dia selalu sukses melawan hawa naf#sunya. Disaat dalam kesendiriannya dia menginginkan itu. Tapi, kali ini. Dia tidak bisa mengendalikan anak kecilnya. Padahal dulu dia bisa bicara ramah pada anak kecilnya agar anak kecilnya bisa di ajak kompromi.


Ezra yang hilang akal itu, karena pikirannya sudah dipenuhi n#afsu, malah membuka semua pakaiannya di depan Zahra. Yang sebenarnya hanya tinggal celana saja.


AaaWwww.... "Tidak--- Ti---dak Pak! ku mohon jangan lakukan itu." Zahra berteriak, dan bangkit dari ranjang. Berusaha lari, tapi keburu dihadang oleh Ezra kembali. Kini wanita itu sudah tersudut. Ke sebelah kiri dinding dan ke sebelah kanan ranjang.


"Lihatlah, dia tidak bisa di ajak kompromi." Ezra malah memamerkan Adek kecilnya kepada Zahra.


Zahra dibuat syok melihatnya, baru kali ini dia melihat penampakan sebesar itu. Urat-uratnya jelas terlihat, karena miliknya Ezra itu putih bersih. Tentu saja ada bulu-bulu hitam lebat di atasnya yang menghiasinya.


"Ti---dak..!" teriak Zahra, tapi anehnya bagian bawahnya semakin berdenyut-denyut dan panas setelah melihat milik pria dihadapannya.


"Ya Allah, Astaghfirullah...!" Zahra berusaha untuk sadar, dia berdoa dalam hati. Agar dirinya dan Ezra bisa melewati semua ini.


"Pak, jangan Pak." Zahra benci dengan kelakuan pria dihadapannya. Benar-benar seperti binatang. Yang tidak bisa dibilangin. Zahra tidak tahu, bahwa Ezra juga mabuk.


Ezra memandang benda pusaka nya, yang sedang ere*ksi itu dan dia pun berkata.


"Hi, anak kecil. Jangan nakal, ayo istirahat dulu! Abang sering mengatakan itu padanya, disaat dia ingin dicelup-celupkan ke sarangnya. Biasanya juga dia nurut. Tapi, lihatlah. Kali ini dia tidak menurut. Dia menginginkanmu sayang." Ezra yang mabuk dan H#orny itu pun langsung mengunci tubuh Zahra, menahan kedua tangannya ke atas dinding.


Dia pun mulai menyalurkan keinginannya, berusaha meraih kenikmatan dari bibirnya Zahra. Tapi wanita itu terus saja berontak. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya


Agar pria itu tidak bisa mengakses bibir nya.


Tapi bukan Ezra namanya. Pria matang dan pernah menikah. Tentu dia tahu titik lemah seorang wanita. Tanpa ba-bi-bu, Ezra langsung melancarkan satu tangannya ke bagian inti Zahra. Melihat wanita itu melemah dan ingin lebih. Ezra pun melancarkan aksi favoritnya itu.


Wanita itu terkejut dengan perlakuan Ezra. Ada rasa aneh yang dirasakannya menjalar di sekujur tubuhnya. Dia tidak pernah merasakan sensasi aneh dan nikmat seperti itu.


"Tidak...!" Zahra menyikut wajah Ezra dengan lututnya, Ezra duduk tersungkur. Zahra terlonjak kaget, takut dan bingung. Dia menangis..!

__ADS_1


TBC


Mohon dukungannya dengan like coment positif dan Vote


__ADS_2