
Akhirnya acara perawatan kewanitaan itu selesai juga setelah dua jam. Zahra bahkan sampai ketiduran saat di message. Dia juga harus mandi di bathtub dengan banyaknya ramuan yang dimasukkan ke dalam bathtub itu. Dan yang membuatnya geli, disaat dirinya diminta melakukan treatment ratus. Bagian intinya diasapi dengan rempah-rempah. Dia merasa dirinya seperti sate saja.
Zahra merasa seperti ibu-ibu baru melahirkan. Karena, dikampung mereka ibu-ibu yang baru melahirkan wajib mengasapi **** *************. Dan biasanya ibu-ibu itu melakukannya saat memasak dengan tungku di dapur.
"Nona, ini pakaian anda." Zahra menatap heran jenis pakaian yang masih dilipat itu. Dia tahu itu pakaian apa. Itu adalah jenis baju tidur wanita dewasa, lingerie. Zahra kini kesusahan menelan ludahnya sendiri. Dia bingung, mau memakai baju sexy itu atau tidak.
"Aku gak mau pakai baju itu. Carikan baju lain." Menghela napas kasar.
"Gak ada lagi nona, semua baju tidur di sini ya modenya seperti ini." Pelayan mulai tak tenang, sempat Zahra tak mau memakai baju haram itu, maka mereka akan kena marah. Karena, tak bisa menjalankan tugas dengan baik.
"Aku gak mau tidur, jadi gak harus pakai itu." Ketus Zahra. "Lebih baik aku pakai ini." Memegang ujung kimono handuk yang melekat di tubuhnya.
Ketiga pelayan kini bingung dan heran. Setahu mereka orang yang akan memadu kasih, akan senang memakai baju sexy.
"Please nona, pakailah baju ini. Kami bisa kena tegur bahkan kena sanksi nanti, apabila tidak mau memakainya. Tolong ya Nona, kami gak mau dipecat " Suara memelas sang pelayan membuat Zahra kasihan.
"Ya sudah, sini. Kalian keluarlah!" Zahra terpaksa memakai baju dinas malam itu.
"Kami gak akan keluar sebelum kami pastikan nona memakainya." Ujar pelayan itu ramah.
"Baiklah, kalian jangan mengintip. Tutup mata!"
Kenapa harus tutup mata, toh para pelayan itu sudah melihat bentuk tubuh Zahra. Bahkam mereka bisa tahu ukuran buah kembarnya Zahra.
Para pelayan biasanya mengklasifikasikan buah kembar itu kebeberapa buah. Seperti buah jeruk, buah mangga dan pepaya. Dan para pelayan akan mengkategorikan buah kembarnya Zahra, ke kategori buah jeruk Bali. Ukurannya lumayan gede dan membulat.
Hahahaha...
Seorang pelayan tertawa tanpa sadar, karena melihat Zahra seperti orang gila, saat memakai baju haram itu. Zahra tak henti-hentinya mengomel saat memakai baju itu. Pelayan itu pun berhenti tertawa, karena Zahra juga ikut tertawa. Menertawakan dirinya sendiri. Ya kadang kita bisa gila sendiri. Karena banyaknya masalah yang datang.
Hahahaha...
Awas saja ya Bimo, apabila yang kamu katakan tadi gak bener. Kamu bilang si pak tua gak ingin menyentuhku. Tapi, aku harus melewati banyaknya ritual seperti ini. Apalagi tujuannya coba, kalau bukan dia ingin itu. Dasar pak tua. Gumam Zahra kesal. Tetap mencoba tersenyum manis pada ketiga wanita yang telah memanjakan tubuhnya. Sebenarnya dia merasa sangat senang sekarang. Karena, dia merasa sangat rileks sekali. Tapi, dia kepikiran pak tua. Makanya dia jadi kesal. Dia belum yakin, jadi istri simpanan sesungguhnya. Kalau bisa memilih dia gak akan mau.
__ADS_1
"Nona, lewat sini saja." Ternyata dari ruangan spa, langsung terhubung ke kamarnya.
"Emang kita mau ke mana lagi?" Zahra mulai bosan dengan banyaknya aturan ini.
"Ke kamar Nona." tersenyum ramah pada Zahra, yang nampak bingung.
Dua jam melakukan perawatan sangat ampuh mengubah mood wanita itu jadi lebih tenang. Bimo memang hebat, dia pandai sekali menyusun rencana, agar dirinya aman. Zahra saja yang tadi sudah seperti singa kelaparan, kini sudah berubah jadi si kucing manis.
"Ooh... baiklah." Zahra pun mengikuti langkah pelayan itu, dengan sesekali menilik baju sexynya yang berwarna merah cabe itu. Warna sangat kontrak ke kulit putihnya, yang membuat Zahra terlihat sangat cantik dan sangat menggoda.
Iihhhh.... ini baju apaan sih? gak ada bagusnya ini baju. Mana ne--nenku menonjol dibuatnya. Sial, aku dikerjain si Bimo. Gumam Zahra kesal.
Kini Zahra sudah berada di kamarnya. Zahra kembali dibuat takjub dengan desain interior kamar itu. Dia sangat suka desain kamar itu, apalagi warna catnya juga sangat pas dengan warna kesukaannya. Warna Lilac dipadu dengan warna biru muda.
Astaga.... Enak banget ya jadi orang kaya. Kita bisa membeli apa yang kita mau. Ehmmmm.... Sayang sekali aku hanya istri simpanan. Mata Zahra berkaca-kaca. Dia merasa tak akan sanggup menjalani ini semua.
Mau mundur, citra dirinya juga sudah buruk, apalagi di kampungnya. Terus kalau dia melepaskan ini semua. Dia tidak akan bisa balas dendam pada Rara. Di anak iblis, ayahnya setan si pak tua.
Zahra tertawa dalam hati, jika dia mengingat Ezra, apalagi panggilannya itu.
Zahra yang takjub itu, kembali menyoroti setiap sudut kamar yang luas. Rasanya begitu tenang dan nyaman berada di kamar itu. Apalagi ranjangnya, dia sangat suka model ranjangnya. Ranjang pakai kelambu, mana warna kelambunya senada dengan cat kamar itu.
Raut wajahnya Zahra tak bisa berbohong, kalau dia senang berada di kamar itu. Rasa kesal, lelah hilang sudah.
"Mau, mau apa lagi kalian?" Zahra terkejut, saat dirinya di tuntun untuk duduk di kursi meja rias. Tadi dia sempat terlena mengagumi desain kamarnya.
"Mau merias nona."
"Gak, gak usah dirias. Aku gak suka pakai make up." Zahra menipis kuat tangan pelayan itu. Dan pelayan itu pun dibuat ketakutan dengan sikap frontalnya Zahra.
"Kalian keluarlah, pekerjaan kalian sudah selesai. Kalian tidak akan dimarahi, karena tidak menghias saya. Bahkan kalian akan diberi bonus, apabila cepat pergi dari kamar ini. Karena, suami saya pasti sudah tak sabar ingin masuk ke kamar ini." Ujar Zahra tegas, gaya bicara sudah seperti nyonya besar.
"Oohh baik Nona, kami permisi..!" ketiga pelayan itu pun keluar cepat dari kamar itu. Zahra pun menghela napas kasar. Dia perlu menghirup udara banyak, agar bisa menenangkan dirinya.
__ADS_1
Menatap pantulan dirinya di cermin, membuatnya geli. Dia merasa penampilannya Sani menantang. Ini tak bisa dibiarkan, bisa-bisa pak tua menyerangnya malam ini.
"Aku cantik juga ternyata, terlihat menggoda dan menggiurkan. Pasti pak tua mau menikahiku karena wajah dan bentuk tubuh ku ini. Aneh saja kan masak dia mau menikahi gadis miskin, hanya karena video. Jangan pikir saya bodoh oak tua, aku tidak akan sudih kamu sentuh. Enak saja, aku perawan tentu harus dapat yang perjaka." Ucapnya dengan penuh semangat. Dia beranjak dari duduknya, mencari-cari lemari tempat pakaian. Dia akan mengganti pakaiannya.
"Koq di kamar ini gak ada lemari." Ucapnya kembali menyoroti ruangan itu. "Oohh.. pasti ada ruangan khusus tempat baju, seperti rumah-rumah artis itu." Ucapnya mencari di mana pintu penghubung ke ruang ganti.
Dert.....
Dert...
Deret...
Getaran ponsel di atas nakas, membuat Zahra terlonjak kaget, saat hendak masuk ke ruang ganti.
"Buat terkejut saja." Ucapnya mengelus dadanya yang berdebar - debar. Melanjutkan langkahnya ke dalam ruang ganti.
Dert.....
Ponselnya Yang ada di atas nakas terus saja bergetar, sehingga Zahra menghentikan niatnya untuk berganti baju.
"Pasti ada hal penting, makanya hape si pak tua berbunyi terus." Ucapnya, berjalan cepat ke arah nakas, di mana ponselnya Ezra terus saja berdering.
Zahra yang merasa terganggu dengan suara berisik itu, memberanikan diri untuk meraih ponsel pintar itu di atas nakas.
Kedua bola matanya pun membeliak, melihat nama kontak yang ada di layar ponselnya Ezra. Tangannya juga gemetaran. Rasanya begitu menegangkan, disaat sang istri pertama menghubungi sang suami yang lagi bersama madunya.
ISTRI TERCINTA LEMBUT HATINYA.
"Masyaallah..... Norak dan lebay banget si pak tua. Nama istrinya dikontak panjang bener " Zahra menggelengkan kepalanya dengan herannya. Merasa lucu dan aneh dengan nama kontak istri sang suami.
"Ya Allah.... Apa aku angkat saja ya? terus aku bicara dengan nada menggoda, biar si pak tua ketahuan punya selingkuhan. Hahahha...!" Zahra yang sudah rileks, mulai ingin menjalankan balas dendamnya.
TBC
__ADS_1