
"Apa.. lihat apa? mau apa kau pak tua?" ucapnya lagi menantang Ezra, yang masih menatapnya dengan tercengang.
Ezra tidak menyangka akan mendapatkan sikap kasar dari istri kecilnya itu.
"Zahra.... kenapa tidak sopan seperti itu?" Hardik sang nenek dengan ekspresi wajah tidak enak an pada Ezra. Sang nenek takut juga Ezra marah dan melempar mereka ke atmosfer. Mana ini sudah malam. Kalau mereka tadi punya kekuatan memanggil awan kinton, seperti sun go kong ya gak apa-apa.
Zahra pun akhirnya memalingkan wajahnya dari sang suami. Dia tahu sikapnya tidak sopan. Tapi, dia tidak merasa bersalah. Namanya juga dia benci sang suami. Dia juga tidak maksa untuk dinikahi.
" Abang hanya ingin pasang seat beltmu." Ezra dengan cepat memasang seat beltnya Zahra. Sebelum wanita itu berontak.
"Abang, Abang? emang kita saudaraan?"
Ezra menarik wajahnya dan tersenyum tipis. Dia merasa istri kecilnya ini lucu-lucu gemesin gitu. Dia jadi terhibur. Punya istri bawel ternyata asyik juga. Ingin rasanya dia jitak kepala Zahra. Kelakuannya tak jauh beda dengan anaknya Rara.
"Eehhmmm... Terserah kamu deh, mau manggil apa." Ucap Ezra dengan ekspresi wajah pasrahnya.
"Pak Tua," bisik Zahra pelan, penuh dengan tatapan penuh kebencian. Dia tidak mau sang nenek mendengarnya. "Dasar tua-tua keladi." Ketusnya lagi dengan bibir diangkat sebelah. Dia pun langsung membuang wajah, disaat Ezra menatapnya tajam. Dia tahu, omongan serta kelakuannya sudah membuat suaminya itu terpancing.
Emang enek diledekin. Gumam Zahra dalam hati. Lihat saja, pembalasan akan dimulai.
Ezra menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela napas kasar. Dia menyayangkan keputusannya dengan menikahi Zahra. Karena, dia yakin setelah ini, dia akan semakin pusing. Karena mengurus dua anak gadis yang hiperaktif. Dalam rasa keputusasaannya itu dia kembali dikejutkan teriakan sang istri. Dan tangannya sudah kena cakar istrinya itu
"Aaawwww...... Tolong....Tolong....! Aku gak mau mati, gak mau mati...!" teriak Zahra tak memperdulikan orang disekelilingnya. Saat ini pesawat sedang take off. Zahra memang takut untuk naik pesawat. Karena dia takut ketinggian. Makanya dia tidak pernah kepikiran untuk naik pesawat.
Zahra yang histeris itu jadi tontonan orang dalam kabin pesawat itu. Teriakannya pun terhenti disaat pesawat sudah terbang secara stabil. Zahra yang masih ketakutan itupun, akhirnya mencoba membuka sebelah kelopak matanya secara perlahan. Mengintip keadaan sekitar dengan debaran jantung yang tak karuan. Saat itu juga dia mendapati semua mata tertuju padanya.
__ADS_1
Zahra pun terkesiap, menarik tangannya dengan cepat dari benda tempatnya tangannya berpegangan. Dia pun akhirnya tersadar, ternyata saat lepas landas. Dia tidak menyadari bahwa tangan Ezra lah yang dipegangnya kuat saat dirinya ketakutan dan sialnya buat Ezra. Punggung tangannya sudah jadi korban, dari cakarannya kukunya Zahra. Punggung tangan pria itu mengeluarkan darah. Sepertinya Zahra sangat kuat mencengkram punggung tangannya Zahra. Sekuat cengkraman jari kuku elang yang sedang memangsa buruannya.
Zahra menatap sekilas punggung tangan ERa yang mengeluarkan darah. Luas menatap tangan sang suami terluka. Dia pun membuang wajahnya, kembali menampilkan ekspresi wajah sinis.
Mampus kau, rasakan! umpatnya dalam hati.
Sakit yang kau rasa, belum setimpal dengan sakit yang kurasakan, akibat ulahmu dan putrimu itu. Ingin rasanya Zahra mengatakan kalimat seperti itu. Tapi, dia tidak boleh terlalu menunjukkan sikap tak sukanya kepada Ezra. Bisa-bisa Ezra mawas diri. Sehingga dia akan susah membalas dendam.
"Tuan, izinkan saya untuk mengobatinya." Pramugari yang dibayar mahal itu, harus tahu apa yang diinginkan sang majikan, sebelum ada perintah. Tentu saja saat ini, Ezra perlu pertolongan pertama.
"Zahra, kamu..!" lagi-lagi sang nenek marah pada cucunya itu. Nenek Ifa merasa tidak enak hati lada Ezra. Saat ini sang nenek semakin bersimpati saja kepada Ezra. Karena Ezra memang terlihat pria yang baik.
Zahra yang tidak merasa bersalah itu, malah semakin menjauhkan pandangnya menyoroti kabin yang interiornya sangat mewah itu. Dalam hati dia bertekad akan membuat pria ini tumpur.
Semoga saja bisa! tegasnya dalam hatinya, memberi kode dengan matanya, agar sang nenek berhenti mengomelinya.
Bimo yang sibuk dengan lalptop dan berkas-berkas di hadapannya, hanya menggeleng pelan. Dia merasa kelakuan Zahra sangat lucu. Dia bisa memahami sikap Zahra itu. Ya namanya nikah dalam keadaan terpaksa. Tentu saja, bawaannya ketus.
Penerbangan pun berjalan lancar, tak ada turbulensi. Sehingga saat ini sang nenek tak hentinya tersenyum bahagia, sambil menikmati hidangan yang ditawarkan oleh pramugari. Sedangkan Zahra tidak mau minum atau makan di pesawat itu.
Pemberitahuan landing pun telah diinformasikan oleh Pramugari. Ezra yang tak mau tangannya kena cakar lagi. Akhirnya menjauhkan tangannya dari bantalan kursinya. Dia kemudian melipat kedua tangannya di dadanya. Bersandar di kursi dan memejamkan kedua matanya.
Dia sebenarnya penasaran melihat ekspresi wajah sang istri yang ketakutan saat ini. Tapi, dia ingin terlihat tak peduli. Dia ingin balas dendam.
Benar saja, Zahra terus saja berteriak dengan begitu histerisnya. Hingga pesawat pun berhasil mendarat, barulah dia diam. Dengan mulut yang ngap ngapan. Seperti ikan mas yang dilemparkan kedaratan. Zahra tak henti-hentinya menarik napas panjang dan dalam. Stok udara di paru-paru nya terasa habis, karena dia berteriak dengan histerisnya.
__ADS_1
"Ayo turun Dek." Zahra benar-benar tak sadar, jika saat ini. Hanya tinggal mereka yang ada di dalam kabin pesawat itu. Sang nenek sudah terlebih dahulu turun, dituntun oleh Bimo. Dia terlalu sibuk menenangkan dirinya dengan menarik napas sambil menutup mata.
"Adek, adek, kapan kita lahir dari rahim yang sama. Jangan panggil aku adek." Zahra masih saja bersikap tak sopan. Ezra hanya bisa menggeleng. Kelakuan istri kecilnya ini, persis seperti putrinya.
Zahra pun turun dari pesawat yang diekori oleh Ezra. Saat menginjak di aspal landasan. Mobil mewah hitam langsung menjemput mereka. Belum lagi Zahra menatap sekitar yang diterangi oleh banyaknya lampu. Mereka harus masuk ke dalam mobil.
Gila, yang dilalui hanya 100 meter. Tapi harus naik mobil?
Zahra membathin, merasa heran dengan orang kaya, yang malas berjalan. Di sini Zahra kembali salah paham. Dia beranggapan Ezra orang pemalas. Padahal Ezra meminta supir menjemput mereka, karena tak mau sang nenek yang sudah tua, kecapean berjalan menuju rumah mereka yang sedikit jauh dari landasan pesawat pribadinya.
Sesampainya di basemen, Zahra kembali dibuat tercengang melihat banyaknya mobil yang terparkir di garasi bawah tanah itu.
Astaga....
Lagi-lagi Zahra membathin, wanita itu memutar bola matanya takjub. Dia sampai kesusahan menelan ludahnya. Karena terkejut melihat barisan mobil mewah berbagai merk di hadapannya.
"Nek, ayo kita masuk ke dalam." Ezra merangkul sang nenek masuk ke dalam lift. Dia benar-benar memperlakukan Nenek Ifa, seperti orang tuanya sendiri. Ezra memang punya akhlak yang baik. Dia selalu menghormati dan memuliakan orang tua.
TBC
Like, coment dan vote ya say🙂❤️🙏
Ramaikan juga novel yang Berjudul
Dipaksa Menikahi Pariban
__ADS_1
Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan)