AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Berkorban


__ADS_3

Ezra menarik napas panjang berulang kali di depan pintu kamarnya. Mondar-mandir dan sesekali menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Jujur dia takut melihat kemarahan istrinya itu. Ezra berdoa dalam hati, agar Zahra bisa tenang, disaat dia nantinya menjelaskan semuanya. Pria itu pun akhirnya memberanikan diri menekan handle pintu kamar itu. Disaat dia merasa siap untuk menghadapi Zahra. Saat membuka pintu kamar itu. Tatapan mata sang istri terhunus tajam ke arahnya. Saat ini Zahra duduk dengan sedih di tepi ranjangnya.


Kedua bola mata Zahra tak pernah lepas dari sang suami, yang kini berjalan pelan ke arahnya dengan bibir menyungging, menciptakan senyum yang manis.


"Aku ingin bertemu dengan ibu." Ucap Zahra dengan suara lirihnya. Ezra jadi tidak tega melihat kesedihan yang terpancar di wajah cantiknya Zahra.


Istrinya itu sudah rapi dengan gamis berbahan satin silk warna burgundy, dipadu dengan hijab syar i berwarna senada. Ternyata istrinya itu sudah merubah penampilannya. Istrinya itu terlihat sangat anggun dan sangat islami. Kalau sempat mulutnya istrinya itu masih mengeluarkan kata-kata sumpah serapah. Berarti Ezra gagal jadi suami. Karena tak bisa mendidik sang istri. Iya sih, Ezra sempat heran, melihat jilbab tersampir di dada sang istri. Saat dirinya mengangkat istrinya itu dari dalam mobil tadi. Ehh.. ternyata istrinya itu sedang hijrah.


Bimo yang panik saat Zahra pingsan di dalam mobil. Membuka pengait hijabnya Zahra. Dia beranggapan hijab itu akan membuat Zahra susah bernafas.


"Iya, kita akan ke rumah sakit sekarang." Ezra malah berbalik, dia berharap Zahra mengikutinya. Karena, istrinya itu ingin ke rumah sakit berjumpa dengan sang ibu.


"Kenapa bapak lakukan ini padaku dan ibu? apa bapak tidak tahu hukum agama? apa tidak ada wanita lain, kenapa harus kami." Kali ini Zahra bicara dengan lembut. Tidak marah-marah seperti tadi. Ezra jadi tidak ada mengelus dadanya. Dia sangat bersyukur, karena istrinya itu sudah tenang.


Pria itu kembali memutar tubuhnya berjalan menghampiri Zahra, yang kini kedua mata wanita itu sudah tenggelam dengan air mata. Ezra berjongkok di hadapan sang isteri dengan menekuk satu kakinya. Meraih tangan Zahra dan menciumnya. Entah kenapa Zahra tidak ingin menarik tangannya itu. Padahal dia tak suka, Ezra mencium jemarinya itu.


"Hubby minta maaf, Hubby tahu, masalah ini semua berawal dari hubby. Hubby gak bisa mendidik Rara dengan baik, sehingga anak itu berurusan denganmu dan buntutnya masalah jadi panjang seperti sekarang ini." Mendengar sang suami menyebut nama Rara. Zahra menarik cepat tangannya dari genggaman Ezra.


Zahra menatap sinis pria di hadapannya. Cihh., pandai sekali berbicara. Buah yang mentah, bisa masak dibuat ucapannya itu. Gumam Zahra masih menatap tajam Ezra. Dia ingin menilai suaminya itu sedang berbohong atau tidak. Karena biasanya orang yang berbohong, akan salah tingkah disaat ditatap lekat.


Ezra bangkit dari duduknya. Berjalan ke arah kursi yang ada di depan meja rias. Menarik kursi itu ke hadapan sang istri. Pria itu pun akhirnya mendudukkan bokongnya di kursi itu.


"Hubby yang salah, harusnya sebelum menikah dengan ibumu. Hubby harus tahu asal usulnya, seluk beluk keluarganya. Tapi, Hubby tak menginginkan itu semua saat itu. Karena, Hubby menilai Anindya wanita yang baik. Tentu berasal dari keluarga yang baik. Inilah satu kekhilafan itu, yang akhirnya menimbulkan masalah sekarang." Ucapan lembut yang terdengar jujur itu, membuat Zahra menarik kesimpulan. Bahwa pria di hadapannya mencintai ibunya.


"Hubby gak tahu, kalau kamu putrinya Anindya. Karena Anindya pun tak pernah cerita tentang keluarganya. Kalau Hubby tahu, mana mungkin Hubby menikahimu." Zahra memalingkan wajahnya, rasanya memalukan sekali menikah dengan ayah tiri sendiri. Dia dengan cepat menyeka air matanya.


"Aneh sekali, bapak gak tahu Tapi, orang lain koq bisa tahu?" Zahra masih tak mau menatap Ezra. "Pembohong!" timpalnya lagi, yang membuat Ezra tersentak dikatakan pembohong.

__ADS_1


"Hubby baru tahu kemarin, saat pulang ke kampung bersama Anin "


"Gak usah pakai-pakai hubby. Aku jijik dengarnya. Kamu itu bapak saya." tegas Zahra dengan ketus.


"Aku tidak akan pernah jadi bapakmu!"


Zahra memutar leher, dan kini keduanya bersitatap. Ezra menatap Zahra dengan memelas. Dan Zahra menatap Ezra dengan tercengang. Apa maksud ucapan pria ini.


"Hubby akan membatalkan pernikahan dengan Ibumu. Jadi, tak pernah ada pernikahan antara kami. Dan kita akan sah sebagai pasangan suami istri. Bukannya itu yang kamu minta waktu itu sayang? Hubby kabulkan sekarang."


"TIDAK ...!" tegas Zahra dengan kode penolakan dengan tangannya.


Kening Ezra mengerut, dia sangat syok dengan pernyataan penolakan istrinya itu. Bukannya Zahra selalu bilang tak mau jadi istri simpanan dan sekarang kenapa dia tidak setuju dengan keputusan sang suami, membatalkan pernikahan dengan Anindya.


"Bapak ceraikan saya. Bapak kembali pada ibu." Ucap Zahra dan langsung membuang muka, tentu saja Ezra tak terima dengan keputusan istrinya itu.


Ezra bangkit dari duduknya, meraih bahu sang istri. Dia geram juga dengan ucapan Zahra.


"Apa ibu sudah tahu, kalau bapak menikahiku?"


Ezra menggeleng pelan. Zahra berontak, agar tangan Ezra lepas dari bahunya. Di sini lah Zahra kecewa pada Ezra. Pria ini menutupi semuanya. Egois ..! Berarti pak tua, ingin kedua-duanya.


Zahra jadi teringat pembicaraan mereka tadi malam. Tadi malam, suaminya itu masih mesum padanya. Padahal suaminya itu sudah tahu, kalau dia adalah anak tirinya. Zahra tak percaya dengan pak tua ini.


"Aku tak mau ibu tahu dengan kebodohan dan dosa ini. Aku ingin kita pisah. Dan bapak kembali bersama ibu."


"Hentikan! jangan teruskan lagi. Kalau itu maumu. Maka dosa akan terus terjadi." Ezra lagi-lagi meraih bahu Zahra. Ingin menarik wanita itu kepelukannya. Ini yang dia takutkan. Dia sudah ada firasat, Zahra tak ingin bersamanya lagi.

__ADS_1


"Jangan pegang-pegang aku lagi pak. Kita harus pisah. Dan bapak kembali bersama ibu."


"Tidak!"


"Iya!"


Pasangan itu saling ngotot dengan pendiriannya.


"Aku tak mau jadi anak durhaka. Di sini, aku yang salah. Aku seolah merebut bapak dari ibu yang sangat ku sayang. Aku sangat sayang pada ibu pak. Sejak kecil, aku selalu rajin belajar, agar pintar. Agar suatu saat jadi kaya dan bisa membahagiakan ibu. Seandainya aku menolak waktu itu saat bapak menawarkan diri menikah denganku. Ini tak akan terjadi." Jelas Zahra dengan berderai air mata.


Ezra menggeleng kan kepalanya kuat tak setuju dengan ucapan istrinya itu.


"Tidak Wa, ibumu akan tetap bahagia."


"Tidak pak, aku tak sanggup melihat wajah ibu, jika kita tetap bersama. Aku gak mau jadi anak durhaka. Ibu banyak berkorban untukku. Dia rela banting tulang, agar bisa memenuhi semua kebutuhanku. Dia rela kulitnya hangus disengat terik mentari dan kedinginan disaat hujan mengguyurnya saat mencari nafkah di sawah orang. Itu semua dilakukannya untukku. Agar aku anaknya ini bisa makan. Karena, ayahku meninggalkan banyak hutang." Zahra menarik ingusnya yang semakin banyak saja keluar dari lubang hidungnya.


Dia sedih sekali saat ini. Sangat sedih, dia sangat rindu ibunya itu. "Tak ada namanya bekas anak pak. Bapak bisa cinta sekali padaku saat ini, terobsesi padaku. Karena apa? karena bapak sudah mendapatkan milikku yang berharga. Nanti juga bapak akan bosan padaku, kita bertengkarlah, lalu bapak akan menceraikanku. Cinta bapak gak kekal, gak seperti cinta ibu. Yang abadi sepanjang masa."


"Wa, kamu gak boleh bicara seperti itu. Hubby akan selalu mencintaimu sampai maut memisahkan kita. Kamu gak boleh tinggalkan aku Wa." Ezra sudah seperti anak kecil, menangis saat keinginannya tak terpenuhi.


"Tidak Pak, aku tak sanggup membina biduk rumah tangga dengan bapak. Perasaan bersalah akan terus ada di sini untuk ibu, pak. Demi kebaikan semuanya. Bapak tetap bersama ibu. Karena bapak juga sayang ibu kan?" mengelus dadanya yang terasa sangat sesak


"Tidak, tidak Wa!" meraih Zahra kepelukannya, wanita itupun pasrah dalam pelukan Ezra. Zahra menangis dalam pelukan suaminya itu. Perpisahan bukanlah maunya, tapi ini suatu keharusan.


"Kalau benar, bapak cinta padaku. Bukan karena nafsu. Kabulkan permintaanku. Aku sudah bertaubat pak. Kalau yang kita lakukan adalah dosa sebelumnya. Semoga Allah memaafkannya. Bapak juga harus bertaubat. Kita harus berpisah untuk kebaikan semua. Untuk ketenangan hatiku pak..!' Zahra menangis histeris dalam pelukan Ezra. Zahra benar-benar tak kan sanggup jadi istrinya Ezra. Dia akan sangat merasa bersalah pada ibunya.


Bagaimana pun dia mencintai pria ini. Tapi, dia tak akan sanggup membina rumah tangga dengan pria itu. Ada ibunya yang akan jadi korban. Zahra lebih memilih jadi korban. Karena, dia masih muda. Masa depan masih panjang. Biarlah kisahnya bersama Ezra akan menjadi kenangan manis.

__ADS_1


"Pak, ibu tak boleh tahu dengan ini semua. Ku mohon...!". Ujar Zahra masih dalam pelukan sang suami. Keduanya malah menangis terisak.


TBC


__ADS_2