
Zahra yang kini terang--sang. Tak konsentrasi lagi mendengar penjelasan sang suami. Yang kini sudah lanjut ke pembahasan Fertilisasi. Yaitu proses bertemunya sel sper-ma dan sel telur di dalam tuba fallopi. Ezra juga menjelaskan bahwa. Hanya sper -ma pilihan yang akan bisa menembus sel telur.
Zahra sudah grasak grusuk di tempat duduknya. Ezra bisa menebak, kalau istrinya itu sudah basah. Apalagi gambar yang ditampilkannya cukup menggoda.
Ya, begitu lah manusia sangat mudah tergoda. Apa yang dilihatnya, akan membayang dan membuatnya jadi penasaran. Makanya anak-anak sebaiknya dijauhkan dari hal por--no. Karena itu tadi, manusia rawan penasaran. Begitulah yang dialami Zahra saat ini. Dia sudah tahu rasanya gimana berhubungan badan. Dia pun jadi ketagihan akan hal itu.
Zahra sudah tidak konsentrasi lagi. Matanya sih menatap serius ke layar monitor. Tapi, pikirannya melayang-layang teringat akan nikmat yang diberikan sang suami, saat mereka melakukan malam pertama.
"Aauuggghhh.. Hubby..!" Zahra terkejut, karena tiba-tiba saja dia merasa melayang. Eehh ternyata dia sudah berada dalam gendongan sang suami.
Tatapan mata sang suami padanya begitu mendamba. Begitu juga dengan dirinya. Keduanya sudah tenggelam dalam kubangan bira--hi.
"Sayang.... Aaahhkk...!" Desa-- h Zahra, disaat sang suami melahap habis bibirnya dengan penuh naf-su. Bahkan suara decapan yang tercipta terdengar jelas dan berkesan. Zahra tidak tahan dengan geli dan nikmat yang ditimbulkan dengan permainan mereka itu.
"Di umur-umur Zahra sekarang sangat riskan, akan sentuhan. Seperti nya setiap inchi tubuh nya penuh dengan titik sensitif. Syaraf-sarafnya sangat aktif. Dan Ezra sangat menyukai istrinya itu. Zahra daun muda. Wangi, kulitnya juga masih halus dan sangat alami.
Ezra yang tak tahan, melepas semua pakaiannya. Duduk bersandar di head bord tempat tidur dan meminta Zahra duduk di pahanya. Zahra menurut, rasa sakit di paha yang terluka tak dirasa lagi. Karena pikirannya sudah terfokus kepada penyatuan keduanya untuk menjemput surga dunia.
Zahra megap-megap melihat Milik sang suami yang siap menancap ke miliknya. Membayangkan itu saja, membuatnya bergidik geli nikmat. Rasa kenikmatan tadi malam, masih membekas di ingatannya.
Ezra Kembali menyergap bibir sang istri. Menarik tengkuk istrinya itu, agar ciuman mereka lebih dalam. Lidah Ezra menelusup dalam ke rongga mulut wanita yang juga sangat bergairah itu. Apalagi sang tangan nakal sang suami, juga memainkan gunung kembarnya.
"Aaakkhh...!" Zahra kembali mend--esah, disaat suaminya itu sudah banyak meninggalkan tanda di lehernya. Melepas baju sexy di tubuh indahnya sang istri. Sehingga kini keduanya sudah polos seperti bayi yang baru lahir.
"Hubby..!" Zahra malu, merasa risih dengan tubuh yang tanpa sehelai kain itu, terduduk di pangkuan sang suami. Dia pun menenggelamkan wajahnya di dada bidangnya Ezra.
Ezra membelai kepala sang istri lembut. Memberikan kenyamanan pada sang istri sekaligus merasakan hangatnya gunung kembar yang kenyal menempel di dadanya yang dihiasi oleh bulu-bulu halus itu.
"Kenapa kita polos begini Hubby? apaa boleh?" Zahra masih banyak pertanyaan, dia gak tahu apa suaminya itu sudah ingin praktek
Mencetak adonan mereka berdua jadi anak.
"Ya boleh dong sayang. Yang gak boleh itu, kita melakukannya dan ada orang yang lihat. Itu baru gak boleh. Tapi, akan lebih baik sih, melakukannya pakai penutup. Misal selimut, kalau adek tanya soal boleh apa gak nya, ya boleh lah sayang. Rasullullah saja, sering mandi bareng dengan Aisyah tanpa sehelai benang."
"Iihh Hubby sok tahu deh." Zahra kini mendongak. Ezra langsung menyambar bibir yang menggoda itu.
"Jangan ragukan suamimu ini sayang. Banyak hadits yang mas tahu. Termasuk hadist tentang. 'Malu itu sebagian dari iman.' Hubby merasa bersyukur punya istri yang masih punya rasa malu seperti kamu sayang Itu tandanya kamu itu iman nya kuat." Merebahkan sang istri, dan menyatukan tangan keduanya. Mere- mas tangan sang istri kuat. Disaat istrinya itu membalas pan -gutannya.
__ADS_1
Ezra senang sekali, istrinya itu sudah banyak kemajuan. Saat berciuman juga tidak megap-megap lagi.
"Istri yang pintar. Hubby yakin, nanti kita akan menghasilkan anak yang jenius, pasti cantik kalau cewek, secara ayahnya kan ganteng. Kalau cowok ya jelas sudah ganteng nanti." Mereka masih sempat-sempatnya membahas tentang hasil maha karya yang akan dicetak mereka.
"Kalau kita punya anak, nanti gimana dengan status anak kita Hubby?" Zahra jadi sedih, matanya berkabut sudah. Dia kan istri siri. Dia sangat dirugikan dalam pernikahan ini.
Ezra mengecup lembut kening sang istri. "Hubby mu ini sayang dan cinta banget padamu mu sayang. Mana mungkin Kamu dan anakku kuterlantarkan. Nanti mereka juga akan tercatat di catatan sipil. Tetap Akan saya buat Kartu Keluarga untuk kalian."
Jawaban sang suami merusak mood sang istri. Gairah yang membuncah menguap sudah. Dia mendorong kuat dada sang suami yang ada di atas tubuhnya. Ezra pun terguling ke sebelah kanan sang istri.
"Aku gak mau hamil. Aku gak mau, nanti anakku gak di akui. Kita gak boleh lagi lakukan ini. Aku gak mau mencetak ANAK....!"
Zahra menangis dengan sedihnya. Terkadang dia gak terima dengan pernikahan ini. Tapi, sudah terjadi. Minta pisah juga gak dibolehin. Dan sekarang dia gak perawan lagi. Zahra pusing memikirkannya.
"Siapa yang bilang kalau anak kita gak Abang akui." Meraih sang istri dalam dekapannya. Tapi, Zahra menolak.
"Aku gak mau jadi istri simpanan. Kenapa ini terjadi padaku?" Zahra masih menangis sedih. " Ini semua karena Rara." Wanita yang lemah itu, tiba -tiba bahas yang sudah berlalu.
Ya, begitulah perempuan. Suka sekali mengungkit yang berlalu. Apalagi kejadian itu, sangat menyakitkan.
"Suatu saat nanti, hanya adek yang akan jadi istri Abang satu-satunya. Bukankah semalam itu sudah kita bahas?" Mendekati sang istri, melap air mata Zahra yang jatuh begitu deras membasahi pipi putihnya.
"Untuk mendapatkan kebahagiaan perlu ada pengorbanan."
"Dia yang akan jadi korban. Jika Abang menceraikannya."
"Belum tentu, siapa tahu, dia akan lebih bahagia. Jika ku ceraikan." Menatap serius Zahra yang terlihat menantangnya.
"Kapan Hubby akan menceraikannya?" tanya Zahra tegas. Keduanya beradu pandang dengan penuh selidik.
"Secepatnya!" Jawab Ezra, tangannya membelai wajah sang istri. Mencoba menenangkan istrinya itu.
"Adek ingin jawaban yang pasti." Zahra masih menatap lekat suaminya itu.
"Setelah Abang menemaninya pulang kampung. Terakhir itu janji Abang padanya." Zahra kembali memalingkan wajahnya. Entah kenapa dia jadi ingin menguasai Ezra. Tak mau berbagi suami.
"Sudah ya dek, jangan membebani pikiranmu dengan memikirkan hal itu. Hidup jangan dibuat ribet Nikmati saja alur kehidupan ini dengan ikhlas. Pegang ucapan Abang. Abang sudah memilih mu sekarang."
__ADS_1
"Bohong..!" Zahra merengut.
"Koq dibilang bohong?"
"Ya iyalah, mulutnya pria itu manis. Samaku bilangnya milih aku. Nanti juga bilang cinta mati sama istrinya itu "
"Ya Allah sayang, Abang bukan pria yang nyaman dengan banyak pasangan. Suami mu ini tipe cewek setia."
"Setia, Setiap tikungan ada." ketus Zahra.
Hahaha....
Ezra merasa lucu dengan mimik wajah sang istri yang cemberut itu. Sikap Zahra yang nyentrik ini, yang membuatnya akan memilih istri kecilnya ini.
"Sudah ya sayang, jangan bahas itu lagi. intermezzonya cukup sudah. Kita lanjut praktek ya?" Membujuk sang istri yang ngambek, dengan mencoba meraih sang istri dalam dekapannya.
"Gak mood lagi." Zahra menepis tangan kekar sang suami
"Ya Allah sayang, gak kasihan kamu lihat ini mulai dari tadi dia gak mau tidur. Walau adek marah-marah dia tetap aja hidup. Please jangan gitu dong sayang."
"Sana main sama istrinya yang lembut hatinya itu." Masih membuang wajah dari sang suami. Kini bahkan wanita itu menelungkup kan tubuhnya. Paha yang luka, terasa sakit.
Hihihi...
Ezra tertawa kecil. Dia pun langsung melancarkan aksinya menciumi bo kong sang istri yang sedang terlungkup itu. Zahra Berontak, menghentak-hentakkan bo- Kongnya, agar terhindar dari rang. - Sangan sang suami. Walau pahanya sakit saat dihentakkan, dia bisa menahan rasa sakit itu. Tapi, Ezra gak mau nyerah. Dia malah menglitik pinggang istrinya itu. Zahra gak tahan. Dia pun membalikkan badannya jadi terlentang. Saat itu juga, Ezra dengan cepat melancarkan aksinya.
Mendaratkan mulutnya di bagian inti sang istri. Dan mengobok-obok gua kenikmatan itu, yang membuat Zahra menggelinjang hebat. Bahkan Bo--kong nya itu terhentak-hentak. Saking kuatnya pelepasan yang terjadi. Wanita itu dengan cepat klimak-s. Ezra tersenyum puas. Istri nya keluar juga.
Zahra yang ingin lebih, malah menarik tangan sang suami yang berjongkok di belahan pahanya. Sehingga suaminya itu kini mengungkung tubuhnya. Kakinya yang luka tak dirasakan lagi.
Ezra pun melancarkan aksinya. Kembali memberi sentuhan di setiap inchi tubuh sang istri.
Acara mantap-mantap itu berlangsung empat ronde. Kegiatan itu pun terhenti disaat dapat waktu magrib. Zahra yang punya darah mudah itu, benar-benar kecanduan dengan kegiatan itu. Apalagi Ezra, dia sudah lama tidak melakukannya. Mendapatkan istri yang segar, tentu membuat nya begitu bergairah.
Mereka pun mandi bareng. Lagi-lagi Ezra menyodok milik sang istri di dalam bathtub. Entah lah, ini pasangan hormonnya seperti nya lagi meningkat tajam. Bisa jadi, karena Zahra masih tergolong dalam pematangan atau perkembangan reproduksinya. Sehingga hormon estrogen dan progesteron nya lagi meningkat.
Setelah selesai sholat magrib berjemaah. Mereka mengisi bahan bakar, untuk persiapan tempur lagi. Tentu saja makan malam yang romantis dengan view yang indah. Karena vila itu berada di puncak. Dan sebelum tidur, mereka masih melakukannya tiga ronde. Suara desa h an dan erangan menggema di dalam itu. Pasangan itu benar-benar, menikmati pergumulan mereka. Ampun dah lihat pasangan yang usianya terpaut jauh itu.
__ADS_1
TBC.
Tinggalkan komentar positif.