
"Wajahku..... Kulit mulusku... Ohhh... tidak.... Aku harus ke salon sekarang. Aku harus membersihkan najis ini." Ia heboh sendiri di bagian lobby itu. Orang-orang di tempat itu cekikikan melihat kepanikan dan kekesalannya.
Sadar dirinya jadi bahan tontonan. Marlina pun ke luar dari gedung itu dengan banyaknya umpatan dan sumpah serapah.
"Fu ck you... Sialan.... Kurang ajar...!" teriaknya histeris seperti orang gila. Seumur-umur, ia baru kali ini kena muntahan orang. "Apes banget gua..!" keluhnya penuh kekesalan.
Saat itu juga Ezra dan Dika keluar dari lift khusus. Ezra dan Dika cukup terkejut melihat wanita yang mirip Marlina teriak-teriak seperti orang gila, hendak keluar dari gedung itu. Marlina pun lari terbirit-birit, karena malu saat Ezra melihat penampilannya yang berantakan.
Ezra melirik Dika, dan ia tahu maksud dan lirikan sang bos. Dengan cepat Dika mencari tahu, apa yang terjadi.
Setelah mendapatkan informasi dari Mery, Dika pun membisikkannya pada Ezra. Tentu saja Ezra dibuat panik. Mengetahui istrinya muntah-muntah.
Dengan paniknya Ezra berhambur menyusul Zahra ke toilet. Ia tak peduli lagi toilet di bagian lobby yang dimasukinya itu adalah untuk wanita.
"Halwa.... Sayang...!" syukur toilet yang ada dua ruang itu sepi, hanya ada Zahra di dalamnya.
Zahra keluar dengan memegangi perutnya. Ia terlihat lemas, wajahnya pucat, dan keningnya masih mengeluarkan bintik-bintik air.
"Sayang... Kamu kenapa?" Langsung mendekap sang istri yang terlihat lemas. Entahlah.... Ini kelemahan Zahra saat hamil. Kalau ia banyak pikiran maka ia akan muntah.
Zahra tak menggubris pertanyaan Ezra. Rasanya ia tak punya tenaga untuk bicara. Ditambah, ia kesal mengingat kejadian tadi.
Ezra yang panik langsung menggendong Zahra ala bridal style menuju ruangan nya Tentu saja Dika mengekori mereka. Sesampainya di ruangannya, Ezra membaringkan Zahra di ranjang yang memang ada di ruangan itu.
"Yang mana sakit sayang?" melap kening Zahra yang berkeringat. Kemudian pria itu ingin melepas hijab sang istri. Tapi, Zahra menahan tangan nya.
"Di sini sakit." Zahra mengelus dadanya. "Hik hiks hiks... Aku gak mau datang lagi ke sini. Buat setres...!" ujarnya menangis sesenggukan.
Ezra sungguh tidak tega melihat ekspresi sedihnya Zahra. Tapi, ucapan nya Zahra cukup menggelitik hatinya. Ezra ingin tertawa, tapi ditahannya. Tak mungkin ia tertawa, sedangkan sang istri sedang menangis.
"Iya, gimana baiknya saja sayang." Ezra melap air mata yang membasahi pipi pucatnya Zahra dengan jemarinya.
"Aku ingin diadakan resepsi besar-besaran, dibuat konfrensi pers. Agar wanita - wanita tak punya malu itu tahu, bahwa Hubby sudah punya istri."
Grappp
__ADS_1
Ezra mendekap erat Zahra yang masih terbaring. Ia tersentuh mendengar permintaan istrinya itu. Ia merasa jadi orang paling didambakan dan istrinya sangat takut kehilangannya.
"Ia sayang, kita memang akan adakan pesta besar-besaran. Di sini dan juga di kampung kita. Dika sudah menyiapkan semuanya. Tadinya Hubby ingin kasih surprise dengan tidak membicarakannya denganmu sayang." Ujar Ezra dengan semangat serta penuh haru.
"Ia kah?"
Ezra mengangguk.
"Kenapa gak dibicarakan, aku juga ingin lihat baju seperti apa yang akan ku kenakan." Zahra merajuk.
"Tahu gak kenapa Nantulang sibuk dan tak mau diganggu kamu?"
"Ibu sibuk di butik." Ya Anin sekarang punya usaha butik dan restoran. Uang mut'ah dari Ezra.
"Iya, nantulang sibuk, buatkan baju untukmu dan untuk kita semua." Jelas Ezra dengan semangatnya.
"Iya kah?"
Zahra yang terkejut dengan berita ini, dengan cepat mengubah posisi jadi duduk.
"Gak, menunggu sampai pengumuman kelulusan, bisa pusing Hubby dikejar-kejar wanita -wanita itu "
"Iya, koq mereka seperti itu." Zahra kesal.
"Ya karena Hubby limited edition. Jadi rebutan." Ezra cengir. Zahra menatap jengah Ezra. Percaya diri sekali suaminya itu. Tentu saja Ezra dibuat gemes dengan tatapan sang istri. Ia pun memeluk Zahra dengan erat.
"Kita makan dulu, terus kamu harus minum obat. Sepulang kerja kita periksa keadaan anak kita ini." Mengusap lembut perut Zahra dengan penuh cinta. Ezra juga mencium perut itu.
"By... jangan cium di situ, bajuku bauk." Zahra mengangkat kepalanya Ezra. Agar berhenti mencium perutnya. Zahra merasa pakaiannya bauk, karena pakaian nya kena muntahannya
"Eemmm... bau dikit, gak apa -apa." Ezra tetap saja menciumi perut sang istri. Emang sih bajunya Zahra ada bau acem gitu.
Zahra yang sudah tenang, akhirnya mau di ajak makan. Jadilah mereka makan di ruangan nya Ezra.
"Dika, belikan baju ganti untuk Zahra." Titah Ezra, disela-sela ia makan. Sedangkan Dika, ternyata sudah selesai makan. Makanya ia memberi tugas pada asistennya itu
__ADS_1
"Baik Bos." Dika tersenyum pada Ezra dan Zahra.
Ia pun mulai memesan baju online yang lagi viral. Setelah mencari referensi dika pun memasukkan belanjaan nya ke keranjang orange. Dan toko yang dia pesan, siap mengirim kan barang cepat dan hanya satu jam pesanan sampai di alamat.
Satu jam kemudian
Zahra yang sudah sedikit tenang memilih membaca buku kehamilan di dalam kamar yang ada di ruangan itu.
Ezra masuk ke kamar dengan tersenyum manis, memberikan paperbag pada Zahra. Wanita itu pun meraihnya dengan senang hati
Siapa sih yang gak senang dibelikan sesuatu oleh orang yang kita sayang.
"Ganti bajunya sayang!" titah Ezra lembut.
"Keluar dong By."
"Gak, mau lihat. Mau cuci mata." Ezra mengedip kan sebelah matanya.
Zahra cemberut, ia kadang masih suka malu, jika berpakaian dilihatin Ezra. Selain malu, nanti tangan sang suami, pasti gentayangan meraba-raba nya.
"Ya sudah, gak usah diganti." Zahra menjauhkan paper bag itu.
"Baiklah... Hooaamm..!" Ujar Ezra dan keluar dari kamar itu.
Zahra yang senang karena dibelikan baju, dengan cepat mengeluarkan baju itu dari paper bag. Saat itu juga, kening Zahra mengerut melihat baju yang dibelikan Dika.
"Ini baju emak-emak. Bukan tunik muslim." Ujar Zahra bingung. Walau seperti itu, ia tetap mencoba baju yang dikatakan Dika tunik dan dipasangkan dengan rok celana Velvet.
Kwkwkkkw
"Ini baju apa?"
Zahra keluar dari kamar dengan hebohnya. Ia menggoyang kan sedikit tubuhnya, jinjit-jinjit dan baju yang dikenakan Zahra akhirnya naik turun. Jadilah Zahra yang tidak berhijab berjoget dengan baju naik turun di hadapan Ezra.
TBC
__ADS_1