
Pukul enam pagi, Ezra, Anin dan Dika bertolak ke kampung. Mereka menaiki pesawat pribadi. Anin yang semangat untuk pulang itu tidak merasakan sakit lagi di perutnya dan sekujur tubuhnya. Karena memang Dokter Alfian Baskoro sudah memberi obat pereda rasa sakit dan antibiotik yang bagus untuk luka ususnya.
Anin sangat bahagia hari ini. Akhirnya setelah satu tahun dia bisa juga pulang kampung. Dia sudah sangat merindukan anak dan ibu mertuanya.
"Terima kasih ya bang." Senyum manis terlukis indah di wajah cantik sang istri. Melihat senyumnya Anindya, pria itu jadi teringat Zahra. Kedua istrinya kenapa mirip sekali. Ezra yang sejak tadi malam memikirkan Zahra, dibuat kangen banget pagi ini pada istri bar bar nya itu.
"Iya sayang, maaf ya seminggu ini Abang sibuk." Mengelus lembut tangan sang istri. Anindya pun mengangguk, dia bisa memaklumi suaminya yang seorang pengusaha itu. Tapi, jujur dia curiga pada Ezra. Dia yakin, Ezra punya wanita lain. Kalau itu benar adanya, dia bisa apa? wajar pria seperti Ezra punya banyak istri. Secara pria itu mapan ditambah ganteng. Tentu banyak wanita yang ingin jadi istrinya.
Memikirkan firasatnya buruknya itu, seketika membuat Anin jadi murung. Dia membuang muka dari sang suami. Tak sanggup jikalau terus bertatapan dengan suaminya itu. Karena, suasana hatinya tiba-tiba buruk dan kedua matanya sudah berkaca-kaca.
Di waktu yang sama dan di tempat berbeda. Di sebuah rumah mewah. Zahra keluar dari kamar, karena pelayan sudah memberi instruksi untuk sarapan. Semua kegiatan Zahra sudah diatur. Bahkan dia harus mengikuti pembelajaran home schooling juga.
Zahra menarik napas panjang, sebelum menutup pintu kamarnya. Dia akan ke kamar sang nenek, sudah lebih dari seminggu dua tidak melihat neneknya itu. Tadi malam mereka sampai di rumah sudah larut sekali dan sang nenek sudah tidur.
"Nenek...!" teriak Zahra dengan semangat. Saat ini sang nenek baru saja keluar dari kamar. Nek Ifah kamarnya di lantai satu.
Zahra memeluk sang nenek dengan erat. Membuat nek Ifah berontak, karena wanita tua itu hampir tak bisa bernafas.
"Ya Allah sayang... Kamu cantik sekali pakai hijab." Zahra yang malu dengan banyaknya tanda merah di lehernya. Akhirnya memutuskan pakai hijab. Dia tak mau sang nenek menggodanya terus.
"Iihh l.....Nenek, pandai sekali ngegombal." Zahra tersipu malu, merangkul sang nenek dan mereka berjalan ke arah meja makan. Saat ini yang ada dipikiran Zahra adalah Ezra. Seminggu lebih mereka bersama memadu cinta kasih, dan fokus mencetak anak. Ya Zahra setuju untuk hamil. Karena, Ezra sangat ingin punya anak dalam jangka waktu cepat, mengingat umur pria itu sudah kepala empat.
Zahra merangkul sang nenek dengan penuh kasih, dan tangannya satu lagi mengelus perutnya yang datar itu, berharap sudah ada Ezra junior yang tumbuh di rahimnya. Entah kenapa Zahra merasa siap jadi ibu.
"Besok pagi nenek akan berangkat melaksanakan haji."
"Apa nek..?" Zahra sangat terkejut mendengar penuturan sang nenek. Zahra sangat bahagia sekali, dari dulu nek Ifah sangat ingin melaksanakan rukun Islam ke lima itu. Dia mau kerja keras berjualan ke pasar setiap hari, untuk mengumpulkan uang. Agar bisa naik haji. Dan sekarang dia bisa naik haji plus.
"Iya cucuku sayang. Nenek bersyukur sekali, sejak kita mengenal Nak Ezra kehidupan kita sudah sangat enak. Nenek gak menyangka dengan ini semua." Mereka bicara sembari makan.
"Ibu di mana ya nek?" walau sudah hidup enak, Zahra tetap tidak tenang. Karena kepikiran sang ibu.
Zahra sudah meminta pada sang suami, untuk mencari keberadaan ibunya. Tapi, Ezra melupakan permintaan istrinya itu, karena mereka terhanyut dalam birahi. Zahra juga lupa untuk mengingatkan suaminya itu. Dia terlena dan candu akan nikmatnya surga dunia yang diberikan Ezra.
"Hari ini kita minta tolong pada Nak Bimo, untuk mencari Anindya." Ujar sang nenek menyudahi makannya.
"Dulu juga kita pernah bahas nek sama ibot Bimo. Tapi, dia seperti gak peduli." Zahra sedih, dia sudah sangat kangen dengan sang ibu.
"Mungkin saja nak Bimo lupa. Makanya hari ini kita Tawan dia. Gak boleh pergi, kalau dapat informasi." Ucap nenek, merogoh ponselnya dari pouchnya. Zahra dibuat terbengong dengan ponse yang dimainkan sang nenek.
"Ya Ampun ponsel nenek bagus banget." Zahra mendekatkan kursinya ke nek Ifah.
"Kata nak Bimo, nenek perlu ponsel ini saat di tanah suci." Sedikit kebingungan menggunakan ponsel itu. Maklumlah baru kali ini Nek Ifah pakai ponsel pintar. Selama ini dia pakai ponsel untuk melempar anjing.
"Ajari nenek ya, sudah dua hari nenek diajari mbok Mila, gak bisa-bisa juga." Sang nenek terlihat kusut wajahnya. Otaknya susah nyambung.
"Iya Nek, kita foto dulu ya!" Zahra mengajari sang nenek menggunakan camera, mereka pun berselfi dengan banyak fose.
__ADS_1
Puas berfoto, Zahra kembali mengajari sang nenek menggunakan ponsel pintar itu. Hingga konsentrasi mereka pun buyar disaat Bimo menghampiri mereka.
"Ra, nek. Tunggu Bimo ya, ada hal penting yang harus Bimo sampaikan. Bimo makan dulu ya!" Bimo bicara dengan ramahnya. Zahra dan Nek Ifah menurut apa kata Bimo. Bahkan mereka iseng memotret Bimo saat makan.
"Ra, coba cari nama kontak nak Ezra. Nenek mau ngomong. Mau bilang terima kasih." Ucap Nek Ifah pelan.
Dengan senang hati Zahra pun melakukan permintaan sang nenek. Senang sekali wanita itu. Dia kan belum punya ponsel, karena ponsel yang diberikan Bimo, sudah nyemplung ke sungai. Zahra kangen banget sama suami mesumnya itu. Padahal baru satu malam gak tidur bareng. Gimana gak kangen seminggu lebih mereka kerjanya cetak anak terus. Mana Ezra tahu buat dia merasa nikmat dan ketagihan. Ini saja dia jadi pengen, bagian intinya berdenyut parah karena mengingat Ezra. Ini berbahaya.
"Astaghfirullah...!" Ucap Zahra tanpa sadar. Dia mengutuk dirinya yang terpercaya nafsu. Dia benar-benar candu akan suaminya itu.
Hhufftt...
Zahra menghela napas panjang, yang membuat Nenek Ifah dan Bimo heran. Kenapa Zahra seperti kelelahan, sampai-sampai menghela napas panjang.
"Kamu Napa Ra?" Bimo menatap lekat Zahra yang kelihatan mupeng itu. Pria itu sampai menggelengkan kepalanya. Wajah Zahra merah padam saat ini.
"Gak apa-apa Ibot. Aku teringat ibu." Pandai sekali wanita itu mencari alasan, dari ekspresi wajahnya yang tak tenang itu.
Akhirnya Zahra tidak jadi menghubungi sang suami dengan ponsel nek Ifah.
Bimo terdiam menatap secara bergantian Nek Ifah dan Zahra
"Nak Bimo, bantu kami untuk cari ibunya Zahra." Nek Ifah memelas, bahkan memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Baiklah Nek, hari ini kita tuntaskan semua. Waktu itu saya lupa, mana Zahra gak ingatin lagi." Bimo beranjak dari duduknya. Zahra dan Nek Ifah memperhatikannya lekat.
"Pakai Jilbab kamu cantik banget Ra." Puji Bimo melirik Zahra yang terlihat malu-malu.
"Itu beneran ikhlas mau pakai hijab, atau modus?"
"Ihh... Apaan sih ibot? bukannya mendukung malah mengejek." Zahra cemberut, dia tahu asisten suaminya itu mau mengolok-oloknya.
"Iya deh, semoga Istiqomah. Ibotmu ini seneng, kamu dapat hidayah juga, setelah bersemedi bersama bos selama seminggu lebih." Bimo tersenyum tipis, berjalan ke arah lemari mengambil berkas.
Zahra dan Nek Ifah sudah duduk di sofa.
"Ini berkas yang direvisi lagi, terkait mahar tambang emas itu." Zahra meraihnya membuka maf berisi dokumen itu dan mulai membacanya.
"Tambang emas itu sudah jadi milikmu Ra. Tapi, yang mengelolahnya dan menjadi pemiliknya saat ini masih si bos. Kamu akan jadi pemilik sesungguhnya jika kamu sudah benar-benar bisa mengelolahnya. Terkait hasil tambangnya semuanya sudah atas namamu. Jadi di sini kau sudah dapat penghasilan bersih. Ini sudah saya buatkan buku rekeningnya." Zahra memeriksa semua dokumen yang diberikan Bimo. Tentu saja dia senang. Itu artinya Ezra memang cinta sama dia. Buktinya tambang emas itu akan jadi miliknya.
"Si bos khawatir juga, wajar dia takut memberikan ini padamu. Karena kamu selalu minta pisah. Ya rugilah dia, ini perusahaan turun temurun. Masak diberikan pada istri yang minta pisah. Lihatlah bos begitu percaya samamu Ra. Dia ingin aku menyiapkan semua ini. Agar kamu yakin, bahwa bis serius dengan hubungan kalian."
"Ya tetap saja jadi istri simpanan Bot." Zahra langsung memotong ucapan Bimo.
"Ra, jangan serakah. Ini semua harus disyukuri. Intinya Nak Ezra mau menepati janjinya. Gak ada yang perlu disesali. Nek harap kamu bisa dewasa. Jangan tekan nak Ezra untuk menceraikan istrinya. Apalagi sekarang istrinya lagi sakit." Jelas Nek Ifah tegas lada sang cucu.
"Tahu dari mana nenek istrinya sakit?" tanya Zahra.
__ADS_1
"Saya yang beri tahu Ra." Jawab Bimo.
"Saat ini situasi sedang genting. Diharapkan saling sabar, jangan egois. Asal kamu tahu Ra, istri sah nya bos itu baik banget. Aku saja jadi gak tega, kalau bos menceraikannya." Bimo terlihat sedih
"Apa nak Ezra bilang mau ceraikan istrinya itu Bimo?" sang nenek penasaran sekali. Dia juga gak ingin menyakiti wanita itu. Biarlah Zahra selama jadi istri simpanan. Yang penting semuanya aman.
"Belum bilang sih nek. Tapi, seperti nya Tuan lebih condong ke Zahra. Tuan itu gak mau punya banyak pasangan. Dulu sih katanya niatnya mau nikahi Zahra, mau nyelamatin Zhara saja. Eehh.. gak tahunya bos ke pincut sama gadis bar bar gak jelas ini."
"Eeehh.... Bicara yang sopan ibot. Aku sekarang nyonya di rumah ini." Ancam Zahra dengan wajah ngelawaknya.
"Iya Nyonya, maaf kan aku nyonya. Aku jangan dipecat nyonya." Bimo tertawa kecil. Dia pasti senang kalau sudah kumpul dengan Zahra dan Nek Ifah
"Gak segampang itu ferguso. Harus ada imbalannya." Bimo menilik, imbalan apa lagi.
"Kamu harus temukan ibuku hari ini. Kalau tidak aku akan minta suamiku memecat kami."
"Kejam amat, mau pecat segala." Bimo cemberut, tak suka dengan syarat dari Zahra.
"Sudah, sudah gak berdebat. Kita bahas sekarang tentang menantuku." Nek Ifah memotong pertengkaran Zahra dan Bimo.
"Ada kartu keluarga kan?" tanya Bimo menatap Zahra.
"Ada, ada ibot." Zahra langsung semangat akhirnya dia akan menemukan ibunya.
"Fotonya ada juga kan?"
"Itu dia yang gak ada ibot." Zahra kembali sedih.
"Sudah jangan sedih gitu. Mana Kartu keluarganya!"
"Sebentar Ibot." Zahra berlari menuju kamarnya dengan perasaan tidak tenang. Ada rasa senang, dan was-was saat ini. Dia sudah tak sabar ingin mengetahui kabar sang ibu.
Hufffttt...
Zahra masuk ke ruang kerjanya Ezra dengan napas tersengal-sengal. Bimo tersenyum tipis melihat Zahra yang sudah duduk di sofa dan menyodorkan kartu keluarga padanya.
"Setengah jam lagi, kamu akan belajar." Ucap Bimo, belum melihat kartu keluarga yang diberi kan Zahra.
"Iya ibot, siap. laksanakan!" ucap Zahra dengan semangatnya.
Kening Bimo berkerut membaca kartu keluarganya Zahra. Yang jadi kepala keluarga di kartu itu adalah Anindya. Koq sama dengan nama istri sah si bos. Di kartu keluarga itu status Anindya juga cerai mati.
Bimo sudah mulai tidak tenang. Jantungnya berdetak kuat. Dia sudah menduga-duga. Jangan-jangan istrinya si bos, ibunya Zahra. Keyakinannya semakin kuat saat melihat alamat di kartu keluarga itu.
Bimo yang terkejut bathin itu, menutup mulutnya yang menganga. Kiamat lah sudah.
TBC
__ADS_1
Like, coment positif. Akhir pekan kita ada give away pulsa 10 ribu. Ini give away terakhir ya. Akan diadakan lagi, akhir bulan empat. Kumpulan pointnya say. Dan berikan pada novel ini.🤭❤️