AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Terciduk


__ADS_3

Awan hitam nampak terlihat jelas menyelimuti langit di sore itu.  Bahkan rerintikan air hujan mulai turun berjatuhan , membasahi  alam semesta. Buruknya cuaca hari ini semakin membuat Zahra larut dalam kesedihannya. Ezra terlihat sibuk dengan stir mobilnya, yang fokus memperhatikan laju mobil dan jalan yang dilalui, walau hati pria itu juga lagi kacau, dia harus tetap hati-hati saat menyetir, apalagi saat ini cuaca sedang sangat buruk.


Ezra akhirnya menuruti keinginan Zahra, bertemu dengan ibunya. Dan merahasiakan hubungan  mereka. Ezra menuruti permintaan istrinya itu, hanya karena ingin melihat Zahra tenang. Untuk saat ini, pria itu akan mengikuti apa maunya wanita itu. Pria itu hanya bisa berharap, nantinya Zahra mengubah keputusannya. Zahra itu keras kepala, semakin ditentang, maka akan semakin melawan dan kuat padapendiriannya, walau keputusannya itu salah.


Ezra terus mengenderai mobilnya, menembus air hujan. Yang kian lama kian turun dengan deras. Bahkan di langit, terlihat kilat saling menyambar, dibarengi suara gemuruh petir yang menggelegar. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut mereka


berdua.  Sehingga di dalam mobil terasa sangat sunyi. Hanya rintikan air hujan dan deru mesin mobil yang terdengar memecah keheningan di kala itu.


Mobil yang dikenderai Ezra akhirnya sampai juga di area rumah sakit itu. “Hubby ambil payung dulu ya sayang.” ujar Ezra lembut dia tak mau istrinya itu basah sedikitpun, walau sebenarnya dia memarkirkan mobilnya tepat di pintu gedung tempat Anin dirawat. Zahra tak menggubris ucapan sang suami. Ezra menghela napas dalam, merasa sedih akan sikap dinginnya Zahra. Pria itu pun turun dari mobil dengan terburu-buru mengambil payung ke bagasi. Dan Zahra sudah turun dari mobil, tidak mendengar ucapan sang suami. Karena hanya satu langkah dari mobil, lantai gedung itu sudah terjangkau. Menurut Zahra payung tak perlu, kalaupun kena hujan. Dia tak akan basah kuyup.


“Astaga, anak itu!” decak Ezra melihat sang istri sudah keluar dari mobil. Ezra bergegas menghampiri sang istri dengan khawatirny. Menepis-nepiskan air hujan yang membasahi pakaian sang istri. Zahra jengah sekali melihat kelakuan Ezra, terlalu berlebihan, padahal dia tidaklah basah kuyup.


“Tunggu di sini, Hubby parkirkan mobil dulu.”


“Ibu dirawat di ruang apa?” bertanya dengan wajah datarnya.

__ADS_1


“Tunggu di sini, Hubby hanya sebentar parkirkan mobil.” Ezra ingin, mereka sama-sama pergi ke ruanag rawat inapnya Anindya.


“Di ruang mana ibu dirawat?” Zahra ngotot, dia tak sabar menunggu Ezra memarkirkan mobil.


Ezra menggelengkan kepalanya dan berdecak kesal. "Di ruang Anggrek no 2." Belum selesai pria itu bicara. Zahra sudah melenggang pergi. Ezra pun berlari menuju mobilnya. Dia harus cepat memarkirkan mobilnya, agar bisa menyusul sang istri.


Zahra dengan perasaan tidak tenangnya mencari ruangan tempat sang ibu dirawat. Perasaannya bergejolak hebat saat ini. Kenapa dia dan ibunya bisa memiliki suami yang sama. Zahra yang kalut pikirannya itu, tidak berkosentrasi lagi saat berjalan,


"Aauuwww...!" Zahra teriak, saking terkejutnya disaat dia terpleset karena memijak air di lorong rumah sakit itu. Dan sekketika hatinya merasa legah. Karena tubuhnya yang memang lemas itu ditopang seseorang. Tubuhnya jatuh dalam rengkuhan seorang pria yang sangat dikenalnya, dan pernah mengisi hatinya. Mereka beradu pandang dengan terkejutnya.


Ferdy tidak tahu, bahwa wanita yang ada di hadapannya yang hendak terjatuh karena terpleset itu adalah Zahra. Apalagi penampilan Zahra sudah agamis. "Ra, benar kamu ini Ra..?" tanya Ferdy dengan tercengang.


Zahra mengangguk pelan. "Iya Fer, ini aku. Lepas Fer..!"


"HALWA....!"

__ADS_1


Teriakan seorang pria, membuat Zahra gelagapan dan berontak kuat agar Ferdy melepaskannya dari rengkuhan pria itu. Siapa lagi yang berteriak itu kalau bukan Ezra, yang melangkahkan kaki dengan lebar ke arahnya. Tatapan mata tajam siap menerkam.


Zahra sudah pasrah, apabila akan terjadi keributan di tempat itu.


"Ayo..!" Ezra menarik lengan sang istri lembut, agar mengikuti langkahnya. Zahra heran, dia tadi beranggapan suaminya itu akan marah, meledak-ledak. Tapi, ternyata pria itu malah terlihat santai. Seolah tidak terjadi sesuatu.


Zahra yang terperangah dengan sikap misteriusnya Ezra, membuatnya jadi mematung.


Ezra menatap Zahra dan Ferdy secara  bergantian. Menyenggol bahu Ferdy kuat dan menarik lengan Zahra secara paksa. Zahra memutar lehernya menoleh kebelakang, melihat Ferdy yang terhuyung karena ulahnya Ezra.


"Berani sekali anak ingusan itu menyentuhmu!" ujar Ezra datar, dengan tatapan lurus ke depan. Zahra yang berjalan  tergopoh-gopoh karena Ezra menarik tangannya kuat, hanya bisa menghela napas panjang.~~~~


TBC


Like, coment dan vote

__ADS_1


__ADS_2