
Bimo yang sangat ketakutan itu, tancap gas ke Vila yang dimaksudkan si Bos. Tapi, sesampainya di sana. Bosnya itu ternyata tidak ada di Vila tersebut.
Bimo semakin tidak tenang. Apakah dia akan dimarahi terkait Zahra, yang dia tidak tahu di mana keberadaannya? sepertinya iya. Tadinya Bimo sudah legah, karena dia mengira Zahra beneran diculik oleh si bocah tengil. Tapi, sepertinya dugaannya salah. Si bocah tengil tidak menculik Zahra. Dia hanya mengasumsikannya seperti itu, karena si Ferdy sempat mengancamnya tadi.
"Kenapa si Bos gak mengangkat teleponnya? gak biasanya si Bos seperti itu." Ucapnya sendiri, terus saja mencoba menghubungi bosnya itu.
"Kenapa si Bos mau nginap di Vila?" ucapnya lagi dengan pikiran kalutnya. Terus saja menghubungi ponsel si Bos.
Tim tin tin
Bimo yang lagi sensitif itu, akhirnya bisa bernafas legah setelah melihat mobil si Bos masuk ke pekarangan vila.
Dia pun berlari menyambut kedatangan si Bos dengan hormatnya. Bimo satu hari ini sedang dilema. Dia kasihan kepada Zahra. Zahra sudah dianggapnya seperti saudara sendiri. Mengetahui ada pemuda dari keluarga kaya mencintai Zahra. Bimo jadi ingin membebaskan Zahra dari si Bos.
Bimo membuka dengan cepat pintu mobilnya Ezra. "Malam Bos." Menundukkan kepalanya sebagai rasa hormatnya pada si Bos.
Ezra turun dari mobil. Bimo melirik ke arah si Bos. Dan saat itu juga, jantungnya langsung copot dari tempatnya. Di dalam mobil itu ternyata ada Zahra yang terlihat seperti mayat hidup. Tak ada ekspresi di wajah wanita itu.
Zahra..! gumam Bimo. Tamatlah riwayatku.
Bimo sungguh ketakutan saat ini. Dia dalam bahaya. Pria itu bahkan kesusahan menelan ludahnya sendiri. Kerongkongannya terasa terbakar.
"Ayo!" Ezra mengulurkan tangannya kepada Zahra yang duduk mematung di dalam mobil itu. Wanita itu sama sekali tak mengindahkan perintah sang suami.
"Halwatuzahra, ayo turun!" Ezra mengulangi ucapannya. Tapi, wanita itu tetap tak mau turun.
"Bos, serahkan kepada saya." Ujar Bimo dengan penuh kehati-hatian.
__ADS_1
"Ya memang ini sudah tugasmu. Dan aku tunggu penjelasan darimu secepatnya." Ezra menunjuk Bimo dengan penuh kekesalan. Saking kesalnya, pria itu bicara sambil menggerakkan giginya.
Ya salam..... Tamatlah riwayatku. Bisa kena pecat aku nanti. Gumam Bimo, pria itu pun menggelengkan kuat kepalanya, dia tidak mau hal itu terjadi. Bimo menghela napas panjang dan masuk ke dalam mobil, dimana Zahra masih diam duduk mematung tanpa ekspresi.
"Ke mana saja kamu Ra? Abangmu ini sudah lelah mencarimu tadi, dua jam lebih Abang mondar-mandir, hilir mudik, berlalu lalang, seperti orang gila di area sekolah mencarimu." Bimo bicara dengan lembut dengan wajah memelas. Dia tahu, Zahra akan tergugah hatinya. Jika dia bicara menyedihkan seperti itu.
"Syukur kamu ditemukan di Bos. Sempat kamu hilang, bisa kena pecat Ibotomu ini Ra. Kalau ibotomu ini dipecat, tidak ada pekerjaan. Siapa yang akan menafkahi Ibu dan adik-adik Abang di kampung." Zahra langsung menoleh kearah Bimo dengan raut wajah penuh kesedihan. Kedua mata indah itu bahkan kini dibanjiri air mata.
"Maaf ibot!" Kedua bola matanya Bimo membelalak sempurna mendengar dua kata yang keluar dari mulutnya Zahra.
Koq malah minta maaf. Sungguh sangat jauh dari ekspektasi. Tadi dia mikirnya Zahra akan marah padanya.
"Iya, lain kali jangan main kabur ya?" Bimo malah mengikuti alur pembicaraan dari Zahra.
"Ayo kita masuk, kamu harus mandi. Kamu bau sekali Ra. Bau matahari, bau keringat lagi." Bimo tertawa kecil, dia tahu Zahra akan marah dengan ucapannya. Tapi nyatanya, Zahra tidak marah. Wanita itu malah tertawa tipis, yang membuat Bimo semakin bingung.
"Ya aku senang aja. Sepertinya sebentar lagi, akan ada yang bakal kena marah."
"Kamu mengolok abangmu ini Ra?" Bimo menggelengkan kuat kepalanya, heran dengan sikapnya Zahra hari ini. Tadi kan gadis itu terlihat begitu menyedihkan. Tapi, sekarang kenapa jadi menyebalkan.
"Eehhmmmm.. itu tidak akan terjadi. Abang punya trik, agar tidak kena SP." Bimo nyengir, suasana yang tadi menegangkan kini jadi ceriah.
"Gimana ceritanya kamu bisa bertemu dengan si Bos?" Bimo sungguh penasaran, kenapa malah si Ezra yang menemukan si Zahra.
Hhuuuhhhh...
Zahra membuang napas kasar.
__ADS_1
"Terkadang, ketika sedih, kita perlu menyendiri. Saat sedang menyendiri kita akan mampu berbicara dengan hati, mengetahui sebenarnya apa yang diinginkan dalam hidup ini. Aku merasa sedih pada diriku sendiri, kenapa banyak orang yang tak suka padaku. Hanya dengan melihat wajah ini, orang sepele.
"Rara, aku tak mengenalnya. Tapi, dia selalu membullyku. Tadi, teman baru di sekolah juga melakukan itu padaku. Kamu tahu gak ibot, kenapa mereka membullyku?" Zahra menatap serius kepada Bimo yang terlihat bingung itu. Pria itu mana tahu, alasannya Zahra dibully.
"Gak tahu ibot." Bimo menggeleng masih dengan ekspresi bingungnya.
"Gara-gara pria." Zahra tertawa dengan kencangnya, yang membuat Bimo semakin bingung.
"Rara benci padaku, karena pria yang disukainya, suka samaku. Si Liberti juga begitu. Ferdy yang jadi murid baru di sekolah itu tentu saja jadi pusat perhatian. Mana dia tampan dan kaya. Si Liberti merasa bersaing denganku."
"Ra, apa kamu dan si bocah tengil itu benar-benar ada hubungan?" Bimo yang kepo, memotong ceritanya si Rara.
"Iya Ibot, tapi sepertinya kami gak akan berjodoh."
"Ya memang kalian gak berjodoh. Kamu kan sudah menikah dengan si bos." Bimo memalingkan wajahnya sedetik dan mengerucutkan moncongnya. Dia heran dengan dirinya. Tadinya dia akan dukung Zahra dan si bocah tengil. Tapi, sekarang dia mendukung si bos dan Zahra.
"Entahlah.... kenapa malah berjodoh dengan si pak tua yang menyebalkan itu.
"Aku tu sebel sama si pak tua. Dia marah-marah gak jelas dan meluk aku erat banget tadi. Mana aku bau, kek Abang bilang." Ujar Zahra dan berdecak kesal. "Emang dia gak risih meluk cewek bau "
Bimo tertawa kecil, dia tahu kata-katanya terkesan kasar, masak mengatai orang bau. Bimo jadi semakin penasaran dengan cerita nya si Zahra.
"Aku tadi diculik orang suruhannya ayah si Ferdy. Orang kaya itu ingin, aku jangan Deket dengan putranya. Aku baru tahu, kalau Ferdy pindah sekolah ke kota ini, gara-gara aku deket dengannya saat di kampung." Kali ini Zahra bicara dengan ekspresi wajah sedihnya. Bimo pun jadi ikutan sedih.
"Setelah mereka puas membentak-bentak dan mengancam aku. Mereka menurunkan aku di jalan sepi, dekat jembatan. Mereka juga kasih aku uang pecahan seratus ribu, karena aku bilang, gak punya ongkos untuk pulang.
TBC
__ADS_1