
Puas saling curhat-curhatan antara ibu dan anak hingga pukul tiga sore. Zahra akhirnya mengajak sang ibu untuk jalan-jalan ke mall. Dia bidan juga di rumah itu. Anin awalnya tak setuju, takut Ezra menilainya buruk. Karena dianggap membuat anaknya jadi panjang kaki.
Dengan bujuk rayu serta wajah penuh harap, Zahra akhirnya berhasil merayu sang ibu, agar ikut dengannya cari hiburan, cuci mata ke mall. Sejak menikah dengan Ezra. Zahra baru satu kali jalan-jalan di mall. Tentu saja sebagai wanita yang masih terbilang remaja, rasa ingin main-main masih besar. Apalagi sejak dari kecil Zahra tak pernah main-main ke mall atau tempat wisata lainnya. Waktunya dihabiskan ke sawah, ke ladang dan ke pasar. Membantu orang tuanya cari uang.
"Janji ya sayang, kita gak boleh lama-lama di sana. Jangan sampai suamimu duluan pulang kerja dari pada kita." Ujar Anin memperingati Zahra dengan telunjuk nya. Kini mereka sedang berada di basment mall itu. Setelah dapat izin dari Ezra, ibu dan anak itu bergegas cepat menuju mall terbesar di kota M.
"Iya Mak, Zahra hanya mau main Street Basketball." Ucapnya dengan sangat antusias. Zahra memang suka main basket, volly bahkan sepak bola. Itu olah raga kesukaannya.
Raut wajah Anin mendadak kusut mendengar penuturan sang putri. Main basket, itukan artinya Zahra nanti akan loncat-loncat. Apa gak bahaya untuk kandungannya?
"Gak Boru, gak... Kamu gak boleh main permainan itu. Kamu lagi hamil sayang." Anin mengelus perut datarnya Zahra. Seketika Zahra berfikir. Dia sempat lupa, kalau ternyata dia sedang hamil.
"Eemmm... Iya ya, tapi itu menurut ku gak membahayakan loh Mak. Kemarin saja aku tuh terjun bebas melampaui kepalanya si Hubby. Kandunganku gak ada masalah mak."
"Iya itu suatu keberuntungan. Jadi jangan coba-coba lagi lakukan hal-hal aneh sayang. Main basket itu rentan terjatuh. Mak gak izinkan kamu main itu. Lebih baik kita pulang saja." Ujar Sang ibu dengan kesalnya.
Tadi putrinya itu pamit pada Ezra mau belanja di mall. Eehh... gak tahunya mau maen bola basket.
"Masak pulang sih Mak, kita jalan-jalan dulu lah. Cuci mata, lihat baju-baju keren, perhiasan mahal, tas, sepatu. Sekalian saja kita cuci mata, lihat cowok-cowok ganteng. Aku tuh kadang bosan lihat si pak tua terus. Pingin lihat yang lebih segar plus lebih cakep juga." Ujar Zahra bercanda yang ditanggapi sang ibu dengan serius.
"Zahra, bicara apa kamu. Jaga pandangan mata, ingat kamu sudah menikah. Kamu ini, makin aneh saja sekarang." Culas Anin, menghela napas berat, karena kesal dengan sikap sang putri yang terlihat tak bermoral itu. Masak bosan lihat suami sendiri. Coba bukan putrinya yang jadi saingannya, dia tak akan pernah lepaskan Ezra hingga tetes darah penghabisan. Dilihat dari segi mana pun Ezra itu masih muda dan segar.
Hehehehe...
"Iya Mak, iihh serius amat jadi ibu-ibu." Goda Zahra mentoel dagu sang ibu yang terlihat kesal itu. "Jangan pulang dulu dong Mak, seumur hidupku ini baru kedua kalinya aku ke mall loh Mak. Sewaktu kecil sih, Mak selalu ajak aku, kalau hari libur, ke sawah, sawah lagi dan gantian minggu berikutnya ke ladang." Ujar Zahra sok merajuk.
"Jadi ceritanya kamu nyesel jadi anak emak yang miskin ini?" Kini Anin yang tersinggung dengan ucapan nya Zahra dibuat sedih. Wajahnya terlihat berkabut.
Zahra menilik dalam sang ibu yang air mukanya murung itu, dia langsung memeluk sang ibu. "Ya Allah Mak, Zahra hanya bercanda. Zahra gak pernah menyesal lahir dari rahim ibu." Anin yang sensitif akhirnya menangis juga dalam pelukan Zahra. Tentu saja Zahra dibuat takut kena azab karena telah membuat sang ibu menangis. Sempat seorang ibu menangis karena ucapan sang anak, itu artinya anak itu adalah anak durhaka.
"Zahra minta maaf Mak, sungguh Zahra tak menyesal sedikit pun jadi anak umak. Tadi itu Zahra hanya bercanda. Bagaimana mungkin Zahra menyesal jadi anaknya umak. Zahra kini tumbuh jadi anak yang baik dan pinter. Itu karena siapa, ya karena didikan Mak." Ujar Zahra ikutan menangis, kenapa niat happy happy ke mall jadi menyedihkan begini sih?
"Iya Boru, Mak hanya teringat saja perjalanan hidup Mak yang tak pernah mulus." Anin melap air matanya yang telah membasahi pipinya dengan jemarinya. Wanita itu menghela napas dan mencoba untuk ceriah lagi, dengan berusaha tersenyum lebar menatap sang putri yang masih merasa bersalah itu.
" Ayo kita cuci mata...!" Anin turun dari dalam mobil dengan semangat. Yang diikuti oleh Zahra tak kalah semangatnya. Keduanya masuk ke dalam mall dengan bergandengan tangan. Wajah sumringah dengan gestur tubuh yang semangat. Mereka terlihat seperti kakak dan adek yang sedang cari hiburan di mall itu. Sedikit pun mereka tak terlihat seperti anak dan Ibu.
Ibu dan anak itu akan melepaskan setres mereka di mall itu. Tentunya dengan membeli beberapa barang yang mereka sukai dan incar. Berbelanja merupakan Retail therapy, yaitu suatu cara meredakan stres dengan berbelanja untuk merasakanĀ kegembiraan yang didapat dari membeli sesuatu untuk diri sendiri.
Zahra hanya membeli satu kemeja branded warna navy untuk sang suami. Dan baju daster lengan pendek motif kupu-kupu. Tentu saja dia membeli daster itu dengan promo diskon besar-besaran 70+20%. Ya namanya lama hidup susah, jadi sangat berat rasanya untuk memfoya-foyakan uang milik suami. Karena Zahra tahu, cari uang itu tak gampang. Lagian daster yang dibeli nya itu bahannya bagus dan nyaman dipakai.
__ADS_1
Zahra ingin sekali memakai daster, karena dia senang melihat ibu-ibu di kampung nya yang hamil mengenakan daster. Dia ingin seperti ibu-ibu di kampung nya berharap sang suami yang melihatnya jadi senang. Seperti dia yang senang melihat ibu-ibu pakai daster.
Dasar Zahra, pengalaman hidup jadi orang miskin, masih melekat kental dalam jati dirinya. Jadi, walau sudah jadi istri konglomerat. Kebiasaan jadi orang kampung masih tetap lestari.
Puas keliling Mall cuci mata, kini mereka berdua benar-benar lapar. Ibu dan anak itu masuk ke sebuah restoran mewah. Mereka akan memakan makanan yang ada kuah nya. Dan di restoran ini Ada makanan mie Jepang.
Restoran itu sangat ramai pengunjung padahal hari ini bukan hari libur dan jam makan siang telah lewat. Sekarang sudah pukul lima sore, harusnya sepi ya. Tapi, nyatanya ramai.
"Ra, kita ke tempat lain saja yuk sayang?" ujar Anin, melihat tak ada lagi tempat duduk yang kosong.
Kedua mata Zahra sibuk menyusuri setiap sudut restoran itu, mencari tempat kosong. "Mak, kita di sini saja, di sana ada kursi kosong. " Zahra menunjuk tempat kosong di pojokan restoran itu. "Ayo mak, sebelum ditempati orang lain. Zahra menarik cepat lengannya Anin, berjalan dengan terburu-buru menuju kursi yang kosong itu.
Bruggggkkh
Terjadi tumbukan antara Zahra dan seorang wanita saat Zahra hendak mendarat kan bokongnya di kursi itu. Ternyata wanita itu juga sedang mengincar tempat duduk itu.
"Hei..Ini tempat dudukku..!" ketus si wanita yang bertabrakan dengan Zahra. Zahra kini masih menunduk, dia yang seperti mengenal suara yang menegurnya, akhirnya menengadah kepalanya.
Kedua mata Zahra melotot sempurna melihat Rara tengah berdiri di hadapannya. Begitu juga dengan Rara, ia bahkan memundurkan langkahnya saking terkejutnya melihat Zahra terduduk di hadapannya. Tadinya dia tak mengenali Zahra, karena Zahra kini berhijab.
"Zahra, kamu..!" Rara yang syok, langsung mendorong Zahra kuat, saat Zahra bangkit dari duduknya. Perlakuan Rara yang spontan itu membuat Zahra terjatuh dengan tidak elegan,karena wanita itu menimpa kursi yang tadi sempat di dudukinya.
"Zahra sayang...!" Anin dengan cepat membantu Zahra untuk bangkit. Sungguh Anin, tak menyangka Rara akan berbuat seperti itu pada Zahra. Anin tak tahu, Zahra dan Rara musuh bebuyutan.
"Rara, apa yang kamu lakukan!" Teriak Amin, tak terima putrinya yang sedang hamil jadi terjatuh.
"Loe, Mak lampir... Kamu juga di sini? dia siapamu? ini adikmu..?" tanya Rara menunjuk Zahra yang kini sudah berdiri dengan wajahnya yang memerah karena emosi.
Zahra masih kesal pada Rara. Dapat perlakuan tidak baik hari ini, membuatnya emosi. Darahnya terasa mendidih melihat Rara yang ada di hadapannya yang sok hebat itu.
Sedangkan Rara saat ini syok, melihat Zahra di tempat itu. Dia tak ingin melihat wanita itu, Hatinya belum siap berurusan dengan Zahra. karena, gara-gara wanita itu dia tak mendapatkan hatinya Ferdy. Rara belum sepenuhnya menerima akan semua masalah yang menimpanya atas perbuatannya.
"Jaga mulut mu ini..!"
Plakkkk...
Satu tamparan keras mendarat cepat ke pipinya Rara. Zahra tak terima umaknya dikatakan Mak lampir.
Rara memegangi pipinya yang terasa panas. Seperti nya tamparan Zahra sangat kuat. Karena tubuhnya Rara sempat terhuyung saat Zahra menampar nya.
__ADS_1
Rara menegakkan tubuhnya. Tatapan matanya tajam siap menerkam. Tubuh nya kini bergetar hebat, karena emosi yang memuncak.
"Zahra, ayo kita pergi sayang..!" Anin sudah ketakutan ekspresi wajah Zahra dan Rara. Salah satu harus mengalah dan pergi dari tempat itu.
Anin beranggapan, Rara telah mengetahui bahwa Zahra kini sudah jadi ibu tirinya. Dan mungkin Rara tak menginginkan itu. Makanya Rara marah besar pada Zahra saat ini.
Zahra yang emosi tak mengindahkan ajakan pergi sang ibu. Sedangkan Rara yang ingin melampiaskan kekesalannya, harus menghajar habis-habisan Zahra saat ini. Karena belum tentu dia bisa bertemu lagi dengan Zahra.
Dia terbakar api amarah, mengambil ancang-ancang hendak menendang tulang keringnya Zahra. Karena saat ini dia memakai sepatu yang sangat runcing. Dia pun mencoba mengalihkan perhatian Zahra dengan menyepelekannya.
"Takut... Mau kabur? heee... Mak Lampir, cepat kamu pulang sana. Karena setelah hari ini, kamu tak akan bisa bersama ayah saya lagi. Saya akan bilang sama ayah untuk menceraikan mu!" Ujarnya pad Anin dengan menunjuk-nunjuk Anin dengan tak sopann nya. Sikap Rara itu membuat kewaspadaan Zahra terganggu. Kini dia fokus menatap sang ibu yang menunduk. Karena sebagian orang yang mendengar pertengkaran mereka sudah menonton mereka.
Saat itu juga Anin tersadar, bahwa Rara tidak tahu kalau dirinya sudah pisah dari Ezra dan kini menikah dengan Zahra.
Melihat Zahra lengah, Rara pun bersiap menendang Zahra. Tapi, tendangan kaki Rara berhasil dielakkan Zahra.
"Sialan...!" umpat Rara, koq bisa Zahra memundurkan kakinya dengan cepat sehingga dia hanya menendang angin.
"Ayo Ra, kita pergi." Anin menarik kuat tangan Zahra. Jangan sempat ada pertengkaran di tempat itu.
Zahra yang masih kesal itu, terpaksa mengikuti apa maunya sang ibu.
Baru dua langkah, hijabnya dari belakang di tarik kuat oleh Rara. Sehingga Zahra tak bisa melanjutkan langkahnya.
Dadanya kini bergemuruh hebat, karena emosi dengan sikap Rara. Tangannya yang digandeng sang ibu, dilepasnya, dan kini tangan itu mengepal kuat. Dia berbalik badan dan Rara melepaskan hijabnya dengan tatapan melecehkan.
"Rasakan ini..!" saat itu juga Zahra menendang kuat bagian perutnya Rara, hingga wanita itu terhempas sejauh satu meter mengenai meja tempat mereka ingin duduk tadi.
"Berani sekali kau mengancam hidupku lagi. Kalau kamu tak datang minta maaf padaku nanti malam, bersujud di hadapanku. Ku pastikan hidupmu menderita selamanya. Camkan... itu..!" ujar Zahra dengan tatapan penuh kebencian. Rasa kesal pada wanita itu yang sempat terpendam kini mencuat lagi.
Rara berusaha untuk bangkit dengan meringis kesakitan. Memegangi tepi meja sebagai tumpuan.
"Awas .. Minggir... ada apa ini?" Bimo yang baru datang dari toilet, berusaha menerobos keramaian. Begitu juga pihak security yang terlihat baru muncul.
"Bimo ..Bimo... Tolong.... Tangkap Dia..!' Rara menunjuk ke arah Zahra.
TBC
Likeš content vote rekomendasi dong.
__ADS_1