
"Selamat pagi Nyonya..!" para ART yang jumlahnya ada enam di bagian dapur memberi hormat pada Anindya, dengan menundukkan tubuhnya. Anindya jadi merasa tidak enak hati, seumur-umur baru kali ini dia merasakan dihormati seperti itu. Rasanya begitu mengeuforiakan, sangat gembira, sangat riang, merasa aman, puas, percaya diri, bebas setres dan merasa sejahtera. Ini adalah puncak paling membahagiakan dalam hidupnya. Menjadi nyonya besar di rumah konglomerat. Anindya, merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat ini. Ini pencapaian paling maksimal dalam hidupnya. Jadi istri konglomerat, tidak pernah melintas di pikirannya.
"Selamat pagi teman-temanku. Kalian apaan sih? biasa saja." Ucap Anindya ramah. Senyum manis, menghiasai wajah cantiknya pagi ini. Menghampiri para ART dan koki lainnya yang sibuk menyiapkan sarapan.
"Masak bubur? untuk siapa itu Lina?" tanya Anindya heran. Siapa yang ingin makan bubur pagi-pagi. Biasanya suaminya itu gak suka makan bubur.
"Untuk Non Rara, mau dibawa ke rumah sakit Nyonya." Jawab Lina sedikit heran, kenapa Anindya tidak tahu, kalau anak tirinya masuk rumah sakit.
Ya, Anindya baru satu bulan kerja, jadi koki di rumahnya Ezra. Sebelumnya dia kerja di restoran Hotel miliknya Ezra, sebagai koki juga. Dia juga belum pernah bertemu dengan Rara, putri satu-satunya Ezra.
"Rara sakit?" ucapnya lirih, kenapa suaminya itu tidak memberitahunya semalam. Ya, tadi malam Ezra buru-buru keluar rumah, setelah dapat panggilan telepon. Suaminya itu tidak mengatakan mau di pergi ke mana. Suaminya itu hanya berpesan lembut, tidak usah menunggunya. Dia yang baru jadi bagian dari hidupnya Ezra. Masih merasa sungkan, untuk banyak bertanya.
Anindya sedikit kecewa sih, karena panggilan telepon yang tak kunjung berhenti itu, akhirnya membuat malam pertama mereka break. Mana lagi seru-serunya, saling mencumbu lagi. Tapi, kekecewaannya ditutup oleh ucapan lembut sang suami. Yang mengatakan minta maaf, karena malam pertama mereka tertunda.
"Rara? Rara putrinya tuan?" ucapnya masih dengan ekspresi bingungnya.
Para pelayan pun terdiam, tidak mau membahas terlalu dalam tentang Rara. Karena ada mata-mata di rumah itu, para ART dilarang membahas anggota keluarga sang majikan.
Mengetahui kabar itu dari ART. Anindya merasa sedih, sepertinya sang suami belum terbuka padanya.
Anindya pun meninggalkan ruang dapur itu. Menyeret kakinya ke kamar mereka di lantai dua dengan perasaan tidak enak. Pernikahan mendadak ini memang membuatnya sedikit bingung dan merasa ada yang mengganjal di hatinya. Walau tadi pagi dia merasa sangat bahagia. Tapi, saat ini dia jadi sedih. Apalagi dia menikah belum mengabari keluarganya di kampung.
__ADS_1
Anindya yang sudah sampai di kamarnya. Mendudukkan bokongnya di kursi meja rias. Meraih ponsel yang ada di atas meja rias itu. Dia menekan layar ponsel yang masih terkunci itu, dan melihat ada panggilan telepon nomor asing sebanyak dua kali. Anindya yang penasaran, akhirnya melakukan panggilan balik. Tapi, nomor yang dihubunginya itu sudah tidak aktif lagi.
Wanita yang lagi resah itu, akhirnya menarik napas panjang berulang kali, guna menenangkan dirinya. Setelah meras tenang, dia pun mulai melakukan panggilan telepon kepada keluarganya di kampung. Yaitu menghubungi nomor ponsel sang putri dan sang ibu mertua. Tapi, kedua nomor yang dihubunginya itu tidak aktif.
"Ya Allah... kenapa nomor ponselnya Zahra, tidak bisa dihubungi." Anindya bermonolog, sangat mengkhawatirkan putrinya itu. Sudah hampir dua Minggu dia tidak mendengar suara sang putri. Sedangkan ibu mertuanya, masih bisa dihubunginya dua hari yang lalu.
Krekk...
Anindya terperanjat disaat mendengar suara pintu dibuka. Ponsel yang ada di tangannya hampir jatuh, saking kagetnya wanita itu.
"Abang....!" senyum manis pun menyambut sang suami yang terlihat letih berdiri di ambang pintu. Walau terlihat letih serta penampilan kusut. Pria itu masih berusaha membalas senyum manis sang isteri.
Anindya yang kikuk, menyalim tangan sang suami dan suaminya itu pun memeluknya serta mencium keningnya. Tentu saja, Anindya merasa senang. Wanita itu pun tersipu malu.
"Adek siapkan air hangat untuk Abang mandi ya?" melirik sang suami yang merangkulnya dengan tersipu malu. Ezra pun mengangguk dan tersenyum manis, merasa gemas dengan sang istri yang malu-malu itu. Pria itu pun Melepas rangkulannya pada sang istri. Anindya pun membantu sang suami membuka kancing kemejanya.
"Ehhmmmm... Sudah gak sabar ya? main buka segala." Goda Ezra, tersenyum menyeringai.
"Bu-kan, bukan begitu bang." Anindya gugup, semakin grogi dengan ucapan nakal sang suami. Sungguh dia tidak berfikir ke arah itu Dia memang beneran mau membantu sang suami melepaskan pakaiannya. Secara dia ingin jadi istri Solehah.
"Iya sayang, gak usah malu begitu. Lihatlah wajahmu itu merah sekali." Mentoel pipinya sang istri yang bersemu merah itu. "Abang bisa koq, seperti anak kecil saja. Mau mandi, bajunya dibukain." Menangkap tangan putih sang istri dan mengecupnya. Tentu saja perlakuan dan ucapan Ezra membuat jantung Anindya berdebar-debar, karena malu.
__ADS_1
"Oohh iya bang. Kalau begitu aku siapkan air mandinya abang." Melepas tangannya dari rengkuhan sang suami. Tersipu malu berjalan ke kamar mandi. Ezra pun menatap sang istri yang berlalu meninggalkannya ke kamar mandi dengan tertawa tipis.
Dia merasa bahagia sekali bisa menikah dengan Anindya. Wanita polos dan baik hati itu benar-benar menentramkan sedikit hatinya yang porak-poranda saat ini, karena ulah sang anak.
Rara mencoba bunuh diri dengan minum cairan pembersih lantai di kamar mandi kator polisi. Tempat dirinya ditahan dan diperiksa terkait kasus Narkoba yang menjeratnya. Semalaman ini Ezra sang ayah menemani putrinya itu di rumah sakit. Dia pun pulang pagi ini, setelah sang anak sadarkan diri.
Ras lelahnya hilang sudah, karena dapat sambutan dari istri tercinta. Anindya terlihat tulus padanya. Itulah yang membuatnya yakin, menikahi wanita itu. Karena, dia yakin istri barunya ini, bisa membimbing sang putri.
Anindya sudah selesai menyiapkan air hangat untuk mandi sang suami. Ezra pun masuk ke kamar mandi, sementara Anindya turun ke bawah menyiapkan sarapan untuk sang suami. Dia yang sudah punya kehidupan baru, akhirnya lupa untuk menghubungi kembali keluarganya di kampung.
Setelah selesai menyiapkan sarapan pagi, dengan perasaan senang. Wanita itu bergegas ke kamarnya. Dia akan mengajak sang suami sarapan. Tapi, sesampainya di kamar. Dia malah mendapati sang suami sudah tertidur pulas di atas ranjang dalam keadaan miring ke kanan.
Anindya tersenyum tipis melihat pemandangan baru di hadapannya. Ezra yang diumurnya sekarang terlihat begitu menawan. Seperti nya pria itu, semakin tua, semakin tampan saja.
TBC.
Hai readers sayang. Untuk novel ini aku akan adakan give away setiap minggunya.
Hadiahnya gak besar ya say. Hanya pulsa 10 ribu untuk readers yang paling banyak kasih hadiah setiap minggunya.
Doakan novel ini dapat cuan, nanti kita tambahkan lagi jumlah pemenang give away serta jumlah nominal hadiahnya.
__ADS_1
Cus beri dukungan yang banyak untuk novel ini.🙏❤️