AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Menangis terisak


__ADS_3

EEEUUMMm…


Zahra men—desa--h saat salah satu tangan Ezra mulai mer - emas gunung kembarnya yang padat dan kenyal itu, Menggigit pelan, menghisap pucuknya yang berwarna pink cream itu. Ezra begitu gemas dengan gunung kembar milik sang istri. Ukurannya pas di tangannya, ditambah pucuknya masih kecil, jadi pria itu harus kerja keras, untuk membuat pucuk gunung kembar itu membesar.


“Aaahhh…  Itu sangat sakitt..!” Rintih Zahra saat tangan Ezra terlalu dalam mer  -emas dan menggigit gemas gunung kembarnya Zahra.


“Maaf istriku.” Jawab Ezra dengan suara rendah dan serak, pria itu terlalu antusias saat ini.


Wajah  cantiknya Zara seketika merona dikala mendengar sang suami memanggilnya istri. Benarkah dia akan jadi istri sah pria itu. Baik di mata agama dan hukum? Sepertinya tidak, dia hanya akan jadi simpanan, wanita yang akan dicari disaat sang suami jenuh degan istri sah di rumahnya.


Ezra kembali menghisap gunung kembar yang hangat dan kenyal itu, Sungguh panasnya permainan mereka, mengalahkan cuaca dingin malam ini. Bahkan suara petir yang bergemuruh tidak membuat keduanya terganggu dalam permainan panas ini. Zahra yang polos begitu penasaran dengan rasa geli nikmat yang diberikan sang suami.  Pada setiap inchi tubuhnya. Sedangkan Ezra begitu semangat ingin merasakan belah duren. Dia sudah lebih dari lima tahun tak melakukan hubungan badan. Tentu malam ini dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Mana Zahra terlihat ingin juga. Dia bersorak riang dalam hati. Akhirnya Zahra mau juga disentuh. Walau istrinya itu masih terlihat kaku karena malu.


“Abang…!” suara men--desa h-nya Zahra, membuat Ezra tak tahan lagi. Apalagi istri kecilnya itu memanggilnya abang. Tidak dengan sebutan pak tua lagi. Tentu itu tanda  lampu hijau, untuk tahap lebih intim lagi.


Ezra merebahkan tubuh mulusnya sang istri di lantai gubuk papan itu, yang hanya beralaskan tikar anyaman pandan. Rasanya Ezra tak tega,melakukan malam pertama mereka di sebuah gubuk. Harusnya mereka melakukannya di ruangan yang romantis, wangi dan di atas ranjang empuk. Seperti permintaan istrinya tadi. Tapi, nyatanya mereka harus melakukan malam pertama di sebuah gubuk, dengan beralaskan permadani dari tikar anyaman pandan yang keras itu. Sungguh malam pertama yang jauh dari ekspektasi.


Zahra hanya bisa mengikuti apa yang diinginkan oleh sang suami. Karena dia tak mau kena kutuk malaikat, apabila dia kembali menolak sang suami menyentuhnya. Ezra tersenyum bahagia, menatap wajah merona sang istri di bawah kungkungan tubuhnya. Pria yang gemes sekali pada Zahra itu pun kembali mel--- umat bibir kenyal dan manis sang istri, menegakkan tubuhnya bertumpu pada lutut, melepas semua pakaian bagian atasnya yang ia pakai sekarang. Zahra hanya bisa terpana melihat tubuh sang suami yang kekar itu. Walau cahaya lampu temaram, tapi tubuh sixpack sang suami masih terlihat jelas.  Zahra yang tersulut bir -- ahinya, sangat mengangumi setiap jengkal tubuh Ezra yang terpahat sempurna. Suaminya itu tak terlihat seperti pria yang sudah punya anak gadis.


Tangan Zahra tanpa sadar menyentuh dada Ezra lalu turun dengan perlahan ke bawah, menyentuh kotak-kotak yang tercetak sempurna. Mengagumi setiap inchi dari tubuh kekar, disaat pria itu kembali mengungkungnya. Ezra tersenyum bahagia saat melihat ekspresi yang Ditampilkan Zahra. Tidak sia-sia ia selalu olah raga .

__ADS_1


“ Adek suka tubuh Abang?’ Tanya Ezra dengan suara seraknya. Suara khas orang menahan bira--hi. Zahra mengangguk malu.


“Ini semua hanya akan jadi milikmu sayang.” Ujar Ezra, mengecup lembut bibir sang istri, hidung, pipi dan dahi dengan penuh rasa cinta berbalut birahi yang membara.


“Eeuuummm Aahhhh….”


Wanita itu kembali mend  esah, saat Ezra kembali membuat tanda di sekitar lehernya Zahra. ******* itu membuat bir--ahi Ezra tersulut. Tangannya dengan cepat menarik sarung yang menutupi bagian inti sang istri. Melemparkan kuat sarung itu ke sembarang tempat. Dan saat itu juga, Ezra meraba meraba bagian intinya Zahra, ternyata milik istrinya itu sudah basah. Ezra tersenyum kecil. Seketika pipi Zahra memerah, malu. Wanita itu sangat malu. Aset berharga yang selalu ditutup rapat itu, kini terpampang sudah.  Zahra dengan pelan menggerakkan pahanya yang terluka, menutupi bagiannya yang sempat dijamah oleh sang suami. Tapi, sepasang tangan menahan paha itu.


“Jangan sayang, tidak untuk kali ini. Please…. Jangan menolak. Abang akan mengabulkan semua permintaanmu. Jangan malu, tubuhmu ini sangat indah, jadi jangan malu.” Ujar Ezra tepat berada di depan gua kenikmatan itu. Walau cahaya di gubuk itu kecil. Cahaya dari kilat yang tak ada hentinya itu membias ke dalam gubuk. Sehingga tubuhnya zahra memantulkan cahaya yang sangat indah dan memesona.


Ezra berani bersumpah, jika tubuh Zahra adalah tubuh yang paling indah yang pernah ia lihat selama hidupnya. Bahkan tubuhnya Rani sang mantan istri, yang perawatannya puluhan juta tiap bulannya, tak ada apa-apanya. zahra begitu alami, eksotik, menarik dan membuat Ezra sampai mengeluarkan air liur  melihatnya. Dia benar-benar terhipnotis.


Tubuh Zahra menggelinjang hebat, disaat lidah dan bibir sang suami sudah bermain di gua kenikmatan itu. Zahra sebenarnya malu, dia tidak menyangka Ezra berlama-lama bermain di area sensitif sentuhan itu.


“A---bang…. Enak banget!’ ucap Zahra polos, ya wanita itu merasakan geli nikmat yang tak berkesudahan di saat lidah dan bibirnya Ezra bermain di kli—t0r—isnya.  Ucapan sang istri membuat rudalnya ingin masuk ke sarang yang sedang ditelusurinya saat ini. Ezra sangat suka berlama-lama di gua kenikmatan yang kenyal lembut dan sedikit basah itu. Bulu-bulu hitam yang baru tumbuh di di area sensitif membuat


Ezra begitu menyukainya.


Ezra sudah tidak bisa menahan gairah yang sangat bergejolak itu. Pria itu lalu memposisikan dirinya di tengah-tengah paha sang istri. Milik Ezra sudah sangat tegang di balik cel--ana yang dikenakannya. Pria itu butuh pelepasan, dengan buru-buru dirinya membuka resleting celananya itu. Sontak Zahra dibuat ketakutan melihat milik sang suami. Ini kedua kalinya dia melihat benda itu, setelah yang pertama di kamar hotel.

__ADS_1


Namun saat Ezra akan menurunkan cela--nanya. Tiba-tiba Zahra terisak dan menangis kencang yang membuat Ezra bingung dan panik.


“Sayang, ada apa? Kenapa malah menangis?’” tanya Ezra cemas mendekati dan mengungkung Zahra lagi, ia mengusap puncak kepala sang istri lembut. Tapi, Zahra tidak menjawab dan terus menangis, itu membuat Ezra semakin bingung. Kenapa, tiba-tiba istrinya itu menangis, padahal ia merasa tidak melakukannya dengan kasar dari tadi.


“Halwa, lihat aku!” Kali ini Ezra sedikit tegas, Zahra yang sedikit takut dengan intonasi yang berbeda dengan yang tadi perlahan menatap Ezra yang berada di atasnya sesekali terisak.


“Sayang, kamu takut padaku?” kali ini, Ezra bicara lembut dan penuh dengan wajah bersalahnya.


Zahra menggeleng pelan, lalu memalingkan wajahnya.


“Apa abang menyakitimu?’ Tanya Ezra lagi. Dan lagi-lagi Zahra hanya menggeleng sebagai jawaban.


“Lalu ada apa, kenapa kamu tiba-tiba menangis sayang?” Zahra menjawab dan hanya memalingkan wajahnya kembali dengan sesekali terisak.


Otak Ezra yang jenius langsung berpikir dan menerka-nerka mencari jawaban mengapa gadisnya ini tiba-tiba menangis. Matanya meilik -gerik Zahra. Sebuah pemikiran asumsi terlintas di otaknya bahwa ini memang karenanya. Sepertinya zahra teringat kejadian di hotel waktu itu.


TBC.


__ADS_1


__ADS_2