
Bimo terhenyak mendengar ucapan Zahra. Pria itu menunduk sepersekian detik, seolah nampak berfikir. Kemudian Bimo melempar pandangannya kembali kepada Zahra dan sang nenek secara bergantian dengan tatapan serius serta memperingati.
"Membalas dendam justru dapat membuat rasa marah semakin mendalam. Alih-alih dapat menyembuhkan dari rasa sakit dan melanjutkan hidup, justru balas dendam hanya akan membuat hidup tidak bahagia Zahra." Zahra terdiam, saat beradu pandang dengan pria yang kini menasehatinya itu. Ucapan Bimo mengena di relung hatinya Zahra. Karena, sejatinya dia bukanlah seorang pendendam. Tapi, sikap Rara padanya sudah sangat keterlaluan, melewati batas. Gara-gara kebrutalan sikap Rara, dia jadi kena fitnah dan di keluarkan dari sekolah.
"Itu karena bukan Ibot yang mengalaminya. Bicara itu gampang, melaksanakannya yang susah." Zahra langsung memutus tatapannya dari tatapan Bimo. Dia menarik napas berat. Rasanya sangat sesak, mengingat-ingat kejadian di kampung. Rumah di demons, dihakimi. Itu rasanya sangat menyakitkan.
"Mau balas dendam pada suami sendiri Gunanya apa buatmu Zahra?"
"Dia bukan suamiku."
"Zahra, tidak boleh bicara seperti itu." Sang nenek memang tidak tahu, kalau Zahra ada niat balas dendam pada Ezra. Dengan mau menerima pria itu jadi suaminya. Nenek beranggapan sikap kasarnya Zahra pada sang suami. Karena, Zahra tidak suka saja, karena menikah dalam keadaan terpaksa.
"Nenek... Mau sampai kapan kita hidup di bawah kendali Rara dan ayahnya itu. Dan aku gak mau jadi istri simpanan." Jelas Zahra yang membuat Nek Ifah dan Bimo kembali terdiam, emang ada wanita yang ikhlas jadi wanita simpanan?
"Kamu mau balas dendam kan?" Zahra mengangguk, yang membuat sang nenek tidak percaya dengan jawaban Zahra.
"Hilangkan niat itu. Mungkin balas dendam akan menenangkan hatimu, merasa puas. Tapi Zahra, membalas dendam justru dapat membuat rasa marah semakin mendalam. Pikiranmu akan terus dihantui oleh Rara. Kamu pasti tidak akan tenang nantinya." Bimo tak bisa memberi nasehat dengan cara yang lembut pada Zahra yang masih labil itu.
"Jangan ada niat seperti itu. Kalau Bos hancur, perusahaan bangkrut. Berapa banyak manusia yang akan jadi pengangguran. Apa kamu tega melakukan itu? Ok, bisa saja doa-doamu makbul, karena saat ini, kamu merasa sebagai korban, orang yang dizholimi. Apa kamu akan merasa bahagia, atas perbuatan mu itu? apa kamu tidak memikirkan efek dari ucapan dan niat jahat itu Zahra? itu sama saja kamu seperti Rara. Kamu tak ada bedanya dengan Rara. Punya hati busuk juga."
Ucapan Bimo terasa menyayat hati. Pedas dan membuat nyeri. Mulai dari nenek dan Bimo yang sudah dianggapnya sebagai saudara. Tidak setuju dengan niatnya balas dendam untuk menghancurkan Ezra. Walau sebenarnya, itu masih hanya niat. Belum tentu dia akan sanggup melakukannya. Karena dia sejatinya bukanlah wanita yang punya hati yang kotor.
"Hilangkan niat jahat itu dari hatimu Ra. Ikhlas dan sabarlah atas apa yang menimpamu. Dua hari ini Abang gak ada di rumah ini. Pak Udin, yang akan mengurus segala sesuatu yang kamu perlukan dan nenek. Dan besok kamu sudah masuk sekolah, diantar supir." Bimo pun langsung beranjak dari duduknya. Meninggalkan Zahra yang terbengong dengan sedihnya bersama sang nenek.
"Nek, apa yang harus kita lakukan?" Zahra langsung memeluk sang nenek dengan eratnya. kedua matanya nampak berkaca-kaca. Hatinya bimbang kini. Niat balas dendam pada Ezra sudah abu-abu.
"Kita jalani saja sayang dengan sebaiknya kehidupan ini. Kita ikuti alurnya." Ucap Nenek lirih.
"Nek, aku gak mau jadi istri simpanan."
__ADS_1
"Lah tadi pagi katanya mau jadi istri simpanan. Mau hancurkan Nak Ezra, dengan mengganggu istri sahnya." Hida sang nenek mengurai pelukan mereka. Sang nenek gak mau larut memikirkan hal itu. Makanya dia mengembalikan lagi, perkataan Zahra tadi pagi.
"Apaan sih Nek? koq malah ngeledek aku." Zahra melap air matanya dengan jemarinya yang tadi sempat jatuh membasahi pipinya. Tertawa tipis, karena merasa lucu dengan ucapan sang nenek. Zahra merasa lucu dengan dirinya yang sempat berniat jahat untuk menghancurkan Ezra. Tanpa dia mengukur kemampuan sendiri. Apa bisa dia menghancurkan Ezra.
"Apa yang dikatakan Nak Bimo itu benar sayang. Nenek juga merasa bahwa Nak Ezra itu tidaklah jahat. Kita harus percaya pada penjelasan nak Bimo tadi. Yang mengatakan Nak Ezra dijebak, dan untungnya satu kamar denganmu."
"Untung? untung apaan nek? siapa yang untung?" Tanya Zahra kesal kepada sang nenek. Berdecak kesal dan memalingkan wajahnya dari tatapan sang nenek yang meledek.
"Ya kamulah yang untung. Punya suami kaya. Samlai seratus keturunan pun kita gak akan pernah bisa tinggal di rumah seperti ini Ra." Ucap nenek datar.
"Nenek matre, iihh... Zahra koq baru sadar ya punya nenek matre." Zahra mendengus kesal pada sang nenek.
Sang nenek tertawa kecil. "Capek ahh, hidup miskin." Nenek melirik-lirik Zahra dengan ekspresi wajah nya menahan tawa.
"Dasar nenek matre!" ledek Zahra, mereka merasa lucu dengan ucapan mereka sendiri. Dan keduanya pun tertawa lepas, meluapkan kesedihan yang amat sakit yang mereka rasakan setahun terakhir ini. Apalagi sejak Anindya sang ibu merantau ke kota. Nek Ifah dan Zahra, adalah satu tim kerja yang kuat. Yang saling dukung, dalam situasi apapun.
"Nek, kalau Ibot Bimo datang lagi ke sini. Aku akan minta padanya cari umak di kota ini." Zahra dan sang nenek saling menggenggam tangan berhadapan dan saling menguatkan.
❤️❤️❤️
"Adek kenapa?" Ezra memperhatikan lekat wajah sang istri yang pucat pasi itu, wajahnya cantik istrinya itu seperti tidak dialiri darah saja. bukan hanya pucat, tapi wajah istrinya itu mengeluarkan bintik-bintik air dari pori-porinya hampir sebesar jagung. Tentu saja Ezra dibuat panik dan sangat khawatir melihat keadaan sang istri.
"Gak apa-apa bang." Jawab Anin sang istri dengan canggungnya. Karena, belum terbiasa dengan sentuhan sang suami. Jelas lah Anindya merasa canggung, Karena mereka baru saja menikah, dimana sebelumnya, hubungan mereka tidaklah dekat.
"Gak apa-apa gimana? tangan adek juga dingin." Pria itu terlihat sangat mengkhawatirkan sang istri. Dengan lembut, pria itu melap buliran keringat dingin yang mengucur dari pori-pori wajah wanita itu." Tangan adek juga dingin. Kamu kenapa sayang?" Ezra meremas lembut tangan sang istri yang juga berkeringat dan dingin. Kembali menempelkan punggung tangannya di dahi sang istri yang lembab.
Anindya yang canggung hanya bisa menunduk sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Kini wanita itu merasa nyeri di ulu hati dan dadanya.
"Sepertinya adek masuk angin Bang. Adek tidak terbiasa kena AC." Ucapnya lembut, ekapi wajah menahan kesakitan tak bisa disembunyikan wanita itu.
__ADS_1
Tentu saja magh nya kambuh. Dokter sudah memperingatinya, agar jangan telat makan. Dan siang tadi, karena insiden Rara yang marah di rumah sakit. Anindya jadi melupakan makan siangnya.
"Pak kita putar balik ke rumah sakit!" titah Esra pada sang supir dengan tegasnya.
"Gak usah Bang, tadi adek sudah berobat. I--ni, ini obatku bang." Anindya dengan cepat merogoh tasnya, menyodorkannya pada Ezra.
Ezra meraih kantongan yang berisi beberapa strip obat itu dari tangan sang isteri. Membaca satu persatu komposisi di dalam obat itu.
"Koq bisa juru masak kena magh." Ucapnya sedih, meraih sang istri kepelukannya. Sikap perhatian dan penuh kasih sayangnya Ezra. Membuat Anin, begitu terharu. Dia tidak menyangka suaminya itu begitu sayang padanya.
sandaran tangan kursi jok mobil, sebenarnya membuat tidak nyaman saat dipeluk Ezra. Tapi, Anin gak mempermasalahkannya. Di dekap penuh kasih, membuat suasana hatinya sedikit membaik.
Sesampainya di rumah. Ezra menyuapi Anindya makan di dalam kamar mereka. Tepat nya di sebuah meja yang didesain khusus untuk tempat makan atau bersantai di kamar itu. Anindya begitu terharu mendapatkan perhatian yang begitu besar dari sang suami. Apalagi Ezra menyuapinya dengan sabarnya.
"Gimana keadaan adek? apa sudah baikan?" tanya Ezra setelah memberikan obat pada Anin. Walau Melati tadi merasa tidak selera makan. Tapi, karena disuapin Ezra. Makanan nya pun ludes juga. Tentu saja, Ezra juga ikut makan.
"Iya Bang," jawabnya dengan malu, karena merasa enggan pada Ezra yang begitu baik padanya. "Maaf ya Bang, sudah membuat Abang khawatir." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Anindya begitu terharu, dengan Esra yang terlihat begitu mengkhawatirkannya. Anindya jadi merasa begitu disayang.
"Koq malah nangis dek." Ezra jadi tidak tega melihat Anindya yang terlihat sedih itu
Cuppp..
Satu kecupan pun mendarat di kening sang isteri. Anindya tersipu malu. Dia jadi merasa sehat bugar.
"Kita baru menikah, tapi baru hari ini bisa tidur seranjang." Ezra membaringkan tubuh sang istri yang kaku di atas ranjang. Kini otaknya Anindya sedang traveling. Ini moment yang ditunggu oleh pengantin baru.
Huuffttt....
"Rasanya sangat lelah sayang." Meraih Anindya kepelukannya. Mengelus lembut lengan sang istri dan menciumi gemes keningnya Anindya. Yang membuat darah Anindya rasanya membeku, padahal dia dalam pelukan hangat sang suami.
__ADS_1
TBC.
Like, coment vote say.❤️🙂