
“Cepat lakukan seperti yang ku perintahkan di chat yang ku kirim. Dan selamat menikmati menonton videonya, sebelum nama baikmu tercemar.. HAHAHAHA..!” panggilan dari orang misterius itu pun terputus. Ezra tercengang dengan mulutnya yang terlihat terbuka. Tanpa menunggu lama, dia pun membuka pesan yang dimaksud sipenelpon. Sontak, kedua bola mata Ezra membelalak menonton video itu dan jantungnya terasa copot, saking terkejutnya
pria itunmelihat video dirinya bersama seorang wanita yang bagian wajahnya diblur.
Menonton video itu membuat pikiran Ezra pun kini terfokus, mengingat kejadian yang seperti mimpi buatnya, saat menginap di Hotel dua hari yang lalu. Ternyata itu bukan mimpi, tapi nyata. Ezra yang terkejut itu, kini terlihat was-was. Dia berulang kali mengusap wajahnya kasar dan berjalan ke arah balkon, Dia sampai melupakan sang istri yang masih terbaring menatapnya bingung dan heran.
Sesampainya di balkon, Ezra menghela napas kasar. Mengepal kuat tangannya dan meninju pagar teralis balkon rumahnya. Siapa yang berani menerornya. Mengancam akan menyebarkan video dirinya yang tak sopan, apabila dia tidak mengindahkan permintaan si peneror, yaitu minta tebusan uang 300 juta rupiah.
“Brengsek..! jangan main-main dengan saya.” Umpat Ezra kesal bukan main. Dia pun kembali membuka kontak yang menerornya. Ingin melakukan panggilan. Tapi, saat hendak menelpon nomor yang memerasnya. Tiba-tiba saja nomor asing menelponnya. Tentu saja Ezra yang masih kesal dan geram itu, buru-buru mengangkatnya, dia beranggapan yang menelponnya kembali adalah nomor lain si pemeras.
“Assalamualaikum …!” ternyata yang menelpon Ezra adalah seorang wanita yang nada bicaranya sopan dan ramah.
“Walaikum salam..!” jawab Ezra ramah, kini pandangan pria itu jauh lurus ke depan. Sedangkan sang istri sekarang berada tak jauh di belakangnya. Tak berani buka suara, karena dilihatnya sang suami sangat serius.
“Apa ini benar dengan PAK Ezra Assegaf?”
“Iya, saya Ezra.” Jawabnya dengan perasaan tak karuan, siapa lagi yang menelponnya ini. Tak mungkin seorang pemeras.
“Maaf Pak, jikalau saya mengganggu. Ini saya Ibu Rose Sirait. Mantan Wali kelasnya putri Bapak, si Rara,” Kali ini suara ibu Rose terdengar ragu, terbukti wanita itu menjeda ucapannya seperkian detik. “Rara, putri bapak, telah melakukan suatu perbuatan tak terpuji, perbuatan keji sekali. Sehingga seorang murid kami kena imbasnya. Apa bisa bapak datang ke kota ini, mohon bapak bantu menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi, terkait,” lagi-lagi ibu Rose merasa enggan untuk mengatakan apa yang ingin diucapkannya. “Terkait video bapak dengan salah satu murid kami itu.”
Duar….
__ADS_1
Bagai disambar petir di siang bolong, ucapan sang wali kelas Bu Rose, sukses membuat Ezra syok. Dia belum bisa menyimpulkan dengan baik, apa yang diucapkan Bu Rose, tpi dia sudah sangat panik.
“Maksudnya gimana ya Bu Rose, tolong dijelaskan lebih detail.” Ucap Ezra dengan tidak tenangnya.
“ Begini pak, Rara telah menjebak salah seorang siswi kami. Dan hasil dari jebakannya itu, berupa video tak pantas.”
“APA….?” Ezra yang terkejut bicara sangat keras. Sungguh dia tidak menyangka akan jadi korban dari putrinya sendiri. Sungguh putrinya itu sudah jauh diluar jangkauan.
“Iya Pak, akibat dari video itu, saat ini gadis itu sudah dikeroyok massa dan akan diusir dari kampung. Kasihan pak, mana anak itu yatim
dan ibunya sedang tidak bersamanya.”
“Wajah? Maksud bapak apa? Wajah di video?” tanya Bu Rose dengan bingungnya. Video yang beredar di group sekolahnya Zahra, adalah video dimana wajah si pelakon pria di blur.
“Oohh, salah maksudku, apa pria dalam video itu adalah siswa orang ibu juga” tanya Ezra dengan perasaan yang berdebar karena takut dan malu. Mau ditaruh di mana wajah tampannya itu, jikalau dia terlihat jelas di video
itu.
“Itu dia masalahnya Pak. Video yang tersebar, wajah sang pria tidak jelas.” Ezra langsung mengelus dadanya dengan legah. Harga dirinya
selamat juga.
__ADS_1
“Kami ingin kerja sama dari bapak.”
“Kerja sama seperti apa bu?”
“Tolong hadirkan Rara ke sini. Kami perlu klarifikasi
darinya.”
Ezra kembali mengusap wajahnya kasar. Sungguh masalah tak henti-hentinya dibuat sang putri. Dan mana mungkin dia membawa Rara ke sana. Putrinya itu sedang dalam penanganan medis, terkait percobaan bunuh diri.
“Pak, pak Ezra… Tolong ya pak, kasihan gadis yang jadi korban keusilannya Rara.” Suara Bu Rose terdengar memelas.
“Baiklah, kami akan ke sana.” Ezra berbalik dengan jantung yang hendak copot dari tempatnya, begitu terkejut mendapati sang istri memanggil namanya.
TBC.
Like, Coment dan vote.
Hari ini, hari terakhir pengumpulan hadiahnya untuk author say. 3 peringkat teratas akan
mendapatkan pulsa 10 rb. 🤭 Jangan lihat nominalnya yang sedikit. Tapi, lihatlah ketulusan author
__ADS_1