AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Balas dendam


__ADS_3

"Wajahmu bahkan mirip dengan istri Bos dek. Mirip kalipun, apalagi bibir dan bentuk dagunya." Ujar Bimo, masih memperhatikan wajah cantiknya Zahra dengan seksama.


"Ibot, orang ke empat yang mengatakan aku mirip seseorang. Huuuffftt....!" Zahra menghela napas panjang dan membuangnya berat. Dia pun bangkit dari duduknya. Rasanya gak nyaman banget dapat gelar istri simpanan. Kini Zahra berdiri di hadapan Bimo dan sang nenek.


"Nak Bimo, seandainya Nenek tahu Nak Ezra yang ada di video itu. Nenek tidak akan mau mengizinkan Ezra menikahi Rara." Ujar nenek sedih. Wajah keriputnya terlihat penuh dengan kekecewaan.


."Nek, Zahra. Bos tidak ada niat melakukan seperti itu. Dari yang saya tahu ini. Ya karena aku juga yang sedang tangani, kasus pemerasan yang dilakukan temannya Rara kepada Bos." Zahra kembali duduk di bangku kayu, ditempat semula. Dia penasaran juga. Kenapa temannya Rara, peras Pak tua alias Ezra


" Meras? siapa yang diperas nak Bimo?" si Nenek malah lebih kepo.


"Bos diperas Nek. Diperas temannya Non Rara." Menatap lagi secara bergantian Zahra dan sang nenek. Entah mengapa Bimo jadi merasa sangat dekat dengan Zahra dan nek Ifah, seperti keluarga sendiri.


"Hari itu, pak Ezra dan asisten Dika ke kampungnya orang Nenek. Tepatnya menghadiri panggilan orang tua, kasusnya non Rara. Sekalian malamnya ada pertemuan bisnisnya Bos di sana. Setelah selesai pertemuan itu, Bos dan teman bisnisnya masih santai di restoran hotel. Gak tahunya Bos dijebak. Diberi obat perangsang ke minuman Bos. Ternyata minuman itu juga beralkohol."


"Tapi kan Rara juga di hotel itu." tanya Zahra dengan penasarannya. Ayah dan anak berada di hotel yang sama. Tentu mereka lah yang membuat rencana penjebakan untuk Zahra juga.


"Itu Abang gak tahu. Dari ceritanya Dika. Ada yang ingin jebak Bos. Mungkin itu salah satu wanita yang lagi ngejar-ngejar Bos, atau mantan rekan bisnis Bo yang tidak suka kepada Bos. Saat Dika mencicipi minuman yang disajikan dia tahu ada yang tidak beres. Dika Bergerak cepat. Pamit dari pertemuan itu, dan membawa Bos ke kamarnya. Sebelum Dika gak sadar diri juga karena minuman itu, dia dengan cepat menyembunyikan si Bos yang sudah terangsang itu ke kamarnya. Setelah dia sukses mengamankan si Bos di kamar hotel itu. Dia pun mengunci kamar itu dari luar."


"Dan sialnya aku ada di kamar itu, dalam pengaruh obat anjing juga." Zahra memotong cepat ucapan Bimo dengan kesalnya.


"Tapi, kenapa jadi ke kamar ku Pak Tua itu masuk?" cecar Zahra dengan kesal dan penuh penasaran pada Bimo yang terlihat bingung.


"Kenapa ya? mene ketehe Ra. Itu karena kamu jodohnya Bos kali. Coba bayangkan jika yang masuk bukan Bos. Tapi, pria lain. Bisa hancur bener hidupmu Ra." Jelas Bimo dengan seriusnya.

__ADS_1


Zahra bergidik ngeri, dia bahkan kesusahan menelan ludahnya saat itu. Coba yang ada di kamar itu bukan Ezra. Tapi, kumpulan beberapa pria.


"Ya Allah.. Ibot, aku sungguh bingung. Yang jebak aku Rara. Tapi, kenapa jadi pak tua yang masuk ke kamar itu?" Rara semakin setres memikirkannya. Wajahya berkerut delapan.


"Kurang tahu juga kenapa jadi kami dan si Bos berada dalam satu kamar. Tapi, dari interogasiku pada temannya Rara. Malam itu, sepertinya Bos salah masuk kamar. Harusnya dia masuk ke kamar 116. Tapi, masuk ke kamarmu nomor 119. Saat itu katanya angka sembilannya berbalik gitu. Dan kamar itu kuncinya ada di luar." Jelas Bimo, dia kurang yakin juga, Karena saat itu dia gak ada di lokasi. Yang bersama Ezra saat itu Dika. Dika juga dalam pengaruh alkohol saat itu. Jadi semuanya pada kurang jelas mengingat semua kejadian.


"Harusnya ditanyain Rara Bot."


"Rara sedang dirawat di rumah sakit." Jelas Bimo.


"Mampus... Sakit apa dia?" Zahra kepo, tidak sabar menunggu jawaban dari Bimo.


"Rara setres, dia mencoba bunuh diri. Minum cairan pembersih lantai, saat di kantor polisi."


"Masih."


"Syukurlah, itu artinya Allah masih beri dia waktu untuk taubat." Timpal sang nenek dengan sedihnya. Dia bisa merasakan beban yang dirasakan Ezra. Orang tua pasti setres punya anak yang tak bisa diatur.


"Syukur kalau tobat Nek. Takutnya gak tobat-tobat Nek." Celutuk Zahra dengan kesalnya. Bagaimana pun dia benci sekali pada anak itu.


Gara-gara anak serres itu, dia kena fitnah di kampung. Terpaksa menikah dengan Pak Tua. Pupus sudah harapannya dekat dengan Ferdy. Mana mungkin Ferdy mau padanya lagi. Dia sudah jadi istri orang. Kalau pun dia cerai dan jadi janda. Bersama dengan Ferdy sudah sangat mustahil.


Tak bisa meraih cinta yang diinginkan. Setidaknya harta harus dikumpulkan.

__ADS_1


"Bot, ajari aku semua mengenai perusahaan tambang emas itu " Menatap serius Bimo yang kini juga terkejut mendengar ucapannya.


"Hah... katanya tadi mau cerai. Gak suka dengan Pak tua. Gak mau jadi istri simpanan." Goda Bimo dengan gaya sok polosnya.


Zahra mendengus kesal. "Iihh... apaan sih Bot. Karena kelakuan Rara, aku rugi besar Ibot. Nama baikku hancur. Dan sekarang aku jadi istri simpanan pak tua. Cintaku kandas sudah. Kalau aku minta cerai, yang ada aku dan nenek akan jadi gembel. Kata nenek kita harus bisa bersandiwara di dunia ini."


"Jangan mainkan perasaan Bos ya Zahra." tegas Bimo dengan telunjuknya. Mulai curiga dengan Zahra.


"Mainkan perasaan? maksud ibot apa sih?" Zahra membuang pandangannya dari tatapan tajamnya Bimo.


"Kamu sudah anggap saya ini ibotomu kan?" Zahra menganggukkan kepalanya.


"Jangan buat malu ibotomu ini, bisa ku nilai dari pembicaraan kita tadi, sepertinya kamu itu ingin hancurkan Bos Ezra. Saya gak mau itu terjadi. Bos Ezra itu pria baik, sangat baik. Bahkan dia mau mempertanggung jawabkan kekhilafannya padamu. Kalau dia bukan pria baik, untuk apa dia repot-repot datang ke kampung hanya karena dapat telepon dari wali kelasmu Bu Rose dan mau menikahimu. Agar selamat dari germo yang akan jadi suamimu malam itu." Jelas Bimo dengan tegas.


Zahra dan sang nenek terdiam mendengar ucapan Ezra. Ya benar juga yang dikatakan Bimo. Tapi, kan diawal Zahra sudah salah tanggap. Karena dia memang korbannya Ezra dan Rara. Mana tahu dia kalau sebenarnya Ezra dan Rara tidak merencanakan perbuatan keji itu.


"Camkan ucapanku ibot, kalau kamu ada niat buruk pada Bos. Iboto mu ini yang akan kamu Lawan." Ucapan tegas dan lantangnya Bimo membuat hatinya Zahra sedih.


"Bot, aku gak inginkan ini semua. Ini semua gara-gara Rara. Dia yang telah membuat hidupku hancur. Salah jika aku ingin balas dendam? aku gak pernah bermimpi jadi istri simpanan seperti ini. Menikah tanpa diketahui oleh orang tuaku. Aku dan sang nenek harus meninggalkan rumah kami. Walau itu gubuk, aku lebih bahagia tinggal di sana. Dan gara-gara masalah besar itu. Hapeku hilang, hape nenek juga hilang. Aku kehilangan kontak ibu. Apa salahku? kenapa Rara ingin hancurkan hidupku?"


Zahra gak bisa lagi memendam rasa kesal kecewa di hatinya. Rasanya hidup tak adil padanya. Kenapa si Rara harus pindah ke sekolah mereka? sebelum kehadiran Rara di sekolah mereka, hidupnya baik-baik saja. Walau dia harus ikut banting tulang, membantu nenek cari uang. Untuk bayar hutang ayahnya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2