
Dringgg...Dringg..... Drinnggg....
Suara bel pulang pun berbunyi. Para siswa pun berhamburan keluar kelas, setelah berdoa pulang dan menyalim tangan guru.
"Fer, tunggu sebentar ya. Aku ke toilet dulu."
Ujar Zahra ramah dengan senyum tipisnya, yang membuat hati Ferdy senang dihadiahi senyuman. Pria itu pun mengangguk dengan senyum yang tak kalah manisnya. Zahra yang kebelet, Berlari kecil menuju toilet.
Ferdy menatap punggung Zahra sampai menghilang dari pandangannya. Kemudian pria itu memilih duduk di bangku taman dibawah jambu air di depan kelasnya, memperhatikan para siswa yang semangat dan senang pulang sekolah. Ya kebanyakan siswa seperti itu, sangat ingin cepat datang ke sekolah. Tapi, sesampainya di sekolah sangat ingin cepat pulang dan sangat excited menunggu moment-moment hari libur.
Ferdy senang sekali, akhirnya dia bisa bersama lagi dengan wanita yang dicintainya itu. Sungguh tak disangka, mereka malah satu sekolah. Apakah ini yang dinamakan jodoh? sesaat Ferdy senyam-senyum karena memikirkan hal itu. Tapi, senyum bahagia itu, seketika sirnah disaat dia mengingat ultimatum dari orang tuanya.
Saat istirahat kedua, Zahra dan Ferdy sempat ngobrol sebentar. Tapi, belum semua kesalah pahaman diantara mereka tuntas. Waktu untuk masuk kelas pun kembali tiba. Jadi, mereka memutuskan membicarakan semuanya setelah pulang sekolah dan Zahra akan meminta Ferdy menemaninya juga ke grapary. Zahra akan mengaktifkan nomor ponselnya yang hilang.
"Tolong..... Tolong..... ada keributan di toilet perempuan....!" teriak seorang siswi yang berlari kencang menuju ruang guru.
Para siswa/i yang masih ada dipekarangan sekolah berhambur ke tempat yang disebutkan salah satu siswi itu, semuanya begitu penasaran, termasuk Ferdy.
"Astaga Bulshit.....!" pekik Ferdy kesal, dia yakin. Zahra telah dikeroyok di toilet. Karena wanita yang dicintainya itu tadi sempat diancam siswi yang bernama Liberti.
Ferdy berlari kencang ke toilet wanita itu dengan perasaan yang tidak tenang. Benar saja, saat sampai di tempat itu. Kedua bola matanya Ferdy membelalak melihat adegan menegangkan di hadapannya. Zahra sedang bertempur dengan lima cewek sekaligus. Tentu saja kelima cewek itu sudah babak belur ditangan Zahra. Bahkan cewek yang bernama Liberti yang dari tadi pagi, selalu nantangin Zahra sudah K.O. Terkulai lemas, dengan wajah babak belur dan tangan sudah terkilir.
"Zahra...!" teriak Ferdy, berlari menghampiri wanita yang sangat dicintainya itu. "Kamu gak apa-apa kan?" memperhatikan keadaan Zahra dari kepala sampai ujung kaki. Ferdy begitu mengkhawatirkan wanita itu.
__ADS_1
Zahra yang yang kelelahan, hanya mengangguk lemah menanggapi pertanyaan Ferdy. Wajah wanita itu kini merah padam, karena berusaha merendam emosinya. Hari ini adalah puncak dari permasalahan yang menimpanya yang datang secara bertubi-tubi. Dia sedang berada dibatas ambang. Dan geng dari liberty yang jadi korban pelampiasan kekesalan dan kekecewaannya selama ini.
"Astaghfirullah... Apa... ada apa ini?" teriak Pak Rizal, wali kelas mereka. Pria paruh baya yang ouni wajah macho itu, heran, seheran-herannya melihat enam siswinya sudah terkapar dan luka-luka, terutama dibagian wajah.
"Pak, kami dihajar oleh siswi baru itu." Ujar siswi yang bernama Fera dengan kesalnya, menunjuk ke arah Zahra yang kini berada dalam rangkulan Ferdy. Ferdy sengaja merangkul Zahra. Karena, baju yang dikenakan Zahra koyak tepat di bagian punggung. Bahkan satu kancing bajunya Zahra lepas. Syukur Ferdy membawa Jaket yang bisa menutupi tubuh Zahra yang terekspos.
"Zahra.,.!" pak Rizal menatap tajam Zahra yang kini sedang menunduk.
"Pak Rizal kita selesaikan di ruang kesiswaan saja." Tawar guru lainnya.
Pak Rizal mendengus kesal. Kecewa pada siswanya kali ini.
Semua korban dari Zahra, dievakuasi ke ruang kesiswaan. Bahkan ada siswa yang tak bisa berjalan lagi.
"Zahra, coba jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Pak Rizal lembut menatap Zahra yang dari tadi hanya menunduk. Pak Rizal tidak boleh terpancing, dia harus bisa sabar, karena siswi yang dihadapinya sama-sama keras.
"Zahra..!" Pak Rizal kembali memanggil nama Zahra, karena anak itu tidak menanggapi ucapan sang wali kelas.
"Zahra...!"
"Pak, saya hanya membela diri. Saya dikeroyok secara membabi buta." Ucap Zahra dengan ekspresi wajah yang jujur. Bahkan kini dia berani menatap kedua matanya Pak Rizal.
"Pak, dia bohong. Mana mungkin kami melakukan itu." Liberti yang sedang diobati sudut bibirnya meringis kesakitan. Tapi, masih tetap berusaha membela diri.
__ADS_1
"Iya pak, iya pak, kami tidak salah, Anak baru itu yang salah pak." Siswi yang lain memprovokasi.
"Aku tak mau banyak cerita pak. Silahkan periksa CCTV, kalau ada CCTV di area toilet." Ucapan Zahra membuat semuanya terhenyak. "Kalau tetap saya disalahkan, dan tidak dapat keadilan di dunia ini. Saya hanya bisa pasrah, dan berdoa semoga orang yang mendzolimi saya dapat hukuman yang setimpal." Tegas Zahra dengan mata yang berkabut.
Tiba-tiba saja Zahra jadi melankolis, dia emosional. Kenapa dia selalu jadi korban Bullyan. Apa salahnya? dia tak pernah meremehkan orang. Dia selalu ramah dan bersikap baik pada orang. Tapi, lihatlah dia selalu ingin ditindas, orang sepele padanya. Sampai kapan dia akan diam, dia tidak mau diam lagi. Dia harus melawan.
"Mau ke mana kamu?" cegah Pak BK, saat Zahra beranjak dari duduknya.
"Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu Zahra." Ujar Pak BK. "Kamu tak boleh pergi dari tempat ini, sebelum orang tuamu atau wali mu datang ke sekolah." Jelas Pak BK lagi.
"Aku gak bisa menghadirkan orang tuaku. Hari ini, aku mau mencari orang tuaku. Tapi, ke enam wanita ini menggangguku." Zahra tidak bisa lagi membendung rasa sedih di hatinya. Dadanya terasa sesak sekali. Air mata yang terus mendesak keluar, akhirnya tumpah juga membasahi pipinya yang kini masih merah padam, karena emosi.
Dia berencana akan ke grafary bersama Ferdy. Ferdy juga berjanji akan membantunya mencari ibunya.
"Pak Rizal, hubungi wali murid dari Zahra. Walinya harus bertanggung jawab atas kekerasan ini. Anak-anak ini harus dibawa ke rumah sakit. Dan ke dukun patah." Jelas Pak BK, kesal bukan main. Masalah banyak sekali hari ini, sehingga Pak BK jenuh.
"Iya Pak, tanganku patah ini pak. Sakit pak, sakit...!" aduh Liberty dengan berurai air mata.
"Sekali lagi kau macam-macam padaku, ku masukkan kau ke kuburan!" ancam Zahra, yang membuat semua orang di ruangan itu melogok.
"Pak Rizal, cepat hubungi Pak Ezra!"
TBC
__ADS_1