
Video perkelahian antara Ezra dan Ferdy yang sempat tersebar dengan cepat dihapus dari media sosial oleh Bimo. Tapi, penghapusan video itu tidak menjamin, adegan kekerasan itu benar-benar lenyap. Pasti sudah ada beberapa akun yang sudah menyimpan video itu. Apalagi videonya banyak tersebar di group WA.
"Bagaimana keadaan anak ingusan itu?" tanya Ezra dengan raut wajah masih kesal. Kini pria yang masih dibakar api cemburu itu terlihat duduk dengan gagahnya di kursi kerjanya. Dia sungguh sangat menyayangkan kejadian itu. Dia sudah berusaha untuk sabar dan tak terpancing. Tapi, Ferdy selalu ngegas.
"Tulang dadanya retak Bos. Syukurlah, hanya retak." Sahut Bimo dengan sopannya. "Bos Kren banget!" ucapnya dengan antusias.
Ezra menilik heran Bimo yang menurutnya bicara ngaur itu. "Apa maksudmu Bimo?"
Bimo mengacungkan dua jempolnya. "Seandainya Ferdy bukan seorang siswa, aku tak rela video itu dihapus bos." Ucapnya dengan penuh ketakjuban. Bos nya itu kren sekali.
"Itu video kekerasan Bim. Kita bukan orang yang suka dengan kekerasan." Sahut Ezra kesal. Dia bangkit dari duduknya dengan berdecak kesal. Semoga lawan bisnisnya tak memanfaatkan kejadian yang salah ini. Pria yang lagi tak tenang itu, kini berbaring di sebuah sofa, yang ada di ruang kerjanya itu
"Setelah Zahra selesai ujian Nasional. Aku ingin mengadakan resepsi pernikahan secara besar-besaran." Ujarnya.
Bimo yang seneng mendengar ucapan sang bos, langsung mendudukkan bokong nya di sofa yang ada di hadapannya Ezra.
"Itu bagus bos. Biar kerjaanku juga jadi berkurang." Ujarnya dengan wajah legahnya.
Kening Ezra merengut mendengar ucapan Bimo. Pria yang lagi galau itu menoleh heran kepada Bimo. "Maksudnya?" tanya Bimo heran.
"Ya, kalau bos sudah melepas status duda. Maka aku tak perlu lagi mengurusi wanita-wanita yang heboh ingin deketin bos." Ujarnya cengir. Ezra menghela napas mendengar ucapan Bimo.
Huuuffttt..
Resiko orang tajir dan good looking
__ADS_1
"Kau ini, apa seberat itu tugas yang kau emban, untuk menghalau cewek-cewek itu?" tanya Ezra tak percaya dengan keluhannya Bimo.
Hehehehe...
"Aku lebih senang dikasih kerjaan mengurus perusahaan, daripada berurusan dengan cewek ulet keket bos. Muak.... Mual!" ketus Bimo, bergidik ngeri, dia teringat kejadian saat menghadapi cewek-cewek tak tahu malu.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu terdengar tak sabaran. Bimo yang masih ingin bicara banyak pada Ezra, akhirnya mengurungkan niatnya itu Dia bergegas membuka pintu ruangan itu.
"Ra, kamu?" ujarnya tercengang melihat raut wajahnya Zahra yang sedih.
Bahkan setelah sampai di rumah, Ezra juga tak mau membalas kemarahan sang istri. Dia memilih masuk ke ruang kerjanya dan membiarkan sang istri menangis.
Harusnya Ezra yang marah kepada istrinya itu. Karena, Zahra sebagai seorang istri, terlihat tak menjaga kehormatannya. Dia kenapa malah sampai dipeluk seorang pria yang bukan muhrimnya.
"Bim, aku ingin bicara berdua dengan suamiku!" ujar Zahra dengan tegas. Tatapan matanya lurus ke arah Ezra.
Bimo yang kini ada di ambang pintu. Dengan cepat meninggalkan tempat itu. Setelah kepergian Bimo, Zahra berjalan pelan menghampiri sang suami dengan muka penuh rasa bersalah.
"Maaf...!" ujarnya kini masih berdiri di hadapan Ezra, yang mendongak menatap sang istri yang terlihat sedang berusaha membuang egonya.
__ADS_1
Mendengar kata maaf keluar dari mulut sang isteri, membuat hati Ezra yang panas kini jadi sejuk adem ayem. Dia tidak menyangka Zahra akan meminta maaf padanya. Padahal tadi istrinya itu sangat marah padanya.
Senyum manis kini tercetak jelas, di wajah tampan nya. Tangannya yang kokoh terjulur meraih tangan sang istri. Menarik kuat tangan itu, hingga Zahra kini ambruk di pangkuannya.
"Cium!" titah Ezra dengan tegas.
Kening Zahra mengerut, bibirnya moyong mendengar ucapan mesum sang suami. Apa minta cium, pertanda masalah sudah selesai. Zahra tadi curhat pada sang ibu. Dan ibunya menyalahkannya seratus persen. Dan ibunya meminta dia harus meminta maaf pada Ezra. Apalagi Ezra dari tadi diam membisu. Biasanya orang yang diam membisu, menandakan suatu kekecewaan.
"Cium di sini!" Ezra kini mempertegas, apa yang diinginkannya. Pria itu menunjuk bibirnya yang terlihat memang menggoda di penglihatan Zahra saat ini.
"Aku kesini mau minta maaf." Ujarnya dengan lemah, terlihat sedikit takut dengan sikapnya Ezra yang membuatnya bingung. Dia baru tahu, suaminya itu kalau kecewa, akan mendiamkannya.
"Apa adek merasa melakukan kesalahan, sehingga adek datang minta maaf?" Zahra dengan cepat menganggukkan kepalanya.
"Istriku gemesin banget. Hubby kecewa pada adik, karena terlihat begitu mengkhawatirkannya. Rasanya hati ini tercabik-cabik, sakit sekali. Sebegitu besar adek mencintainya." Ujar Ezra kini membelai wajah Zahra yang dilanda rasa bersalah itu.
TBC.
Kantuk banget say. Dukung novel ini, agar author semangat up.
Yang dapat give away pulsa 20 ribu
๐R 23
๐Little fairy
__ADS_1
Chat me, dan berikan no hapenya ya say ๐