
"Mau apa dia bertemu denganku? kemarin aku sudah bilang dia yang harus datang menemui ku untuk meminta maaf. Kenapa harus aku yang menemuinya? aku gak mau menemuinya. Dia jahat padaku. Hatiku gak seluas samudera dan dadaku gak selapang lapangan sepak bola untuk memaafkannya saat ini." Ujar Zahra dengan wajah masamnya. Dia tak mau membohongi hatinya. Dia memang benci Rara.
"Oohh begitu ceritanya. Ya sudah kita pulang. Jangan ngambek terus dong. Hubby gak mau anak Hubby nantinya tukang ngambek, tukang marah-marah, tukang nangis... Eemmmm tukang apa lagi ya?" Ezra mentoel hidungnya Zahra yang kembang kempis karena emosi itu.
Zahra melirik Ezra dengan ekor matanya dengan wajah bete bercampur kesalnya. Kenapa suaminya itu malah ngebanyol. Mana cengir lagi kayak kuda.
"Kalau Rara yang mesti menghadap ke istriku ini. Menyembahnya dan memohon ampun, Hubby dukung." Ezra mengacungkan dua jempol pada Zahra yang kini dibuat bingung. Koq suaminya menuruti kemauannya. Kenapa dia gak dipaksa untuk menemui Rara?
"Jangan menangis ya sayang?! wanita yang lagi hamil gak boleh sedih. Karena, apabila seorang ibu hamil sedih. Maka perkembangan anak dalam kandungan bisa terganggu. Anak ini harapan Hubby. Kamu itu hadiah paling berharga yang diberikan Allah untuk Hubby. Hubby sayang sekali samamu. Cinta, cinta..... banget...!" Ujar Ezra penuh semangat, bahkan tangan nya ikut bergerak menjabarkan seberapa besar cintanya pada Zahra. Tentu saja kelakuan Ezra terlihat lucu dan sangat lebay seperti anak TK yang diminta sang guru bercerita di dekat kelas.
"Bohong!" Zahra memalingkan wajahnya cepat. Dia tak bisa menutupi dirinya yang ingin tertawa karena kelakuan sang suami. Entahlah Zahra merasa aneh dengan dirinya. Suasana hatinya cepat sekali berubah ubah.
__ADS_1
"Eemmm.... Dibilang bohong lagi! Mau bukti seperti apa lagi sayang? kamu minta mahar satu perusahaan tambang emas, Hubby berikan. Kamu minta Hubby bungkusin makanan untukmu, di depan para karyawan, Hubby lakukan. Kamu gak berjumpa dengan Rara, Hubby setuju. Di mana lagi letak ketidakpercayaan itu istriku? please..... Jangan bilang kamu masih tetap ingin jumpa dengan Ferdy. Itu tak akan Hubby kabulkan." Tegas Ezra dengan telunjuknya.
"Bilang cinta, tapi Hubby nutupi prihal Rara padaku. Aku tu kesel banget sama dia. Dia itu jahat banget samaku, dia selalu membuat hidupku tak tenang saat sekolah di kampung." Ujar Zahra dengan berderai air mata.
"Tak perlu kita bahas Rara. Dia tak ada hubungannya dengan pernikahan kita. Dia bukan darah dagingku. Jadi kenapa kamu mesti repot mikirkan dia." Ezra sungguh tak mengerti dengan jalan pikiran sang istri. "Hubby jelas perduli padanya. Karena dia telah hancur sekali. Tak mungkin Hubby mengabaikan nya begitu saja, disaat Hubby tahu tentang siapa dia sebenarnya. Dari kecil Hubby bersamanya Wa " Meraih jemari Zahra yang ada di atas pahanya, berharap Zahra tak usah mempermasalahkan Rara.
"Kalau mesti dia yang datang untuk meminta maaf padamu. Besok dia sudah bisa pulang. Besok dia akan tinggal di rumah kita."
"Gak, gak.. Aku gak mau dia ada di rumah. Darahku masih mendidih jika mengingatnya, apalagi jika harus satu rumah dengannya. Bilang sama dia, aku sudah memaafkannya. Dan jangan pernah dia mengusik hidupku. Aku tahu betul bagaimana orang seperti dia. Dia tak akan pernah sadar. Jangan-jangan dia ingin minta maaf, karena merasa sudah kalah denganku. Hubby gak tahu gimana sombong nya dia mengancamku saat di mall. Dia mengatakan akan meminta Hubby menceraikanku. Karena, Hubby sayang banhet padanya. Iya memang , Hubby kan sayang banget sama dia. Buktinya, walau Hubby tahu dia bukan darah daging Hubby. Tapi, Hubby tetap ingin menganggapnya sebagai anak sendiri." Ujar Zahra panjang lebar tanpa jeda. Ezra sampai lupa bernapas melihat sang istri mengoceh panjang seperti rel kereta api.
"Jangan menangis lagi ya sayang? jangan minta ketemu mantan lagi ya? minta yang lain saja, misal belikan ice cream di negara Papua. Eemmm... Minta Hubby masak gitu?" Ezra terlihat berfikir menyebutkan ngidam sang istri.
__ADS_1
"Jauh amat beli Ice cream ke Papua?" culas Zahra kesal, suaminya asal ngomong.
"Itukan misal, contoh. Ya adek bisa ngidam aneh-aneh lainnya. Tapi, please.,. jangan ngidam ketemu mantan dong? sesak tahu, disini itu nyut... nyut....!" Ezra menepuk -nepuk dadanya sembari mengusap-usapnya kasar. Sungguh dia masih kesal dengan Ferdy.
"Aku mau makan mie ayam." Ujar Zahra, kini wajahnya sudah terlihat serius.
"Woke...! itu mah gampang. Let's gooooooo...!" teriak Ezra meraih wajah sang istri cepat dan mencium kening sang istri. "Gitu dong sayang, ngidamnya yang gampang." Ujarnya semangat, mulai menyalakan kontak mobil nya
"Mie ayam, tapi daging ayamnya harus bagian paha dan mesti paha sebelah kanan, terus penjual mie ayamnya harus pakai kumis dan jambang, yang mirip Refal Hady." Ujar Zahra penuh penghayatan. Kini wajahnya nampak semangat mengatakan hal yang membuat hatinya senang itu
"Apa...? mie ayam daging nya harus paha sebelah kanan, dan yang jual harus pakai kumis dan jambang yang mirip Refal Hady? si Refal Hady itu siapa?" tanya Ezra dengan bingungnya. Kenapa ngidam mie ayamnya ribet banget. Pusing dah si Hubby dibuatnya. Kalau daging mie ayam, ya bercampur semua. Mana ada mie ayam, pakai daging paha sebelah kanan doang. Kecuali dimasak khusus.
__ADS_1
"Bussyeet... Nyesel aku...!" Ezra menepuk kuat jidatnya. Menyayangkan dirinya yang menawarkan ngidam lainnnya pada Zahra.
TBC