
"Hubby jahat, jahat....!"
Ezra menangkap kedua tangannya Zahra.
Mencium lembut tangan sang istri dengan penuh penghayatan. Yang membuat Zahra merinding. Apalagi tatapan matanya Ezra sangat menghanyutkan.
"Maaf ya istriku.!" ucap pria itu lembut, entah bagaimana ceritanya Zahra sudah dalam gendongan suaminya itu. Wanita itu digendong ala bridal style menuju lantai dua, tempat kamar mereka berada. Setiap kaki melangkah menapaki marmer mengkilap rumah itu. Mata Ezra tak pernah lepas dari wajah cantiknya Zahra. Yang membuat wanita itu tersipu malu. Zahra pun akhirnya memutus kontak matanya dari sang suami. Dia gak tahan dengan tatapan mata mendamba itu.
"Gak kangen sama Hubby?"
Pertanyaan bodoh apa itu? Zahra yang sudah didudukkan Ezra di atas ranjang. Menatap Ezra dengan cemberut.
Ya jelas kangen lah. Kangen banget. Rintih Zahra dalam hati.
"Hubby yang gak kangen samaku. Hubby asyik liburan. Tapi, gak pernah menghubungiku?"
Hua....
Zahra kembali menangis, entah kenapa dia jadi moody an sekarang. Jadi gampang sedih dan menangis. Apalagi membahas mengenai sang suami.
Ezra bersorak riang dalam hati. Ternyata siasat yang disusun Bimo, sukses membuat istrinya itu memikirkannya. Walau dengan sangat berat dia menjalani hari-hari di Negara Australia tanpa komunikasi dengan istri yang membuat nya gila itu.
"Liburan? siapa yang liburan sayang? hubby kesana kerja. Fokus kerja, gak mau mikirin apa pun sebelum semuanya selesai." Ujar Ezra lembut, menatap lekat sang istri. Walau dia tak komunikasi dengan sang istri. Bimo selalu memberi kabar tentang Zahra, bahkan Bimo secara diam-diam menvideo Zahra, baik sedang belajar, makan atau bercerita dengan ibunya. Dan video itu dikirimkannya pada sang bos.
Zahra kembali membuang muka. "Selama di sana, Hubby berarti gak pernah mikirkan aku. Padahal aku di sini setiap detik, menit memikirkan Hubby." Ujar Zahra kesal, siapa juga yang gak kesal, mengetahui kita gak pernah diingat.
Huuffttt...
Ezra membaringkan tubuhnya di ranjang itu, setelah menghela napas berat. Zahra dibuat heran, koq sampai menghela napas seperti orang frustasi.
Zahra akhirnya memutar lehernya, agar bisa menatap sang suami yang terlihat sedih itu. Mengetahui sang istri meliriknya. Ezra tersenyum dan....
Grappp
Satu gerakan, Ezra berhasil menarik Zahra dan ambruk di atas tubuhnya. Zahra yang terkejut menopang tubuhnya di dada sang suami dengan salah satu tangannya. Keduanya kembali bersitatap.
__ADS_1
"Hubby jelas merindukanmu sayang. Sangat rindu..!" ujar Ezra dengan mata berkaca-kaca. Malah perasaan rindu memenuhi hatinya itu semakin membuncah setelah bertemu dengan sang istri.
Selama berada di negara hewan kanguru itu. Ezra tidak pernah melawan rindunya pada sang istri. Pria itu berusaha untuk menikmatinya. Ingin dia mengatakan rasa rindu itu. Tapi, dia sedang mengikuti usul dari Bimo. Lagian, kalau dia berkomunikasi dengan Zahra dia takut, Zahra marah -marah lagi padanya. Ezra tak mau mereka bertengkar di telepon, yang akhirnya bisa merusak moodnya saat bekerja. Seumpama Zahra tidak marah-marah. Dia juga akan semakin rindu dan ingin pulang jikalau terus berkomunikasi dengan istrinya itu.
Akhirnya Ezra meredam rindu yang bersarang di hatinya dengan berdoa dan meminta pada Allah untuk mengelola rindunya. Ehh.... Dia tak menyangka dapat sambutan yang begitu hangat dan hebohnya dari sang istri. Mana istri nya jungkir balik di belakang tubuhnya, karena saking semangatnya Zahra melompat ke arah Ezra.
"Kalau rindu, kenapa gak nelpon?" ujar Zahra memukul manja tangan sang istri. Ezra menangkap tangan itu dengan dan mencium tangan nakal itu.
"Hubbby takut dimarahi!" ujar Ezra dengan tersenyum tipis.
"Iih.... Aku gak segalak itu!" Zahra berontak dari rangkulan sang suami. Kini wanita itu sudah didekap kuat Ezra. Dia sangat rindu istrinya itu.
"Gak galak?"
"Iya!" Zahra masih berontak kecil dalam pelukan sang suami.
"Ini apa namanya, dari tadi pukul-pukul Hubby. Maksa dilepas lagi. Katanya rindu, sampai jungkring kebelakang. Kalau bener rindu Cium dong...!"
Ezra melonggarkan belitan tangannya di punggung sang istri. Sehingga Zahra bisa menatap bebas wajah tampan nya Ezra.
"Gak mau, kenapa tadi gak nangkap adek?" Zahra pura-pura merajuk, padahal dia pengen juga mencium bibir sang suami yang terlihat menggoda itu.
Pasangan kekasih yang sedang dilanda kerinduan, biasanya akan diliputi dengan pertengkaran hebat saat bertemu, seperti kasusnya pasangan Ezra dan Zahra.
Zahra yang juga sangat merindukan sang suami, akhirnya pasrah saja disaat bibir lembutnya Ezra mulai melahap bibirnya. Bahkan dia membalas ciuman itu dengan sangat menggebu-gebu. Dia seperti tak terkontrol lagi. Menindih tubuh sang suami dengan liarnya. Yang membuat Ezra begitu senang dan sangat bersemangat. Sungguh Zahra bisa memenuhi semua fantasinya tentang nafkah bathin itu.
Kenikmatan surga duniawi pun diraih keduanya dengan durasi waktu 35 menit saja. Mungkin karena keduanya sudah sama-sama panas. Sehingga keduanya tak sabar untuk melakukan penyatuan.
***
Satu ronde acara mantap-mantap selesai menjelang sholat magrib. Keduanya merasa bahagia sekali. Hingga saat ini pasangan itu tak henti-hentinya senyam-senyum sendiri. Mereka mengingat nikmat nya penyatuan setelah terjadi kesalahpahaman.
"Pakai ini saja sayang!" Ezra memberikan satu paper bag warna pink kepada Zahra. Dengan tersenyum Zahra menerimanya, memeriksa paper bag itu, ternyata satu set gamis dengan hijabnya.
"Ya ampyun ini gamis bagus banget sayang!" ujar Zahra dengan senyum merekah nya. Zahra sudah ikut-ikutan lebay memanggil Ezra sayang-sayangan.
__ADS_1
Gamis berbahan premium model belah warna mint itu, terlihat sangat anggun dikenakan oleh Zahra. Cutingan gamisnya benar-benar bagus.
"Eemm... Hubby merasa bersyukur sekali bisa menikah denganmu Wa. Rasanya Hubby seperti terlahir kembali." Memeluk sang istri dari belakang. Setelah pria itu selesai membatu sang istri memakai gamis itu. Gamis itu Zipper belakang. Jadi diperlukan bantuan Ezra untuk merest gamis itu.
Zahra jadi gugup saat ini. Dia merasa susah bernapas, karena pelukan Ezra yang hangat membuatnya merinding. Apalagi suami itu terus saja mengendus ceruk lehernya.
"Apalagi setelah adek berhijab. Hadeuuhh.... Hubby merasa seperti punya bidadari "
"Ihhh... Sudah deh, Hubbby tu ngengombal mulu." Zahra melepaskan belitan tangan Ezra di pinggangnya. Dia memakai hijab syar i dua layer itu. Dan berjalan cepat ke meja rias. Kalau terus-terusan mendengar rayuan sang suami. Bisa batal mereka makan malam romantis malam ini. Karena, pasti ujung-ujungnya jadi mantap-mantap lagi. Kalau mereka terus saja saling menggesek.
"Eemmmm.... Hubby bicara sungguhan gak gombal." Ujar Ezra, ikut merapikan penampilan nya di depan cermin. Lagi-lagi Zahra terpana melihat pantulan sang suami yang paripurna itu di cermin.
Dia jadi merasa wanita yang paling beruntung saat ini. Punya suami yang nyaris sempurna.
"Iya hubby." Bangkit dari duduknya. Berbalik badan dan langsung memeluk Ezra. Sikap Zahra yang terlihat menyayanginya membuat Ezra semakin bahagia. Pria itu pun menghadiahi kecupan lembut dan penuh penghayatan di kening sang istri. Tentu saja, senyum manis tak pernah lepas dari wajahnya Zahra.
"Eemmm.... Habis makan malam kita langsung pulang kan By?" tanya Zahra, menatap sang suami yang kini terlihat sibuk dengan ponselnya.
Ezra menoleh kepada sang istri. "Iya sayang, hanya makan malam." Ujar Ezra merangkum wajah Zahra yang sangat cantik. Dia heran juga, koq Zahra cantik sekali. Biasanya kan cewek Batak, kecantikannya biasa saja. Hanya saja kelebihan cewek Batak itu, sangat setia dan pekerja keras.
"Iya By, besok aku kan ujian nasional." Ujar Zahra tersipu malu, suaminya itu menatapnya tak berkedip.
"Ya Allah Wa, kenapa kamu cantik sekali.!" puji Ezra tanpa sadar.
"Dasar ya Hubby, matanya pasti melotot karena cewek cantik." Zahra mulai sedikit, apa karena cantik saja, suaminya itu cinta padanya.
"Eemmmm buat Hubby ya adek itu cantik. Gak tahu deh, kalau di mata orang lain. Cantik itu relatif gak mutlak sayang." Ujar Ezra mulai memberi pengertian pada Zahra. Jangan sampai istri nya itu salah paham. Dipikirnya dia cinta, karena hanya melihat kecantikan saja.
"Aduuhhh Ra, koq sensi sih. Ya wanita cantiklah, masak ganteng!" Timpal Bimo yang sedang menyetir. Dia gak tahan juga hanya sebagai pendengar yang Budiman.
"Iya deh!" Zahra menyudahi pembicaraan itu. Dia mengalihkan pandangannya ke arah jendela mobil mewah itu. Sedangkan Ezra kembali sibuk dengan ponselnya.
Kini tibalah mereka di parkiran sebuah restoran mewah. Saat Zahra handak turun dari dalam mobilnya dia melihat wanita yang mirip sosok ibunya masuk beserta seorang pria yang hendak masuk ke dalam Restoran itu. Dan saat itu juga Bimo yang juga melihatnya berlari menyusul wanita yang ditaksir nya itu.
"Bim, Bimo ...!" Teriak Ezra, kenapa pula asistennya itu lari seperti melihat setan.
__ADS_1
TBC.
Like coment vote say