AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Keluarga baru


__ADS_3

"Ya sudah gak penting buatku siapa kamu. Dasar oon kamu. Ditanyain gagok. Mana hapeku?" Menatap tajam Anin dengan kesalnya. Tangannya terulur menunggu hape ya diberikan Anindya.


"Hape?" Anin balik nanya, dia gak tahu di mana hape Rara disimpan.


"Iya cewek begok, mana hapeku?" Rara semakin kesal, karena apa yang dia mau tak kunjung terpenuhi.


Anin menarik napas panjang dan menggeleng pelan. Dia katain begok. "Sebentar ya sayang, saya cari dulu " ucapnya dengan lembut dan ramah, melirik Rara yang seperti keheranan melihatnya. Anin pun dengan cepat mencari hape yang dimaksud Rara di lemari dan di dalam nakas berusaha sabar dengan sikap Rara.


"Sayang, sayang, kenapa kau bilang sayang. Emang kau sayang padaku?" Anin gak mau pusing lagi dengan ocehan anak tirinya itu. Dia terus saja mencari hapenya Rara. Tapi, gak ketemu.


"Mana hapeku?" Ujar Rara dengan semakin kesal.


"Di sini gak ada hapemu Ra." Anin terus saja istighfar dalam hati, semoga dia tidak terpancing dengan sikap tak sopannya anak tirinya itu.


"Cari, cari sampai ketemu, wanita goblok. Nanti ku laporkan sama ayah. Agar kamu dipecat." Ancam Rara, yang membuat Anindya terperanjat dengan ucapan Rara. Anak ini bisa mengancam hubungannya dengan sang suami.


"Carikan hapeku..!" teriak Rara.


"Rara....!" Suara seorang pria yang dikenal keduanya terdengar dari arah pintu.


Rara terlonjak kaget, melihat sang ayah ada di ambang pintu. Begitu juga Anin yang terkejut melihat suaminya itu ada di rumah sakit itu.


Seketika rasa aman terlihat di wajah resahnya Anin. Syukurlah dia selamat juga dari anak Dajjal itu. Anin menghela napas legah, kedua sudut bibirnya melengkung sempurna, menciptakan senyum yang begitu manis pada sang suami yang kini menghampirinya.


Seketika rasa lelahnya Ezra rontok sudah, setelah diberi hadiah senyum begitu manis oleh sang istri. Ezra pun dengan penuh kerinduan memeluk Anin. Memeluk erat wanita itu di hadapan sang anak, yang membuat Rara terkaget-kaget melihat sikap sang ayah kepada wanita yang dimaki-makinya barusan.


Rara sampai merasa kesusahan bernafas melihat tontonan mesra dihadapannya.


"Terimakasih sudah mau menjaga Rara." Mengecup kening sang istri dengan penuh rasa rindu. Sikap Ezra membuat Anin tersipu malu dan merasa tidak enak hati pada Rara.


Anindya, bukan tipe wanita yang suka pamer kemesraan didepan orang. Bahkan saat di kampung. Dia dan almarhum suami, selalu menjaga sikap pada sang anak. Di hadapan sang anak, tidak boleh terlalu mesra. Bersikap wajar tapi penuh kehangatan.

__ADS_1


"Iya bang, itu sudah jadi kewajibanku sekarang." Melepas pelukan Ezra, karena merasa tidak nyaman. Karena, ada Rara di tempat itu.


"Rara, ini ibumu sekarang. Ayah harap kamu bisa bersikap sopan. Layaknya seorang anak harus menghormati orang tuanya. Sikapmu yang tadi sangat ayah sayangkan." Meraih tangan Anindya, merangkul sang istri dan mendekati Rara yang terbaring dengan wajah kagetnya.


"A--- Ayah menikah dengan wa--nita ini? kapan ayah menikahnya?" bertanya dengan sedikit gagap, karena Rara tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Iya sayang, sudah saatnya kamu punya ibu."


"Gak ayah, Rara gak mau punya ibu tiri. Ibu tiri itu jahat-jahat." Rara mulai beracting dengan air mata buayanya.


Anin jadi merasa tidak tenang, melihat Rara yang menangis, seolah dia telah menganiaya anak itu.


"Eehhmmmm.... Sudah saatnya kamu berubah nak. Ibumu ini tidak jahat, dia wanita lembut, baik dan sabar. Ayah yakin, kamu akan sangat menyukainya. Asal kamu buka hatimu, untuk menerima Anindya sebagai bagian dari keluarga kita. Kita sekarang jadi keluarga yang baru." Jelas Ezra, mengusap lembut puncak kepala sang anak yang terlihat ngambek itu.


Rara jelas ngambek, ayahnya nikah dia tidak tahu. "Ayah nikah gak bilang-bilang." Kedua mata Rara nampak berkaca-kaca. Dia tidak suka ibu baru.


Ezra menghela napas berat, sungguh anaknya ini sangat susah dibilangin.


"Gimana ayah mau bilang, kamu bisanya buat ulah. Satu lagi Rara, kamu masih harus menjelaskan sesuatu hal penting pada ayah. Dan kali ini, ayah ingin kamu jujur. Jika kamu masih ingin ayah anggap anak." Jelas Ezra menatap serius sang putri


"Sayang sadarlah, lihatlah Allah masih beri kamu waktu untuk taubat."


"Aku lebih memilih mati saja."


"Emang kalau kamu pilih mati, akan enak di alam barzah. Kamu akan kena siksa, karena sudah banyak buat dosa."


"Ayah juga akan kena siksa, karena gak bisa didik anaknya." Rara menantang sang ayah.


Anindya dibuat terkaget-kaget melihat sikap tak sopannya Rara pada sang ayah. Sama ayahnya saja seperti itu. Apalagi sama dia. Anindya merasa kesusahan menelan ludahnya sendiri. Sepertinya dengan menjadi istrinya Ezra, akan membuat hidupnya setres.


"Ayah minta maaf, jika kamu merasa ayah tidak mendidikmu dengan baik sayang." Hari Ezra. begitu sakit mendapati perkataan seperti itu dari putrinya. Matanya nampak berkaca-kaca.

__ADS_1


Dulu putrinya itu begitu baik saat dalam pengasuhannya. Tapi datanglah sang mantan istri, memohon Rara tinggal bersamanya selama satu tahun di luar negeri. Dan disitulah hancurnya karakter Rara. Karena memang istri pertamanya Ezra, punya perilaku yang buruk. Suka dugem, merokok, bahkan candu narkoba.


"Ayah jahat, kenapa ayah menceraikan Mama." Rara menangis dengan sedihnya.


Anindya jadi begitu kasihan melihat Rara. Dia juga jadi teringat putrinya yang sudah tidak ada kabar nya lagi.


"Kita jangan ungkit masa lalu ya sayang." Melap air mata sang putri dengan jemarinya.


"Aku mau pulang." Rengek Rara.


"Iya sayang." Ezra terus saja melap air mata sang putri yang tak henti-hentinya mengalir.


Ezra meraih tangan sang istri, berharap istrinya itu mau mengerti tentang keadaan putrinya. Anin pun mengangguk dan tersenyum tipis. Dia meyakinkan Ezra, kalau dia bisa mendidik Rara.


"Permisi... !"


Pihak berwajib masuk ke ruang rawat inapnya Rara. Pihak berwajib mendapatkan laporan, kalau Rara sudah sehat. Dan Rara perlu menjalani pemeriksaan terkait kasus narkobanya.


"Oohh iya pak polisi, ayo masuk!" Ezra menyambut 2 bapak polisi itu dengan hormatnya. Mengajak pak polisi untuk duduk di sofa.


Ezra memohon, agar Rara tidak usah direhabilitasi. Mengingat kondisi mentalnya yang sedang tidak stabil.


Tapi, pak polisi tidak setuju dengan permintaan Ezra. Karena kasus untuk Rara sudah diputuskan. Rara tidak ditahan, tapi dimasukkan ke rehabilitasi.


"Baiklah Pak." Jawab Ezra lemas.


"Ayah, aku gak mau direhabilitasi. Akau ingin pulang." Rengek Rara dengan sedihnya.


"Iya sayang, ini untuk kebaikanmu."


."Gak ayah, aku gak mau di rehabilitasi." Masih menangis dengan sedihnya.

__ADS_1


Ezra jadi semakin sedih melihat keadaan sang putri. Tapi, mau gimana lagi. Merehabilitasi sang putri, memang solusi yang tepat.


TBC


__ADS_2