
"Ayahnya Adek perhatian sekali ya? putrinya diawasi terus saat belajar." Ujar guru les nya Zahra yang bernama Bu Dewi. Wanita yang berusia 27 tahun dan masih single.
Bu Dewi, tak tahu Kalau Ezra adalah suaminya Zahra. Karena Bu Dewi guru les baru. Setiap mata pelajaran, guru les nya Zahra berbeda. Dan setahu Bu Dewi, orang tua dari murid yang dibimbingnya ini adalah Ezra Assegaf. Pengusaha tajir melintir yang berstatus duda dan punya satu putri.
Ya pernikahan Anin dan Ezra yang mendadak tidak diketahui publik. Karena Ezra belum mengadakan resepsi pernikahan dengan Anin.
Seketika raut wajah Zahra jadi masam. Karena Ezra dikatakan ayahnya. Emang sih, Ezra cocoknya jadi ayahnya, bukan suaminya.
"Mau dapat nilai tinggi gak nanti saat lulus?" tawar Bu Dewi dengan senyum penuh maksudnya. Menatap Zahra dengan mata yang dikedip-kedipkan.
Wajah masamnya Zahra kini berubah jadi penuh tanda tanya. Apa maksud ucapan Bu Dewi.
"Aku mau jadi ibu sambungmu!" ujar Bu Dewi dengan semangat nya, senyum percaya diri menghiasi wajahnya yang berbinar-binar
Uhuk...
Uhukk..
Uhukk..
Zahra tersedak dengan air liur nya sendiri. Dia tak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu, keluar dari mulut wanita yang sempat dikaguminya. Karena wanita ini sangat pandai menyampaikan materi pelajaran.
Melihat Zahra tersedak, padahal tidak sedang makan, membuat Bu Dewi heran. Walau begitu, wanita itu tetap menyodorkan gelas yang berisi air putih di atas meja mereka belajar saat ini.
"Zahra, kamu kenapa?" Bu Dewi terlihat khawatir. Jelas dia khawatir, kalai anak bimbingannya ini kenapa-kenapa, kan berabe nantinya. Mana Zahra anak orang kaya.
"Gak Bu, gak apa-apa. Aku hanya terkejut saja!" ketusnya dengan mata melotot.
Dasar Pak tua punya daya pikat yang tinggi. Walau usianya sudah kepala empat. Para wanita masih dibuat oleng karena daya pikatnya itu.
Hadeuuhh....
Ini bahaya. Gumam Zahra masih memperhatikan Bu Dewi dengan tercengangnya.
Dia lebih baik diam saja, pura-pura tuli. Enak saja mau dibuat jadi Mak comblang suami sendiri.
"Minta dong nomor hape bokap love Zahra?!" wajah Bu Dewi memelas dengan ponselnya sudah ada ditangannya.
Huuffttt
Zahra menghela napas kasar. Dia tak boleh terpancing. Statusnya yang sebagai istri Ezra tak boleh diketahui ibu Dewi. Karena dia masih seorang pelajar di salah satu SMA terfavorit di kota itu.
"Eehhmmm.... Bener ya? aku nanti dapat bocoran soal Ujian Nasional?" ujar Zahra dengan tersenyum kecil.
__ADS_1
"Iya Ra, benar, benar banget. Berapa nomor hape ayahmu Ra?!" Bu Dewi semakin semangat. Dia heboh sendiri di tempat duduknya.
"Baikah dengar baik-baik." Tegas Zahra dengan senyum devilnya.
"Iya, iya !"
"No hapenya kosong delapan tiga belas enam empat satu e nampak semua!"
"Haaa ..h Coba ulang Zahra!" Ibu Dewi merasa salah dengar. Masak ada e nampak semua?
"Kosong delapan tiga belas enam empat satu e nampak semua...!" teriak Zahra yang membuat ibu Dewi terhenyak. Koq anak yang terlihat polos ini, malah marah -marah?.
"Nomornya koq seperti itu?" tanya Bi Dewi dengan raut wajah bingung nya.
"Gak ada nomor - nomor an. Sebaiknya ibu pulang sekarang, dan jangan pernah datang lagi kesini." Ujar Zahra tegas, tapi masih dengan nada bicara yang sopan.
"Koq begitu Zahra?' Ibu Dewi tak mau dipecat jadi guru les nya Zahra. Dia rugi dong. Mengajari Zahra dalam dua jam saja dia sudah dalat upah 500.000 rupiah.
"Cukup sekali ini saja kita bertemu ya Bu Dewi. Pembelajaran kan sudah selesai Aku mau tidur dulu bu." Ujar Zahra, bangkit dari duduknya dengan tersenyum tipis. Walau suasana hatinya jadi memburuk karena ucapan Bu Dewi Dia harus tetap bersikap sopan.
"Zahra, Zahra.... Ibu masih mau jadi guru les mu?!" ujar Bu Dewi dengan suara kerasnya. Karena saat ini, Zahra sudah menapaki anak tangga menuju lantai dua.
"Enak saja, mau deketin pak tua." Ucap Zahra pelan, yang hanya bisa didengar olehnya.
Dia mengusap wajahnya, agar terlihat tidak tegang. Menarik kedua sudut bibirnya, hingga menciptakan senyuman yang manis. Dia tak mau terlalu memikirkan pak tua. Wajar para wanita ingin jadi pendamping nya. Karena selain kaya raya. Pak tua juga sangat tampan.
Krekk..
Zahra masuk ke kamar itu dan mendapati sang ibu sedang sholat Dzuhur di atas ranjangnya. Luka bekas operasi belum sembuh total. Jadi Anindya tidak bisa sholat dalam keadaan berdiri.
Zahra tersenyum tipis menatap sang ibu, yang sholat dengan khusyuknya. Dia sangat bangga pada ibunya itu. Ibunya wanita tangguh dan sangat sabar. Ibunya itu pantas mendapatkan kebahagiaan.
Tiba-tiba saja mendapatkan sebuah ide cemerlang. Wanita itu menjentikkan jarinya dengan perasaan bahagia. Ia pun bergegas ke kamar mandi. Dia juga akan menunaikan sholat Dzuhur.
❤️❤️❤️
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Zahra merasa bahagia sekali saat ini. Bisa tidur siang bersama sang ibu sambil bercerita banyak tentang keseharian nya di sekolah dan berdagang membantu nenek sepulang sekolah. Tentu saja mereka tak membahas masalah mereka yang baru saja usai. Ibu dan anak itu juga sudah melakukan video call dengan Nek Ifah di tanah suci. Dan tetap, mereka tidak menceritakan masalah antara ibu dan anak itu.
"Mak, ibot Bimo orangnya baik banget ya?" ujar Zahra, dia yang melihat sikap Bimo yang beda pada sang ibu, jadi berniat untuk menjadikan pria itu ayah tirinya. Dia ingin juga lihat sang ibu bahagia. Inilah ide yang sempat terbersit tadi.
Kening Anindya mengerut mendengar ucapan sang putri. Dia tahu mau ke mana arah pembicaraan itu. Saat ini Anin ingin sendiri. Kejadian yang menimpanya cukup membuat wanita itu trauma. "Iya." Jawab Anin singkat dan padat. Menampilkan ekspresi wajah malas membahas Bimo.
Hehehe ..
__ADS_1
Zahra tertawa kecil. Dia langsung memeluk sang ibu. Dia tahu dirinya sedang membuat kesalahan saat ini Ternyata membahas Bimo, malah membuat suasana hati sang ibu buruk. Dia pikir ibunya itu akan senang.
Zahra tadinya beranggapan ibunya itu, sedang menganut prinsip 'Patah satu tumbuh seribu'. Eehh... gak tahunya lagi traumah.
Karena ucapan Zahra itu membuat suasana di balkon kamar itu tak hangat lagi. Bahkan sang ibu terlihat murung dan seperti tak ingin berbicara. Zahra pun akhirnya ikutan diam. Keduanya menatap langit yang kini sudah berwarna jingga. Karena hari sudah sore.
Lama keduanya terdiam. Merefleksikan diri, atas apa yang terjadi pada mereka sekeluarga. Hingga ucapan Anindya kini membuyarkan lamunan Zahra.
"Sayang, umak yakin. Kamu bisa dewasa dalam menyikapi semua ini. Sekarang kamu sudah jadi istri seseorang. Istri dari seorang pria yang jadi idaman banyak wanita di luar sana. Ibu harap, kamu bisa bersikap baik pada suamimu, agar dia tak berpaling nanti sayang." Ucap Anin dengan mata berkaca-kaca. Dia adalah korban, dimana sang suami berpaling kepada wanita lain. Dan dia tak mau Zahra kelak mengalami hal yang sama dengannya.
"Ya ampun Mak. Putrimu ini masih muda. Kalau si pak tua macem-macem ya tinggal kita ceraikan saja. Gitu aja kok repot mak."
"Ra... Kamu jangan anggap sepele semua hal. Ini yang tak umak suka dengan sikapmu." Anin terlihat gelisah. Dia jadi takut, kalau putrinya masih bersikap menyebalkan pada Ezra. Bisa-bisa Ezra bosan dan cari wanita lain. Lihatlah putrinya itu manggil suaminya degan sebutan pak tua.
"Mak., Hidup Jangan dibuat ribet. Kalau Dia berpaling, ya sudah. Itu artinya dia dan aku End. " Ujar Zahra tegas. "Kita jangan terlalu mencintai manusia mak. Manusia itu bersifat Baharu. Yang diucapkannya sekarang belum tentu diingat nya. Umak gak usah khawatir kan aku. Umak itu yang Zahra khawatir kan Mak. Apalagi masalah kita ini. Zahra tahu, umak itu masih sedih"
.Zahra melap air mata sang ibu dengan jemarinya. Mereka masih duduk di sofa balkon kamar itu.
"Zahra tahu, umak sudah ikhlas, mengalah untuk Zahra. Tapi, Di sini masih sakit kan Mak?" Zahra kini menempel kan tangan nya di dada sang ibu.
"Harus ada penggantinya, agar umak gak sedih."
"Gak Ra, gak.. Mak belum kepikiran kesitu. Sudah, sudah... Kita jangan bahas ini lagi. Nasi sudah jadi bubur sayang. Tak ada gunanya kita bahas itu lagi. Hidup harus terus berlanjut. Sagu pesan Umak. Kamu harus bisa bersikap baik dan hormat pada suamimu. Jangan perlakukan dia kayak anak AbG, yang seumuran denganmu." Jelas Anindya, mengusap lembut rambut sang anak.
Zahra sungguh sayang sama ibunya itu. Dia pun memeluk ibunya itu dengan cepat. Dan keduanya kembali menangis bahagia. Hingga acara tangis-tangisan itu pun terhenti disaat ponsel Zahra terus saja berdering di atas meja di hadapannya.
Siapa lagi yang menelpon kalau bukan Pak tua.
"Ya Allah.. sayang, kenapa nama kontak nya seperti itu?" tanya Anin, saat melihat layar ponselnya Zahra. "Apa dia gak protes?" tanya Anin lagi.
"Entahlah Mak, belum tahu dia Mak. Aku kan baru dibeliin ponsel kemarin " Ujar Zahra, merasa tidak enak hati mengangkat telepon dari Ezra.
Zahra bingung mau buat nama apa kontaknya Ezra. Jadilah dia buat nama itu.
"Angkat sayang!" titah Anin.
Zahra melirik sang ibu, dan tersenyum tipis. Kemudian wanita itu mengangkat panggilan video itu
"Assalamualaikum Wawa..?" wajah lelah dipaksa senyum terlihat jelas di layar ponsel. Ezra seperti nya Sibuk sekali hari ini.
"Wa-- walaikum salam .!" Zahra terlihat canggung saat bicara dengan Ezra, karena ada sang ibu di sebelah nya.
TBC.
__ADS_1
Besok dilanjutkan lgi ya.
vote dong!😀🤭