
Selepas kepergian Anin, Zahra jadi bingung mau ngapain. Akhirnya dia memilih berjalan-jalan mengitari taman rumah lamanya Ezra itu. Pekarangannya saja sangat luas. Zahra tentu saja diawasi oleh para pelayan. Saat ini Ezra menjaga ketat Zahra.
"Hubby kaya bener ya? rumahnya ada di setiap kota dan megah-megah lagi. Wajar sih, banyak wanita yang ngajar-ngejarnya." Zahra bermonolog, ia teringat ucapan Ezra tadi, yang mengatakan banyak wanita yang menginginkanya.
Zahra kini sudah sampai di taman belakang rumah itu. Dan di tempat itu ternyata ada kolam ikannya. Kolam ikannya ada lima.
"Banyak banget kolamnya. Apa Hubby pelihara ikan juga? ehhmm.... Lumayan lah buat irit pengeluaran gak beli ikan ke pasar." Ucapnya cekikikan. Tapi, saat ia sudah lebih dekat ke kolam itu, ia merasakan mual. Ternyata Zahra gak bisa mencium bau amis dari kolam itu.
Huuuekkk
Huuekkkk
Huueekk
Makanan yang dimakannya tadi keluar sudah semuanya. Rasanya sangat sakit sekali. Material yang ada diperutnya dipaksa keluar. Tiga ART yang dari tadi membuntuti tanpa sepengetahuannya dengan cepat membantu Zahra yang muntah-muntah itu.
Huueekk...
Hueekk
"Zah... Zahra...!"
Zahra semakin mual, setelah mendengar suara yang memanggil namanya. Suara itu miliknya Rara. Ia menoleh sekilas ke arah Rara yang terlihat menghampirinya. Dan dengan cepat membuang muka. Rasanya perutnya semakin diaduk-aduk.
Tatapan tajamnya Zahra tadi, membuat Rara takut mendekati Rara. Seperti nya kedua itu wanita itu sama-sama merasa enggan untuk saling berbaikan.
"Non, Non, kita masuk ke dalam saja." Ucap pelayan wanita dengan paniknya. Tadi kepala pelayan berpesan. Jangan sampai Zahra kenapa-kenapa. Bisa-bisa mereka kena interogasi, kalau terbukti lalai bertugas menjaga Zahra. Maka akan dapat sanksi.
"Zahra yang merasa lemah itu akhirnya menurut saja. Ia pun dipapah menuju kamarnya. Zahra yang merasa Rara membuntuti mereka, sesekali melirik musuh bebuyutannya itu.
Kenapa dia mengekor.
Zahra membatin, ekor matanya masih waspada.
Sesampainya di kamar, Rara juga ternyata ikut masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri. Kalian keluarlah!" titah Zhara ramah, pada ketiga pelayan. Auto, ketiga pelayan itu meninggalkan kamar itu. Dan Rara masih bergeming di tempat nyam Tentu saja dibuat was-was. Ia sedang tak ingin ribut.
Kenapa Rara gak ikut keluar?
Zahra mendudukkan bokongnya di tepi ranjangnya. Tentu saja kedua matanya selalu waspada. Jangan sampai Rara duluan memukul nya.
"Eemmm.... Ba--gaimana keadanmu?" Rara gagap, ia tak sanggup menatap ke arah Zahra.
Sedangkan Zahra dibuat kaget dengan nada bicara Rara yang lembut. Ia hampir terjatuh saat duduk di tepi ranjangnya.
Zahra yang terkejut, gak tahu harus bersikap apa. Dia pun akhirnya terdiam, tak menjawab pertanyaan Rara. Auto Rara merasa sedikit tersinggung dengan sikap dinginnya Zahra Ternyata Zahra masih benci padanya. Dia didiamkan, padahal ia sudah mengumpulkan semua keberaniannya untuk bisa berhadapan dengan Zahra.
Brugggkk
Rara kini bersimpuh di hadapan Zahra. Tentu saja sikapnya Rara membuatnya Zahra terkejut. Saking terkejutnya kedua kakinya terangkat ke atas, dan mengenai dagunya Rara. Wajahnya pucat nya Rara sampai oleng. Seolah Zahra menendangnya. Padahal Zahra tak mau Rara bersimpuh di hadapannya. Makanya ia mengangkat cepat keduanya kakinya. Eehh... Gak tahunya malah menyenggol dagu lancipnya Rara
"Ya ampun.... Rara, aku gak bermaksud. Aku, tadi hanya mau mengangkat kaki ku saja " Zahra jadi serba salah. Ia terlihat panik dan meras bersalah sekali. Seperti nya tendangannya saat kuat. Pasalnya suara tumbukan antar gigi nya Rara terdengar. Ya tadi mulutnya Rara sedang terbuka. Karena ia sedang bicara. Tapi, karena kena tendangan kilat. Mulutnya jadi tertutup kuat.
"Ra, maaf ya!" Zahra dengan paniknya meraih wajah Rara, yang terlihat pucat pasi. Ya Rara sensitif saat ini. Ia pantas mendapatkan tendangan tak disengaja itu. Karena ia memang sudah terlalu jahat selama ini.
Jantungnya Rara tak hentinya bergetar hebat. Begitu juga dengan Zahra. Pertemuan dua betina, yang punya emosi meledak-ledak, kini sama-sama bersikap manis. Mencoba meredam, emosi dan ingin saling memaafkan. Karena memang tak ada gunanya mereka masih mempertahankan ego dan tetap ingin bermusuhan.
Sungguh suasana ruangan kamar nya Zahra sangat menegangkan. Karena keduanya lama terdiam.
"Eemm... Kamu duduk di sini saja." Zahra dengan kikuknya memegang kedua bahunya Rara. Membantu wanita itu untuk bangkit.
"Ii--ya," Rara tak kalah kikuknya.
Huffttt...
Keduanya sama-sama memalingkan wajahnya sebentar. Guna menghela napas panjang. Mengibas-ngibaskan tangan masing-masing ke arahnya sendiri. Mereka yang nervouse benar-benar merasa kehabisan oksigen di dalam ruangan ber AC itu.
Pertemuan ini sangat menegangkan, sekali sangat geli.
Haihaihai...
__ADS_1
Zahra sebenarnya ingin tertawa, ia merasa lucu dengan tingkah mereka yang kikuk saat ini. Mereka seperti sepasang kekasih saja. Yang terlihat tegang dan bingung.
Merasa sedikit tenang. Rara memutar lehernya menghadap Zahra. Ia meraih tangan kanannya Zahra. Lagi-lagi Zahra dibuat kaget.
"Maafin Aku Zahra, gara -gara kelakuanku kamu banyak menderita." Ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Menatap sendu Zahra yang kini terbengong.
Zahra mencari ketulusan di kedua mata indahnya Rara, dan ia melihat ada ketulusan di mata indah itu. Rara juga terlihat begitu menyesali perbuatannya selama ini.
"Iya Rara, aku juga minta maaf ya, aku juga sering melawan padamu." Sahut Zahra, kini keduanya malah berjabat tangan. Dan keduanya terlihat sedih.
"Kamu gak ada salah Zahra. Aku yang salah padamu. Aku gak tahu kamu siapa, tapi karena keegoisanku dan rasa cemburu di hati yang berkarat ini. Kamu jadi pelampiasanku. Aku, Aku cemburu padamu Zahra. Guru-guru banyak yang menyanjugmu. Kamu punya banyak teman. Sedangkan aku," Rara yang bicara sambil menangis, tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak. Ia menunduk malu. "Sedangkan aku, harus menyogok kawan-kawan kita agar mau berteman denganku...! Hua Hua Hua....!" tangis wanita itu pecah sudah.
Ia sadar, benar-benar telah sadar. Bahwa semua kelakuan nya adalah salah. Makanya orang-orang tak ada yang mau berteman dengannya. Walaupun ada, tak ada yang tulus padanya. Semuanya ada maksud dan keinginannya. Sedangkan Zahra orang-orang pada tulus padanya. Bahkan Ferdy sering memberikan bantuan.
"Aku iri padamu Zahra. Aku ingin merasakan, apa yang kamu dapatkan itu. Kebahagiaan itu, teman yang tulus itu. Dan aku ingin kamu berada dalam posisiku. Hancur dan dibenci orang-orang. Makanya, terbersit lah niat jahat itu, diwaktu acara perpisahan dengan teman-teman. Maafkan aku ya..!" Zahra yang meras bersalah, tak berniat memeluk Zahra. Ia takut ditendang dengan pengakuan yang ia buat.
Grappp
Bukannya ditendang atau ditolak. Zahra malah meraih Rara dalam pelukannya.
"Iya Rara, aku sudah memaafkanmu." Ujar Zahra dengan menitikkan air mata. Ia terharu sekali dengan ketulusan Rara yang meminta maaf padanya.
"Maafkan aku ZahRa..!" banyaknya salahnya, membuatnya merasa tak cukup, hanya satu kali minta maaf.
"Iya Rara, aku sudah memaaafkanmu. Aku juga minta maaf ya. Pasti sikapku banyak yang buat kamu kesal.
"Iya..!"
Keduanya pun kembali menangis dalam keadaan saling berpelukan.
Mintaa maaf bisa membuat kita terbebas dari tekanan rasa bersalah. Masalahnya meminta maaf bukanlah hal mudah. Terutama jika kesalahan yang diperbuat besar. Kadang butuh kedewasaan bersikap untuk mengesampingkan ego demi mengakui kesilapan kita. Rara telah berhasil mengenyampingkan egonya. Padahal ia adalah anak yang keras kepala.
TBC
vote yeðŸ¤
__ADS_1