
Di dalam sebuah kamar mewah dan luas, tepatnya di balkon kamar itu. Seorang wanita terlihat merenung, meratapi perjalanan hidupnya yang tak pernah mulus. Dia adalah Anindya. Wanita itu sedang memikirkan banyak hal. Dan yang paling menguras pikiran dan emosinya adalah, mengenai keluarganya di kampung yang tak bisa dihubunginya. Dia sangat khawatir dengan anak dan ibu mertuanya itu. Biasanya juga, setiap hari Anindya pasti bertukar kabar dengan putri dan ibu mertuanya itu.
"Ya Allah, apa yang terjadi pada putri dan ibu mertuaku? kenapa aku selalu kepikiran mereka." Ucapnya lirih, dadanya terasa sesak, karena sedih tidak bisa berkomunikasi dengan putrinya yang hampir satu tahun tidak bertemu dengannya. Terakhir Anindya pulang kampung Saat lebaran tahun lalu.
Anindya ingin sekali pulang ke kampung mengajak sang suami baru. Memperkenalkan sang suami, kepada keluarga di kampung. Dia juga akan membayar hutang almarhum suaminya. Karena, mahar yang diberikan Ezra padanya cukup untuk membayar hutang itu. Jangankan mahar, Ezra juga sudah memberikan dia uang bulanan yang tak diduganya. Kerja setahun saja, belum tentu dia bisa mengumpulkan uang sebanyak uang bulanan untuk nya.
Sepertinya dia harus mengubur niatnya itu saat ini. Karena, Rara putri tirinya sedang dirawat di rumah sakit. Mana mungkin, dia menceritakan masalah keluarga nya di kampung pada Ezra, sang suami. Sementara disini juga sedang banyak masalah. Dia harus lebih bersabar sedikit lagi. Kalau putri tirinya Rara sembuh, dia akan membahas keluarganya di kampung. Semoga sang suami bijak, menerima keluarganya di kampung. Dan Anindya akan meminta izin sang suami. Agar keluarga nya di kampung ikut tinggal bersama dirinya.
"Ya Allah, kenapa perutku kambuh lagi." Lirih Anindya. Dia memang tidak boleh setres dan banyak pikiran. Karena dia punya penyakit asam lambung.
"Aku akan periksa kesehatanku nanti saat menjenguk Rara." Ucapnya sambil meringis kesakitan. Dia pun memilih duduk sebentar di kursi yang ada di balkon itu. Menenangkan diri dengan menarik napas dalam. Setelah merasa sedikit baikan. Dia beranjak dari tempatnya. Dia akan meminum obat pereda rasa nyeri.
Anindya yang sudah meminum obat generik itu, memeriksa ponselnya, apakah ada kabar dari kampung atau dari sang suami.
Anindya terakhir komunikasi dengan suaminya itu tadi malam. Mereka sempat video call an. Dia sudah sangat rindu suaminya itu. Apalagi semalaman di telepon suaminya itu sempat menggodanya. Ezra berkata rindu, sangat rindu kepadanya.
***
Zahra dan sang nenek kini sedang berada di sebuah Mall paling besar di kota Medan. Bimo sengaja membawa istri baru Bos nya itu jalan-jalan. Karena dia tahu, orang kampung. Pasti seneng jika dibawa ke mall.
Benar saja, Zahra sangat senang diajak jalan-jalan oleh Bimo. Zahra bahkan sangat semangat sekali saat naik eskalator. Dia belum terbiasa naik tangga berjalan itu. Maklumlah, Zahra tinggal di kampung. Ada sih mall kecil di ibu kota kabupaten tempat dia tinggal. Tapi, dia gak pernah masuk ke mall itu. Tapi sering juga melewatinya, saat sang ayah dan ibunya mengajaknya ke kota.
Saat pertama kali menapakkan kaki di tangga berjalan itu, Zahra benar-benar ketakutan. Namanya hal baru, tentu saja kita masih nervouse. Jantungnya saja rasanya mau copot. Disaat kakinya menapak di tangga itu. Tapi, Zahra yang cerdik, tidak memperlihatkan ke katrok an nya itu. Dia bersikap seolah sudah sering naik eskalator.
__ADS_1
Bimo yang melihat ekspresi wajah Zahra saat naik eskalator, dibuat senyam-senyum. Entah kenapa dia merasa senang kepada anak itu. Dipenilaiannya Zahra gadis yang polos, berani dan jujur. Buktinya, Ezra tidak berkutik di hadapan gadis itu. Hanya Zahra dan Rara yang bisa buat Ezra mati kutu.
"Aduhh nak Bimo, kita kenapa datang ke tempat ini. Kalau mau beli perlengkapan sekolahnya Zahra kan bisa di pasar atau di kedai. Atau di tempat foto copy yang jual alat tulis untuk anak sekolah. Di sini menyeramkan. Mana lantainya licin sekali. Nenek berapa kali tadi mau jatuh." Protes sang nenek, tidak senang di ajak ke mall. Tempat mewah ini tidak terlalu disukai sang nenek. Mana di mall itu dingin sekali.
"Maaf ya Nek, Bimo pikir nenek bakal senang Bimo ajak ke sini. Ternyata hanya Zahra yang senang." Kini Bimo mengajak sang nenek duduk di bangku yang ada di tengah Mall itu.
Bimo mengajak Zahra dan sang nenek ke Mall, mau beli perlengkapan sekolahnya Zahra. Sekalian mau beli hape untuk Zahra dan neneknya.
Dooorrr.... !
Zahra yang sudah turun dari lantai tiga mengagetkan sang nenek dan Bimo yang tiba-tiba menimpuk bahu kedua orang itu dari belakang. Zahra terlihat senang, tertawa cekikikan karena sukses membuat Bimo pucat pasi, karena terkejut. Begitu juga dengan sang nenek, yang terlihat kedinginan.
"Maaf Ibotoku," Ucap Zahra dengan napas yang tersengal-sengal. Karena capek tertawa. Sepanjang perjalanan tadi. Zahra dan Bimo, sudah akrab. Ternyata Bimo dan dirinya satu marga. Jadilah, sekarang Zahra menganggap Bimo sebagai saudara laki-lakinya.
Ha-ha-ha
Zahra kembali tertawa, entah kenapa dia merasa bahagia dan senang sejak diajak keluar oleh Bimo. Padahal tadi, setelah sarapan. Dia merenung di kamar mereka.
Zahra merenungkan ucapan sang nenek. Semua yang dikatakan nenek memang benar. Dia harus ikuti alur saja. Yang penting tidak merugikannya.
"Nak Bimo, kita pulang saja ya, nenek bisa beku di sini. Nenek gak suka AC nya. Dingin sekali." Keluh sang nenek.
"Di rumah juga kan dingin Nek."
__ADS_1
"Iya, tapi ini dingin banget nak Bimo."
"Baiklah Nek kita akan pergi dari tempat ini. Gimana Ra, sudah kami beli semua perlengkapan sekolah mu?" tanya Bimo, tadi Zahra dan seorang pelayanan naik ke atas untuk beli keperluan sekolah nya Zahra.
"Sudah Ibot, hanya saja seragam sekolah nya gak ada di sini " Keluh Zahra, ikut duduk di sebelah sang nenek.
"Aduuh.. lupa, koperasi pihak sekolah ada sediakan seragam. Sebentar ya, kita pesankan saja." Bimo pun melakukan panggilan telepon kepada pihak sekolah barunya Zahra.
"Ra, kamu pakai baju ukuran apa?"
Zahra tersenyum dan mengatakan ukuran bajunya kepada Bimo. Setelah itu dia pun kembali melempar pandangannya, menyoroti setiap sudut mall yang bisa dijangkau matanya.
"Es krim...!" Bimo menyodorkan es krim pada sang nenek dan Zahra. Tentu saja Zahra senang sekali. Dia sangat suka ice cream. Ternyata Bimo sudah menyuruh pelayan yang ikut dengan mereka membeli ice cream.
"Makan ice cream dulu nek. Setelah itu kita pulang. Nanti di rumah, saya akan ajari nenek main golf " Ujar Bimo dengan semangatnya.
"Main golf?" tanya sang nenek memastikan.
"Gak aakkh... itu kerjaan orang buang waktu saja. Nenek gak suka main begituan."
"Ferdy...!" ucap Zahra lirih, refleks Zahra bangkit dari duduknya, berlari cepat mengejar Ferdy yang dilihatnya sedang menuju pintu keluar mall.
"Fer... Ferdy...!" Zahra berlari sambil memanggil nama pria yang disukainya itu.
__ADS_1
TBC