AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Kita bertemu kembali


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Zahra sudah sampai di sekolah barunya. Dia dengan semangatnya berjalan menyusuri trotoar sekolah yang di pinggirnya dihiasi banyak bunga yang sedang bermekaran. Zahra menghela napas panjang, menatap gedung bertingkat tiga itu. Bangunan yang bagus, indah dan kokoh. Dia tidak menyangka bisa sekolah di sekolah elit ini.


Zahra yang cerdas mencari ruang tata usaha. Dia akan melaporkan lagi dirinya yang akan jadi murid baru di sekolah itu. Tak butuh waktu lama dia pun menemukan ruangan yang dicarinya.


"Permisi Pak, saya Halwatuzahra, murid baru di sekolah ini " Ucap Zahra setelah mengetuk pintu yang terbuka itu. Di dalam ruangan itu ada lima orang. Dua orang berjenis kelamin pria, satu sudah terlihat berumur, satu lagi masih terlihat anak muda. Kemudian ada tiga orang wanita, Satu wanita berusia sekitar 45 tahun dan dua lagi sekitar dua puluh lima tahun. Itu sih, perkiraan usia dari hasil pengamatan Zahra.


"Oohh.. iya masuk Nak Zahra." Ucap seorang pria yang terlihat berumur. "Ayo duduk di sini " Tawar pria itu. Zahra pun duduk di hadapan pria itu, yang dibatasi oleh sebuah meja.


Zahra bisa menilai, pria di hadapannya pasti kepala tata usaha.


"Sebentar lagi mau UN, koq pindah Nak?" tanya seorang wanita yang duduk tak jauh dari kepala TU.


Zahra pun menoleh ke asal suara dan tersenyum manis. "Iya Bu, kami sekeluarga pindah Bu." Jawabnya ramah, jujur apa adanya. Ya memang mereka kan pindah.


"Zahra ini, masih keluarganya pak Ezra." Jawab Pak TU, memeriksa data Zahra.


Zahra langsung merengut, mendengar nama Ezra disebutkan.


"Oohh ... Kamu siapanya Pak Ezra nak? saudara seperti apa?" tanya ibu paruh baya itu kepo, yang membuat Zahra gelagapan. Mana mungkin dia mengatakan Ezra itu suaminya.


"Gimana ya Bu, susah juga jelasinnya. Pak Ezra itu sudah saya anggap sebagai ayah sendiri gitu. Beliau banyak membantu keluarga kami." Jawab Zahra dengan bingung. Dia bingung dengan ucapannya sendiri. Dia pun menunduk, menunjukkan bahasa tubuh tak ingin ditanya-tanya lagi.


"Oohh... iya sih. Pak Ezra itu baik banget. Dulu saat putrinya sekolah di sini. Pak Ezra lah komite sekolah yang selalu kasih bantuan ke sekolah ini dengan jumlah yang banyak. " Ujar Pak TU, tersenyum pada Zahra.


Zahra hanya nyengir, malas banget rasanya membahas Ezra, yang menurutnya masih penuh misteri. Dia belum yakin, kalau suaminya itu pria baik. Kalau baik, kenapa malah ingin menodainya. Walau Bimo sudah menjelaskan semuanya. Dia belum percaya seratus persen.


"Tito, antarkan Zahra menemui wali kelasnya " Titah Pak TU, yang membuat Zahra merasa legah. Dia malas juga mendapatkan banyak pertanyaan dari orang-orang tentang dirinya dan Ezra si Pak Tua.


"Ayo Dek!" Tito sudah ada di ambang pintu


"Adek, adek, dia siswi di sini. Jangan panggil adek." Ujar pak TU, kesal pada Tito yang terkenal playboy.


"Ya dia adekku lah pak. Masak abangku." Jawab Tito, tertawa kecil. Zahra hanya menggeleng pelan. Dasar laki-laki mulutnya manis, kalau ada maunya.


Zahra kini berjalan di belakang sang wali kelas. Wali kelas mereka ternyata seorang laki-laki. Namanya Pak Rizal. Apel pagi sudah selesai, dan para siswa/i sudah masuk ke dalam kelas masing-masing dan pembelajaran akan di mulai. Terbukti, saat Zahra dan sang wali kelas mengetuk ruang kelasnya Zahra. Ibu guru yang ada di ruangan itu, sedang mengabsen satu persatu muridnya.


"Assalamualaikum....!" Pak Rizal memberi salam, auto semua mata yang ada di ruangan itu, menoleh ke asal suara dan menjawab secara bersamaan.

__ADS_1


"Oohh Pak Rizal," Ucap Bu guru yang sedang mencek kehadiran siswanya. "Iya pak, silahkan masuk."


Pak Rizal pun masuk dan mengajak Zahra. Zahra memasuki ruang kelas itu, dengan perasaan yang tak tenang. Dia nervouse, tentu saja nervous. Sesuatu hal baru, akan membuat jantung kita dag dig dug.


"Tolong perhatiannya sebentar anak-anak. Kelas kita bertambah personilnya " Ucap Pak Rizal yang membuat sebagian siswa/i protes dengan ucapan wali kelas yang terkenal lucu, tapi serius itu. Personil? emang ya group band.


Zahra yang tadinya menunduk, karena merasa malu, canggung dan grogi itu, akhirnya mengangkat wajahnya. Memperhatikan satu persatu teman satu kelasnya, yang sedikit berisik, karena ulah sang wali kelas.


Satu kelas itu jumlah siswanya saat ini 21 orang. Dari 21 siswa itu, hanya ada satu siswa yang sibuk dengan sendirinya. Nampak sedang mencoret atau menulis dia tas kertas. Zahra kurang jelas melihat apa kegiatan siswa tersebut. Karena siswa yang tidak tertarik untuk melihatnya itu berada di pojokan. Yang membuat matanya Zahra tertarik untuk menatap ke arah siswa itu adalah, dia mengenal sosok pria yang duduknya di pojokan itu.


"Ayo Nak kenalkan dirinya." Ucap Pak Rizal menatap Zahra yang fokus ke arah siswa yang duduk di pojokan.


"Ayo Zahra, kenalkan dirimu!" Pak Rizal akhirnya menepuk pelan bahu Zahra yang lagi bengong itu. Zahra pun tersadar dari angan-angannya.


"Oh iya pak." Ucapnya bingung menatap sang wali kelas.


"Kenalkan dirinya nak!" titah Pak Rizal ramah.


Zahra pun mulai mengenalkan dirinya, saat itu pria yang dikenalnya itu pun akhirnya menoleh padanya. Keduanya beradu pandang dengan terkejutnya. Menyisakan banyaknya tanda tanya di mata keduanya.


Zahra akhirnya memutus kontak mata itu, saat ini guru memulai pelajaran.


Zahra sama sekali tidak bisa konsentrasi belajar kali ini. Pikirannya dipenuhi oleh pria yang duduk di belakangnya. Kenapa pria itu juga bisa ada di sekolah ini?


❤️❤️❤️


Dikediaman Ezra


Pagi-pagi sekali Anindya sudah menyibukkan dirinya membuat sarapan untuk sang suami. Dia melakukan itu, karena tak ingin suaminya menganggapnya malas dan akhirnya mencari wanita lain. Munculnya sang mantan istri, membuat Anindya begitu khawatir. Takut sekali suaminya itu menduakannya. Apalagi sejak kemunculan sang mantan istri. Suaminya itu sedikit berubah, suaminya itu gak banyak cerita lagi. Bahkan suaminya itu gak memintanya untuk melayaninya di ranjang. Anindya semakin dibuat tak tenang. Sudah empat hari mereka menikah, tapi mereka belum melakukan hubungan badan.


Setelah sholat subuh berjamaah, ternyata suaminya itu malah memilih masuk ke ruang kerja. Makanya Anin pun menyibukkan diri di dapur.


Anindya sudah selesai menyiapkan sarapan untuk Ezra. Dia pun melepaskan celemek yang menempel di tubuhnya. Berniat memanggil sang suami untuk sarapan. Baru juga melangkah dua langkah dari meja makan. Sang suami sudah nongol di hadapannya, sudah rapi dengan menenteng tas kerja.


"Abang, sudah mau pergi?" Anindya bingung, akhirnya itulah kalimat yang keluar dari mulutnya. Padahal dia hanya sebentar di dapur. Dia sudah berniat akan membantu sang suami berpakaian. Misalnya membantu memakaikan dasi.


"Iya sayang, Abang harus cepat ke kantor." Ezra merangkul sang istri dengan mesra dan menuntun istrinya itu duduk di kursi.

__ADS_1


"Kelihatannya enak banget." Kedua bola mata Ezra terlihat berbinar-binar menyantap makanan yang dimasak sang istri. Tentu saja Anindya senang melihat sang suami makan dengan lahap.


Anindya hanya menanggapi pujian sang suami dengan senyuman saja. Melihat suasana hati sang suami sangat baik pagi ini. Ingin rasanya Anindya membahas keluarganya yang di kampung. Tapi, entah kenapa dia merasa tidak berani. Padahal dari semalam dia juga sudah ingin membahasnya.


"Abang, hari ini sangat sibuk. Mungkin akan telat pulangnya. Adek kalau bosan di rumah. Boleh lakukan kegiatan di luar. Pergunakan kartu-kartu yang Abang berikan. Belajar nyetir juga boleh." Kini Anindya sedang mengantarkan sang suami ke beranda rumah.


"Oohh iya bang, terima kasih. Kalau adek ingin pulang kam," Anindya tidak melanjutkan ucapannya. Karena ponsel sang suami berdering di dalam saku celananya. Ezra buru-buru meraih ponselnya, dan langsung mengangkat panggilan itu. Auto, Anin jadi terdiam, karena terdengar pembicaraan sang suami sangat serius.


"Abang kerja dulu." Mengecup cepat kening nya Anindya. Suaminya itu langsung masuk ke mobil. Anindya pun mengurungkan niatnya untuk membahas keluarganya di kampung.


Wanita yang lagi galau itu pun hanya bisa menatap kepergian sang suami. Hingga mobil yang ditumpangi sang suami hilang dari jangkauan matanya, dia masih tetap berdiri dengan pikiran yang kacau.


Menikah mendadak, tidak memberi kabar pada keluarga di kampung. Belum juga melakukan hubungan suami istri. Tadi malam, mantan istri suami datang, seolah ingin mengajak perang


Huuuuffttt...


Anindya, akhirnya mendudukkan bokongnya di kursi teras rumahnya yang megah itu. Menarik napas berulang kali, guna menenangkan dirinya yang lagi kacau itu. Merasa sedikit tenang, Anindya pun bergegas ke kamarnya. Dia akan mencoba lagi menghubungi keluarga nya di kampung.


Kringgg..... Kring..... Kring...


Siswa/i pun berhamburan keluar dari kelas, setelah bel istirahat pertama berbunyi.


"Ikuti aku!" suara barithon itu pun mengejutkan Zahra. Dia bangkit dari duduknya dengan perasaan tidak tenang, mengekori langkah Ferdy dengan banyaknya tanda tanya di hatinya.


Langkah Zahra pun terhenti, karena pria di hadapannya juga menghentikan langkahnya. Pria itu berbalik, dan keduanya bersitatap. Keduanya sangat ingin memeluk satu sama lain. Untuk meredam kerinduan yang membuncah. Tapi, itu tak mungkin mereka lakukan. Karena mereka tahu tempat dan tahu batasan.


"Fer...!" lirih Zahra dengan sedihnya. Ferdy pun menarik lembut tangan Zahra dan kini mereka duduk di bangku taman belakang sekolah mereka.


"Maafkan aku ya Zahra, aku gak menepati janjiku untuk datang ke rumahmu waktu itu " Ferdy yang merasa bersalah tidak sanggup menatap wajah wanita yang dicintainya itu. Sedangkan Zahra, dari tadi kedua bola nya nya tak pernah berkedip memperhatikan wajah Ferdy dari arah samping.


"Aku gak bisa bantu kamu, dan itu membuatku jadi orang tak berguna. Aku yang tak bisa berbuat banyak, akhirnya meminta bantuan pada Ibu Ros, wali kelasmu. Berharap beliau bisa membantumu, keluar dari masalahmu. Tapi, Zahra. Bukan solusi seperti itu yang ku inginkan." Ferdy akhirnya memberanikan diri menatap Zahra yang bingung dengan kalimat terakhir pria itu.


"Kenapa pria itu malah....!" Ferdy tak sanggup melanjutkan ucapannya. Dia sudah tahu kalau Zahra telah menikah dengan Ezra.


TBC.


Setiap akhir pekan, kita akan umumkan 3 orang yang mendapatkan give away pulsa 10 RB. Yuk kak say, dukung novel ini dengan memberi vote dan hadiah sebanyak-banyaknya.🙂🙏

__ADS_1


__ADS_2